Titik Noda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 20 September 2017

Seperti gadis belia pada umumnya, aku memiliki banyak teman dengan segala kegembiraan yang ada. Senyuman seolah tak pernah sirnah menghiasi wajah yang memang tak seberapa dibanding sekian teman dekatku. Ketika rerata usia sebaya mulai sibuk mempercantik penampilan, aku justru tiada memiliki ketertarikan dengan hal semacam itu. Polesan bedak tipis dengan selera fashion yang bisa dibilang rendah membuatku sedikit ragu akan menjalani tahap kedewasaan. Poin utama seorang wanita terletak pada penampilan. Lalu bagaimana denganku? Ah, entahlah.

Perubahan biologis secara fisik maupun mental mulai kurasakan. Kini aku memasuki fase dimana emosi mengalami ujian yang luar biasa hebat. Tahapan yang harus dilalui sebelum menyandang predikat dewasa adalah remaja. Dimana jiwa pemberontak dan keingin tahuan yang amat besar mulai dirasa. Sebenarnya ini adalah zona paling berbahaya dalam grafik kehidupan. Karena di masa itulah dimulainya pembentukan jati diri seseorang. Sekali salah langkah, maka akan terjerumus ke lubang hitam membahana. Pemikiran yang belum cukup matang, akan menjadi prolog cerita dalam tabir fatamorgana dunia.

Kebebasan untuk melakukan apa saja seolah menjadi pondasi terkuat dalam diri. Hingga ku merasa ada sesuatu yang belum pernah kutahu sebelumnya. Kebahagiaan yang tiada tara namun sedikit terganggu dengan perasaan gugup membuatku salah tingkah tiap kali melihat sosok “Dia”. Aku menganguminya. Emm, tidak. Definisi yang kurang tepat menurutku. Bukan sekedar kagum bahkan lebih dari itu. Oh, apa mungkin cinta? Mana mungkin aku dapat merasakan cinta? Aku merasa belum pantas akan hal itu. Berkaca dari penampilan serta semua yang kupunya. Aku sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun dalam diriku. Hanya perempuan berpakaian lusuh dengan prosentasi keahlian nol, sudah berani menyukai laki-laki tampan bak pangeran. Bagai punuk merindukan bulan. Huft.

Cukup lama ku menyimpan rasa namun bibir tak mampu berkata. Waktu yang menjadikan semua mimpiku jadi nyata. Pada hari ini, resmi ku menjadi kekasihnya. Sedikit tak percaya namun ini benar adanya. Rangkaian kata indah dengan perlakuan manis mengundang tawa ria. Sunguh indah dan benar-benar indah. Rasa nyaman jelas kurasakan. Banyak menghabiskan waktu bersama seolah tiada kata bosan untuk kita. Jantung berdegup kencang ketika ia mencium tepat di keningku. Seketika itu jua ku terpaku. Seolah lidahku kelu dan tak tahu harus bagaimana. Ciuman pertama kudapatkan bersama dengannya. Perasaan takut sempat menghantui. Namun, lagi-lagi rayuan manja berhasil melunturkan ketidaknyamanan yang ada.

Cinta dan ciuman itu. Apakah rasa cinta harus diselingi dengan perbuatan demikian? Aku rasa tidak. Ketenangan tiada pernah lagi aku rasakan. Mungkin karena kebosanan atau apapun itu. Aku yakin ciuman bukanlah rasa cinta akan tetapi efek dari rasa keingin tahuan dan nafsu. Cukup ku menjalin asmara dengannya. Sedikit trauma akan segala tindakan dalam hubungan percintaan. Tidak akan lagi pernah ku menjalin asmara sebelum ku merasa siap untuk hal itu. Tekadku dan semangat akan masa depan lebih indah dibanding harus membuang waktu dengan jalinan hubungan kasih sementara.
Di usiaku yang selalu bertambah dengan kesendirian membuat sedikit ku merasa hampa dalam jiwa. Apalagi melihat teman terdekat sibuk dengan seorang pria yang dikasihinya, semakin seolah ku sendiri tiada siapapun yang mendampingi.

Hingga suatu ketika kemantapan hati akan kedewasaan membuatku kembali berani membuka hati untuk seorang laki-laki. Perawakan ideal dengan penampilan meyakinkan disertai pembawaan yang amat tenang. Rea, ialah pria yang berhasil menemukan kunci hati dan layak masuk dalam kehidupanku. Dengan tangan terbuka ku menerima sosok ia tanpa ada perasaan ragu yang mengganggu.

Rasa aman dan nyaman membuat enggan untukku jauh darinya. Tiba-tiba ingatan masa lalu akan jalinan kasih kembali menghantui. Ciuman. Ya, aku kembali mendapatkan ciuman dari orang yang berbeda. Merasa risih pada awalnya, namun lagi-lagi rayuan asmara merasuk dalam jiwa. Entah mantra apa yang ia bisikkan padaku hingga ku merasa kembali nyaman tanpa menghiraukan kata nurani terdalam. Tiada ku sangka lebih dalam tenggelam dalam zona hitam. Aku sadar dan benar-benar dalam keadaan sadar tapi apadaya ku mulai menikmati sehingga tiada niat untuk mengakhiri.

Hubungan yang seharusnya tak kulakukan, kini telah ku merasakan. Bukan hanya sekedar merasakan tapi juga menikmati bahkan aku merasa mulai kecanduan. Candu asmara dengan perlakuan hubungan terlarang. Ketika itu otakku seakan tak bekerja dan hati seolah mati. Yang aku fikirkan hanya hal buruk hingga ku merasa bodoh. Ya, benar-benar bodoh. Ketika rasa ingin sekali kembali menikmati namun tiada yang sudi meladeni, seketika itu juga seakan darahku mendidih dan ku merasa kalap akan dunia yang terlihat gelap.

Roni, teman lelaki yang selalu mengingatkanku mengenai segala hal yang sekiranya buruk pun tak lagi kuhiraukan. Dengan paksaan dan sedikit perlakuan kasar, aku berhasil memaksa Roni untuk berhubungan intim denganku. Tatapan penuh ketakutan jelas kulihat dari pancaran sinar matanya. Namun ku tak peduli akan hal itu. Yang aku inginkan hanya pelampiasan atas apa yang ku rasakan. Kenikmatan sama sekali tak kudapatkan. Rea, sangat ku merindukannya. Entah di mana ia kini berada. Mungkin aja sedang sibuk dengan kegiatan barunya atau malah sibuk dengan wanita lain yang sudah dipilihnya.

Akhir-akhir ini ku merasa adanya perubahan yang signifikan pada Rea. Mulai dari intensitas komunikasi yang menurun hingga perubahan perlakuan yang tidak seperti sebelumnya. Dalam kesendirian, kehampaan sungguh ku rasa dalam hati. Puncak dari perubahan semua sikap Rea terjadi tepat hari ini. Melalui pesan singkat, ia memanggilku dengan sebutan jal*ng. Masih ku bisa menahan amarah dan mencoba menerka mungkin saja ia sedang tidak enak hati. Akan tetapi semakin lama, perkataan semakin tidak dapat ku terima dan perlakuan tak acuh terhadapku. Tidak seharusnya ia berlaku demikian padaku setelah merenggut masa depanku.

Cukup! Cukup sampai di sini ku mengenalmu. Tak ingin lagi diri terjebak dalam perangkap nafsumu. Kau menyebutku jal*ng, lalu bagaimana dengamu? Tidakkah kau ingin berkaca? Rentetan pertanyaan penuhi benakku. Andai saja ku mampu mengucap semua itu padamu. Air mata yang sama sekali tak ku inginkan, kini basahi wajahku. Hatiku bukan lagi tergores. Hatiku kini hancur karenamu. Inikah yang kau inginkan? Membuangku tanpa pertanggungjawaban. Kau mendustakan semua ucapan indahmu padaku. Entah aku yang terlalu bodoh atau kau yang terlalu pandai menulis skenario kisah asmaramu dengaku.

Aku sama sekali tak mengerti alasan Tuhan mempertemukanku denganmu. Hampir seluruh tubuhku telah terjamah olehmu. Pria mana yang menginginkanku setelah mengetahui bahwa tak ada lagi bagian suci dalam diriku. Jangankan orang lain, aku sendiri pun seolah jijik dengan tubuhku. Terlihat pantulan diri pada cermin seakan menertawaiku. Kejam. Sungguh kejam perlakuanmu terhadapku. Kau tidak pernah mengganggapku sebagai kekasihmu. Aku yang sering kali kau sebut jal*ng, hanyalah seorang wanita yang sudi meladeni nafsu birahimu. Kau hanya menganggapku sebagai pelayan ketika kau menginginkan hubungan terlarang.

Bodoh! Aku sungguh bodoh telah menghiraukan segalanya demi dirimu. Lembaran kehidupan yang harusnya terisi kisah indah kini telah kau goreskan tinta merah. Usang. Telah usang catatan kehidupanku olehmu. Niat hati ingin merentas lautan api namun percuma saja. Noda abadi kini tenggelam di dasar nurani. Enggan untukku berharap akan cerita mendatang. Satu hal yang dapat kupastikan. Aku akan mengingatmu sekarang dan setelah kematian.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Titik Noda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sejati

Oleh:
Awal pertemuanku dengannya di sebuah halte bus. Waktu itu, aku dan temanku urip melintas di depan halte bus jalan pramuka. Urip yang membawa motornya dan aku membonceng di belakang,

Interaksi Dengan Orang Asing

Oleh:
Interaksi selalu menjadi bagian hidup bagi seluruh kehidupan di muka bumi ini, baik itu manusia dan manusia, hewan dan hewan, atau pun manusia dan hewan, tentu saja menarik untuk

Ibu

Oleh:
Bau khas tanah yang terkena hujan langsung menyapa ku saat aku keluar dari mobil, hujan rintik-rintik kecil cukup membasahi bajuku yang saat itu berwarna hitam hingga membuat lingkaran kecil

Waiting For The Time

Oleh:
Waktu berjalan begitu cepat. Dahulu Anggun begitu memuja-muja Reva meskipun mereka belum saling mengenal. Sejak pertama kali bertemu, Anggun sudah merasakan sesuatu yang beda. Akan tetapi Anggun selalu bersabar

Jelantik

Oleh:
Bapak masih terduduk di atas dipan, wajahnya mendongak ke atas. Mencoba bertanya kepada para penghuni langit, sekedar mencari tahu dimana Jelantik berada. Sudah seharian bapak menjadi patung bernyawa disitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *