Tuhan Bilang Jangan!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

“Jangan bilang kalau Tuhan itu baik!” Ucap Supardi
“Kenapa? bukankah Tuhan yang memberikan kita kehidupan, Ayah” balas Gendis
Gendis tahu rasanya kehilangan hak yang sangat berharga atas apa yang Tuhan berikan, bahkan saat ia tidak lagi bisa melihat senja, hujan turun, pun Ayahnya. Gendis tahu itu. Berkali-kali Ayahnya bilang,
“Hentikan, kau ini buta. Sadarlah!”

Hidup memang ujian, bagi Gendis sudah cukup ia kehilangan penglihatannya. Bukan, bukan berarti Gendis berusaha menghentikan takdirnya. Gendis tahu Tuhan telah menggariskan takdir terhadap manusia. Mungkin, bila dibolehkan Gendis menyerah dengan kondisinya saat ini. Ayahnya, Gendis tahu ini adalah teguran untuk Ayahnya, hanya saja Tuhan memberikan isyarat lewat Gendis. Mungkin, Tuhan lebih sayang Gendis dibanding Ayahnya.

“Hentikan Ayah, Jangan lagi melakukan hal seperti itu” Ucap Gendis
“Berhak apa kau menghentikanku, ha?!”

Lagi, inilah Ayahnya. Tak menjaga ucapan, dan sikap. Gendis tahu, Ayahnya seperti ini karena dia. Merepotkan memang mengurus orang buta! Pikir Gendis. Pun menyakitkan mendengar Ayah sendiri berucap tak sepadan terhadap dirinya. Tak apa, bukankah disaat seperti ini memang baik, untuk sesorang berkata jujur?.

“Apa yang kau lakukan? Gendis!” Ucap Ayahnya
“Aku hanya melakukan yang menurutku, harus kulakukan Ayah” balas Gendis
“Hentikan!”
“Tidak, Ayah”
“Hentikan Gendis, kau membuatku marah”
“Mohon, Untuk kali ini Gendis yang harus mengantarkan botol-botol bekas ini ke Mang Udin” ucap Gendis
“Hentikan! Kau ini buta. Sadarlah!” bentak Supardi

Tanpa menghimbau Gendis pun segera pergi dan menenteng karung dibantu dengan tongkat yang biasa dia gunakan untuk membantunya berjalan.

“Hentikan! Kau ini buta. Sadarlah!” ucap lagi Ayahnya
“Jangan Ayah!”
“Tuhan bilang jangan!, jangan menyakiti seseorang dengan kata yang menyakitkan. Kau tau Ayah? Tuhan akan benci. Dan kau tau lagi Ayah? Gendis, tidak mau Tuhan benci dengan Ayah. Biar, biar Gendis, yang menjadi kemurkaan Tuhan terhadap Ayah. Gendis mohon, jangan melukai anakmu sendiri dengan kata yang tak pantas itu, Ayah.”

Supardi membeku.

Cerpen Karangan: Revi Liani
Blog / Facebook: tourism-welt.blogspot.com / Revii Lianii

Cerpen Tuhan Bilang Jangan! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cita-Citaku Untuk Ayah

Oleh:
Milkha namanya, lahir di Badung pada tanggal 8 Maret 1997. Kini usianya sudah memasuki 17 tahun, tepatnya kelas 2 SMA. Hidup di sebuah keluarga yang sangat mewah membuat dia

Salah Paham

Oleh:
Awal masuk SMA merupakan sesuatu yang membuat perasaan sedikit canggung. Hati rasanya dag dig dug banget. Dan ragu untuk berkata “Aku anak SMA!”. Mungkin seperti itulah yang dirasakan Reva.

Ada Cinta di Ampera

Oleh:
Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini

Liontin Ibu

Oleh:
Lesung pipi yang meciptakan senyum yang begitu Indah ketika melihatku datang. Matanya yang membulat dan berbinar-binar ketika melihatku berlari ke pelukannya. Tangannya yang lembut ketika mengusap kepalaku. Suaranya begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *