Tidur Nyenyak, Mikha

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 September 2018

Hari ini cuaca sangat dingin. Seorang bocah perempuan yang mungil berada di kamar, meringkuk dalam selimut sambil mendengar lagu-lagu kesayangannya. Baru saja ibunya beranjak dari speaker di atas meja kecil di sudut ruangan. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Mikha, bocah itu melempar pandangannya ke luar jendela. Di luar hujan turun rintik-rintik, sedikit demi sedikit namun dengan pasti membasahi semua yang ada di hadapannya.

Sang ibu mendekat, merapatkan selimut, mencium keningnya, dan mengucapkan selamat malam. Mikha selalu menikmati momen ini. Memejamkan mata, dan mengembangkan senyum. Selalu seperti itu semenjak beberapa minggu terakhir. Ia melihat ibunya mengecilkan volume musik yang masih mengalun lembut, mematikan lampu dan keluar dari kamarnya.

Lima menit. Sepuluh menit. Mikha masih memejamkan mata, mencoba untuk tidur, tapi tak bisa. Ia makin mempererat pelukannya pada beruang Teddy mungil kado terakhir dari mendiang sang ayah. Alunan musik yang masih mengalun lembut kali ini tak berpengaruh padanya. Ia rindu pelukan sang ayah, hangat. Seperti yang sedang ia lakukan pada beruang Teddy miliknya. Ia rindu cerita penghantar tidur sang ayah. Tidak, lebih tepatnya suara berat dan tatapan dalam sang ayah. Ia rindu bergelayut manja pada lengan sang ayah. Ia rindu.

Masih di kamar yang sama. Namun kini bocah mungil yang meringkuk di kamarnya waktu itu telah menjadi seorang gadis yang menginjak usia 20 tahun. Menjadi semakin mandiri dan semakin dewasa. Sore tadi ia kembali mengetahui cerita hidup lain dari sahabat-sahabatnya. Amma, gadis sipit sengan tubuh mungilnya, juga Ira, manusia yang paling cuek yang pernah ia temui. Begitulah penjelasan singkatnya jika ditanya bagaimana sahabat-sahabatnya itu. Selepas kepulangan dua sahabatnya, Mikha kembali termenung. Memikirkan sedikit cerita lain dari Amma dan Ira yang baru kali ini diungkap.

Ira. Sahabatnya yang satu ini terlihat sangat dingin. Tapi selalu ada kehangatan dari perbuatan-perbuatan kecil yang ia lakukan, perhatian-perhatian kecil yang ia berikan. Saat kau menatap matanya dalam, kau akan tahu seberapa lembut dirinya. Orang-orang memandangnya sebagai sosok yang kuat. Ia adalah seorang anak broken home dan Mikha tahu itu sejak lama. Ira terlihat kuat dan dingin karena ia selalu berusaha membuat tembok tebal untuk memagari hatinya. Ia selalu berusaha membuat sekat agar orang-orang tak tahu seberapa rapuh hatinya. Ia pernah begitu membenci orangtua yang meninggalkannya saat ia baru saja memasuki sekolah dasar. “Dulu aku pernah berpikir lebih baik tak mengetahui sesuatu sama sekali daripada merasakan sakit karena kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Lebih baik aku tak pernah mengenal orangtuaku. Lebih baik jika mereka meninggalkanku karena mati daripada meninggalkanku karena orang lain. Kupikir dulu seperti itu. Tapi kini aku begitu bersyukur setidaknya aku mengenal mereka. Pernah merasakan kasih sayang mereka. Pernah merasakan pelukan mereka. Aku bersyukur walaupun dulu selalu ada tangis diam-diam, kini semua bisa bahagia setelah kembali menata hidup masing-masing dan menjalaninya masing-masing. Setidaknya kini tak apa.” Mikha ingat cerita sahabatnya itu. Setelahnya, pikirannya melayang pada Amma.

Amma. Gadis itu begitu ceria. Selalu penuh dengan cerita dan informasi apapun yang kau butuhkan. Yang ia tahu, Amma tinggal dengan ibunya, dan ayahnya bekerja di Bandung. Begitulah selama ini kalau ia bertanya di mana ayah sahabatnya itu. Ia tak habis pikir kalau memang hanya sebatas itu yang Amma ketahui tentang ayahnya. Ayah sedang bekerja di Bandung. Titik. Tak lebih dan tak kurang. Ia tak pernah tahu siapa ayahnya, dan bagaimana rupanya. Sang ibu tak memiliki fotonya. Hanya kalimat itu yang keluar saat Amma bertanya tentang ayahnya. Ia lahir dan tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Ia masih tetap ceria, masih tetap optimis, masih tetap tegar dengan kenyataan pahit dalam hidupnya itu. Kenapa aku harus hancur karena seseorang yang tak pernah datang dalam hidupku. Begitu katanya tadi, masih dengan tersenyum. Mikha dan Ira memeluknya, lalu air mata Amma menetes juga. Aku masih berharap bisa bertemu dengannya, walau hanya sekali, walau hanya sebentar. Aku ingin memeluknya. Kata-kata sahabatnya itu masih terngiang dalam ingatan Mikha.

Ia mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Saat ia dan dua sahabatnya berbagi cerita, air mata dan doa. Ia kembali bersyukur saat ini. Perlahan rindu menguak. Pukul sebelas lewat dua puluh. Mikha menyusup dalam selimut, lalu memejamkan matanya. Berharap hari ini ia bisa melepas rindu dengan ayahnya. Setidaknya lewat mimpi.

Kali ini Mikha tertidur, dengan senyum yang mengembang. Tangan sang ayah mengelus surai hitam bocah kecil di pangkuannya, mata teduhnya memandang wajah Mikha. Selamat tidur, sayang. Tidur yang nyenyak.

Cerpen Karangan: R. Kararia
Blog / Facebook: rkararia.tumblr.com

Cerpen Tidur Nyenyak, Mikha merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kontes Dangdut Semilyar (Part 2)

Oleh:
Dan, starting with kunci nada. Satu minggu untuk menghafal dan menghayati dengan story lagu dari sang empunya. Setelah pembubaran kelas hari ini, aku mulai mendekati Farhan. Hanya untuk sekedar

Pengkhianatan Pada Sang Agung (Part 1)

Oleh:
Dosakah kita mencintainya lebih dari yang seharusnya? Sementara Maha cinta cemburu.. Dosakah kita mengasihinya lebih dari apa pun? Sementara lagi-lagi Maha kasih cemburu Dosakah kita menggelayuti kesedihan karena kepergiannya?

Jangan Iri Eli

Oleh:
Eli berjalan bangga memakai baju putih biru untuk pertama kalinya. Sesampai di depan gerbang SMP, Eli melihat Andi teman SD nya dulu. Andi terlihat sedang turun dari motor dan

Tentang Wisnu Anak Kelas Satu

Oleh:
“Krincing… krincing… krincing…” Itu suara uang logam beradu satu dengan yang lain di dalam saku. Saku itu punya Wisnu anak sekolah kelas satu di SD Negeri Kosong Satu di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *