Tulang Besi Mulai Rapuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 January 2019

Hampir tak ada bedanya waktu ku kecil hingga dewasa. Kendaraan yang selalu setia menemani bapak. Mungkin belum bosan, ya, walaupun si roda tiga sering ngambek dan rewel ingin istirahat, katanya “Capek”. Kaki yang ingin pensiun itu seakan akan berteriak, namun apa daya, kebutuhan terus memanggilnya.

Tenaga yang mulai berkurang karena usia, tubuhnya yang dulu gagah terlihat mulai keriput. Dia adalah sosok bapak pejuang keras, bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.
“Buk, hari ini bapak cuma dapat lima belas ribu” kata bapak sambil memberi uang yang lusuh.
“Alhamdulillah, kita tetap bersyukur walau dapat sedikit, insyaaallah cukup pak” jawab ibu menenangkan hati bapak.
Melihat obrolan bapak dan ibu di dapur, aku mengurungkan niat untuk minta uang jajan.

Setetes keringat bapak, bagiku begitu berharga. Dulu bapak masih muda dengan mudahnya uang didapat. Berangkat pagi pulang sore. Tapi, sekarang setengah haripun bapak tak kuat lagi. Tulang tulang besinya mulai berkarat termakan usia.

Tiap malam bapak sholat tahajjud. Tak hanya mengandalkan tenaga saja, tapi disertai do’a.
“Ya allah berikanlah aku tulang tulang yang kuat, agar masih bisa bekerja di jalan halalmu”.

Sehabis sholat subuh, bapak mengayuh roda tiganya menuju ke pasar. Keringat bercucuran tak dipedulikannya. Sesekali nafasnya terengah engah mengayuh kedataran yang lebih tinggi. Sediktpun tak pernah terdengar keluhan bapak.

Hampir 40 tahun, roda tiga ini berputar menemani perjalanan perjuangan bapak, hingga bisa menyekolahkan anak anaknya tamat sma. Enggak semudah membalikkan telapak tangan. Itulah yang dialami bapak selama bertahun tahun bekerja sebagai tukang becak. Aku bisa sekolah karena dihasilkan dari jerih payah tulang tulang yang kuat. Begitu keras kehidupan ini, dari keringatnya lah bapak terlihat sangat kuat.

Cerpen Karangan: Nurul Sa’adah
Facebook: nurul

Cerpen Tulang Besi Mulai Rapuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hal Yang Membuat Kita Berbeda

Oleh:
Tak terasa sore menjelma senja, sajikan panorama langit berwarna jingga, bersambut semilir angin yang mulai menggetarkan bulu rona. Nuansa hari ini tak sejernih kemarin sobat, saat senyum dan candamu

Tangisan Yang Tak Diinginkan

Oleh:
“Bun. Bunda makan yah, biar Nana suapin Bunda,” ucap anak perempuan berambut panjang kepada ibunya. “Bunda gak laper Na,” “Tapi Bunda belum makan dari pagi, Bunda harus makan, nanti

Dreamer

Oleh:
Kelas 9 bagi Dinda adalah waktu penentuan untuk kehidupan Dinda bagaimana tidak, di kelas 9 ini Dinda akan menentukan nasibnya untuk sekolah di SMA impiannya. Tetapi semua impian itu

(Tutup) Senja

Oleh:
Kala itu dini hari, ketika fajar belum hadir menyambut pagi terdengar suara lantunan doa dari seorang gadis. Dimintalah kepada Yang Maha Kuasa berkah kehidupan dan kesembuhan dari bundanya. Reza

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *