Warisan Fatimah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 May 2017

Kehidupan di SMA-ku normal-normal saja, Aku dan teman-teman sekelasku selalu belajar agar mendapatkan hasil yang terbaik saat ulangan. Di SMA-ku, ketika sebelum pelajaran pertama dimulai, Aku dan teman-temanku membahas mata pelajaran yang telah dipelajari kemarin. Bagiku, belajar itu penting untuk aku sukses kedepannya, sehingga aku bisa kaya raya dan mudah melakukan apapun. Bahkan, aku sudah mempersiapkan untuk masuk ke universitas mana ketika aku lulus nanti.

Aku selalu berada di peringkat pertama. Aku bangga akan hal itu. Teman-temanku iri dengan nilai-nilai ulanganku. Aku menasehati mereka agar memperbanyak belajar, bahwa menjadi sukses itu tidaklah mudah. Banyak sekali pesaing-pesaing yang ingin mendapatkan kesuksesan. Hidup ini layaknya sebuah kompetisi, jika kita tertinggal, kita akan kalah, yang berarti kesuksesan kita telah direbut oleh orang lain yang mendahului kita.

Pada suatu hari, aku memasuki kelas jam pertama seperti hari-hari biasa.
“Anak-anak, kita kedatangan murid baru.” Ibu guru itu melambai-lambaikan tangannya memanggil seseorang di luar kelas.
Perempuan berkerudung yang di luar itu memasuki kelas dan memperkenalkan dirinya di depan kami, “Assalamualaikum, perkenalkan namaku Fatimah, aku pindah ke sini karena keluargaku pindah rumah.” Lalu dia tersenyum riang. “Semoga kita bisa berteman ya.”
“Terima kasih Fatimah, sekarang silahkan duduk di sebelah Hamzah,” ujar ibu guru menunjukku.
Fatimah berjalan ke arahku, tatapan kita bertemu. Dia langsung menyapaku, “Halo Hamzah.” Tampak gigi seri Fatimah dari senyumnya.
“Iya salam kenal,” Balasku singkat.
Begitulah pertemuanku dengan murid yang akan membuatku berubah kedepannya.

Fatimah perempuan yang aktif dan riang tidak jelas. Dia sangat berbeda dengan murid-murid yang lain, sulit sekali menjelasan kepribadiannya. Aku bahkan pusing melihat tingkah laku dia yang kadang mengganggu. Bisa dibilang, dia orang yang paling aku tidak mengerti di antara teman-temanku yang lain.

“Dor, Hamzah, hahaha, Assalamualaikum.” Fatimah melirik isi buku yang sedang aku baca. “Ya Allah, belajar mulu ya kehidupan kamu.”
Fatimah sering sekali mengagetkanku ketika aku sedang asik belajar sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
“Apa salahnya? Bukannya ini justru bagus?” Aku membela diri.
“Ah, tidak, hanya saja bukankah itu membosankan?” Tanggap Fatimah sambil mengangkat bahu.
“Hah? Bukannya itu keharusan sebagai siswa untuk terus belajar?”
Fatimah berdengung, “Hmm, yaa tapi..”

Fatimah lebih suka memakai waktu luangnya untuk melakukan hal-hal random. Di saat belajar, ia belajar, di saat istirahat, ia bermain atau jajan ke kantin. Berbeda dengan aku dan kebanyakan teman-temanku yang asik berdiskusi tentang pelajaran di waktu kapanpun. Mungkin itu yang membuat Fatimah tidak terlalu pintar, bahkan dia selalu merepotkanku ketika mengerjakan PR-nya.
“Hamzah, Hamzah, Hamzah.” Fatimah berbinar-binar merayuku.
“Kerjakan sendiri! Jangan nyontek! Kalau kamu seperti ini terus, kamu akan tertinggal.”
“Ih, siapa yang nyontek? Dasar Ge-er, orang aku mau minta diajarin kok.”
“Huh?” Tanggapku, Tetapi Fatimah memperlihatkan wajah sok imutnya yang sebenarnya ingin sekali aku melemparnya dengan kaos kaki. “Oke oke, tapi itu sama saja Fat, ah dasar kau merepotkan.” Aku pun dengan berat hati mengajarkan PR Fisikanya.
“Yes.” Seru Fatimah.

Hasil ulangan Fatimah pun selalu mendapatkan nilai yang pas-pasan dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan itu karena alasan yang tidak masuk akal menurutku. Ya, dia memang orang yang bodoh.
“Baik anak-anak, ulangan Matematika akan dibagikan. Alhamdulillah rata-rata kelas ini mendapatkan nilai di atas KKM yaitu 82 dari 75, Dan nilai yang tertinggi diperoleh oleh…” Guru itu berhenti sejenak, “Hamzah!”
Semua orang sorak memujiku baik itu guru atau teman-temanku, Aku melihat Fatimah riang menatapku seolah-olah ikut merayakan keberhasilanku. Aku tidak begitu terkejut, Sering sekali aku mendapatkan nilai tertinggi di kelas, itu karena hasil kerja kerasku giat belajar sebelum ulangan.
Sekarang giliran guru menyebutkan nama Fatimah. Fatimah menerima berkas ulangannya. Dia tampak tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah. Aku pikir ia mendapatkan nilai yang memuaskan.

“Berapa nilai kamu Fat?” Tanyaku. Setelah ia kembali dari depan kelas.
“76.”
“Yaelah.” Aku menggeleng. “Kamu bangga dengan nilai di bawah rata-rata? Aku kira kamu mendapatkan nilai 90-an.”
Tiba-tiba ada seorang teman yang menyela perbincangan kami.
“Fatimah, terima kasih banyak ya waktu itu telah mengajarkan saya untuk ulangan ini, mungkin kalau tidak kamu ajari waktu itu, saya tidak bisa mengerjakannya,” sela teman kami itu.
“Alhamdulillah.” Fatimah antusias penasaran “Dapat nilai berapa?”
“80.” Teman itu tersenyum lebar dengan bangga.
Aku terkejut mendengar teman yang diajari oleh Fatimah lebih tinggi nilainya dari Fatimah. Maksudku, ironis sekali orang yang diajari malah mendapatkan nilai yang lebih tinggi daripada orang yang mengajarinya. Tapi anehnya aku tidak melihat wajah Fatimah kecewa sama sekali.
“Masya Allah, itu nilai yang bagus! Lain kali kalau ada apa-apa bilang saja ya,” Fatimah mengatakan itu terdengar tulus tanpa rasa minder sedikitpun dengan senyum yang seolah-olah sudah menjadi ciri khasnya.
“Siap sensei!” Jawab temannya itu dan berlalu.
“Itulah akibat kamu membantunya, malah dia yang mendapatkan nilai lebih tinggi dari pada kamu, Mungkin jika waktu itu kamu fokus dengan belajar, nilai kamu bisa lebih baik” aku menyepet Fatimah dengan suara lirih
Mendengar hal itu, Fatimah menoleh ke arahku, “Bayangkan jika waktu itu aku tidak membantunya Zah, mungkin sekarang dia mendapatkan nilai merah. Toh lagipula aku mendapatkan nilai diatas KKM juga, itu sudah cukup.”
Begitulah Fatimah. Entah dia memang tidak memiliki ambisi di dalam hidupnya atau dia ingin menikmati setiap momen yang dialami.

Pernah suatu hari ada praktikum Kimia, saat itu nilai praktikum memiliki andil yang lumayan besar untuk nilai keseluruhan. Akan tetapi, ada murid yang tidak kebagian bahan praktikum. Aku tidak sengaja melihat Fatimah memberikan bahan praktikumnya secara cuma-cuma kepadanya, sehingga Fatimah tidak Praktik. Dia hanya melihat-lihat temannya yang praktik dan mempelajarinya sendiri tanpa hasil yang dia punya. Hal tersebut membuat nilai Fatimah kurang dan harus mengikuti remedial Kimia.
Ketika aku berkata kepadanya, “Apa untungnya kamu memberi bahan pratikum kepada temanmu jika malah membuat kamu terpuruk?”
Dia membalas memberikan penjelasan, “Terpuruk? Aku baik-baik aja kok, Zah.” Lagi-lagi Fatimah berseri. “Bukannya nanti ada remedial yang membuat nilaiku tidak merah lagi?”
“Dasar gila kau, Fat.” Tanggapku pusing.
Aku berpikir lagi, apanya menikmati setiap momen jika membuat kita menjadi terpuruk? Sungguh aku tidak mengerti sama sekali.

Semenjak mengenalnya, aku dan dia sering bertengkar, lebih tepatnya aku sering menceramahinya. Akan tetapi, itu justru membuat kita dekat dalam artian lain. Sulit dijelaskan. Padahal, aku tidak menyukainya sama sekali dan juga tidak pula terlalu membencinya. Terkadang, Fatimah main ke rumahku untuk meminta diajarkan sesuatu. Entah hubungan apa yang aku miliki denganya.
Hingga suatu saat, aku jalan pulang bersamanya. Aku menemukan sesuatu pada diri Fatimah, Awalnya kami ingin belajar bareng di rumahku untuk ulangan Fisika besok.
Di perjalanan menuju rumahku menaiki angkot, angkot menepi membiarkan pria tua yang sudah menunggu di pinggir jalan menaikinya. Pria tua itu duduk sejenak lalu meminta bantuan kepada orang-orang yang berada di dalam angkot.
“Assalamualaikum, ada yang bisa mengantarkan saya ke Panti Asuhan Bakti?” Para penumpang di dalam angkot seketika hening mendengar pria tua itu meminta, ada juga penumpang yang masih mengobrol berbisik-bisik.
“Bapak Ibu, ada yang bisa mengantarkan saya ke Panti Asuhan Bakti?” Pria tua itu mengulangi perkataannya, hingga tiga kali.
Akan tetapi orang-orang yang berada di sana mengabaikan perkataan pria tua itu, seolah-olah pria itu tidak berada di angkot. Aku tahu untuk ke panti itu harus menaiki satu angkot lagi dan itu akan memakan waktu cukup lama. Tiba-tiba terdengar celetuk suara yang aku kenal dari arah sampingku,
“Itu di mana, Pak?”
“Fat?” Aku berbisik menyikut Fatimah dengan tas. aku sudah menduga apa yang akan dia lakukan.
“Itu berada di Jalan Kamboja, Neng,” Pria tua itu menjawab.
“Baik Pak, akan aku antar,” Fatimah menoleh ke arahku lagi. “Sudah, tidak apa-apa, kamu turun duluan saja. Nanti aku menyusul ke rumahmu Zah.”
“Tapi besok ulangan Fisika, Fat. Aduh, jangan mengemis kepadaku nanti kalau kau datang kesorean dan aku tidak mood mengajarkanmu dari awal,” bisikku.
Fatimah hanya nyengir, memberikan tanda bahwa dia akan baik-baik saja. Aku tahu kalau dia lemah pada pelajaran Fisika, dia selalu memaksaku untuk mengajarkan PR-nya. Akan tetapi, setiap aku menjelaskan kelemahannya, dia hanya menggeleng dan tersenyum. Pada akhirnya aku pun turun pada tempatnya —melihat Fatimah masih bersama pria tua itu di dalam angkot yang terus menjauh dari jarak pandangku.
“Dasar benar-benar perempuan gila!” Ucapku gemas.

Sorenya terdengar suara bel dari depan rumahku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam” Ibuku membukakan pintu rumah. “Eh si cantik, gimana kabarnya? Mau belajar bareng Hamzah ya?”
“Alhamdulillah baik, iya Bu,” Fatimah seperti biasa memberikan senyum andalannya.
“Silahkan masuk.” Ibuku mempersilahkan Fatimah.
Aku yang sudah dari tadi berada di ruang tamu belajar Fisika hanya berkutat dengan latihan-latihan soal yang berada di depan mataku.
“Hei Hamzah!” Fatimah menyapa.
“Tidak ada waktu buat ngajarin kamu Fat,” jawabku berlagak sibuk.
“Ayolah please, setidaknya mengoreksi soal yang telah aku kerjakan nanti”
Aku pun hanya menghela nafas, membiarkan dia bertindak semaunya. Kami mengerjakan soal Fisika sendiri-sendiri. Sesekali aku melihat Fatimah sedang mengotak-ngatik soal yang dikerjakannya.
“Fat?” aku membuka pembicaraan.
“Hm?”
“Kau benar-benar gila,” celetukku cetus.
“Hahaha, kok tiba-tiba?”
“Kau mau jadi super hero?”
“Hah?” Fatimah masih belum mengerti maksudku.
“Apa untungnya kamu menolong pria itu jika besok ternyata kamu tidak bisa mengerjakan soal Fat? Dan bukan hanya itu, kamu selalu mengorbankan dirimu untuk orang lain. Padahal kamu sendiri dalam keadaan sulit,” Aku menjelaskan.
“Oh,”
“Oh? Jawab aku Fat! Aku sudah pusing dengan tindakanmu.”
“Hmm.. Gimana yaa.. Aku merasa mampu membantu saja, Zah.”
“Kan ada orang lain yang bisa membantu.”
“Awalnya aku juga berpikir begitu, memangnya aku mau menolong orang sampai mengorbankan diri sendiri? Enggak Zah. Tetapi lama-kelamaan aku mengerti.”
“Mengerti maksudmu?”
“Apakah kamu menyadarinya? Manusia sudah sibuk dengan urusannya masing-masing.”
“Yah memang begitulah hidup, manusia juga mempunyai tujuan masing-masing, jika ada tujuan mereka yang sama, mereka harus berkompetisi Fat.” Jawabku membenarkan.
“Itu justru yang disebut egois, dan aku sebetulnya tidak menyalahkan orang-orang yang sibuk dengan dirinya, hanya saja aku tidak mau tergolong orang yang seperti itu. Manusia seharusnya membantu satu sama lain. Apakah kamu lihat tadi pria tua itu meminta tolong sampai tiga kali namun tidak ada yang menanggapi? Aku yakin ada beberapa orang yang bersimpati saat itu. Tapi apa yang mereka lakukan? Hanya diam —yang sebetulnya hanya malas membantunya karena akan mengganggu kesibukannya.”
“Begitupula kasus teman yang aku ajari untuk ulangan matematika waktu itu. Sewaktu aku tanya kenapa dia tidak belajar dengan yang lebih pintar saja daripadaku, dia menjawab, yang lain sibuk masing-masing ingin mendapatkan nilai yang sempurna, mereka hanya menyemangatiku untuk memperbanyak latihan soal, terus berlalu. Aku mendengar itu hanya termangut-mangut tanpa komentar apa-apa.” Fatimah diam sejenak. “Entah, Zah. Aku merasa kita diperbudak oleh dunia, bahkan lebih daripada itu.”
Semenjak kata-kata terakhir Fatimah, ruang tamu hening. Ibu yang mengantarkan cemilan untuk kami pun bingung kenapa kami jadi merenung yang tadinya berisik-berisik tidak jelas. Aku jadi mempertanyakan tentang prinsip hidupku lagi. Kata-kata Fatimah benar-benar dalam. Bahkan aku tidak menyangka Fatimah bisa berbicara seperti itu. Aku kira Fatimah hanya orang yang suka membantu dan menikmati hidup saja.
“Kelebihan yang kita miliki itu sudah merupakan tanggung jawab untuk bagian-bagian yang kekurangan,” Ujar Fatimah memecahkan keheningan. “Yuk lanjut belajar, besok ulangan.”
Aku pun sadar dari lamunanku, “Kamu benar besok ulangan, Fat.”
Kami menghabiskan waktu belajar hingga jam lima sore. Seperti biasa, Fatimah memaksaku untuk minta diajari, padahal sudah aku bilang, aku juga sibuk mengerjakan soal—tidak ada waktu. Tetapi karena dia terus memaksaku akhirnya aku mengalah, menjelaskan sesingkat-singkatnya.

Setelah belajar usai, Fatimah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
“Bu, aku pulang dulu ya.” Fatimah berpamitan dengan mamahku.
“Fatimah, tidak makan dulu saja?” Ibu menawarkan.
“Hehe, tidak bu, aku takut sampai rumah kemalaman.”
“Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati ya say.”
“Iya, Assalamualaikum.” Fatimah tersenyum riang kepada kami berdua.
“Waalaikumsalam,” jawab kami.
Fatimah memunggungi kami dan keluar dari pagar depan rumah. Melambai-lambai ke arah kami dan berlalu.
“Imut sekali ya temanmu Zah, kamu tidak suka padanya?” Ibu mencoba menggoda walaupun menurutku itu tidak mempan sama sekali.
“Mungkin,” jawabku asal.
“Wah, Hamzah serius? Fatimah cantik banget memang.” Ibuku antusias.
“Tunggu lebaran kingkong bu, baru aku bisa suka sama dia.” Aku terkekeh.
“Ih Hamzah.” Ibu mencubitku.
Aku tidak tahu, saat itu merupakan hari terakhir aku melihat Fatimah.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Tetapi Fatimah tidak kunjung datang ke sekolah. Padahal bel masuk sekolah sudah berdering. Hari ini ada ulangan Fisika, kenapa bisa-bisanya dia tidak masuk ke sekolah? Mungkin dia telat.
Dugaanku meleset, pelajaran pertama selesai Fatimah masih belum datang juga. Ke mana nih anak? Sampai ulangan Fisika pun Fatimah belum hadir juga. Sekarang aku benar-benar khawatir. Baru kali ini Fatimah tidak mengikuti ulangan sekolah. Di mana kamu, Fat?
Sekolah sampai di penghujungnnya. Fatimah belum hadir-hadir juga, pikirku mungkin dia bolos atau semacamnya. Tapi ini keterlaluan sampai tidak mengikuti ulangan Fisika. Apakah dia sakit? Tapi itu tidak mungkin, kemaren dia terlihat sehat-sehat aja.

Di saat banyak pikiran yang terngiang-ngiang di otakku tentang dia, wali kelas kami tiba-tiba masuk ke kelas dan mengampaikan berita yang mengejutkan.
“Assalamualaikum anak-anak, ada kabar duka.” Perkataan wali kelas kami membuat anak-anak fokus kearahnya “Innalillahi wa innailaihi raajiun, telah berpulang ke Rahmatullah teman kita Fatimah. Fatimah tadi pagi telah dikuburkan. Semoga amal Fatimah diterima di sisi Allah. Kita doakan Fatimah ya anak-anak.”
Serentak kelas ribut, ngobrol kesana-kemari. Ada yang menangis. Kelas dipenuhi oleh duka. Sedangkan aku mematung, tidak percaya apa yang telah aku dengar barusan.
Pulang sekolah aku langsung mengajak ibuku untuk melayat Fatimah. Ibuku bergeming lalu menutup mukanya menangis tidak percaya. Syukur tadi aku sempat menanyakan ke waliku alamat rumah Fatimah. Mungkin juga nanti ada teman-temanku yang lain yang sudah hadir di rumahnya.

Sesampai di rumahnya. Aku melihat satu dua temanku sudah datang. Di sana aku dan ibuku diceritakan oleh orangtua Fatimah. Fatimah meninggal karena tertabrak oleh mobil ketika menyelamatkan anak yang ingin mengambil layangan lepas di tengah jalan ketika pulang dari rumahku kemaren sore.
Ibuku sedih mendengarnya, andaikan waktu itu Fatimah makan di rumahku ucap ibuku, tetapi takdir berkata lain. Sedangkan aku benar-benar kecewa, lagi-lagi Fatimah mengorbankan dirinya untuk orang lain. Aku sebetulnya geram, tapi hanya bisa marah dalam diam.

Setelah selesai melayat, aku dan ibuku pulang ke rumah.
Aku masuk ke kamarku. Merebahkan diri di atas kasur. Menatap langit-langit kamar. Aku benar-benar tidak menyangka kematian Fatimah karena dia menolong orang lain. Selama ini aku benar, ini tidak masuk akal. Semua kebaikanmu tidak masuk akal, Fat. Kamu mengajari teman tetapi malah nilaimu lebih rendah daripadanya. Kamu memberikan bahan praktikum sehingga kamu harus mengikuti remedial. Kamu membuang-buang waktu belajarmu hanya untuk mengantarkan pria tua. Apa yang kamu untungkan? Sekarang lihat Fat, kebaikanmu dapat merengut nyawamu sendiri. Kamu meninggal, telah tiada. Inikah yang kamu sebut dengan tanggung jawab sebagai orang yang mampu?
Aku memukul kasur dengan perasaan kacau.

Di sekolah, orang yang biasa mengganguku disaat aku membaca buku pelajaran, orang yang selalu berisik di telingaku, orang yang menyebalkan yang selalu memaksaku untuk diajarkan PRnya itu sudah tidak ada lagi —sesosok Fatimah sudah tidak ada.
Aku merasa sedikit kesepian mengenang wajahnya yang ceria tanpa dosa. Aku sangat menyesal waktu itu sering memarahinya. Mengabaikannya jika dia ingin mencari perhatian atau memperlihatkan wajah sok imutnya. Rasanya ingin sekali waktu diputar kembali, biar aku bisa berteman lebih baik dengannya.

Hari-hari aku lalui tanpa dirinya. Lama-kelamaan, aku, ibuku dan teman-temanku terbiasa dengan kepergiannya. Tapi sebetulnya masih ada satu hal yang mengganjalku dari kepergian kamu Fat. Di saat detik-detik terakhir hidupmu, apakah kamu merasa menyesal telah menolongnya atau tidak?

Enam tahun berlalu, aku tetap menjalani hidup sesuai dengan prinsipku. Aku sekarang sudah lulus dari universitas terbaik di Indonesia dan kembali ke kampung halamanku.
Sesekali aku masih mengingat Fatimah dan masih mengganjal tetang kematiannya
Sewaktu aku hendak pergi jalan-jalan ke mall menaiki angkot. Aku samar-samar mengingat wajahnya, pria tua yang aku temui enam tahun yang lalu bersama Fatimah datang lagi. Pria tua itu meminta bantuan diantarkan ke suatu tempat. Lagi-lagi pria tua itu diabaikan oleh para penumpang.
Celetuk kata-kata yang sama keluar dari seseorang di sampingku.
“Itu dimana Pak?”
Aku langsung reflek terkesiap menoleh ke sumber suara, sepintas aku teringat Fatimah.
“Fat?” reflekku tertahan.
Ternyata yang aku lihat seorang gadis kisaran SMA kelas satu. Apa yang aku harapkan? Jelas itu bukan Fatimah. Tapi kejadian ini benar-benar persis seperti enam tahun yang lalu. Benar-benar suatu kebetulan.
Aku membatalkan tujuanku ke mall demi mengamati gadis ini. Gadis itu mendekat ke pria tua tersebut. Aku mendengarkan mereka asik berbincang-bincang di angkot. Hingga angkot sepi hanya kami bertiga.

“Nak,” pria tua itu seperti hendak mengganti topik pembicaraan. “Kamu seperti seorang gadis yang saya temui enam tahun yang lalu. Bertemu denganmu membuat saya teringat dengannya, dia dulu mengantarkan saya ke suatu panti yang agak jauh dari sini.” Pria itu diam sesaat. ”Terimakasih ya nak sudah tulus membantu saya.”
Aku penasaran sekali, siapa yang dimaksud dengan pria tua ini? Tapi itu terbayarkan ketika Gadis itu bertanya.
“Oh iya? Kalau boleh tau siapa namanya Pak?” Sungguh pertanyaan asal yang berguna sekali untukku.
“Namanya Fatimah, dia benar-benar gadis yang manis.”
Mendengar perkataan pria tua itu membuat aku sedikit mendongak ke atas dan menutup mulut.
“Wah Pak, benarkah? Itu nama yang sama juga dengan seseorang yang telah menyelamatkan nyawaku dari tabrakan mobil enam tahun yang lalu.”
Ditambah mendengar gadis itu, aku bergeming tidak percaya. Jangan-jangan gadis ini yang waktu itu diselamatkan oleh Fatimah?
“Aku ingat sekali ketika aku sedang mengejar layang-layang. Dulu aku anak yang sedikit tomboy. Waktu itu dia menggunakan seragam putih abu-abu, sepertinya dia seumuran denganku yang sekarang ini, SMA.” Gadis itu melanjutkan.
“Hebat, bagaimana kabarnya dia sekarang?”
Gadis itu menggeleng menunduk. “Nyawa dia sebagai gantinya Pak. Dia yang tertabrak mobil.”
Pria tua itu terdiam sejenak. “Maafkan saya ya, Nak.”
“Tidak apa-apa, Pak. Justru dia yang membuatku belajar sesuatu. Dia adalah inspiratorku —menolong tanpa segan mempertaruhkan nyawanya. Sampai kapanpun aku tidak bisa membalas budinya.”
“Dia benar-benar hebat ya. Saya berpikir, jangan-jangan dia orang yang sama dengan orang yang telah menolong saya.”
“Mungkin, bisa jadi Pak.” Mereka berdua tersenyum.

Setelah mendengar gadis itu tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil inisiatif untuk berbicara. Menjelaskan apakah yang mereka bicarakan itu benar-benar Fatimah yang aku maksud. Aku jelaskan semua kejadiannya. Aku jelaskan tentang Fatimah itu sendiri. Seperti dugaanku, ternyata benar, memang dia. Ini sungguh lebih dari sebuah kebetulan. Mereka berdua terkejut, ternyata orang yang menolongnya adalah orang yang sama.
Aku jadi mengikuti gadis SMA ini, mengantarkan pria tua itu ke tujuannya. Perjalanan kami dipenuhi dengan obrolan tentang Fatimah.
Aku tidak tahu apakah kamu meninggal dalam keadaan menyesal atau tidak, tapi apakah kamu bisa melihatnya Fat? Gadis ini sangat terinspirasi denganmu. Pria tua ini masih mengingat kebaikanmu. Mereka berdua tidak melupakanmu. Namamu masih harum, bahkan setelah enam tahun berlalu. Terutama gadis SMA ini Fat, dia menjadi sepertimu. Seolah-olah kamu mewarisakan ketulusanmu kepadanya.
Sedikit demi sedikit aku jadi bisa mengerti apa yang kamu maksud selama ini. Terima kasih, Fat.

Dua minggu berlalu. Aku mendapatkan panggilan wawancara kerja di suatu perusahaan yang aku inginkan. Aku dipinjamkan mobil oleh bapakku untuk pergi.
Di perjalanan, aku melihat seseorang di pinggir jalan memegang plang kecil bertuliskan, ‘butuh tumpangan’. Aku menerka-nerka apa yang akan dilakukan Fatimah jika melihat orang ini. Aku pun menepi.
“Pak ada yang bisa aku bantu?”
Tentu Fatimah akan menolongnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Warisan Fatimah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri 08

Oleh:
Mentari mulai muncul, memancarkan sinar cerahnya dari ufuk timur, memberikan kehidupan baru di muka bumi. Hujan yang turun pada malam itu tampak masih menggenangi lubang-lubang yang ada di jalan.

Mengapa? (Satu Kata Merubah Segalanya)

Oleh:
Kuawali catatan ini dengan sebuah kata Tanya yang bagi sebagian besar kaum memerlukan jawaban yang berbelit dan memusingkan. Mengapa?. Sebuah kata tanya yang sangat sederhana. Tersusun dari tujuh huruf

Selly dan Slamet

Oleh:
Selly. Ya, cewek itu bisa lu temui di semua sudut sekolah ini. Di madding of the week, of the month and of the year, di acara-acara sekolah, di ruang

Bukan Ann Tapi An

Oleh:
Jam dinding berwarna cokelat yang masih setia menempel di dinding ruang kelas menunjukan pukul 10.15 WIB. “Masih lama” ucapku yan sedari tadi telah menunggu detik-detik berbunyinya bel kebahagiaan, alias

Negara Negeri Dongeng

Oleh:
Jam pelayar melepas kejenuhan setelah berhari hari mengarungi laut dan bertengger sejenak melepas penat disini, Marseilles le port tepatnya. Seperti biasa, Parman, pria yang sudah tak tampak muda lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Warisan Fatimah”

  1. umi hani says:

    Suka deh, Bagus ^_^

  2. lala says:

    awesome

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *