Tinggal Angan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 January 2018

Angin malam menyambut, membalut pori-pori kulitku. Mengantar pada rasa yang sangat kukenal, bahkan sudah menjadi sahabat karibku. Malam ini seperti biasa aku berkumpul dengan teman-temanku. Malam bagaikan surga bagi kami karena saat malam tiba, tidak ada lagi rasa sedih, kecewa, susah, galau, gundah, dan sebagainya, yang tertinggal hanyalah rasa senang. Kami menikmati hidup tanpa mempedulikan omongan orang lain.

Seperti biasa dan sudah menjadi rutinitas, minuman-minuman itu berjejer rapi di meja kusam ini, tak lupa beberapa bungkus butiran surga yang selalu membawa kami akan ketenangan. Malam ini akan kami habiskan dengan bersenang-senang.

“Kring…. Kring.. kring..” bunyi itu memecah keheningan pagi, rupanya handphoneku bunyi, yang berarti orangtua itu sedang mencariku. “Buat apa telepon lagi? Peduli apa sih?” pikirku, tanpa berlama-lama kuangkat telepon itu. “Di mana kamu? gak pulang lagi! cepat pulang!!” suara itu terdengar sama seperti kemarin, kata yang sama dan selalu kudengar ketika orangtua itu telepon. Dia seakan-akan peduli, padahal tidak sama sekali. Kututup telepon itu karena malas mendengar ocehan palsu dari orang itu.

“Siapa bro?” suara itu membubarkan lamunanku. “Biasa bokap!” jawabku singkat. Kepalaku pusing lagi, mungkin karena efek dari minuman keras yang aku minum kemarin.

Sudah tiga Bulan aku menjalani hidup berantakan seperti ini. Aku pikir ini bukan salahku, melainkan salah dari kedua orangtuaku. Sejak perceraian yang menghancurkan semuanya, aku tumbuh dan berkembang menjadi anak yang kurang kasih sayang dan support dari orangtua dan saudara-saudaraku. Peduli apa mereka, yang mereka pedulikan hanya urusan mereka pribadi. Kadang aku merasa menjadi anak pembantu bukan lagi anak dari orangtuaku.

Jam berganti dengan hari, hari berganti Bulan, Bulan berganti tahun. Semakin lama aku semakin terjerat dengan obat-obatan ini. Uang kuliah dan tabungan amblas, jam tangan handphone, bahkan laptop juga ikut ludes tak bersisa hanya untuk butiran-butiran obat surga itu.

Kini aku hidup hanya untuk hari ini. Hidup dari satu butir obat ke butir yang lainnya. Obat yang menurutku surga ketenangan dan tanpa kusadari sebagai obat terlarang. Tahu-tahu, aku sudah tidak bisa lepas darinya. Aku tidak peduli lagi dengan hari esok, tidak peduli dengan pendidikanku, tidak peduli apa aku masih bisa menjadi tentara atau tidak. Aku pun tidak peduli apa aku bisa mengakhiri semuanya yang telah aku mulai, atau akam berakhir di sini. Semua hanya tinggal angan.

Cerpen Karangan: Fenty Ariyani
Blog / Facebook: fentyariyanimuslim.blogspot.com / fenty

Cerpen Tinggal Angan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Heran

Oleh:
“Lebih baik tidak daripada cuma setengah hati.” Awan-awan fajar mulai menggantung luas di cakrawala. Burung-burung Bangau mulai terbang ke arah lautan. desisan serangga mulai tak terdengar lagi digantikan suara

Setitik Cahaya Harapan Si Gadis Buta (Part 2)

Oleh:
Beberapa hari berikutnya… “Zah… Zizah…”, panggil Kak Raka. “Ada apa Kak…”, tanyaku. “Kamu akan segera bisa melihat Zah…”, ucap Kakakku seraya menggoyangkan tubuhku. “Benarkah Kak…?”, ucapku sangat senang. “Benar

Aku Kakek dan Foto

Oleh:
Sudah lebih satu jam ku bolak-balikan lembar foto yang berserakan di atas meja kerjaku. Aku lelah dan mulai putus asa. 113 foto, karya terbaiku sudah aku tunjukan, tapi belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *