The Real Monster (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 August 2017

Fakta baru kembali menghampiri Flor beberapa hari kemudian, saat diam-diam Ia mengikuti teman-temannya pergi ke sebuah tempat. Sebuah tempat kumuh di balik bangunan tua tak berpenghuni. Tempat yang ternyata selalu mereka datangi setiap hari minggu. Tempat mereka memperoleh benda-benda terlarang itu.

Hari ini Ia mengikuti mereka lagi, bersembunyi beberapa meter dari rumah kecil itu, menunggu sampai teman-temannya keluar dan pergi sendiri-sendiri. Setelah yakin mereka semua sudah pergi, Flor segera memantapkan hatinya dan melangkah menuju rumah itu perlahan-lahan. Jantungnya berdebar keras, keringat dinginnya mengucur dari kedua pelipis seiring langkahnya yang semakin dekat. Ia hanya takut. Takut kalau-kalau Ia akan menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.

Ia menarik napas berulang-ulang, meremas tangannya sendiri, lalu mendesah panjang sekali lagi. Ia sudah berdiri di depan pintu, meyakinkan dirinya untuk mengetuk pintu kayu yang sudah kumuh di hadapannya itu. Tapi belum sempat melakukan pergerakan apa-apa, daun pintu di hadapannya terbuka. Sesosok lelaki muda dengan baju morat-marit seperti preman muncul dari dalam.

Flor bergerak mundur beberapa langkah.
“Siapa lo?” Tanyanya dingin. Suaranya berat dan dalam. Matanya tajam, garis wajahnya sangat kuat. Menakutkan.
“Abang yang jual barang-barang itu ke mereka?” tanya Flor tanpa basa-basi. Lelaki di hadapannya itu mengerutkan kening.
“Lo salah satu dari anak-anak itu?” Lelaki itu, Kris, menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
“Ke sini mau ambil barang juga?” Lanjutnya.
“Bukan! Saya ke sini untuk menyuruh Abang berhenti jual barang-barang itu ke teman-teman saya!”
Mendengar itu, Kris tertawa.
“Emangnya lo siapa nyuruh-nyuruh gue? Emak gue?”
Flor tidak gentar. Sekalipun lelaki itu membentaknya, menghujatnya dengan tatapan tajam, Ia tidak akan mundur. Ia tetap berusaha keras membuat kakinya berdiri tegak, memberanikan diri membalas tatapan lelaki itu meski jari-jarinya gemetar dan perasaan gusarnya hanya terlampiaskan melalui gerakannya mencengkeram ujung baju kuat-kuat.

“Abang ini kan masih muda, sehat, gagah, nggak cacat fisik, dan sepertinya Abang juga dulu orang yang berpendidikan. Saya rasa masih banyak peluang kerja yang bisa Abang dapatkan di luar sana selain jual barang haram itu. Kalau Abang suka dagang, mungkin Abang bisa jadi pengusaha. Pengusaha sukses, yang halal, yang lebih berkah, nggak seperti pekerjaan yang Abang tekuni sekarang. Pekerjaan itu salah, Bang!”
Lagi-lagi lelaki itu tertawa. Tawa mengejek.
“Pinter juga lo ngomongnya. Nggak salah deh orang tua lo keluarin duit banyak buat sekolahin lo, buktinya lo punya bakat buat jadi motivator! Ck..”
Kali ini Flor menatapnya geram.
“Memangnya Abang nggak takut sama hukum? Gimana nasib Abang seandainya perdagangan nark*ba yang Abang jalani sekarang ini terungkap?”

Untuk ketiga kali Kris tertawa. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah.
“Halah.. apa yang perlu ditakutin dari hukum di Indonesia? Hukum di negara kita ini nggak sekuat kelihatannya. Konsepnya sih memang negara hukum, tapi konsep itu belum sepenuhnya diterapkan. Pencuri dan penjahat masih bisa berkeliaraan dengan santainya, para pembunuh masih bisa ngerasain kebebasan setelah menghabisi nyawa orang, dan perampok-perampok berdasi yang menggunakan otak liciknya untuk merampas uang negara masih dibiarin hidup dan menikmati makan enak tanpa ada balasan yang setimpal atas perbuatannya terhadap negara tempat dia dilahirkan. Dengan semua fakta-fakta itu, apa menurut lo hukum bisa bikin gue takut?”

Jujur saja, Flor tercengang mendengar penuturannya dari awal lelaki itu membuka mulut sampai dia mengatupkan rahangnya kembali. Caranya menuturkan setiap kata demi kata menunjukkan kalau dia memang lelaki berpendidikan dan berotak cerdas. Flor hanya tidak habis pikir, kenapa seorang lelaki berpendidikan sepertinya bisa berbuat senekad ini?

“Kalau begitu, apa Abang nggak takut dosa? nark*ba itu jelas barang haram, dan segala hal yang haram di dunia ini dilarang oleh agama.”
“Dosa? Ck.. orang-orang kayak gue ini nggak pernah takut sama apapun. Itu sebabnya gue saranin lo pergi aja dari sini sekarang, karena gue nggak akan terpengaruh sama kata-kata lo!”
Flor acuh. Sama sekali tidak memperdulikan ucapannya dan malah kembali bicara.
“Setidaknya teman-teman saya punya mimpi. Tolong jangan buat mereka merusak mimpinya dengan barang-barang itu, Bang!”

Lelaki itu mendesah panjang, lantas menyandar pada pintu. Ia menatap Flor dengan senyum miring.
“Tapi gue orang yang nggak punya mimpi. Kalaupun ada mimpi dalam hidup gue sekarang, itu cuma satu!” Kris mencondongkan badanya ke arah Flor, membuatnya kembali mundur beberapa langkah.
“Gue mau merusak mimpi anak-anak muda penerus bangsa!”

Jawaban itu membuat Flor tercekat. Apa maksudnya? Apa dia sudah tidak waras?
“Bang, kalau mimpi anak-anak muda penerus bangsa ini malah Abang rusak, terus gimana nasib bangsa kita ke depannya? Mau jadi apa negara ini? Negeri terbelakang yang cuma bisa jadi penonton kesuksesan negara lain? Negeri yang selalu tertindas?”

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tampak tidak setuju dengan apa yang dikatakan Flor barusan.
“Lo salah! Pemikiran kebanyakan orang emang kaya gitu, tapi lo liat aja kenyataannya, sebagian besar mereka yang lulus dari perguruan tinggi pada akhirnya sukses mendapatkan jabatan terbaik yang ada di negara ini. Mereka menguasai dunia politik, memainkan roda ekonomi, memanipulasi hukum, dan ujung-ujungnya apa? Mereka memperkaya diri sendiri dengan uang negara, uang rakyat. Mereka menindas rakyatnya dengan jabatan palsu mereka. Apa itu yang lo sebut generasi penerus bangsa?”

Sekali lagi Flor tercengang. Ia seperti terhipnotis oleh setiap kata yang terucap dari mulut lelaki itu, tapi entah kenapa Ia masih tidak bisa menerima pendapatnya begitu saja meski semua yang disampaikannya itu sama sekali tidak salah.
“Saya akui semua yang Abang bilang tadi itu nggak salah, tapi Abang juga perlu tau kalau nggak semua orang di Indonesia seperti itu. Nggak sedikit dari pelajar di Indonesia yang bertekad untuk mengabdi secara tulus kepada negerinya, mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk tanah air tercinta. Abang juga nggak pernah tau kan bagaimana masa depan anak-anak yang sudah Abang rusak mimpinya itu? Siapa tau, anak-anak yang sudah Abang rusak itu justru anak-anak yang akan benar-benar mengabdi kepada negaranya saat mereka dewasa nanti. Abang nggak pernah tau, ‘kan?”

Lelaki itu tampak berpikir. Tapi kemudian Ia berdecak lidah, seolah menyadarkan dirinya dari buaian kata-kata Flor dan segera meneriakkan di dalam batinnya supaya tidak cepat terpengaruh.
“Udahlah, lo pergi aja sana! Percuma lo di sini, karena semua yang lo bilang itu nggak akan mengubah apa-apa. Gue nggak akan berhenti dari pekerjaan gue sekarang, lo perlu tau itu!” tegasnya. Ia bersiap menutup pintu, namun kembali terhenti saat Ia teringat sesuatu.

“Saat lo pergi dari sini, berpura-pura lah kalau lo nggak pernah tau tempat ini! Jangan pernah sekali-kali buka mulut ke siapapun atau bahkan lapor polisi. Lo cuma perlu diem dan hidup lo akan tetap aman!” Ancamnya. Flor menelan ludahnya susah payah. Tidak bisa dipungkiri kalau ancamannya itu membuat sisi pemberani dalam dirinya tiba-tiba melemah.
“Tolong lah, Bang.. teman-teman saya itu anak yang baik. Jangan biarkan mereka rusak, Bang!” Flor masih berusaha merajuk, tapi lelaki itu juga semakin kekeuh pada pendiriannya. Tak tergoyahkan.
“Bukan urusan gue! Hak mereka lah kalau mereka mau terus mengonsumsi nark*ba, toh dengan begitu gue dapet keuntungan!”
“Tapi, Bang! Bang!”
Flor berusaha menggedor-gedor daun pintu yang sudah tertutup. Lelaki itu sudah menghilang dibalik pintu, tak memperdulikan keberadaannya sama sekali.

Pada akhirnya, Flor mengembuskan napas panjang. Ia gagal. Entah harus bagaimana lagi Ia membuat teman-temannya terbebas dari barang terlarang itu. Ia kehabisan akal. Tidak bisa berpikir.

Ia hanya bisa diam, membiarkan segalanya mengalir dengan sendirinya karena teman-temannya sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik. Tidak mau mendengarnya sama sekali. Sampai suatu hari, Flor menerima kabar bahwa sindikat perdagangan nark*ba di rumah itu terungkap. Dini hari sekitar pukul 2 pagi, 3 orang polisi mendatangi rumah itu, Kris dan Jodi yang berstatus sebagai pengedar nark*ba langsung diringkus dan dibawa ke kantor polisi. Begitu pula kelima temannya yang kebetulan waktu itu sedang ada disana. Flor terkejut bukan main begitu mengetahui bahwa mereka tertangkap saat sedang berpesta nark*ba sepanjang malam.

Peristiwa itu membuatnya terpukul. Sangat terpukul. Bukannya Ia marah pada mereka semua, Ia hanya merasa kecewa. Cara mereka mengacuhkannya, mengabaikan perkataannya, menolak untuk bicara baik-baik padanya, semua itu membuat Flor merasa kalau dirinya sama sekali tidak bernilai di mata mereka. Seolah-olah Ia adalah orang yang tidak layak untuk dipercaya sehingga mereka tak sudi mendengarkan kata-katanya.

Seandainya saja mereka bersedia bicara padanya waktu itu. Seandainya mereka berkenan membuka telinga untuk mendengarkan ucapannya lalu meluangkan waktu untuk memikirkannya. Seandainya mereka memutuskan untuk berhenti waktu itu, segalanya pasti tidak akan jadi seperti ini. Seandainya, seandainya, seandainya. Terlalu banyak kata seandainya dalam benak Flor yang hanya membuatnya semakin muak.

Lantas sekarang bagaimana? Hidup mereka? Masa depan mereka? Mimpi mereka? Apa mereka benar-benar akan menjalani masa-masa mudanya dibalik jeruji besi yang dingin? Terkurung dari hiruk pikuk kota yang selalu mereka keluhkan pada awalnya? Terbatasi untuk menikmati udara di sekitar taman yang sejuk serta indahnya embun yang menggelayuti dedaunan di pagi hari?

Kekecewaan dan kesedihan itu ingin sekali Flor luapkan. Ingin Ia curahkan kepada semua orang. Bukan melalui amarah, tetapi melalui rangkaian kata di atas kertas.

Hari itu Flor datang ke sekolah lebih awal dari biasanya, Ia berjalan menuju papan majalah dinding (mading) sekolah, mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya kemudian menempelnya pada ruang yang masih kosong di papan mading. Dipandangnya tulisan itu beberapa saat. Senyum tipisnya terukir sebelum Ia akhirnya beranjak meninggalkan tempat itu dengan langkah berat.

Meski hari-harinya menjadi lebih sepi dari biasanya, Ia tetap berharap kalau hidupnya akan terus berlanjut. Hidup yang benar, hidup yang layak. Hidup yang akan memberinya kehidupan yang pantas di kemudian hari. Ia juga berharap teman-temannya dapat memperbaiki diri disana, kembali kepada kehidupan yang sebenar-benarnya.

Dan semoga semuanya akan baik-baik saja.

(Tulisan yang ditempel Flor di Majalah Dinding)

THE REAL MONSTER

Gemerlap dan warna-warni kehidupan di dunia memang sangat menggiurkan. Terkadang seseorang dapat dengan mudah terpengaruh tanpa mau tahu apakah hal tersebut baik atau buruk bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Terkadang rasa takut saja tidak bisa menghentikan nafsu mereka yang menggebu-gebu. Bahkan hukum juga masih belum sanggup untuk menggoyahkan pendirian mereka yang sangat kokoh.

Napza.

Satu kata yang dapat mengubah segalanya.

Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya.

Mereka adalah monster. Monster yang sesungguhnya. Monster yang sangat jahat dan kejam. Selalu memakan korban dan menghancurkan mimpi generasi penerus bangsa. Merusak aset dan calon-calon Sumber Daya Manusia yang menjanjikan bagi masa depan negara.

Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa Napza dapat menciptakan sesuatu yang lebih indah dalam hidupnya. Mereka pikir masa depan mereka akan tetap setia menunggu, tidak akan pernah kemana-mana sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati. Melenceng kesana kemari tanpa perlu merasa takut kepada apapun, dan siapapun. Mereka beranggapan bahwa Napza tidak akan mengubah apapun di masa depannya. Mereka pikir masa depannya akan tetap cerah, secerah mentari yang baru menyembul dari ufuk timur setiap pagi sekalipun mereka menelan butiran ekstasi setiap hari.

Tidak seperti itu!
Itu teori yang sudah seharusnya dicoret dari pikiran kebanyakan orang. Dimusnahkan.

Itulah ironinya. Mereka tidak berpikir panjang bahwa dengan mengonsumsi nark*ba justru masa depannya sedang terancam. Lihat berapa banyak orang yang mati sia-sia? Aset bangsa banyak yang tumbang. Generasi-generasi muda penerus bangsa telah jatuh mentalnya. Tercemar pikirnya. Hancur mimpinya.

Jika sudah begitu, satu-satunya hal yang perlu dilakukan hanyalah mengembalikan mereka sebagai ‘aset’ bangsa. Mengukuhkan kembali tekad dan ambisi dalam diri mereka yang pernah porak-poranda, kemudian membantu membangun kembali pondasi-pondasi mimpi mereka yang sempat lapuk. Tapi pada kenyataannya masyarakat juga banyak yang belum tahu. Bahwa orang-orang yang sudah kecanduan itu seharusnya dibawa ke rehabilitasi untuk disembuhkan. Bukan ke kantor polisi untuk dipenjara.

Karena yang paling mereka perlukan adalah kesembuhan, bukan hukuman.

– Florida Arzaletta –

Cerpen Karangan: Anita Kurniastuti
Facebook: Anita Taa

Cerpen The Real Monster (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Kampung Horor

Oleh:
Malam itu Roni, Andy, Rahmat, dan Amat terpaksa harus pergi ke sebuah kampung, yang terletak di daerah perbukitan untuk mengambil sebuah handphone yang tertinggal. Kampung itu bernama kampung Apit,

Dekapan Sahabat

Oleh:
Hembusan angin membelai lembut pipi chubbynya, ketika kedua tangan ini memeluk tubuhnya dan mengusap jilbab kelabunya. “Menangislah. Aku disini, Aku hanya datang untukmu. Untuk menghapus air matamu. Tumpahkanlah semua

Cermin

Oleh:
Aku berdiri di depan sebuah cermin. Cermin sebesar setengah badan yang tergantung di dinding putih. Ku lihat orang lain berdiri di seberang sana. Menatapku dengan sorot mata penuh seribu

Cinta Bukan Pilihan

Oleh:
Cerita ini dimulai saat usiaku genap 17 tahun. Saat ini aku adalah seorang siswi di sebuah sekolah ternama di surabaya, SMA Gemilang. Aku dilahirkan dan dibesarkan dari sebuah keluarga

Sahabat Atau Musuh

Oleh:
Terasa hariku tak pernah dipenuhi dengan namanya kasih sayang yang tulus. Mereka hanya memanfaatkan apa yang aku miliki. Aku tau dan aku pun sangat mengertikan hal itu. Tak ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Real Monster (Part 3)”

  1. savitri dwi murdiani says:

    Cerpen nya bagus.mengingatkan generasi muda untuk tidak masuk ke dunia narkotik , pesan nya sampai terus berkarya ya☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *