Tujuh Belas Terakhir

Judul Cerpen Tujuh Belas Terakhir
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2016

Aku tertatih-tatih mendekati meja makan lama sekali. Padahal hanya sejarak 3 m dari kamarku. Perlahan–lahan tapi aku rasa ini gerakan tercepatku untuk meraih gelas. Terus dan terus sampai aku akan mendapatkannya tapi kenapa gerakan jari–jari ini tak beraturan sama sekali? Kenapa gelas itu sangat susah aku genggam?.
Praaak… Gelasku menyenggol botol, botol menumpahi bakul nasi dan menggeser semangkuk sup di sebelahnya.
Pyaaar… Mangkuk itu tumpah ke lantai, aku tersentak takut sekali.

“Aduh! Tati apa yang kau lakukan nak, ibu sudah capek marah sama kamu tolong jangan buat ulah Ti. Bapakmu bentar lagi pulang cuma ini lauk yang bisa ibu siapkan, malah kau tumpahkan! Dasar anak nakal! Ayo masuk kamarmu lagi!” Ibu menarik tanganku dan menyeretku ke kamar. Ini terjadi berkali–kali, sepuluh kali dalam sehari bahkan lebih, aku mencoba bicara tapi lidah pendekku ini tak bisa membantuku. Untuk menjelaskan satu kata saja tak bisa aku lisankan dangan baik, aku susah sekali bicara.
“I hu i hu a wus.” Aku berusaha bicara tapi percuma ibu sudah menghambur pergi dengan marahnya.

Aku ini kehausan, haus sekali. Aku tak bermaksud menumpahkan sup itu. Aku hanya ingin mengambil minum sendiri seperti teman–teman yang lain. Malah, aku ingin membantu ibu memasak. Aku kasihan pada ibu. Sebelumnya, ibu tak pernah bersikap kasar padaku dia begitu menyayangi aku. Tapi, dua tahun terakhir perlakuan ibu mulai kasar padaku. Aku memahaminya, mungkin ibu sudah capek atas ulahku seperti yang telah dia katakan tadi. Sekarang aku semakin sendiri, biasanya ibulah satu–satunya orang yang mengerti aku. Kerap kali aku melihat ibu menangis sesenggukan saat sholat, saat masak, saat duduk sendiri. Tubuhnya semakin kurus, dia kecewa dan mulai putus asa. Segala pengobatan sudah dicoba tapi kondisiku biasa saja, hasilnya nihil.

Dua tahun yang lalu, pada bulan dimana banyak diadakan lomba disana–sini. Yang paling kerap aku temui adalah perlombaan dimana puluhan kardus dan keresek besar. Bahkan, seekor ayam jago yang dibalut dengan anyaman daun kelapa, tergantung melingkar menyerupai payung di atas pohon tinggi tegak dan lurus. Yang dilumuri cairan hitam menyerupai cat tapi sangat licin. Sehingga, para pria dewasa yang bersusun menaiki pundak rekannya berkali–kali jatuh ke dalam lumpur. Tujuh belasan, orang–orang menyebutnya dan aku tahu bulan ini adalah bulan Agustus. Bulan dimana masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan. Walaupun aku menyandang predikat gadis keterbelakangan mental atau yang biasa anak–anak kecil bilang, idiot. Tapi aku sudah hidup 14 tahun aku sudah paham dengan apa yang orang–orang lakukan. Bedanya, aku lambat dan sering bertindak tanpa sadar. Syaraf–syaraf pada tubuhku tak berfungsi dengan baik. Biarpun aku ini Autis, Dislexia atau apalah istilah–istilah yang biasa diucapkan dokter pada ibu tentang penyakitku. Tapi aku masih punya hati. Otakku memang kacau tapi perasaanku ini masih normal, aku masih bisa merasakan lapar dan sedih. Aku masih merasakan sakit saat anak–anak kecil yang saking jijiknya padaku, sehingga mereka tega melempariku dengan kerikil, mencubiti tanganku dengan kuku–kuku manis di tangannya. Kondisiku ini membuatku teraniaya tanpa sebab.

Dan di bulan Agustus itu, aku telah mempermalukan keluargaku. Sebenarnya, masalahnya sama aku tak bisa menyampaikan maksudku dengan baik. Saat anak–anak sedang berlomba makan kerupuk aku ingin ikut. Hanya saja mereka pikir aku akan mengacau.
“Woy…, ngapain si Tati ikut–ikutan kesini?”
“Iya ni! Gaya–gaya aja, mau ikut lomba Ti?”
“Apa…!? Ikut lomba? Ha…, yang ada kacau anak sarap! Idiot! Pulang aja sana!”
Mereka terus saja mengejekku, hinaan hingga kerikil–kerikil kecil menghujani diriku. Untunglah, seperti biasa ibu datang menolongku. Memarahi anak–anak nakal itu lalu memelukku oh… ibu, ibu pahlawanku.

Tak kapok dengan kerikil–kerikil tadi, kembali aku mendekati kerupuk–kerupuk yang tergantung. Aku mencoba menggigitnya tapi tak bisa, spontan gerakanku seperti orang yang sedang mengamuk. Aku rasa sangat gembira. Aku tarik semua kerupuk–kerupuk itu hingga jatuh berceceran ke tanah.
“Hey Tati jangan dirusak itu buat lomba.”
“Wah jangan-jangan Tati ngamuk nih cepet panggil ibunya.”
“Bu… ibu Asih Tati ngamuk bu.” Teriak pak RW.
Aku tak bisa menahan diri. Walau orang lain menyebutku mengamuk, aku tak peduli yang penting aku senang bukan main. Sebelum ibu datang, aku sudah berlari. Sebenarnya pelan bisa dikatakan bukan lari, tapi tidak ada yang berani menahanku karena gerakanku yang tak beraturan ini. Tiba–tiba anting di telinga kananku lepas dan menggelinding ke sungai. Aku berniat mengambilnya, spontan anak–anak SMA yang sedang lomba dayung hiseris.
“Woy… Tati ngapain ke sungai bosan hidup ya!?”
“Hey… cegah itu hey entar tenggelam”
“Ini sih bukan idiot tapi gila!”
“Tati…, Tati…” Teriak orang–orang yang panik dengan tindakanku.

Pak RW pontang–panting mancari ibu atau ayahku, peserta lomba dayung mendarat dan berteriak–teriak tanpa tindakan, penonton dan panitia bengong tak tahu apa yang harus dilakukan. Sedangkan aku, aku sudah berada pada kedalaman setinggi dada. Aku meraung–raung, senang sekali. Baru pertama kali ini aku bisa bermain bebas di air. Kondisi tetap seperti semula mereka menganggapku mengamuk. Padahal, aku ini sedang berekspresi maksimal, dimana kenakalan masa kecilku tak tersalurkan. Aku puas!.

Tak berakhir begitu saja. Setelah ibu, ayah dan saudara–saudaraku datang dengan geram mereka menyeretku ke rumah.
“Dasar anak tak bisa disayang. Bisanya cuma buat ulah! Lama-lama ibu bosan Ti!” Omel ibu.
“Malu–maluin saja! pingin mati kamu ya!” Bentak ayah sambil memukuli pantatku dengan sebilah ranting pohon jambu.
Inilah kali pertamanya aku melihat ibu semarah itu, sekasar itu. Ibu sudah mulai malu dengan keadaanku.

Sejak itulah, aku tak diizinkan menghirup udara bebas meski hanya di halaman rumah. Aku terikat dan terpenjara di kamarku sendiri. Suasana rumah tak seindah dulu. Aku bagai pembawa sial di rumahku sendiri. Perhiasan dan harta benda ibu sedikit demi sedikit habis hanya untuk mengobatiku. Kalau dulu, dokter jiwa, psikiater dan pengobatan theraphy yang jadi langgananku. Sekarang, dukun dan tabib pun jadi tamu bulanan rumahku. Aku sudah bosan dengan pengobatan–pengobatan. Andai mereka paham, aku hanya ingin dimengerti, disayang dan dikenali bahasaku itu saja. Sekarang bebanku makin berat, bukan hanya penyandang gadis keterbelakangan mental. Tapi juga gadis yang kesurupan penunggu pohon belakang rumah. Tragis keadaanku sekarang ini. Aku semakin sendiri saja. Bagaimana aku akan sembuh, didekati pun tak pernah. Bagaimana aku mau diam, siapa yang tahu kalau aku sedang menjerit-jerit karena takut dengan kecoa, sesak karena pengap lama-lama di penjara kotor ini.

Siapakah yang masih berbelas kasihan padaku, yang masih peduli melihat keadaanku. Aku sudah tak berdaya, rambut acak–acakan. Senyum–senyum tapi hati ini teriris.Tubuhku yang gemuk kini mongering dan dekil. Aku berontak, aku lemparkan barang–barang yang ada di kamar, hingga suatu ketika aku mendapatkan kesempatan untuk menyelusup kabur, itu pun karena kamarku mau dibersihkan. Selama berbulan–bulan tak tersentuh cahaya sedikitpun. Saat ayah lengah aku belari aku ingin bernosatalgia dengan alam.

Kembali tragedi 2 tahun silam terulang, aku dianggap mengamuk lagi. Aku menggemparkan seluruh kampung. Tapi kali ini aku mengamuk betulan. Aku berontak sejadi-jadinya, aku tendangi kandang–kandang ayam milik ayah sampai ayamnya lari tunggang–langgang, aku dorong jemuran baju hingga baju–baju yang masih basah kotor karena jatuh ke tanah. Aku berteriak–teriak hingga mereka pikir aku kesurupan lagi. Dukun sudah dipanggil, para ibu mengambil irus yang katanya untuk mengusir arwah yang merasuk ke tubuhku. Mereka seperti orang-orang yang tak punya hati saja.

Saat kondisi mulai membaik, saatnya aku menerima ganjaran atas ulahku, kaki dan tanganku diikat. Malamnya pak RW datang ke rumah.
“Assalamu’laikum”
“Wa’alaikumsalam, eh pak RW tumben ada apa ya…, silahkan duduk Pak.”
“Terimakasih pak, begini lho maksud kedatangan saya kasini adalah untuk mencoba memberikan solusi mengenai Tati.”
“Aduh pak mau diobatin kemana lagi? Bapak kan tahu sudah bertahun–tahun usaha kami menyembuhkan Tati gagal terus.” Pak RW dan Ayah bicara panjang lebar, aku sudah tak dengar apa lagi yang mereka bicarakan.
Entah dapat bisikan dari algojo mana pak RW datang ke rumah hanya untuk berunding ide yang sama sekali tak berperikemanusiaan. Beliau menyarankan untuk membuatkan gubuk kecil di sebelah rumah untuk mengurungku. Pak RW pikir aku perlu diasingkan, bahkan kalau perlu dipasung. Karena aku sudah meresahkan warga. Dan entah atas dasar apa keluargaku setuju begitu saja.

Satu hari penjara baruku siap menjadi hunianku. Gubuk setinggi 1,5 m dengan luas 2 x 1 m. Beralaskan terpal dan dinding kayu yang tersusun tak rapat. Sehingga angin malam dapat dengan bebas mendinginkanku. Serta atap seng–seng bekas membalut gadis gila ini. Aku gila, aku idiot, apa liangkunganku yang tidak waras?. Gubuk kecil yang lebih mirip dengan kandang kambing ini menjadi saksi ratapanku. Apa ada yang tahu gadis gila ini merasa kedinginan di tengah malam, lapar karena jatah yang tak teratur, takut kala hujan dengan petir yang menyambar–nyambar. Takut pada angsa yang kerap menjulurkan lehernya kepundakku serta bau busuk dari comberan di sebelah gubukku. Keluargaku, pelindungku malah menjadi serdadu yang tak kenal ampun pada tahanan.

Tak bisa lagi aku membedakan antara adzan magrib dan adzan subuh, tak tahu sudah berapa siang dan malam bergilir, tak tahu kapan lagi bulan Agustus datang, mengenang kembali musabab terpuruknya aku, sang gadis idiot di gubuk derita ini.

Cerpen Karangan: Susliana Septiani
Blog: susleythebananatree.blogspot.com

Cerita Tujuh Belas Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku

Oleh:
Nama ku Keysha. Hari ini, adalah hari pertama ku masuk sekolah. Aku takut, aku takut aku dibenci oleh orang-orang disana. Tetapi, aku sedikit tenang karena sahabatku juga akan sekolah

Diary Seorang Gadis

Oleh:
Inilah kisah gadis itu… Gadis namanya, cantik… nyaris menyentuh garis kesempurnaan! Usia nya baru menginjak 17 tahun. Putri sematawayang dari keluarga konglomerat.. dia dimanjakan oleh orangtuanya. Hidupnya sangat royal..

Rain and I

Oleh:
Namaku Allison Rain. Panggil saja Rain. Entah apa yang membuat orangtuaku tertarik memberiku nama seperti itu. Aku rasa aku adalah gadis yang paling tidak beruntung. Aku hidup dalam penderitaan.

Cinta Berkicau

Oleh:
“Pak Arka, ada?,” tanya Felly kepada resepsionis kantor. “Pak Arka sedang meeting dengan pihak luar negeri. Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Saya mau bertemu dengannya sekarang juga.” “Maaf,

Cinta dalam Secangkir Moka

Oleh:
Deras hujan membuatku mual tuk menatap jendela kayu tua,tugas kantor yang membuatku pening menumpuk seperti pohon cemara yang teruntai menjadi suatu keindahan langka.tak selang beberapa lama langit berhenti menangis,ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Tujuh Belas Terakhir”

  1. aang putra utama says:

    wih seram, tapi kasihan

  2. Syeehan Amara says:

    Huhu, sedih buanget ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *