Titik Api

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Lingkungan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Dulu, Kalimantan ditajuk sebagai paru-paru dunia. Barangkali, “dulu” tinggallah menjadi mozaik-mozaik masa silam. Dan kini, lihatlah, para penguasa, konglomerat, pembisnis, atau setara dengan itu mengeksploitasi hutan besar-besaran. Maka kemarau menjadi algojo yang paling algojo kala telah tiba. Matahari makin mengganas untuk melepuhkan jalanan aspal, memanaskan udara. Angin menggerakkan debu-debu, lalu bergumpalan, menyapu wajah, menempel di dedaunan, kemudian terbang tak tentu arah. Keringat merembes, melengket di kulit lalu bersatu dengan debu pada akhirnya berbau. Aku mulai tak menyukai kemarau.

Aku menjalari jalan aspal, dengan bersepeda, yang mengandung kalor tinggi dan sedang bunting debu. Acapkali angin menyapu, aku menyipitkan mata dan memalingkan wajah ke kiri atau ke kanan. Lalu jauh di ujung mata memandang, fatamorgana muncul dengan tipuannya. Waktu aku mendongakkan kepala, tampak matahari menggelora menyilaukan mata, langit biru serupa samudra atlantik, dan sekumpulan awan cirrus yang terlihat seluas pulau bangka dan belitung jika dilihat dari atlas dan berwarna putih-kelabu menambah kecantikan langit.

Tapi itu hanya keindahan di mata, lain halnya di sekujur tubuh. Aku merasa tersiksa. Terlebih, aku hanyalah seorang perempuan yang tak mau kalah dengan perjuangan lelaki. Pun rumahku yang berada di daerah pegunungan, yang di kiri-kanan jalan adalah hutan. Manusia, terkadang kurang pandai bersyukur. Kalau saja hujan sepanjang tahun, manusia mengalunkan doa meminta kemarau. Lalu, jika telah diberi kemarau berkepanjangan, manusia berduyun-duyun berpuasa lima hari lalu menuju lapangan lengang, melakukan salat istisqa. Tetapi, Tuhan memang Maha Mengabulkan segala permintaan.

Tiba di rumah, aku bak cacing yang tengah berada di tanah gersang, kepanasan. Napas tersengal-sengal, keringat merayapi dinding dahi, lelah menjalari sekujur tubuh, dan udara panas memenuhi rongga-rongga hidung. Aku mendekati jendela yang berada di belakang sofa di ruang tengah. Barangkali, aku bisa mendapat asupan udara dingin sebab yang terpandang kala melihat jendela itu ialah hutan yang menghembuskan napas dingin lewat hijau rimbun daunnya. Memang benar apa yang ku duga, tetapi itu hanya berlangsung selama setengah menit, selebihnya panas, hanya panas. Baru selangkah berbalik, aku kembali melihat ke luar jendela: di antara liar ilalang, sebuah asap tipis menjulang ke langit. Namun, aku tak peduli, alih-alih menuju kamar menyalakan kipas angin sembari berganti baju. Setelah itu, aku duduk bersandar menjulurkan kaki sambil sibuk menyibak halaman buku.

Mendengar bunyi gemeretak, seperti seseorang yang menginjak ranting-ranting kering, aku tak peduli. Aku menyangka, barangkali, seseorang sedang menyabit rumput untuk makanan domba-dombanya tanpa disengaja menginjak ranting, atau mengumpulkan kayu bakar buat menanak nasi. Atau, mungkin beberapa anak kecil sedang bermain senapan yang terbuat dari bambu berdiameter kecil sepanjang tiga puluh sentimeter yang ujungnya diletakkan peluru dari daun singkong, kemudian disodok dengan bambu pula. Tetapi, jika suara itu bermula dari anak-anak itu, ada yang ganjil: mengapa tak ada suara orang-orang terkikik?

Atau sekadar memekik, awas! Ku balas kau? Aku masih bergelut dengan novel yang ku baca, aku tak acuh. Lamat-lamat, bunyi itu semakin nyaring terdengar. Angin hembusan kipas angin pelan-pelan terganti dengan mengalirnya kalor. Maka aku beranjak dari atas tilam, menuju jendela yang ku tandangi tadi. Dan, Oh, lihatlah, pasti ini sebab ketidakpedulianku: Api berkobar besar, lidahnya melahap bambu-bambu kering dan menyebabkan tubuhnya membesar hebat. Aku setengah berlari menuju pintu dapur, ihwal pintu itu ialah jalan paling dekat dengan hutan terbakar di samping rumahku itu. Kala membuka pintu, seseorang pria paruh baya menghadangku. Aku tersentak.

“Tak tahukah, Nak, kalau saja hutan itu terbakar?!” cecarnya, “Aih, cepatlah, nyalakan keran. Pasangi selang yang panjangnya bisa sampai ke hutan itu! Lalu, di mana Ayahmu?”

Dengan terburu-buru aku melaksanakan apa yang lelaki itu perintahkan. Namun, aku tak menggubris pertanyaan terakhir itu: di mana Ayahmu? Dalam benak aku berkata, biarlah ayahku, sebisa mungkin aku tak mau melibatkannya dalam masalah yang genting ini, Pak. Lelaki itu menyemburkan air yang mengalir lewat rongga-rongga selang yang ternyata tak sampai pada api yang tengah bergolak itu. Maka ia menyemprotkan di tetumbuhan yang berada di belakang rumah agar api tak merambat. Tak ayal, aku memasuki rumah, mengambil sebuah ember, dan mengisi air di kamar mandi. Maksud hatiku, untuk cepat memadamkan api itu. Aku tak ingin kehilangan hutan kecil di sayap kiri dan kanan rumah, aku masih menyukai hijaunya yang menawan.

Mungkin, karena terusik bunyi air yang berbenturan dengan dasar ember, ayah beranjak dari kamarnya, mendatangi arah bunyi itu yang berasal dari tindak-tandukku.
“Siapa yang membakar hutan di samping rumah, Asira?”
“Tidak ada yang selancang itu, Yah, barangkali sebab kemarau. Tadi, waktu aku pulang, ada asap tipis di antara ilalang, kemungkinan dari sanalah titik api bermula.”

Lalu, ayah berjalan menuju pintu yang terbuka itu. Aku mengguyurkan air ke dalam ember, ihwal tadi tertunda sejenak menjawab pertanyaan ayah. Setelah ember itu berisi air yang meluap, berjatuhan di lantai kamar mandi, aku mengangkat ember dengan kedua tanganku di kedua sisi ember di depan dada. Lutut ku tekuk, sambil berjalan terburu-buru. Kemudian, menyiramkannya pada api yang tengah meraja di tengah siang. Begitu terus. Aku tak memedulikan keringat bercucuran, baju kotor dan basah, asap yang memerihkan mata dan menghalau pernapasan, juga kelelahan. Padamlah api, kenyanglah engkau, kemudian, menyerahlah! Aku memekik dalam hati.

Ayah menebas daun pisang yang menguning, lalu perdu yang tumbuh di belakang rumah. Ia menyuruhku menghentikan menyiram air sejenak untuk memindahkannya. Mula-mula ku penuhi tangan dengan daun pisang yang kering. Setelah itu mengangkat batang belukar yang berduri jarang-jarang, menarik ranting yang belum benar-benar tercabut dari akarnya, lalu meletakkannya di sayap kanan rumah musabab api belum sampai, dan telah disangka tak akan sampai ke sana. Setelah itu, aku bak petugas damkar -pemadam kebakaran- terus memadamkan api dengan musuh sepanjang riwayatnya: air.

Memang benar, api itu telah padam, namun daun-daun yang terbakar dan telah menjadi abu, beterbangan tak tentu arah. Asap tipis yang mengandung gas karbon monoksida bergelayut di sekitar rumah. Mentari siang menambah kegerahan, membuat keringat menderas. Hatiku dilanda kemasygulan, mataku disajikan pemandangan miris: hutan yang semula hijau semua itu sebagian besar dilalap api, warnanya bermetamorfosis menjadi kombinasi antara abu-abu, kuning, dan cokelat kering. Betapa pun, aku mencintai hutan. Sangat mencintainya, bahkan.

Cerpen Karangan: Rasyad Fadhilah
Facebook: Rasyad Fadhilah
Rasyad Fadhilah dapat disapa di akun facebook: Rasyad Fadhilah, dan akun twitter-nya: @Rasyad Fadhilah1. Siapa pun yang ingin melihat karangan-karangannya dapat mengunjungi laman: narapidanakata.wordpress.com.

Cerpen Titik Api merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Roh Penunggu Hutan

Oleh:
Hari ini rasanya sendi-sendi sel tulangku terasa lepas satu persatu. Ku rebahkan tubuhku mencari sosok indah dalam lamunan, namun yang ada hanya kekosongan dan rasa muak yang tak kunjung

Manusia Setengah Malaikat

Oleh:
Malam. Ada sebuah kisah yang begitu menyakitkan. Ada segelintir cerita yang begitu perih menyedihkan. Ada segores harapan kecil dalam kenistanaan. Ada doa suci dalam dosa-dosa malam. Malam. Terpaksa aku

Cerita 20 Tahun

Oleh:
20 Tahun. Dimana kita lagi seru serunya ketemu temen baru, suasana baru, tempat baru yang belum pernah kita temuin, tanggung jawab sama kerjaan, tugas tugas numpuk yang bikin tidur

Pengkhianatan

Oleh:
“Bisa gak kita berhenti melakukan ini?” Dua gadis berstatus pelajar duduk di meja masing-masing. Salah satu gadis asyik sekali menggambar di kertas sketsanya, sedangkan gadis yang lainnya berwajah kusut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *