Tuhan Jagakan Pelangiku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 May 2016

Tentang gelembung-gelembung bening yang bertebaran dengan indahnya menghiasi langit senja. Seorang gadis remaja berkerudung abu abu terlihat asyik mengagumi Mahakarya Tuhan, selepas rintik hujan, terlukis indah warna pelangi, tercium bau tanah yang basah menambah sejuk suasana senja taman Tugu Muda sore itu. Gadis itu bernama Anisa, ia terlihat sangat asyik memainkan gelembung sabunnya, setiap tiupan ke luar banyak gelembung sabun yang berterbangan dengan indahnya, Anisa pun tersenyum puas. Tiba-tiba suara gitar mengagetkannya, seorang pengamen menghampirinya, Anisa lalu memberi uang lima ribuan pada pengamen itu dan ia pun lalu kembali asyik dengan dunia gelembung sabunnya. Setelah puas bermain, Anisa pun beranjak pulang meninggalkan keindahan malam Tugu Muda Semarang.

Keesokan harinya suasana di taman Tugu Muda tak jauh berbeda dari hari kemarin, hujan baru saja mengguyur Kota Semarang sore itu, terlihat Anisa di tempat yang sama tengah asyik meniup gelembung sabunnya, sesaat kemudian seorang pengamen kembali datang menghampirinya, orangnya pun sama dengan hari kemarin, Anisa lalu kembali memberikan uang lima ribuan pada pengamen itu, dan hari itu pun berakhir indah seperti sebelumnya.

Keesokan harinya hujan masih terus mengguyur kota Semarang, bahkan hingga sore hari rintik gerimis masih membasahi kawasan taman Tugu Muda. Terlihat Anisa ke luar dari sebuah mobil hitam, seseorang tampak berusaha untuk memayunginya namun Anisa menolak, ia terus berjalan ke tempat biasanya dan membiarkan kerudung abu-abunya basah oleh gerimis. Seperti biasa, dengan penuh semangat Anisa memainkan dunia gelembungnya, dan seperti yang sudah Anisa duga, seorang pengamen kembali menghampirinya, namun tak seperti biasanya, hari ini Anisa memberikan tiga lembar uang sepuluh ribuan pada pengamen itu, pengamen itu tampak kaget menerima banyaknya uang dari Anisa.

“Maaf Mbak, ini nggak salah? banyak banget?” tanya pengamen itu yang terlihat masih seumuran dengan Anisa.
“Itu untuk enam hari,” jawab Anisa cuek dan masih sibuk meniup gelembung sabunnya.
“Kenalin aku Aldi.” pengamen itu memperkenalkan diri.
“Aku Anisa.” jawab Anisa sambil menjabat tangan Aldi dengan ramah. Sesaat suasana hening, sesekali Aldi menggenjreng gitarnya sementara Anisa masih sibuk dengan gelembung sabunnya.

“Boleh tanya?” Aldi mulai membuka pembicaraan.
“Silahkan.” jawab Anisa singkat.
“Kenapa kamu tadi kasih aku uang banyak banget?” tanya Aldi.
“Kan tadi aku udah bilang itu untuk enam hari, jadi ya sama saja kan?” jawab Anisa.
“Maksud kamu?” Aldi bingung. Anisa tersenyum.
“Mulai besok, selama enam hari ke depan aku gak akan ke sini.” jelas Anisa.

“Loh emang kenapa?” tanya Aldi.
“Ada deh.” jawab Anisa sambil tertawa, Ia lalu kembali bermain dengan gelembung-gelembung sabunnya.
“Boleh tanya lagi?” ucap Aldi. Anisa hanya tersenyum mengangguk.
“Kenapa tiap sore kamu selalu ke sini dan bermain gelembung sabun seperti itu?” belum sempat Anisa menjawab tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
“Hujaaann…. Ayo berteduh.” dengan refleks Aldi lalu menarik tangan Anisa dan menggandengnya mencari tempat berteduh. Aldi pun lalu membawa Anisa ke sebuah Gereja yang ada tak jauh dari Tugu Muda. Mereka berteduh di teras Gereja, Anisa terlihat menggigil kedinginan. Aldi lalu melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Anisa.

“Makasih.” ucap Anisa. Aldi tersenyum.
“Masuk yuk.” ajak Aldi pada Anisa untuk memasuki Gereja. Anisa hanya menggeleng. Aldi lalu masuk ke dalam Gereja, sesaat ia ke luar dengan membawa sebuah kursi plastik dan memberikannya pada Anisa. “Duduklah, aku ke dalam bentar.” ucap Aldi.
“Mau ngapain?” tanya Anisa bingung.
“Menghadap Tuhan, gak enak kalau udah sampai sini tapi tidak menyapa-Nya.” jelas Aldi. Ia lalu memesuki Gereja meninggalkan Anisa di luar. Anisa pun mengerti, Ia tersenyum memandangi hujan yang sudah tak terlalu deras. Tak lama kemudian Aldi ke luar dari dalam Gereja.

“Hei, udah berhenti tuh hujannya.” ucap Aldi, Anisa lalu bangkit dari duduknya.
“Iya… Hmm boleh minta tolong?” jawab Anisa.
“Apa?” tanya Aldi.
“Antar aku ke Masjid, aku mau salat maghrib.” pinta Anisa.
“Ayo.” jawab Aldi singkat, mereka lalu berjalan menuju Masjid.
“Aku tunggu di luar ya.” ucap Aldi sesampainya mereka di halaman Masjid. Anisa mengangguk, Ia lalu melangkah memasuki Masjid.

Kira kira lima belas menit kemudian Anisa ke luar dari Masjid menghampiri Aldi.
“Udah selesai?” tanya Aldi. Anisa mengangguk.
“Boleh minta tolong lagi?” pinta Anisa dengan memelas.
“Silahkan.” jawab Aldi tersenyum.
“Temenin aku sampai jam tujuh, Pak Rahmat lagi jemput Ayah dan Bundaku di bandara, jadi jam tujuh baru bisa jemput aku ke sini, sementara aku gak biasa ke luar malam sendirian.” jelas Anisa. Aldi tersenyum mendengarnya.

“Kamu gak takut bareng sama aku? Aku kan hanya pengamen jalanan yang biasa hidup liar?” tanya Aldi.
“Selama kamu masih kenal Tuhan, aku percaya kamu orang baik.” jawaban Anisa mulai membuat Aldi mengagumi sosok gadis di hadapannya itu.
“Hmm.. Tapi kan kamu juga tahu Tuhan kita berbeda?” Aldi kembali bertanya.
“Aku tahu, tapi Tuhanku mengajarkanku untuk menghargai perbedaan selama itu masih dalam batas kebaikan, dan aku juga tahu Tuhanmu pasti mengajarkan kebaikan kan?” jelas Anisa.

“Cinta Kasih, itu yang Tuhanku ajarkan.” ucap Aldi. Anisa tersenyum.
“Hmm… Udah waktunya makan, mereka pasti nunggu.”
“Mereka siapa?” tanya Anisa.
“Ikut aku aja yuk.. Kita cari makan.” tanpa menunggu jawaban Anisa, Aldi langsung menggandeng tangan Anisa menuju sebuah warung makan di pinggiran Tugu Muda kota Semarang. Aldi terlihat membeli banyak nasi bungkus.

“Al… Untuk apa kamu membeli nasi sebanyak ini?” tanya Anisa bingung. Aldi hanya tersenyum, Ia lalu mengajak Anisa ke sebuah lampu merah, terlihat ada banyak anak-anak kecil jalanan di sana, mereka begitu gembira dengan kedatangan Aldi. “Kak Aldi, kira-kira kakak gak datang malam ini.” ucap salah seorang anak.
“Haha… Ya gak mungkinlah kakak gak datang.” Aldi lalu membagikan nasi bungkus yang dibelinya kepada anak-anak itu. Anisa masih terlihat bingung. Aldi lalu memberikan sebungkus nasi pada Anisa dan mengajaknya duduk di sebuah bangku pinggir jalan.

“Mereka semua anak-anak terlantar yang tak pernah tersentuh kasih sayang orangtua, aku hanya ingin berbagi beban dengan mereka, karena aku sangat tahu rasanya jadi anak yang tak terurus.” jelas Aldi sambil memandangi anak anak jalanan itu yang sedang makan dengan lahapnya dan penuh rasa syukur. Anisa tersenyum haru, dalam hati ia mulai mengagumi sosok Aldi. “Boleh makan?” tanya Anisa mencoba mencairkan suasana harunya.
“Oh.. Iya silahkan, tapi maaf cuma pake sayur oseng sama gorengan.” Anisa tersenyum, Ia lalu membuka nasi bungkusnya lalu memakannya tanpa ragu, begitu pun dengan Aldi.

Setelah selesai makan, Aldi dan Anisa kembali ke taman Tugu Muda. Sambil menunggu jemputan datang, Anisa mendengarkan Aldi memainkan gitarnya. “Aku jatuh cinta kepada dirinya.. Sungguh-sungguh cinta oh apa adanya. Tak pernah ku ragu namun tetap selalu menunggu. Sungguh aku jatuh cinta kepadanya.” Aldi menyanyikan lagu Band Roulette, Anisa tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, Anisa menoleh ke arah suara itu, mobil jemputannya sudah datang, Anisa lalu mengambil selembar kertas dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu, ia lalu memberikan kertas itu pada Aldi.

“Ini buat kamu, tapi bacanya nanti kalau aku udah pulang, aku pergi dulu.” jelas Anisa, Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Aldi.
“Nisaaaa….” panggil Aldi, Anisa menoleh.
“Aku minta nomor hp kamu.” pinta Aldi sambil menyerahkan hp-nya pada Anisa, Anisa sedikit heran melihat Aldi memiliki hp yang cukup bagus dan tentu harganya juga mahal, namun ia segera menepis pikiran negatifnya dan menuliskan nomor hpnya ke hp milik Aldi.
“Thanks.” Ucap Aldi, Anisa tersenyum mengangguk lalu melangkah pergi memasuki mobilnya.

Setelah melihat mobil Anisa agak jauh, Aldi lalu membuka kertas yang diterimanya tadi dari Anisa, Ia lalu membacanya, “Terima kasih sudah melukiskan pelangi di atas awan kelabu, semoga enam hari lagi Tuhanku masih memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu, dan ku harap kamu pun juga berdoa seperti itu pada Tuhanmu, akan ku ceritakan tentang gelembung-gelembungku nanti..” Aldi tersenyum membaca tulisan Anisa, dalam hati ia sangat tak sabar menunggu waktu enam hari lagi untuk bisa bertemu kembali dengan Anisa. Aldi lalu merebahkan tubuhnya di atas rerumputan taman Tugu Muda, ia lalu menulis sebuah sms untuk Anisa.

“Pelukis?” sent to Anisa.
“Iya…” sent to Aldi.
“Haha.. Ada ada saja kamu, sudah sampai rumah?” sent to Anisa.
“Udah kok.. Oh iya, aku lupa jaketmu masih ku pakai, kamu tidur di mana? Jalanan pasti dingin, enam hari lagi aku baru bisa kembalikan jaket kamu.. Maaf,” sent to Aldi.
“Haha.. Gak apa-apa nyantai saja, aku udah biasa merasakan panas dinginnya jalanan, jadi udah kebal.” sent to Anisa.

Hingga setengah jam Aldi memandangi layar hpnya menunggu balasan dari Anisa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tak juga ada balasan sms, hingga akhirnya Aldi memejamkan matanya, terlelap di antara dinginnya rerumputan taman Tugu Muda kota Semarang. Sudah lima hari sejak hari itu, Aldi sama sekali tak mendapatkan kabar dari Anisa, berkali-kali ia mencoba menelepon dan mengirim pesan, namun tak satu pun ada jawaban dari Anisa. Malam itu seperti biasa Aldi membagikan nasi bungkus pada anak-anak jalanan, pikirannya masih saja tak bisa lepas dari bayangan tentang Anisa. Tiba-tiba hpnya berdering tanda ada panggilan masuk, tertulis nama Anisa, dengan girang Aldi langsung mengangkat teleponnya.

“Halo… Nisa? Ke mana saja kamu? Kenapa gak balas smsku?” sapa Aldi langsung dengan rentetan pertanyaan.
“Maaf Al, aku gak sempet balas smsmu. Tapi besok aku ke Tugu Muda lagi kok. Kamu ada di sana kan?” tanya Anisa.
“Tentu dong. Aku pasti tunggu kamu di sini.. Oups! Keceplosan.” ucap Aldi jadi salah tingkah sendiri.
“Haha.. Ada ada saja kamu.” jawab Anisa.
“Hmm… Nis, besok bisa datang lebih awal? Aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat.” pinta Aldi dengan nada memohon.
“Bisa sih. Emang mau ke mana?” tanya Anisa penasaran.
“Besok aja ku kasih tahu, ini rahasiaku, tentang hidupku. Haha.” jawab Aldi dengan bercanda.
“Ih.. Kamu tuh. Ya udah aku tidur dulu ya, see you tomorow.” Ucap Anisa, belum sempat Aldi menjawab, Anisa sudah mematikan teleponnya, Aldi pun hanya tersenyum tak sabar menantikan hari esok bersama Anisa.

Hari itu cuaca kota Semarang cukup berawan, sejak pagi mentari tak juga menampakkan dirinya, hingga siang hari rintik gerimis membasahi setiap jalan menciptakan aroma tanah yang sejuk. Di salah satu sudut taman Tugu Muda, terlihat Aldi yang gelisah menantikan kehadiran sosok Anisa. Namun entah kenapa, Aldi malah tak menyadari sosok yang dinantinya itu telah berdiri di hadapannya. Anisa lalu menyapa Aldi.

“Hai Al… Kenapa kamu?” ucap Anisa bingung melihat Aldi tak mengenali dirinya, Aldi terkejut, Ia memandangi wajah Anisa dan tersenyum senang.
“Oh… Hai. Maaf aku bener-bener gak ngenalin kamu.. Haha.” jawab Aldi.
“Loh kok bisa?” tanya Anisa penasaran.
“Kerudung kamu beda, biasanya kan warnanya abu-abu terus, tapi sekarang tumben kamu pakai warna biru?” jelas Aldi, Anisa tersenyum.
“Hmm.. Ini karena udah ada pelangi yang mengusir awan kelabu.” jelas Anisa.

“Maksudnya?” Aldi tak mengerti.
“Suatu saat kamu juga tahu, udah ah, ayo katanya mau ajak aku ke suatu tempat?”
Aldi lalu membawa Anisa ke parkiran di depan Lawang Sewu, ia meminta Anisa membonceng ke motor gedenya, Anisa terkejut. “Al.. Ini motor kamu?” tanya Anisa tak menyangka pengamen seperti Aldi bisa memiliki motor gede yang pastinya cukup mahal.
“Yup. Kamu pasti bingung kan kenapa pengamen sepertiku bisa memiliki motor seperti ini? Hmm.. Nanti kamu akan tahu, sekarang naiklah.” jelas Aldi, dan entah kenapa tanpa sedikit pun keraguan Anisa mempercayai Aldi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Triana Aurora Winchester
Facebook: Triana Rizki Kurniasih
Aku, adalah yang seperti Tuhan tahu tentang aku.

Cerpen Tuhan Jagakan Pelangiku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ali’s Liontin

Oleh:
Aku melongo menatap lingkaran angka yang sudah menunjukkan angka 11 itu. Mataku memang sudah mengajakku untuk melepaskan lelah hari ini. Aku masih saja menunggu, menunggu ponselku berbunyi. Ku buat

Nostalgila

Oleh:
“Asem! Entah perasaan apa ini?” Tiba-tiba saja langkahku memasuki area Waduk Gondang. Padahal sebelumnya aku hanya berniat untuk melewatinya saja. Akhirnya aku pun mengikuti semua kata hatiku. Kuparkir sepedaku

Yamcres Vd

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku bersekolah di SDN 3 Panderejo Banyuwangi. Aku adalah anak pindahan dari Bali. O ya namaku Anargya Salung Narda Prastya cukup panjang, kalian bisa

Bibir Senja

Oleh:
Aku rindu pada bibir senja, adakah ia kan hadir kembali setelah sekian hari ia tak pernah aku jumpai. “widia” dialah sahabatku yang biasa ku tulis dalam diariku bibir senja.

Secerah Mentari Seindah Embun Pagi

Oleh:
Rasa haru membungkus kalbu. Air mata telah berderai entah sejak kapan. Dua orang gadis saat ini sedang melepaskan seluruh rasa rindu mereka masing-masing. Takdir membawa mereka ke pertemuan indah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *