The Way

Judul Cerpen The Way
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Mentari berwarna oranye mulai menghiasi wajah langit di atas sana. Lagit biru dengan goresan lembut berwarna putih itu menambah penampilan yang kian cantik. Suara nyanyian merdu si makhluk bersayap seakan menyapa mentari di sana. Berawal dari sebuah kertas rusuh persegi panjang berwarna abu-abu yang kutemukan di dekat masjid di kampungku. Tak tahu akan kemanakah kaki ini akan membawa nasib. Aku Yoona, terlahir di perkampungan kecil dari keluarga sederhana. 20 tahun lalu ayahku bekerja di suatu perusahaan kecil yang berada di kota Bandung. Entah mengapa ayahku melangkahkan kaki ke arah jalan itu. Polisi dan mahasiswa bertaburan disana. Dengan suasana yang begitu ricuh dan penuh. Demo itu telah mengambil Ayahku. Dan dihari itulah aku terlahir. Sejak itulah Ibu banting tulang demi aku. Aku selalu berusaha yang terbaik untuk ibuku seakan kerja keras ibuku terbayar dengan apa yang kulakukan.

Ku berjalan ke utara meninggalkan kampung halaman menuju jalan yang tak tahu apa yang terjadi. Dalam perjalanan hanya terpikir sebuah tujuan yang berbuah kenyataan. Meski saat ini masih terlihat abstrak bagiki. Entah apapun itu di sinilah aku mulai melangkah mencari sosok diriku

Suara berisik seakan sudah menjadi budaya di semua stasiun kereta. Kutemukan arahku dari tempat ini. Pertama kalinya kuinjakkan kakiku di sini. Hati-hati adalah hal yang terpikir dalam benakku. “Hati-hati dengan copet!” pesan seorang tetangga untukku.

Tanpa ragu aku duduk di barisan kursi nomor tiga dari dari kanan. “Dimana kamu letakkan jaket itu?” Tanya seorang nenek pada cucunya yang duduk tepat di samping kiriku. “Apa kamu bisa mencarinya dengan benar?” tegur nenek itu. “iya. Ini sedang kucari” jawab cucunya dengan menghela nafas. TAP.. TAP.. TAP.. Seorang datang pada mereka “Ini milikmu?” Tanya seorang pemuda serba hitam, wajanya tak begitu jelas karena topi hitam yang dipakainya itu. Ia tertuju pada tempat duduk di samping Ibu-ibu cantik yang berada tepat di sebelah kiriku. Ibu-ibu cantik berambut pendek gelombang memakai daster ketat dengan gelang masing-masing lima di tangan kanan kirinya.

“Mau kemana buk? Kok sendiri aja!” “Ke Jakarta Mas” sambil menatap wajah pemuda itu. “Kok sendiri aja?” Tanya Pemuda yang nampak keheranan itu. “Iya Mas, soalnya suami kerja di Jakarta. Ini mau ngunjungin kesana” balasnya dengan santai. Kutolehkan kepalaku ke tangan Ibu itu. Kulihat Ia menaruh dompet merah muda itu di samping kiri tempat duduknya. Mungkin lupa atau terlalu berkesan dengan lawan bicaranya. Pemuda itu pergi dengan santai. Tak lama kemudian “Apa Kamu tadi lihat dompet merah muda di sini?” “Tadi sempat aku melihatnya di sini bu” sambil kutelunjukkan jariku ke tempat itu. Ibu itu sontak berdiri dari tempat duduknya dengan begitu panik “Haaahhh.. dompetkuuu.. uangkuu” jeritnya sambil berlutut di depan tempat antrian tiket. Petugas di sana langsung bergegas dan menenangkannya.

Pengumuman kereta jurusan Jakarta belum terdengar di telingaku. Rasa lapar dan hausku ini tak tertahan. Akhirnya kuputuskan mencari makanan di jajaran warung yang menghadap ke jalan raya itu “Mi goreng dan es tehnya satu bu” kataku pada penjual itu. PYARR.. “Maafkan aku” sebuah gelas kosong bekas kopi jatuh tak sengaja tersenggol tanganku. Dibantunya seorang pemuda yang tak begitu asing denganku. Tanpa ku bereskan semua pecahan gelas itu, ku terduduk dan diam di kursi panjang ini. “Maafkan aku? Aku tak sengaja melakukannya” sambil menundukan kepalaku. Dia hanya tersenyum menakutkan. Tak lama kudapatkan mi dan es ku. Tanpa memedulikan pemuda itu aku melahapnya dengan santai tak lupa kuamankan semua barang bawaanku.

Sedikit kulirikkan mataku ke pemuda itu. ia masih berada di sampingku dan nampaknya tengah memperhatikan aku makan. Kutolehkan kepalaku padanya dan Ia tersenyum, setengah mati aku ketakutan. Kuabaikan saja dia seakan tak terjadi apapun sambil kulanjutkan makanku. Terlalu lama aku menghabiskan waktuku disini. “Kamu mau pergi kemana?” Tanya pemuda itu padaku. Aku tak memerdulikannya dan meninggalkannya. Kuberjalan menuju stasiun dan terdengar langkah kaki seorang yang sedang mengikutiku “Kamu mau pergi kemana?” Pertanyaan yang sama yang tadi ditanyakan pemuda itu padaku. Kubalikkan badanku ke belakang “Jakarta” jawabku dengan takut “Jakarta?” “Iya” pelan jawabku. “5, 4, 3, 2, 1”. Ku terdiam kebingungan “Tadi itu Jakarta” suhutnya padaku “Maksudnya?” aku hanya melongo tak mengerti apa maksudnya “Mereka sudah berangkat 5 detik yang lalu”. Ku terdiam. Akhirnya ku mengerti. ”Ini semua salahmu! Mengapa Kamu menghentikan dan bertanya hal yang tidak penting padaku? Hal yang sudah lama kutunggu dan kini sudah hilang begitu saja!” ku terduduk kebingungan harus bagaimana. Seandainya aku langsung menjawabnya pasti ini tak akan terjadi. Aku menangis keras saat itu, padahal aku tahu akan ada kereta yang akan datang lagi.

“Kamu baik-baik saja Yoona?” tangisku tiba-tiba berhenti saat dia bertanya dengan memanggil namaku “Siapa Kamu?” tanyaku padanya sambil kuusap air mataku. “Bahkan saat kau menatapku kamu masih tak ingat aku?” jawabnya buatku penasaran “Sebenarnya kamu siapa? Mengapa kamu mengikutiku? Dan bagaimana kamu tahu namaku?” sambil kutatap tajam matanya. “jika kutunjukkan sesuatu padamu, apa kamu ingat aku?” dikeluarkannya dari sakunya sebuah pensil dengan boneka kucing di atasnya “Kamu ingat?” ku berusaha mengingatnya lagi. Dia mirip dengan temanku SMP yang pindah sekolah ke luar kota dan aku pernah memberinya pensil seperti itu padanya “Henry Law? Kamukah itu?” “Dari tadi aku menunggumu untuk mengenaliku. Apa aku terlalu berubah sampai Kamu tak mengenaliku?” Tanya Henry padaku “Benarkah?” tanyaku tak percaya “Ini Aku. Henry Law. H.E.N.R.Y. L.A.W.” tegasnya, sambil mengijah namanya “Kemana saja Kamu selama ini?” “Maafkan Aku” “Selama ini apa kamu pergi hanya untuk melakukan itu?” kataku dengan kasar “Apa maksudmu?” Tanya Henry kebingungan. “Jelas-jelas kamu tadi yang mencuri dompet merah muda milik ibu-ibu yang duduk di sebelah kiriku tadi” “Aku tidak melakukan apapun Yoon. Dompet itu tadi terjatuh di bawah kursi. Kalau kamu tak percaya Kamu bisa tanyakan satpam disana” Henry menyakinkanku “Sungguh?” “Iyaaa!” sambil mengobrak-abrikan rambutku.
“Ngomong-ngomong mau ngapain kamu ke Jakarta?” Tanya Henry penasaran “Mau cari kerja. Tapi masih belum jelas kerja apa” balasku pada Henry “Ikut Aku!” “Ehh. Mau kemana?” tanyaku penasaran “Cukup percaya denganku, kalau kamu sudah melihatnya kamu pasti akan membatalkan niatmu pergi ke Jakarta” kuikuti saja perintahnya dan tibalah aku di sebuah sekolah dekat stasiun itu yang tampak asing dengan muridnya

“Apa yang kau lihat?” Tanya Henry “Sekolah ini begitu aneh” ditolehkan kepalaku oleh kedua tangannya ke arah kanan ku. “Sekolah Luar Biasa?” Tanyaku “Tepat” “Apa kau kerja disini?” Tanyaku pada Henry “Ya. Kebetulan di sini kekurangan tenaga ajar. Aku bisa membantumu untuk mempelajari mereka dan menjadi teman mereka” “Aku tidak yakin Hen” “Cukup percaya. Aku akan membantumu”

Akhirnya aku mengikuti saran Henry. Aku bertemu begitu banyak anak luar biasa disini. Aku bermain bersama mereka, dan untuk pertama kalinya aku menemukan kebahagiaan dengan caraku lewat Henry. temanku. “Apa kau orang yang direkomendasikan oleh Henry?” Tanya seorang wanita padaku “Iya” “Mengabdilah dengan sungguh-sungguh disini. Mereka hanya butuh kasih sayang dan bimbingan. Saya Nyonya Shin. Kamu bisa bertanya padaku jika kamu mengalami kesulitan” tegasnya “Terimakasih, mohon bimbingannya” jawabku dengan penuh hormat. Aku merasa akan nyaman di sini seakan lengkap bagiku Henry Law dan Nyonya Shin serta anak luar biasa ini yang bisa menjadi panutan bagiku.

Cerpen Karangan: Feby Diah Lestari
Facebook: Feby
saya berumur 16 tahun, seorang siswa kelas 2 sma n 2 lamongan

Cerita The Way merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sederhana Tuk Selamanya

Oleh:
Persahabatan memang tidak selalu berakhir bahagia. Sama seperti cinta, persahabatan juga membutuhkan pengertian. Persahabatan tidak berbicara tentang ego ataupun rahasia. Namun aku berharap, persahabatanku ini tidak akan ada akhir

Sahabat Dalam Karung

Oleh:
Matahari baru saja muncul dari balik awan gelap, mengintip perlahan malu untuk menampakan wujud aslinya. Awan gelap masih menguasai sebagian besar langit hari ini, sinar mentari yang cerah pun

Izinkan Kami Tersenyum

Oleh:
subuh kali ini aku bangun lebih awal dari biasanya, sebelum pak Ahmad mengumandangan adzan di surau aku sudah bangun lebih dulu. Aku dan adikku Irma membantu ibu di dapur

Hadiah Ulang Tahun

Oleh:
Beberapa hari menuju hari ulang tahun, aku sudah mendapatkan hadiah lebih awal. Tidak. Kali ini hadiah yang kuterima lebih berbeda dan menarik dari biasanya. Yaitu seorang sahabatku, Dianita, yang

Ini Berguna Walaupun Tidak Ikhlas

Oleh:
“Wouw… dance … asolole ” Ucap Jojo sambil terus menari, di pegangnya handphonenya yang mendendangkan lagu kesukaannya, dengan satu gerakan, Jojo pun mulai bergoyang ala Inul Daratista, membuat orang-orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *