Tisu Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Di suatu pagi yang buta, terdengar kokok ayam jantan yang sangat merdu. Diiringi dengan senandung adzan yang menggugah hati, aku terbangun dengan mata yang masih sangat berat. Ku usap-usap kedua mataku yang masih terpejam. Aku mencoba untuk bangun dari tidur yang nyenyak. Dan melangkahkan kaki keluar dari kamarku yang hangat menuju kamar mandi yang sangat dingin. Segera kuambil air wudzu dan mengerjakan sholat subuh.

Setelah sholat subuh, aku kembali memasuki ranjang dan menarik selimut. Hahaha, memang kebiasakanku yang satu ini kurang baik. Tapi mau bagaimana lagi, udara sangat dingin. Belum sempat ku tertidur kembali, tiba-tiba adikku mengetuk pintu kamarku.

“Kak!!! Bangun kak! Kakak? Bangun kak!” suara adikku memanggil-manggil namaku agar aku bangkit dari tempat tidur.
“Ntar ah… masih ngantuk nih” jawabku masih malas. Memang akhir-akhir ini aku kurang tidur. Selain karena tugas dari sekolah yang menumpuk, namun juga karena terlalu sibuk memikirkan seseorang yang aku cintai. Awan namanya. Dulu kami memang telah menjadi sepasang kekasih, namun entah kenapa seminggu yang lalu ia memutuskanku tanpa alasan yang jelas.

“Pril, sebenarnya aku mau ngomongin ini dari dulu. Tapi aku takut kalau kamu kecewa”
“Ya, omongin aja” jawabku penasaran
“Sebenernya, aku pengen kita putus pril.” Katanya dengan agak terbata-bata
“Tapi kenapa Wan? Kamu gak cinta lagi sama aku?” tanyaku tak percaya
“Bukan begitu Pril, aku bukannya tak cinta lagi sama kamu. Tapi aku pengen putus aja. Terima kasih ya Pril, kamu udah mau setia sama aku sampai detik ini. Sampai jumpa, aku menyayangimu” jawabnya sambil melangkah pergi menjauhiku
“Wan, tunggu wan!” teriakku coba menghentikannya. Namun ia tetap melangkahkan kakinya menjauhiku.

Aku merasa sangat kehilangan akan sosok yang selama ini kudambakan. Sosok yang jujur, baik, dan menyenangkan. Bahkan aku sempat ingin bunuh diri. Kurasa bahwa semuanya telah berakhir. Namun, beruntunglah aku memiliki seorang Ibu yang selalu mendukungku. Ibuku bagaikan tanah yang selalu menopang tanaman, meskipun ia harus berada di bawah. Ibu rela bersusah-susah hanya demi aku. Beliaulah yang membuat aku tegar selama ini. Sampai saat ini aku hanya berharap untuk selalu bersama Ibu. Sepertinya aku tidak bisa hidup tanpa Ibu.

“Kak bangun kak!” suara adikku terdengar lagi sambil menggedor-gedor pintu kamarku.
“Cepat buka kak! Penting!” lanjutnya.

Mendengar perkataan itu, hatiku langsung terbangung. Namun, dengan kelopak mata yang masih mengatup, aku melangkahkan kaki menuju pintu kamarku. Perlahan kuputar kunci yang masih tertancap pada lubang kunci. Kubuka pintu dengan perlahan. Dengan cepat dan tiba-tiba, adikku langsung memeluk tubuhku sambil menangis.

“Kenapa Din? Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyaku sedikit khawatir.

Namun adikku justru semakin kencang tangisnya. Semakin erat pula pelukannya. Aku hanya diam dan membisu. Ingin sekali aku menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sepertinya, adikku masih terlalu kecil untuk menerima sesuatu yang pahit itu. Kami berdua masih tetap terdiam dengan pelukan yang erat satu sama lain. Dengan suara Dinda yang semakin surut. Dengan nada tersengguk-sengguk, ia mulai menjelaskan apa yang terjadi.

“Ibu Kak!”
“Ibu kenapa?” sahutku.
“Kata Ayah, Ibu meninggal. Ibu tewas gantung diri kak.”
“Apa?” tanyaku tak percaya.

Aku semakin terperanga oleh kabar dari adikku. Ibuku yang selama ini berada didekatku kini telah meninggalkanku dengan cara yang menyedihkan.

“Bagaimana ini semua bisa terjadi?”
“Kenapa Ibu bisa sampai memilih mengakhiri hidupnya?”
“Apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Apa aku masih bisa hidup tanpa Ibu?”

Berbagai pertanyaan itupun seketika muncul dan berputar-putar di otakku. Aku berusaha untuk tetap tegar. Namun rasanya hatiku mendapat tekanan yang sangat kuat. Seperti ingin roboh rasanya. Dan setetes air mata pun terjatuh bebas. Membentuk lingkaran kecil di lantai. Pertanda bahwa aku tak kuat lagi. Tak tahan lagi jika harus membendung luapan kekesalanku. Tangisku semakin menjadi ketika pertanyaan tadi kembali muncul di otakku.

Kini air mata tak hanya tetesan, namun kini air mata sudah meleleh melewati pipi dan mengapit bibirku yang berusaha mengatup agar suara tangisku tak terdengar oleh adikku yang membuatnya semakin sedih. Dengan sedih yang amat mendalam, aku mencoba mengajak adikku untuk ke kamar Ibuku di lantai bawah. Namun belum sampai kamar Ibuku, aku melihat bayangan sesosok tubuh yang tergantung di leher yang berasal dari dalam kamar Ibu. Aku langsung mengurungkan niatku untuk ke kamar Ibu. Aku hanya bisa duduk di ruang keluarga, karena tak kuat jika harus masuk dan melihat kondisi Ibu. Hati ini seperti mau pecah rasanya.

Adikku masih tetap menangis di dalam pelukanku. Sementara Ayahku sedang keluar untuk meminta bantuan menurunkan jazad Ibu yang masih tergantung di kamarnya. Tidak lama kemudian, Ayah beserta warga yang lain melewatiku dan mulai mulai memasuki kamar Ibu. Suara pembicaraan mereka pun mulai terdengar.

“Pak, tolong ambilkan kursi”
“Iya pak”
“Baik, kalau begitu saya yang naik. Pak Andi dan Pak Adi tolong di bawah.”
“Hati-hati pak. Awas hati-hati”
“Pelan… Pelan…”
“Bentar pak, tahan dulu. Saya lepas dulu talinya”
“Ya, awas pak. Pelan-pelan”
“Nah sudah. Pak Andi dan Pak Adi tolong dipegang”
“Ya sudah, dibaringkan dan di tutup selimut aja pak”

Mendengar percakapan itu, air mataku kembali meleleh. Otakku yang telah mendapatkan gambaran tentang kondisi Ibu tak henti-hentinya membayangkannya. Tekanan yang kuat itu kembali muncul. Kali ini tekanan itu semakin kuat. Bagaikan tertindih batu yang sangat besar didadaku, nafasku terasa sangat berat. Dan akhirnya terjatuh pingsan.

Ketika aku tersadar, aku sudah berada di kamarku. Aku tak tahu apa yang sudah terjadi. Yang kuingat hanyalah ketika mayat Ibu diturunkan dan aku jatuh pingsan. Jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Terdengar beberapa orang melantunkan ayat-ayat kursi. Aku mulai beranjak dari tempat tidur. Badanku terasa sangat lemas, mungkin karena aku terlalu banyak membuang energi dengan menangis.

Kuberanikan diri untuk mulai melangkah meskipun badan terasa tidak enak. Ketika aku telah sampai di tangga, aku tak berani untuk menuju ke bawah. Ku intip melalui sela-sela tiang tangga. Dan ternyata rumahku sudah penuh oleh pelayat. Mulai dari tetangga dekat hingga sanak saudara yang amat jauh, semuanya telah berkumpul untuk mendoakan Ibuku yang tengah terbujur kaku dan tertutup kain putih. Sepertinya aku masih belum dapat menerima ini semua. Semua ini terasa sangat sakit di hati. Aku tak rela jika harus kehilangan Ibuku yang selama ini selalu mendukungku ketika aku berada pada situasi sulit seperti ini. Air mata kembali menetes, dengan cepat aku segera berlari kembali menuju kamarku. Aku mengunci diriku sendiri, yang masih tak terima dengan semua ini.

“Tok..tok..tok!!” bunyi seseorang mengetuk pintu kamarku. Seketika kuhentikan tangisku dan ku usap air mata ini.
“Siapa?” jawabku dengan tersedu-sedu.
“Ini Ayah nak, ayo keluar dan temui orang-orang di bawah” bujuk Ayahku.
“Nggak Pa! Aku gak mau kebawah” aku menolak
“Ayolah sayang, Ayah tahu ini pasti menyakitkan” bujuk Ayah sekali lagi.
“Nggak Pa! Aku bilang enggak ya enggak!”
“Ya sudah, kalau kamu sudah berasa baikan kamu turun ya? Ayah tunggu dibawah” kata Ayah disertai langkah kaki menjauh.

Suara tangis mulai terdengar lagi, Dengan pipi yang sudah basah, aku terduduk bersandar pintu. Mencoba untuk menerima semua ini. Aku terus mengurung diri, hingga lantunan ayat kursi pun berhenti. Nyaris tak ada suara sedikitpun, hanya ada suara besi yang mungkin keranda bertumbukan. Ku tengok keluar jendela, orang-orang sudah bersiap untuk memberangkatkan Ibunda ke peristirahatannya yang terakhir. Dengan secepat kilat aku segera berganti pakaian dan berlari ke bawah. Keadaan rumah sangat sepi. Hanya ada Ayah yang menyambutku dengan senyuman.
“Akhirnya kamu turun juga nak,” Kata Ayah dengan lembut.
“Ayo, warga yang lain sudah menunggu kita” lanjutnya.

Bacaan tahlil mulai dikumandangkan, rombongan kami pun mulai berjalan dengan perlahan. Keranda lengkap dengan payungnya berada di belakangku. Aku memilih posisi di depan karena aku takut jika jatuh pingsan lagi karena tak kuat. Di samping Ayahku yang sedang membawa foto Ibuku, sesekali kulirik wajahnya. Nampak sekali beliau berusaha menutupi kesedihannya. Sesekali juga kuberanikan untuk melirik foto Ibu. Sementara adikku yang masih kecil berada di rumah ditemani oleh beberapa sanak saudaraku yang lain. Setelah 5 menit perjalanan, akhirnya nampak sebuah gerbang yang bertuliskan “MAKAM SAMAAN”. Dengan perlahan, rombongan mulai memasuki kawasan pemakaman. Suara tahlil pun seketika berhenti ketika kami berada pada liang lahat yang sudah tergali rapi.

Ingin sekali ku berlari menjauh dari tempat itu. Sudah tak kuat lagi aku menahan kesedihanku. Apalagi ketika jenazah almarhumah Ibuku diturunkan. Di tutup dengan kayu-kayu jati. Dan mulai di himpit bumi. Kali ini rasanya aku tak ingin bertemu dengan Ibu lagi, aku ingin semua ini cepat selesai dan terbangun dari mimpi buruk ini.

Hari-hari mulai kulewati. Semenjak kepergian Ibu, rumah terasa sepi. Bagaikan rindangnya pohon tanpa kicauan burung. Tak ada lagi sosok yang penuh tawa, yang menyemangati ketika kami terpuruk, yang membantu di saat susah, yang selalu menyuguhkan senyum di saat suasana gelisah. Ibu, jangan tinggalkan anakmu yang tak berdaya ini.

Aku mulai banyak berubah, menjadi lebih pendiam. Kini sering melamun dan sering kali lupa makan. Pagi ini mungkin terasa berbeda bagi teman-teman seumuranku. Karena hari ini adalah hari pertama ujian nasional untuk SMA dan sederajat. Namun tidak bagiku, aku menganggapnya sama seperti hari-hari lainnya. Hari-hari sepi tanpa Ibu.

“Tok..tok..tok..!! bangun nak, udah siang” kata Ayah membangunkanku.
Namun aku tetap terdiam.
“April… Bangun nak, udah siang. Nanti kamu telat lo. Inikan hari pertamamu UNAS”
“Ya pa.. Aku bangun..” jawabku yang sudah kehilangan semangat.
“Cepat mandi dan ganti baju, Ayah tunggu di meja makan”
“Ya pa!” jawabku dengan nada malas.

Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dengan handuk kesayanganku di pundak. Gayung yang terombang-ambing oleh air serta bunyi kran yang menyemburkan air bagaikan bernyanyi dan berdansa menyambutku. Tanpa pikir panjang, kumasukkan baju tidur ke dalam mesin cuci dan mulai membilas tubuhku. Ku siram semua perasaan sedih yang kurasakan. Kunikmati setiap tetes air yang menyejukkan hati.

“Ngomong-ngomong kok omongan gua tambah ngelantur ya? Ya udahlah selesai aja mandinya.”

Setelah selesai mandi, aku bergegas menuju ke bawah dimana Ayah dan adikku sudah menunggu di meja makan. Namun belum sampai di meja makan, aku terperanga ketika mendengarkan kata-kata Ayah.

Hatiku yang tadi telah disegarkan oleh guyuran air di kamar mandi. Kini merasakan sakit yang tak terkira. Hatiku bagaikan kulit yang di sayat lalu sayatan itu terkena air keringatku sendiri. Itu semua terjadi ketika aku mendengar percakapan Ayah dan adikku di ruang makan.

“Din, Ayah mau tanya sesuatu boleh gak?”
“Tanya apa pa?” Jawab Dina polos.
“Gimana rasanya hatimu setelah kepergian Ibu?”
“Dina merasa kehilangan sosok yang membuat rumah ini berwarna pa” jawab Dina sambil merunduk.
“Bagaimana kalau Ayah membuat rumah ini lebih berwarna?” tanya Ayah membuat curiga.
“Caranya?” jawab Dina tak mengerti.
“Ayah akan mencarikanmu sosok yang sama dengan Ibu” jawab Ayah sambil melebarkan senyum.
“Beneran? Ayah gak percaya?” tanya Dina meyakinkan.
Ayahku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Horeee!!!” teriak Dina kegirangan.

Tak kusangka, belum genap 40 hari Ibu meninggal. Ayah sudah memiliki rencana untuk menikah lagi. Betapa teganya Ayah.

“Ayah jahat!! Benar-benar jahat!” kataku dalam hati.

Adikku yang sedari tadi bersorak kegirangan kini sudah terdiam. Aku mencoba mendengarkan kembali dari balik dinding meja makan. Tanpa kusadari adikku sudah berada di sebelahku. Segera kuusap air mata yang membasahi pipiku.

“Ngapain kakak disini?” tanyanya polos.
“Nggak kok, kakak cuma kecapean habis turun tangga.” jawabku sambil menutupi kesedihanku.
“Oh iya kak, kakak pasti senang dengan berita ini.”
“Ayo coba tebak kak, gak tahu ya? Ayah mau carikan kita pengganti Ibu kak!” jelasnya dengan penuh semangat.
“Kakak pasti senang kan?” tanyanya lugu.

Air mata yang tadinya sudah kering, kini muncul kembali. Bagaikan menemukan sumber mata air yang baru, mataku terus meneteskannya tanpa bisa di bendung.

“Loh, kok kakak malah nangis?” tanya Dina spontan.
Pertanyaan itu seketika di respon dengan cepat oleh Ayahku dengan berlari ke arah kami.
“Ada apa ini?” tanya Ayahku khawatir.
“Nggak tau nih yah, waktu ku kasih tahu kalau Ayah mau menikah lagi. Eh, kak April malah nangis.” Jelas adikku.

Ayahku menatapku dengan tatapan yang penuh makna. Lalu beliau memeluk tubuhku dengan erat dan coba menenangkanku. Ayahku mengajak sarapan pagi bersama. Setelah selesai sarapan, aku coba untuk memberanikan diri membicarakan masalah pengganti Ibu.

“Yah, Ayah yakin? Mau menikah lagi?” tanyaku dengan sedikit memelas.

Ayahku seketika terpaku, raut wajahnya bercampur antara bingung, sedih, dan kaget. Sepertinya beliau tak menyangka putri pertamanya akan berbicara seperti itu.

“Ini kan juga demi kebaikanmu pril” jawab Ayah.
“Tidak, ini April ataupun Dina, ini pasti untuk kesenangan Ayah sendiri kan?!”
“Pokoknya, aku tidak mau Ayah menikah lagi. Titik!!!” sambil menghentakkan tanganku ke meja makan, dan berlari menuju sekolah.
“April!! April!! Tunggu nak!” teriak Ayahku coba menjelaskan.

Perjalanan ke sekolah kali ini terasa berbeda. Suara tangis terus mengiringi langkahku. Air mata pun terus mengucur menjadi satu dengan tetesan keringat. Tisu kesayanganku pun berserakan tak berdaya di sepanjang jalan.

Aku kembali merasakan bahwa ini terlalu berat untukku. Kembali pula terlintas dibenakku untuk mengakhiri semuanya. Namun kurasa semua itu tak berguna. Hanya akan menambah beban bagi kedua orang tuaku terutama Ibuku. Waktupun berjalan singkat. Kukira sudah cukup untuk hari ini. Tekadku sudah bulat untuk mengakhiri hari ini. Dengan tanpa ragu aku berlari dan melompat ke ranjang dan memejamkan mata. Meninggalkan dunia ini untuk sementara.

Keesokan hari, aku melakukan aktifitas seperti biasa. Kamu sarapan pagi bersama di meja makan. Namun yang membedakan dengan hari sebelumnya adalah, aku dan Ayah masih terus berdiam diri. Hingga akhirnya Ayah pun memulai membuka pembicaraan.

“Pril, maafkan Ayah nak. Memang kamu benar, ini semua terlalu cepat untuk kau terima. Papa tak ingin membuatmu kecewa.”
“Tapi disisi lain, Ayah juga ingin membuat rumah ini berwarna lagi. Tolong pril, pahamilah posisi Ayah nak” suara Ayahku memohon padaku.
“Enggak! Sekali enggak tetep enggak!” aku bersikeras.

Aku berlari keluar tanpa mendengarkan perkataan Ayah. Yang kutahu saat ini hanya lah Ayahku jahat. Aku sangat marah kepada Ayahku. Bahkan untuk melampiaskan kemarahanku, hari ini aku membolos sekolah. Pilihan yang sangat buruk memang. Hari kedua ujian nasional, aku harus membolos gara-gara masalah keluarga. Tapi rasanya juga percuma jika mengerjakan soal dengan hati yang sedang gundah.

Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah danau sepi. Seharian, aku hanya duduk di bawah pohon di tepi danau sambil memandangi air yang sedikit bergelombang karena hembusan angin. Terkadang, terlihat pula oleh ku 2 insan yang sedang bercengkrama mesra disisi lain danau. Itu sempat mengingatkan ku akan sosok awan. Orang yang pernah jadi milikku, namun kini lebih memilih untuk meninggalkanku tanpa sebab yang jelas.

Entah kenapa di tengah lamunanku akan sosok Awan, tiba-tiba aku teringat Ayah. Aku merasa bahwa aku sangat bersalah. Aku sadar, bahwa aku terlalu mudah marah tanpa melihat dari sisi orang lain. Entah jiwa apa yang merasuk ke dalam tubuhku, namun aku yang sedari tadi membenci Ayah, kini aku memaafkannya. Tanpa berpikir panjang, akupun segera pulang.

“Aku pulang!” seruku dengan semangat.

Kulihat Ayah sedang terduduk di kursi ruang tamu. Segera kupeluk erat tubuhnya. Beliau sedikit terhentak kaget. Mungkin beliau tidak menyangka aku akan melakukan hal ini.

“Maaf ya yah, selama ini aku terlalu cepat marah tanpa mempertimbangkan posisi Ayah.” Aku menyesal
“Ya nak, tidak apa-apa.” Jawab beliau sambil tersenyum.

Dan mulai saat itu, hari-hariku kembali membaik. Aku mulai rajin belajar untuk menempuh UAS dan juga susulan gara-gara aku membolos saat hari selasa kemaren. Aku juga merestui Ayahku untuk menikah lagi. Dan hari ini, adalah hari kelulusanku. Dimana aku mencapai nilai yang cukup tinggi. Di tambah lagi, Awan yang dulu meninggalkanku tanpa sebab kini telah menjadi milikku kembali. Ia mengaku, bahwa Ia memutuskanku karena ia ingin berkonsentrasi untuk UNAS. Ini semua juga berkat almarhumah Ibuku. Yang selama ini berjuang demi anaknya.

Engkau selalu menyimpan masalahmu sendiri, karena tak mau aku ikut memikirkannya. Hingga akhirnya 2 bulan yang lalu engkau memilih untuk bunuh diri. Terima kasih Ibu, meskipun kini posisimu telah tergantikan, namun jasamu takkan pernah terlupakan. Ibu, kini aku telah membuatmu bangga karena memiliki anak yang cerdas sepertiku. Dan mulai saat ini aku berjanji bahwa tisu yang kupegang saat ini. Tisu yang menyimpan semua luapan air mata bahagia ini, adalah tisu terakhir dalam hidupku. Aku tak ingin bersedih lagi yang membuat Ibuku semakin bersedih.

— END —

Cerpen Karangan: Sugeng Dwi
Blog: awanirukoite.blogspot.com
Facebook: frank kiberline
TTL : Blitar, 05 Okt 1997
Saya hanyalah pemula, jika ada kesalahan mohon kritik nya ke facebook saya. Terima kasih atas bantuannya

Cerpen Tisu Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunda

Oleh:
Aku masih tidak percaya apa yang sedang ku lihat sekarang. Selembar kertas ulangan yang di sana tertera nilai 70. Kenapa nilai ulanganku jelek sekali? Biasanya aku selalu mendapat nilai

Rumah Dari Tangan Ayah

Oleh:
Di masa mudaku dan tahun-tahun rapuh, Ayahku mengajakku tinggal di sebuah rumah yang tampak seperti buah permai di puncak bukit yang dikelilingi sungai jernih dan gunung-gunung beku yang menggigil.

Hadiah Bunda

Oleh:
Hei, namaku Lian. Berlian Lavender tepatnya. Pagi ini, aku siap untuk berangkat ke sekolah. Kulihat makanan lezat berjejer-jejer menungguku dengan bau lezat mereka. Bunda sudah menunggu sambil tersenyum padaku.

Harapan Untuk Ibu

Oleh:
Fyuh! Nilai, nilai, nilai. Kenapa kau terus membuatku dimarahi orangtuaku? Hasil ulangan MTK-ku yang di bawah 6 membuatku tidak diberi uang saku selama 3 hari. Sudah biasa sebenarnya, tapi

Kakak Berartikah Aku?

Oleh:
Mungkin semua orang menganggapku sama seperti remaja pada umumnya, namun tidak menurutku aku memiliki kekurangan yang mungkin bisa membuat semua teman bahkan sahabat malu bersamaku, hingga ku tak dapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *