Truntung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 June 2017

Lelah rasanya pagi ini, harus segara bersiap di jam ternikmat untuk diam di bawah selimut. Terpaksa pergi ke kamar mandi untuk berperang melawan dinginnya suasana pagi. Melewati waktu dengan tergesa-gesa. Jika melakuan segala hal seperti kuya, maka Truntung itu akan meninggalkanku.

Aku benar-benar bahagia mulai bersekolah di sekolah favorit. Bertemu teman baru yang menyenangkan. Namun kadang aku pun merasa tak seberuntung itu, karena setiap berangkat aku harus membuang jam pagiku agar tak tertinggal Truntung itu. Ketika aku lima menit saja terlambat, supirnya akan duluan meninggalkanku tanpa berkata “permisi”.

Suatu hari, aku pernah Menunggu waktu panjang, namun Truntung itu tak kunjung menghampiri. “Ke mana kau Truntung?” truntung itu tak bisa menjadi aksesku menuju sekolah karena supirnya ada keperluan. Sungguh menyebalkan bukan?

Hujan lebat membuat hampir semua siswa tak bangkit dari duduknya di koridor depan kelas masing-masing. Ya itu benar, kecuali aku dan kedua temanku. Sebut saja mereka aliffia dan vidia. Kami menerobos tetesan air yang tampak tajam karena takut Truntung itu akan meninggalkan kami. Tapi untungnya tidak, Truntung itu masih terparkir di lahan kecil di pinggir sekolah. Aku sungguh lega rasanya ketika mendapati Truntung itu masih menunggu manis.

Aku tak begitu beruntung, bahkan tidak sama sekali. Lama menunggu penumpang Truntung lainnya yang masih terdiam di sekolah menunggu hujan reda. Untuk apa coba? Bukankah tak akan kebasahan walau hanya naik Truntung. Mang lukman sebagai sopir Truntung itu berkata akan menjemput mereka yang belum terduduk di mobil ke sekolah. Oh tuhan, bagaimana ini? “Tak usah malu, anggap saja kalian sedang duduk di dalam mobil pajero” tawa mang lukman. Tawanya tak membuat tawa aku, aliffia, vidia juga beberapa teman lainnya tertawa seperti mang lukman, kami hanya terseyum miring dan menelan ludah.

Sampai akhirnya.
Di tengah lapang basket Truntung yang dianggap mobil pajero oleh mang lukman berdiri di tengah-tengah siswa dan siswi. Hidup seakan berat waktu itu, walau tasku yang berwarna hijau telah kuletakkan di kaca mobil, namun tetap terlihat kalau aku adalah salah satu yang ada di mobil tua itu. Menutup mata, sampai akhirnya suara bising di sekitar sekolah membuat mataku terbuka. “Oh tuhan, mang ayolah keluar gerbang saja” ucapku. “Pajero, pejero” balas mang lukman membuat kami yang berada dalam Truntung itu merasa agak kesal. Apalagi dalam mobil diputar lagu dangdut yang bisa dikatakan “kampungan” oleh teman-temanku.

Tingkat tinggi maluku telah usai. Sepanjang jalan kami yang tadi dipermalukan di sekolah oleh mereka yang diam saja di sekolah terus berkata-kata. Tak sekedar berkata-kata biasa, kata sindiran yang pedas bagai cabe pun berhasil kami lontarkan. apalagi aliffia dan vidia yang terang-terangan memerangi mereka. “Kami pun tak pernah membuat kalian malu!” salah satu kata yang berhasil keluar dari bibir tipis vidia. Wajah mereka terlihat takut, apalagi mereka itu adalah adik kelasku, vidia, aliffia juga teman-temanku yang tadi menunggu. Mereka Seperti terpidana yang sedang mendapat banyak hujatan menyakitkan.

Aku sudah agak menikmati kebiasaanku menunggu Truntung itu. apalagi ruang kosong kini terdapat di jok Truntung itu. Biasanya, kursi yang pas untuk 3 orang pun cukup untuk lima orang. Mungkin lebih tepatnya dicukup-cukupkan. Dunia agaknya mulai bersinar, ada celah untuk bernafas setelah kakak kelas yang menjadi penghuni Truntung itu keluar. kami sebagai penumpang senang, kalau mang lukman terlihat begitu tidak bersemangat karena pendapatannya berkurang.

Truntung tinggal Truntung, mobil tua itu tak lagi menemani hari-hariku di 3 Bulan terakhir aku bersekolah di SMP. Meninggalkan kami, penumpang setianya. Tiga tahun kurang truntung itu menemani pagi dan siang kami, setiap Berangkat dan pergi. Kini tinggal sepenggal kenangan yang suatu saat akan kuceritakan pada anak-anakku. Truntung Yang menyebalkan, namun sangat membantuku. Perjalanan 5 km dari rumah ke sekolah kini harus naik ojek, dengan tarif 2 kali lebih mahal.

itulah Sedikit kenangan dengan Truntung, si mobil tua.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Truntung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Samun Punya Cerita

Oleh:
Di balik matahari yang mulai mengantuk, di sela-sela jari kaki Gunung Semeru; yang mereka sebut sebagai negeri di atas awan walaupun masih (selalu) di bawah sekotak misteri-Nya. Seorang pemuda

Meluluh Dosa

Oleh:
Aku dan Albert sudah tinggal bersama sejak kecil. Itu tentu saja, karena kami adalah sepasang saudara. Kakakku, wajahnya tampan, tubuhnya ideal, senyumnya mengoda. Bicara soal sifat, ia sangat sabar

Cinta Masa SMA

Oleh:
Pertama kali Raisa melihat Kevin, disaat itu juga mata Raisa dan Kevin saling bertatapan. Dan tiba-tiba rasa itu muncul di hati Raisa, bisa jadi perasaan itu disebut dengan cinta.

Romantic Knowledge (Part 2)

Oleh:
Istirahat kali ini aku makan sendirian, tanpa bayang-bayang Zara. Sebenarnya Zara tidak bersamaku karena dia sedang rapat dengan anggota OSIS. Dan di sinilah diriku, sendirian, di tengah keramaian. Dan

Bosan Bukan Alasan

Oleh:
Saat ini aku memilih sendiri mungkin lebih menyenangkan dari pada berdua tapi selalu ngebatin karena kelakuannya yang menyerupai anak-anak. “Bosan” yah, rey si cowok populer sesekolahan dengan bodohnya dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *