The Story Behind Cigarette

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 5 October 2015

Jalan raya Ibu kota terlihat padat. Panas matahari siang itu mampu menambah keresahan hati setiap pengguna jalan. Keringat mengucur deras, membentuk anakan sungai kecil mengikuti lekukan pipi gadis berambut panjang tergerai. Satu-satunya hal yang dipikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya ia bisa lekas pulang untuk bergelut dengan segala macam laporan praktikum histologi yang diberikan dosen tadi pagi.

Jalanan semakin ramai dipadati kumpulan manusia. Masing-masing sedang terlena dengan variasi kesibukan yang berbeda. Bus kota yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan langkah serIbu, Falla menapakkan kakinya di atas anakan tangga untuk memasuki kaleng besar bermesin itu. Rasa tidak nyaman kembali menguasai batin. Falla tahu kalau kulitnya memang sedang dalam kondisi yang terbakar, ini ulah sang raja siang yang terlalu bersemangat dalam menjalankan tugas.

Tetapi tidak hanya itu, paru-parunya juga sedang merengek-rengek tidak nyaman. “Sekarang apa lagi?” Falla membatin kesal dalam diam. Bukan hanya karena kadar O2 yang mulai menipis akibat kerumunan manusia yang berebutan melakukan proses ventilasi paru-paru sehingga menghasilkan CO2 menjadi partikel-partikel kecil yang berhamburan, memenuhi ruang gerak yang sempit menjepit. Keadaan memburuk. Dada Falla menjadi lebih sesak dengan tambahan asap rok*k hasil hembusan arogan pria bermata sipit yang sedang duduk tepat di depannya. Pria itu dengan santai menikmati sepuntung rok*k.

Sesekali dia menjepit cerutu itu dengan tangan kanannya sembari setengah menengadahkan kepala untuk menghembuskan asapnya. Gas putih yang mengandung lebih dari 60 jenis karsinogen itu mengepul jelas, menari-nari di udara beberapa saat sebelum akhirnya hilang setelah proses inhalasi oleh orang sekitar yang bernapas. Lelaki bermata sipit itu tidak tahu, atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli. Pria berusia sekitar 20an tahun itu tidak mengerti, betapa tersiksanya Falla dan penumpang lainnya yang terpaksa harus “ikhlas” ikut merasakan dampak dari kesenangan semunya. Pria itu masih bungkam dan memilih apatis terhadap berbagai teguran yang ada.

Diam-diam sebenarnya Falla sempat memandang lekat pria berkulit sawo matang itu. Falla memang belum pernah bertemu langsung, tetapi entah di suatu tempat sepertinya dia pernah melihat sosoknya. Falla yakin. Tetapi di mana? Dan bagaimana bisa? Memikirkan tentang pria itu membuat perasaan sebal merasuki tubuhnya. Berawal dari kardiovaskular, dipompakan dengan tegas dan terkontaminasi dalam darah yang mengalir. Untung saja perasaan itu bisa segera diredam sehingga keadaan homeostasis masih dapat dipertahankan.

Ah tentu saja orang lain juga merasa terusik dengan tingkah laku perok*k barusan. Memang dia pikir dia siapa? Seharusnya dia tidak seenaknya melakukan hobi buruk itu, setidaknya bukan di saat suhu ruangan sedang meningkat dan siap untuk mendidihkan setiap darah yang mengalir. Jika ingin menyiksa orang lain, maka dia sudah memilih momen dan cara yang benar-benar ‘tepat’.

Falla sebenarnya ingin mengeluarkan segala argumen dan keluh kesahnya. Tetapi pikirannya sudah terlanjur penat. Terlalu banyak hal yang berputar-putar di sana. Memikirkan satu masalah lagi hanya akan menambah beban otak untuk bekerja. Falla tergotong lelah dalam beberapa langkah menuju rumah. Entah mengapa rasanya tas punggung yang bertengger sedari tadi terasa semakin berat dipikul. Namun lega sedikit bisa merengkuh di dada. Rumah sederhana bercat putih telah menyambut kepulangannya dengan senyum bahagia.

Falla kini sudah menginjak tahun terakhir di bangku kuliah, yang artinya skripsi sedang menunggu dengan tatapan tajam di depan jalan menuju sebuah gerbang yang disebut kelulusan. Tentu saja dia tidak sabar untuk menambahkan gelar S.Ked pada bagian akhir namanya. Membayangkan hal itu membuat dia tersenyum kecil malu-malu. Falla masih di sana, menggengam segelas cokelat panas yang baru saja diseduh pelan dan mengalir hangat melewati esofagus. Sementara jemari kanannya bermain-main di atas meja, mengetuk pelan papan kayu berwarna putih tulang dan membentuk suatu irama. Dahi gadis berkacamata itu berkerut, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Entah mengapa tiba-tiba seberkas bayangan datang. Bayangan itu seketika berhasil mengalihkan konsentrasinya, menjadikan Falla kembali terbuai dalam dunia khayal tentang kenangan bersama sahabatnya Dion yang baru saja berpulang akibat kanker ganas komplikasi pneumonia akut.

Mereka adalah teman masa kecil, selalu sekelas dan sama-sama penggemar gorengan. Entah takdir atau hanya kebetulan. Tapi Falla selalu senang. Kecuali pada saat SMP, ketika pergaulan anak muda menjadi sangat sulit untuk dikontrol. Dion sudah salah memilih teman lelaki yang berpikir bahwa merok*k dapat meningkatkan kejantanan. Awalnya Dion hanya coba-coba tetapi zat addictive itu ternyata terlalu kuat untuk ditolak. Sekeras apapun larangan dan hukuman dari orangtua. Sekeras apapun Falla menentang dan tidak memperbolehkan. Dion akhirnya menjadi seorang perok*k aktif.

Sepuluh tahun berakhir ketika akhirnya dia divonis mengidap kanker paru-paru jenis Small Cell Lung Cancer (SCLC) stadium ekstensif. Kanker sudah terlanjur berkembang mengikuti kerusakan genetika pada DNA. Terbesit sesal yang mendalam. Segala upaya coba ditempuh dengan harapan dia bisa sembuh. Namun sehebat apapun usaha dan niatnya untuk berhenti dari kebiasaan buruk itu, hanya nihil hasil yang diterima. Segala upaya pengobatan seperti kemoterapi dan radioterapi telah dilakukan dengan menggelontorkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur.

Sel-sel kanker sudah tidak mau kompromi lagi, sesuka hati membelah diri secara abnormal. Bahkan proses metastasis menyebabkan penyebaran ke jaringan terdekat dari paru-paru Dion. Kanker paru menjadi semakin ganas. Imunosupresi kini melengkapi semuanya. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi hingga hembusan napas terakhir menjadi satu-satunya jalan ke luar untuk mengakhiri sakit yang diderita. Falla hanya bisa menelan segala kepahitan yang terjadi, menerima segalanya dengan ikhlas. Memang apalagi yang dapat dilakukannya sebagai manusia biasa? Dia hanya mampu mengikuti skenario sang Pencipta.

Terbesit luka yang dalam. Luka yang sudah lama dipendam dalam diam. Luka yang saat ini kembali menganga lebar dan belum terobati. Luka yang ada di dalam hati. Kenyataannya tidak ada makhluk ciptaan Tuhan yang mampu merubah apalagi melawan takdir. Tetesan bulir-bulir air hangat merengkuh pipi yang mulai memerah. Duka itu kini kembali. Rindu tak dapat dibendung lagi. Hatinya bagai diselimuti kelabu, dihantam hujan badai. Falla menangis meratapi kisah hidup yang sulit. Menangis dalam kesendirian, berbalut hampa yang mencekam.

Jam berputar berlawanan arah rotasi bumi. Segala luapan perasaan telah pergi. Lega kini menyelimuti hati, memeluk beberapa ruang kosong tak berpenghuni. Falla kini teringat kejadian dua tahun yang lalu saat seorang pria bermata sipit secara terang-terangan merok*k di dalam bus dan tidak menghiraukan orang lain. Falla baru sadar, ternyata pria itu sekilas mirip dengan Dion. Bukan saja karena kebiasaan merok*k yang buruk, tetapi juga perawakan yang tidak jauh beda. Falla kini mendapat sebuah ide baru yang menurutnya bisa menjawab persoalan yang selalu mengekor akhir-akhir ini. Dia tahu tema apa yang akan dituliskan dalam skripsinya dan penelitian yang akan dilakukan. Tentu permasalahan tentang rok*k akan menjadi topik utama, selain dihubungkan dengan manifestasi klinis lain.

“Terima kasih Dion, kamulah inspirasiku.” Terdengar hembusan napas yang dalam.

Dipandangnya langit-langit kamar dengan senyuman penuh makna. Seandainya ada takdir lain, misalnya Tuhan kembali mempertemukannya dengan pria bermata sipit yang ada di bus waktu itu. Ingin sekali Falla mewawancarainya, menanyakan riwayat merok*k dan seperti apa keadaannya sekarang. Sudah sejauh mana nikotin dan zat-zat berbahaya lain melakukan tugasnya. Walaupun Falla berharap pria itu sudah meninggalkan kebiasaan buruknya dan kejadian yang dialami sahabatnya tidak berulang kembali. Falla benar-benar menginginkan lingkungan yang bebas dari asap rok*k dan yang tersisa hanyalah perok*k aktif yang sudah sadar, tanpa ikut-ikutan menjadikan orang sekitar menjadi perok*k pasif. Seandainya bisa maka dia akan sangat bahagia.

Cerpen Karangan: Niluh Ayu Mutiara Ariyanti
Blog: duniakecilnunu.blogspot.com

Cerpen The Story Behind Cigarette merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Paling Berharga untuk Ali

Oleh:
Sabtu yang cerah. Ali tampak begitu riang. Bagaimana tidak, hari ini ia mendapat ranking pertama di sekolah. Seminggu yang lalu, Ibu telah berjanji akan mengajaknya ke toko buku dan

Berkat Gunung Merapi

Oleh:
Ada seorang anak bernama Sasha dia sangat boros, setiap minggu dia selalu Saja meminta barang-barang baru kepada orang tua nya dia pun tidak peduli kepada orang-orang yang kekurangan waaah

34 (1)

Oleh:
Aku melihat bapak dari kejauhan. Duduk di kursi kayu depan rumah kami yang lapuk. Beliau tertunduk. Memperlihatkan rambut yang telah tertutup uban. Entah apa yang dipikirkannya. Memikirkan apa yang

Di Terminal

Oleh:
Minggu lalu, di terminal, aku menunggu truk mau pulang kampung. Siang itu memang panas sekali. Tampak bukan hanya penjual asongan yang kepanasan. Barang-barang dagangan mereka pun tampak kepanasan. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Story Behind Cigarette”

  1. imjune says:

    cerpen yg sarat makna dan himbauan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *