Wanita Di Ujung Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Ia masih ingat betul aroma asin yang saban hari ia lewati selepas berkerja. Dengan tergopoh-gopoh ia membawa sekarung beras yang ada di punggunnya melewati pantai yang selalu penuh dengan pengunjung di senja itu. Angin lembut membelai wajahnya, seakan membersihkan keringat yang bercucuran yang sudah nampak seperti air terjun setiap kali ia memikul karung beras itu. Maklum saja beras yang satu karung yang berisi 10 kg harus ia angkut sebanyak tiga karung sekaligus. Hal itu ia lakukan untuk mengefisensi waktu yang selama ini menjeratnya. Semakin banyak waktu yang ia sia-siakan, semakin banyak uang yang ia buang. Sebagai tulang punggung keluarganya pekerjaan berat sekali pun ia rela lakukan. Demi segenggam beras yang harus ia bawa untuk pulang. Ibunya yang sudah renta sudah tidak mampu untuk bekerja, sedangkan ada dua saudaranya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA yang harus ia nafkahi. Dia sendiri harus putus sekolah sejak usianya lima belas tahun dan harus menyekolahkan kedua adiknya. Paling tidak adiknya tidak memliki nasib yang sama dengannya.

Untuk itu di sinilah ia berkerja sebagai buruh serabutan yang tidak memiliki penghasilan tetap. Kadang ia menjadi buruh angkut, kadang ia mejadi buruh bangunan, kadang ia juga menjadi seorang nelayan yang harus menerjang ombak dan mencari ikan di tengah lautan. Apapun itu ia akan lakukan demi mendapatkan uang. Demi ibunya, dan demi kedua adiknya. Yang jelas tidak ia lakukan adalah mengemis. Bagaimana pun melaratnya ia sama sekali tidak pernah meminta-minta pada orang lain. Selama tenaga ini masih sanggup untuk digerakkan ia akan bekerja. Walaupun nafasnya tinggal setengah pun, ia akan rela memberikan nafas kehidupan untuk keluarganya. Hal itulah yang membuat ia harus bekerja lebih keras lagi dari yang lain.

Tapi, ada sesuatu yang selalu membuatnya bersemangat setiap kali ia melewati pantai ini. Di senja itu saat mentari menuju singgasananya ada wanita yang setiap harinya mengunjungi pantai. Ia seakan tidak peduli dengan ramainya pengunjung, atau disaat pantai sedang sepi. Wanita itu akan selalu ada, menampaki senja bersama langit yang berwarna jingga. Entah apa yang dilakukannya di sana. Saban hari di setiap senja wanita itu akan selalu ada di tepi pantai itu. Duduk sembari menyilangkan lutut dan menghadap ke arah laut yang biru. Wanita itu tidak peduli dengan pakaiannnya yang basah setiap kali ombak menghampirinya.

“Satria, sampai kapan kau akan melihat pantai seperti itu, laut tidak akan pernah berubah menjadi merah jika kau pandangi. Ayo kita pulang!.” Pak Wayan yang juga buruh angkut itu membuyarkan lamunnya. Dia sedang tidak memandang lautan yang biru. Mustahil juga baginya jika ia harus mengubah air laut menjadi merah, karena itu tidak akan bisa ia lakukan. Yang ia lihat hanyalah wanita itu, wanita yang selalu menatap laut dengan tatapan yang lembut. Dengan kilatan cahaya di dalam matanya. Bibir tipis ia rapatkan, entah bagaimana suaranya yang terkadang membuat Satria penasaran. Angin pantai dengan lembutnya menghempas setiap helai rambutnya, seakan menikmati rambutnya yang hitam legam. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya yang diam termangu. Wanita itu hanya terlihat di setiap senja. Satria beberapa kali mendapatinya duduk di tepi pantai, di tempat yang sama, dengan posisi yang tidak pernah sekalipun ia rubah. Ketika Sang Surya benar-benar lenyap, ia pun menghilang dari pandangnya.

“Kau tidak akan percaya dengan apa yang aku lihat, wanita cantik itu selalu duduk tepi pantai, entah apa yang dia lakukan. Tapi, orang-orang di sini percaya jika gadis itu bukanlah manusia.” Kata pria yang dengan handuk yang melingkar di kepalanya. Percakapan pagi itu membuat Satria memasang telinganya lebih fokus dari biasanya. Walaupun setumpuk karung beras ada di punggungnya. Satria terdiam sesaat ketika ia mendengar percakapan itu.
“Benarkah? Mungkinkah dia Ratu Pantai Selatan?.” Kata Pak Wayan. Berusaha menimpali percakapan dari pria paruh baya tadi.
“Itu tidak mungkin, jika itu Ratu Pantai Selatan, lalu kenapa dia memakai pakai serba putih, dan kenapa juga kalian bisa melihatnya, kau, kau dan aku juga bisa melihat wanita itu. Jangan konyol dia hanya seorang wanita biasa. Bilang saja kalian semua disini ingin mendekatinya, Hahahahaha.”
“Gus, ingat istrimu di rumah.” Kata Pak Wayan. “Di antara kita yang belum menikah hanyalah Satria, seharusnya dialah yang berhak untuk mendekati wanita itu.” Kata Pak Wayan sembari mengalihkan pandanganya pada Satria. Satria yang mendengar percakapan itu tertuju padanya hanya bisa tersenyum pada rekan-rekan sesama buruhnya itu.
“Cobalah untuk mendekati perempuan Satria, Jangan terlalu terbebani oleh pekerjaanmu, sesekali cobalah mencari kebahagiaanmu sendiri.” Kata Pak Wayan. Di antara teman-teman buruhnya Pak Wayanlah yang paling bijak. Bagi Satria Pak Wayan seperti Ayahnya sendiri.
“Rasanya sulit Pak, mana ada yang mau sama buruh, Pak.”
“Itu karena kamu belum nyoba, masak seorang Satria harus menyerah sebelum perang sih, terus sampai kapan kamu mau melajang seperti ini. Setidaknya saat kamu menikah nanti akan ada yang mebantu ibumu di rumah, ibumu kan sudah tidak muda lagi.”
“Tapi, adik saya masih sekolah Pak, Saya harus menyekolahkan mereka dulu.”
“Bapak tahu, tapi kamu juga harus mencari kebahagiaanmu dulu, jika hanya pacaran saja kan, tidak akan menghambat kau untuk bekerja bukan?.”
Satria mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Pak Wayan. Selama ini ia hanya terfokus pada perkerjaannya. Mungkin karena beban yang ada di punggungnya terlalu berat, hingga ia lupa bagaimana caranya menemukan kebahagiaanya sendiri.

Siluet jingga mulai nampak di ujung barat hari ini, seperti biasanya wanita cantik itu selalu ada di tepi pantai. Dengan pakaian yang sama, rambutnya yang tergerai indah dan sebuah tatapan penuh makna ketika ia menatap ke lautan luas. Satria yang sedarinya hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Betapa indahnya senja ini dan kekaguman akan sosok wanita yang selalu ia pandang acap kali senja tiba.
“Cobalah untuk mendekatinya, paling tidak bertegur sapa atau sekedar menanyakan siapa namaya.” Kata Pak Wayan sembari memukul pundaknya.

Satria yang dari tadi hanya terfokus dengan wanita itu, tidak menghiraukan apa yang Pak Wayan katakan. Bahkan ia lupa kalau beliau ada di sampingnya yang ikut juga menatap wanita itu. Tapi, keraguan itu kembali muncul menyerang lubuk hatinya. Satria yang selama ini tidak pernah mendekati seorang wanita, mungkinkah ia mampu bertegur sapa dengan wanita itu? lalu bagaimana caranya ia mendekati wanita cantik itu?

Pikirannya kembali ke masa lalu, saat ia masih sekolah. Entah bagaimana teman-teman perempuan yang ada di sekolahnya dulu menyebutnya sebagai laki-laki gembel, bau dan tukang sampah. Kata-kata itu sering kali terucap oleh teman-teman perempuannya ketika ia bersekolah dulu. Satria memang berprofesi sebagai seorang pemulung ketika ia bersekolah, tidak usah tanyakan mengapa ia melakukan pekerjaan kotor itu. Karena semua orang di kampungnya tahu, jika keluarganya melarat. Daripada ia menengar hinaan itu lebih baik ia putus sekolah dan berfokus untuk membantu perekenomian keluarganya, karena ia anak sulung yang menjadi tonggak keluarga. Dan menjadi tumpuan bagi keluarganya.

Satria hanya menatap punggung wanita yang masih duduk di tepi pantai, tidak berani melangkah. Keraguan untuk mendekati wanita itu muncul dalam dirinya. Masa lalunya yang membuat ia ragu untuk melangkah ke depan. Karena ia tahu jika masa depannya akan suram dan tidak akan memiliki apa-apa kecuali hanya dirinya sendiri. Saat sang senja hilang, saat itu juga Satria memutuskan untuk melangkah mundur dan membiarkan dirinya tenggelam akan masa lalu. Membiarkan wanita cantik itu terbenam akan kesendirian. Dan Satria memutuskan menyerah sebelum berperang. Karena Ksatria ini menyadari bahwa ia akan kalah sebelum menghunuskan pedangnya.

Senja berikutnya, wanita masih ada di pantai itu, dia yang biasanya duduk menyilangkan kaki, tapi tidak untuk saat ini. Kini ia berdiri menghadap hamparan laut biru yang ada di depan matanya. Tangannya terbentang dengan matanya yang terpejam. Angin masih bermain-main dengan rambutnya. Dan sesekali angin membelai lembut wajahnya. Matanya yang terpejam membuat Satria ingin bertanya pada wanita itu. Keraguan yang selama ini ia rasakan, kini berubah menjadi rasa penasaran akan wanita itu. Entah kenapa kakinya yang tadinya terasa kaku untuk menuju pantai, kini terasa ringan. Perlahan ia mendekati gadis itu, untuk pertama kalinya Satria melihatnya sedekat ini. Selama ini Satria hanya melihat punggung dari wanita itu. Tapi, kali ini Satria dapat melihat betapa cantik wanita yang ada di hadapannya. Matanya masih terpejam, lembut sangat lembut sekali wajahnya.

“Langit senja memang indah.” Kata Satria, matanya memandang lautan dan juga langit yang terlukis di atas kanvas jingga.
Wanita itu membuka matanya dan sedikit terkejut saat mendapati Satria berada di sampingnya. Satria berusaha memasang wajah ramah kepada wanita itu. Walaupun ia tidak bisa menyembunyikan senyum kaku yang dari tadi ia buat agar terlihat santai.
“Langit memang memiliki pesonanya tersendiri.” Wanita itu berucap sembari memasang senyum manisnya pada Satria. Sebuah nada yang indah keluar dari bibir manis wanita itu. Dan entah mengapa Satria merasakan kehangatan menjalar dalam tubuhnya. Tidak hanya itu, dan juga sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan, seribu kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Entah perasaan apa yang menyerang kali ini. Yang ia tahu, hanya perasaan nyaman ketika ia melihat senyum wanita itu.
“Siapa namamu?.” Satria kembali membuka percakapan dengan wanita itu.
“Jingga. Dan Kau?.”
“Aku Satria, Apakah karena namamu Jingga, jadi kau meyukai laut di senja hari?.”
“Tidak juga, aku hanya punya alasan lain kenapa aku ada di sini. Terkadang kita harus melepaskan beban hidup ini juga kan?.”
“Kau benar, memandang lautan seperti ini juga bisa menghilangkan bebanmu, tapi tidak untuk masalahmu. Masalah tidak akan pernah hilang jika kau tidak menyelesaikannya. Tidak seperti beban yang dengan mudah menipis seiring kau menjalaninya. Stres juga bisa hilang jika kita memandang lautan ini, terasa sangat nyaman. Tapi, tidak untuk masalahmu. Masalah itu akan terus mengejarmu, jika kau tidak pernah menyelesainkannya.”
Jingga yang hanya tertunduk mendengar perkataan Satria itu. Matanya mulai berair, tapi ia mencoba menahannya.
“Maaf, apakah perkataanku menyinggung perasaanmu?.” Tanya Satria yang melihat Jingga diam sembari menundukkan kepalanya. Matanya yang sayu mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak, justru perkataanmu itu benar adanya.” Jingga tersenyum sembari menutupi kegelisahannya. “Aku harus pergi, langit sudah gelap.”
“Tunggu, jika boleh aku tahu berapa usiamu?.”
“Dua puluh tahun.”
Usia yang masih sangat muda bagi Satria. Wanita itu hanya berdeda lima tahun darinya. Entah mengapa untuk sekian lamanya. Langit malam begitu indah untuknya.

Satria begitu gelisah menunggu senja datang, berharap jika ia berada di tepi pantai dan memandang lautan seperti biasa yang ia lakukan. Tapi, kali ini ia tidak ada. Tidak seperti biasanya. Jingga tidak datang ke pantai ini untuk melihat senja. Entah apa alasannya hingga ia tidak datang. Padahal Satria menunggunya. Apakah karena kata-kata yang ia ucapkan tempo hari membuat dirinya tersinggung hingga ia enggan untuk datang ke pantai ini?. Ada rasa penyesalan dalam benaknya, kebodohannya justru membuatnya jauh dari jodohnya. Andai saja kemarin ia tidak mengatakan panjang lebar pada Jingga. Pasti wanita itu kini telah berdiri di hadapannya. Inilah salah satu kebodohan yang ia buat. Bagaimana ia bisa memikat hati seorang wanita, jika kesan pertama saja sudah membuat wanita itu lari.

Hari berikutnya Jingga juga tidak muncul juga, begitu juga keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya. Ia tetap juga tidak menampakkan batang hidungnya. Dan hampir seminggu ini Jingga tidak muncul ke pantai ini lagi. Ada perasaan rindu yang tidak mampu terucap dalam benak Satria. Dan juga perasaan bersalah karena telah mencoba menasehati wanita yang baru saja ia kenal.

“Ada seorang wanita, terdampar di tepi pantai!.” Kata Seorang pengunjung yang membuat Satria dan buruh angkut lainnya menghentikan pekerjaan. Warga yang ada di sekitaran bibir pantai mulai mendekati jasad wanita yang terbujur kaku. Satria berusaha menerobos kerumuanan orang-orang yang kini mulai ramai untuk melihat wanita itu.

Mata itu, rambut itu, tidak asing bagi Satria. Jingga! Tubuhnya bergetar saat melihat sosok wanita yang kini terbujur kaku di hadapannya. Wanita yang selama ini ia tunggu, sekarang kini telah ada di hadapannya dengan badan yang kaku.
“Wanita itu sedang hamil 3 bulan, dan tidak ada yang mau bertanggung jawab akan kehamilannya.” Seorang ibu paruh baya yang berada di belakang Satria mengatakan itu sembari berbisik pada seorang yang berada di sebelah. Satria bisa mendengar itu. Air matanya mulai mengalir dan untuk pertama kalinya penyesalan sangat besar ada di dalam hidupnya.

Cerpen Karangan: Deva Diana
Facebook: Deva Diana

Cerpen Wanita Di Ujung Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kamis

Oleh:
Siang itu begitu panas, sementara Kris sedang melajukan motornya ke kantor pajak. Hari itu dia dituntut untuk menyelesaikan laporan bulanan pajak. Namun sialnya hari itu laporannya ditolak oleh kantor

Aku Menyayangi Mu, Maafkan Aku

Oleh:
Hari yang cerah ini aku akan mulai tahun pertamaku sebagai murid sekolah menengah ke atas atau yang sering disebut SMA. Namun kali ini aku bukan ke sekolaah SMA umum

In Another Life

Oleh:
Namaku Maura, mahasiswi semester 4 di universitas di kotaku Bandung. Orang bilang aku itu wanita yang non-ekspresi. Mereka bilang aku gitu karena keseharianku yang super cuek, jarang bercanda, dan…

Cinta Di Jam 11.00 Malam

Oleh:
Di malam itu, di tempat Rico kost. Sedang ada sebuah acara makan-makan oleh seluruh penghuni kost, karena salah satu teman Rico sedang berulang tahun hari itu, mengetahui adanya acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *