Tikus Kantor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Hiruk pikuk manusia berkumpul dalam suatu lapangan nan luas sedang berjuang menegakkan keadilan dan hak-hak mereka. Suara takbir “Allahu akbar!!” lantang terdengar di langit. Semuanya saling menyuarakan aspirasinya kepada sang pemimpin yang dhalim atas perlakuan dan kebijakannya yang membuat rakyatnya sangat tercekik. Lautan manusia dengan membawa atribut serta spanduk-spanduk semakin mendekati kantor bupati yang berada di ujung lapangan. Para petugas keamanan yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah masa demonstran akhirnya tertembus juga oleh kerumunan masa pada saat itu.

Saat itu saya adalah salah satu bagian dari para demonstran itu, sebagai mahasiswa dan rakyat kecil saya merasa pemimpin yang menjabat saat ini tidak pernah peduli dengan rakyatnya, kebijakannya sering menimbulkan polemik di masyarakat, salah satu contoh kebijakannya yang menimbulkan pertanyaan besar adalah proyek pembangunan rumah sakit yang ditargetkan pada tahun 2015 ini selesai, namun hingga tahun 2016 ini pembangunan rumah sakit berhenti tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan ada gosip yang mengatakan bahwa sang bupati telah melakukan tindakan korupsi dalam proyek pembangunan rumah sakit itu.

Setengah hari kami berkumpul di tengah lapangan dengan suara teriakan yang masih lantang terdengar, menyuarakan permintaan rakyat agar bupati yang sekarang segera turun dari jabatannya dan diproses secara hukum. Semuanya nihil tanpa ada respon dari pihak pemerintahan. Barisan keamanan pun semakin melonggarkan jeratan kami yang membuat rombongan para demonstran dapat menembus barisan keamanan. Dengan suara teriakan “Allahu Akbar!!” kerumunan demontran berhasil masuk melewati barisan keamanan. Tanpa rasa ragu-ragu lagi kami memasuki kantor bupati dan langsung dihadang oleh tim pengamanan bupati. Kami mencoba menerobos keamanan itu namun sangatlah susah. Tetapi Alhamdulillah saya dan 4 demonstran lainnya berhasil masuk ke dalam kantor dan bertemu dengan sang bupati. Walau awalnya kami terus ditarik keluar oleh tim keamanan, akan tetapi akhirnya sang bupati mengijinkan kami berlima untuk masuk menemuinya.

Ketika itu kami disuruh untuk duduk di depan meja pak bupati, di samping kanan kiri kami banyak para pejabat pemerintahan dan beberapa anggota DPRD yang sedang duduk dengan muka tegang. Terlihat di samping tempat duduk pak bupati 4 anggota KPK dengan menggunakan kaos bertuliskan KPK di dada sebelah kirinya. Nampaknya kasus korupsi pak bupati kami sudah semakin terbuka kejelasannya, hal itulah yang membuat kami semakin yakin akan tindakan kami ini.

Salah satu pejabat pemerintahan yang ada di sekitar kami menanyakan tujuan kami melakukan aksi ini. Kemudian dengan lantangnya saya menjawab. “ada tiga permintaan kami kepada engkau wahai bapak bupatiku, pertama, kami ingin kejelasan mengenai pembangunan rumah sakit yang ditargetkan selesai tahun 2016 akan tetapi sekarang proses pembangunannya berhenti total. Kedua, kami ingin keadilan hukum di daerah kami ini, hukum yang tidak selalu manis bagi kalangan atas tetapi pahit bagi kalangan bawah seperti kami. Dan yang terakhir jika bapak terbukti melakukan tindakan korupsi atas pembangunan rumah sakit tersebut, kami ingin hukum yang berbicara dan tajam ke anda”.

Kemudian setelah di dalam kantor kami menyampaikan berbagai permintaan kami, kami berlima pun dipersilahkan pulang dan membubarkan barisan demonstrasi. Sang bupati telah berjanji bahwa dia akan menuruti semua permintaan rakyatnya tadi, dan nampaknya sudah kelihatan jelas bahwa dia akan terjerat kasus korupsi atas pembangunan rumah sakit tersebut. Tepat pukul 17.00 kami pun keluar, dan membubarkan diri bersama ratusan masa demonstran.

Selang beberapa hari, di berita surat kabar langganan saya bahwa bupati kami telah ditangkap oleh KPK atas keterlibatannya dalam kasus korupsi pembangunan rumah sakit. Dan tentunya secara otomatis sang bupati akan turun dari jabatannya sebagai bupati.

Cerpen Karangan: Arief Budiono Yusuf
Facebook: Arief Budiono Yusuf
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Cerpen Tikus Kantor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Maduku

Oleh:
“Cinta kasih” dia adalah gadis kecil yang cantik, aku menyayanginya meski dia bukan anakku, ya dia bukan anak kandungku, melainkan anak dari selingkuhan suamiku, mungkin ini cara tuhan untuk

Setitik Cahaya

Oleh:
Tatkala langit membiru perlahan, kelak sang raja mulai kembali ke daerah peristirahatannya setelah ia menguasai siang dengan berkahnya. Entah merasa lelah, bosan atau pun mendapat tugas di belahan lainnya.

Reuni Angkatan ‘8

Oleh:
Sinar mentari menerobos masuk lewat dinding-dinding kaca di ketinggian 50 lantai. Di kantorku hampir seluruh bangunan terbuat dari kaca, dari sinilah aku bisa menikmati hangatnya sang mentari yang beranjak

Dear Ayah

Oleh:
Mungkin kehadiranmu di antara kami akan sedikit mengangkat derajat kami di hadapan keluarga besarmu. Iya, keluarga besar yang bangga membesar besarkan permasalahan, bangga membesar besarkan kebaikan. Ayah, aku tahu

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *