Ulang Tahunku Yang Kelima

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

Yang menjerit di bawah kakimu -aku adalah kanak yang pernah singgah di rahimmu. Aku tahu kau adalah wanita yang cantik, bermata bulat, berhidung mancung, bibirmu bak rekah bebungaan di setiap kuncup senyum yang terselai, bukankah begitu juga ayah bilang padamu? Kaulah ibuku. Saat aku lahir, aku menangis, betapa siapkah aku menjalani hidup di dunia, yang begitu asing bagiku. Betapa aku takut, sebelumnya, jauh sebelum aku terlahir, aku pernah mendengar kisah kanak-kanak yang begitu malang nasibnya. Ibu yang tak pernah mengakuinya, atau juga kanak-kanak yang lain, ibu yang tega meninggalkan anaknya di serambi surau -menangis semalaman menahan dingin. Aku tak mau.

Aku pernah membayangkan itu akan terjadi dalam diriku. Suatu nanti aku dewasa, aku tak bisa membuatmu bahagia. Bila kehadiranku membuatmu tak tenang. Aku takut kau tak menyayangiku, semisal aku masuk sekolah nanti, dan ku perlihatkan buku raport-ku banyak angka merah-merah. Pasti kau akan marah. Katamu, ‘Buat apa kau disekolahkan, apa saja yang kau kerjakan di dalam kelas sampai-sampai nilaimu merah-merah begitu?’ atau kau juga akan memaki guruku yang gagal mengajariku. Aku takut ibu. Aku takut kau marah padaku, dan sepatu melayang di jidad, dan gagang sapu mendarat di pahaku. Aku takut, itu pasti sakit.

Apa aku akan bersalah terlahir dari rahimmu? Tidak sepandai dirimu? Bukankah kau memang pandai, kau mampu memangku sekolah tinggi-tinggi. Sementara aku.. Aku di sini. Suatu ketika, seorang kawan menghampiriku dengan wajah yang tampak sedih. Di dadanya bergumul noda-noda yang tak mampu ia hapuskan. Dengan air matanya yang deras pecah di bumi, ia bercerita tentang kehidupan keluarganya. Ia bilang lahir sebagai kanak haram tanpa ada yang mengharapkan. Setiap malam ibunya terlambat pulang ke rumah. Selalu palang larut malam.

“Bahkan, ketika ia mengandungku,” katanya mengisak tangis.
Kau tahu ibu, aku terlampau sedih mendengarnya. Dalam bayanganku, aku mereka-reka ibunya tak seperti dirimu. Pasti ibunya seorang pel*cur yang tak tuntas sekolah seperti dirimu. Ibunya tiap malam berada di panggung hiburan. Tapi adalah takdir baginya.

“Mengapa kau harus menangis?” tanyaku padanya.
“Aku tidak terlahir secara sah,” aku tahu, ia kanak hasil pel*curan ibunya dengan laki-laki yang pernah menjamah tubuhnya. Pel*cur yang seharusnya tak pernah hamil.
“Dia sudah menyalahi aturan main,” selanya memotong bayanganku.
“Lantas?”
“Kau tahu seorang pel*curan, tugasnya bukan untuk melahirkan, tapi hanya untuk memuaskan.” Cetusnya.
Aku mengangguk.

“Mungkin ia menyesal. Suatu malam ia berniat meloncat dari balkon,” ia menghela napas, “Tapi entahlah ia mengurungkan niatnya. Ia memukuli perutnya sendiri. Katanya ‘Mengapa kau di sini, anak jadah?’ Ia tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Aku juga tertunduk menyeka air mata yang basah di pipi. Sejauh mungkin ku halau agar tak tumpah semakin deras. Matahari naik sepenggalahan di atas pepohonan pinggir jalan. Kami berdua duduk bersebelahan di antara semak belukar di bawah pohon pinus yang menjulang tinggi. Bila malam hari pohon ini banyak disinggahi burung-burung kecil sebagai tempat penginapan.

“Lihat! Jalan yang berkelok ke utara itu,” katanya menunjuk jalan setapak yang memisah dari jalan raya. “Ibu membawaku ke sana.” Jalan yang pernah ia lalui bersama ibunya. Dari arah barat tempat keramaian berlalu-lalang, ada sepetak jalan kecil menuju persawahan. Jauh selayang pandang, terdapat berderet rumah-rumah panggul di sana.

Aku menatapnya heran. “Kau ingat semuanya?”
“Terlalu jelas,” jelasnya.
Ibu Marti -nenek yang kira-kira berumur 50-an, tinggal di rumah persawahan itu. Dia seorang dukun beranak.
“Ya, dukun tua itulah..” ia berdiri dan berbalik menatapku.

Banyak orang lain yang pernah datang ke rumah itu di tengah malam buta. Dibaringkan di atas ranjang bambu, dan entah, bagaimana nenek itu melakukannya. Seperti juga ibunya, di antara peluh yang mengucur di muka, di selangkang, di sekujur tubuhnya, ibunya mengerang sakit yang tiada. Di tangan nenek tua itu, lumuran darah segar menciprati mukanya.

“Jadi..?”
“Aku lahir secara paksa.”

Tidak sedikit kanak-kanak yang hidup dalam kutukan betapa ibunya menjadi setan jal*ng dan pantas masuk neraka. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-baik meskipun tidak mempunyai kesalahan sama sekali. Berapa banyak kanak-kanak yang tersia-sia? Hidup dalam kegelapan ibunya.

“Aku tak dapat menangis sekalipun, ketika ibu membungkusku dalam pelastik, sebab aku masih segumpal daging hasil pel*curan ibuku.” Suaranya berdebar.
“Dibungkus?” tanyaku selanjutnya meski perih aku mendengarnya. Bergidik tubuh ini.
“Ya, Ibu tak tak pernah melihatku sama sekali. Hanya membawaku, lalu melemparku ke semak belukar melalui jendela mobil. Dan tak pernah mencariku lagi.” Aku sungguh sedih, berapa banyak kanak-kanak yang bernasib seperti aku dan dirinya.

Ibu, dialah kawan yang menemaniku selama ini. Nasib yang sama telah ku alami bersamanya, meski aku tahu, ibuku -tentu kau- berbeda latar belakang dengan ibunya. Kau, orang yang berpendidikan tinggi, dan ayahmu -yang tentu saja kakekku- adalah orang berada. Semua yang kau mau, tak jadi masalah. Kau habiskan ini, itu, tanpa berpikir panjang. Semuanya ada. Ibunya, seorang pel*curan yang tak pernah tuntas sekolah. Latar keluarga miskin membawanya ke meja penjualan harga diri. Lantaran hanya untuk mengisi perut dengan sesuap nasi.

Ibu, aku ingin kau datang menemuiku. Dan juga ayahku bawalah ke mari. Aku tak menuntut apa darimu. Aku hanya ingin aku dan juga kawanku, diperlakukan secara manusiawi. Tentu kau tahu itu, kau bukan orang bodoh yang tak pernah mengenyam pendidikan. Saat aku lahir, aku hanya membayangkan jika suatu nanti aku dewasa, sepertimukah nasibku? Namun kau memilihkanku jalan yang berbeda. Kau menguburku secara tidak layak. Kemarin, aku mendengar kau telah diwisuda. Betapa bahagianya kau -ibuku. Masihkah kau ingat, seandainya kau mengizinkanku untuk tetap hidup, bukan membenamku bersama kaus ayah, lalu kau pergi dengan segala euforia gemerlapnya dunia. Hari ini, adalah Ulang Tahunku yang kelima. Lima tahun sudah aku lahir dari rahimmu.

Karangcempaka, 02 Januari 2016.

Cat: 1. Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia, bisa dilacak dalam sejumlah dokumen, antara lain, Pipit Rochijat, “Am I PKI or Non PKI?” dalam Indonesia edisi 40 (Oktober 1985); A. Latief, Pleidoi Kol. A. Latief; Soeharto terlibat G 30 S (2000); Sulami, Perempuan-Kebenaran dan Penjara (1999); Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang (2003), dan tentu saja Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995). (Diambil dari cerpen Seno Gumira Adjidarma; Rembulan dalam Cappuccino)

Cerpen Karangan: Ainun Najib Azzuhry
Facebook: Najib Basmalah
Di pulau Gili Raja_Ainun Najib Azzuhry_Yang menjerit di bawah kaki ibunda Sri Ratih Sunarsi Ningsih, 05 Ramadhan 1416, bertepatan 26 Januari 1996. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Nurul Islam, Sumenep-Madura. Antologi cerpennya bersama: Ulang Tahunku Yang Ke-5 (Kaifa Publishing, 2016), Mak, Mari Naik Haji (MPI Publishing, 2016) Kakek Ingin Menikah? (Bebook Publishing, 2016), Boneka India (Antologi Hanami), Andai Ibu Tahu (IDM Publisher) dan Kamu Tahu Siapa Aku? (Juara 2 Event Penantian, Dirathree Publisher). Bisa disapa melalui: Facebook: Najib Basmalah, Email: ainun.najib64[-at-]yahoo.com

Cerpen Ulang Tahunku Yang Kelima merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berbeda

Oleh:
“Papa, aku mau dibelikan piano seperti milik Wanda, kemarin papanya membelikan piano yang sangat besar untuknya!” kataku. “Vanda, kamu tak boleh begitu, Wanda kan saudara kembarmu, iri kepada saudara

Ontel Tua Milik Kakek

Oleh:
Namanya Veronicca amora, dia sering disapa Amora, dia sangat dekat dengan kakeknya yang sudah berumur 65 tahun. Nama kakek Amora adalah Goldylocks veroka, nama panggilannya adalah kek Goldy. Kek

Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 2)

Oleh:
Entah mengapa kini aku telah berada di ruangan dingin dan terang, aku membuka mataku perlahan. Ini dimana? “Senja, kamu udah bangun?” ujar ibuku yang seketika berada di sampingku bersama

Bukan Orang Gila

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

Arti Sebuah Perceraian Bagiku

Oleh:
Setiap malam Ayah dan Ibu selalu bertengkar entah apa masalahnya tapi aku sangat takut ketika Ibu dibentak oleh Ayah. Setiap mereka bertengkar aku selalu diam di kamar dengan perasaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *