Warung Kopi (Pesan Untuk Kawan)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 February 2016

Malam itu malaikat Mikail memainkan perannya, yaitu menurunkan hujun dari langit (Jogja). Ribuan rintik air turun menyela obrolan dan hangat kopi di warung kopi gbol, dingin seperti tak lagi berarti. Aroma kopi mewangi di antara lingkaran kecil yang diisi 3 orang sahabatku, Pak Haji, Pak Ustadz Al hafidz dan seorang lagi yang sedikit ‘misterius’ yaitu Rifqi. Ketiga sahabatku ini adalah sahabat sekelasku -dulu, dari awal kuliah sampai akhirnya mereka lulus duluan. Sedang sampai saat ini aku masih bercinta dengan proses untuk ‘sekedar’ memakai toga. Tak apalah, kita punya jalan masing-masing untuk menikmati -menjalani hidup. Lagi pula mereka tak pernah merasakan sebagai ‘mahasiswa veteran’ di kampus, kalau aku insya Allah juga akan merasakan lulus seperti mereka. Siapa yang lebih berpengalaman? Aku tersenyum.

“Pak, ini file skripsiku.” sambil ku sodorkan laptop biruku. Dengan cekatan, Pak Ustadz mengecek skripsiku dan memberi wejangan ampuhnya. “mana Pak, coba lihat.” suara Rifqi dengan nada penasaran atau merasa perlu membantu aku tak tahu, tapi laptopku diambilnya dan ia teliti kata per kata. Malam itu aku seperti anak TK yang terjebak di kerumunan intelektual muda, aktivis, dan kaum agamis.

Remang lampu bersatu dengan riuhnya kata yang orang-orang lontarkan. Maklumlah, warung kopi adalah tempat berkumpul yang asyik, obrolan manis-pahit tentang negara, keadaan sosial, wanita dan juga cinta adalah tema yang sering didiskusikan dari sekumpulan ‘daging’ di warung kopi. Satu hal yang sulit dilepaskan, apa pun tujuan awal kita ngopi, akan tiba waktunya kita ngomongin tentang cinta. Ya.. Ya, itu seperti kita nongkrong di warung kopi tapi pesennya avokado atau es teh. ‘Mlipir’.

Seperti malam itu, ketika si ustadz dan Rifqi sibuk ‘berlagak’ menjadi dosen pembimbingku, aku menyela di antara sok sibuknya Pak Haji dengan dagetnya, “Ji, terakhir curhat kan melo, sekarang masih sama yang itu?” tanyaku dengan lirih. Pak Haji menaruh dagetnya, “wes, putus Dab.” (udah putus Dab). Suaranya terdengar tegas tak setegar tatapannya. “loh kok iso Ji? (Loh kok bisa Ji?)” tanyaku penasaran. “iyo, yo iso Dab. Dia lebih milih sama kenalan barunya, yang ia kenal waktu dia haji, anak slankers, pengusaha rongsok!” jawab Pak Haji sambil memegangi cangkir kopinya.

Aku tahu, sinisme ini bukan untuk makkah, slankers ataupun pengusaha rongsok. Mata kami dengan kompak tertuju pada sosok haji dari cirebon ini. Pak Ustadz dan Rifqi menaruh laptopku, seakan skripsiku tak penting lagi atau mereka menganggap skripsiku sudah benar, entahlah. Padahal kebenaran skripsi hanya dosen pembimbing dan Allah yang tahu. Sebelum Pak Haji melanjutkan ceritanya, aku kembali mengingat waktu itu, dimana kita masih semester dua.

Pak Haji yang setiap malam jumat dengan setia memegangi handphone-nya dan selalu nunggu wanita itu untuk sekedar berkomunikasi. Ya, karena waktu itu, wanita itu masih di pondok. Jadi hanya malam jumat saja mereka bisa berkomunikasi, itu pun dari handphone temannya. Tak hanya itu, tapi Pak Haji selalu setia dalam berbagai hal, dia membuktikan kalau dia benar-benar bisa menjaga komitmennya. Dan sampai saat ini, ia bisa. Aku iri.

Hujan berhenti, tapi aku tak tahu apakah mendung masih menggelayuti langit atau tidak. Tak lama Pak Haji menyambung ceritanya, “kemarin dia.. Bla-bla-bla, padahal aku tahu cowok itu.. Bla-Bla-Bla, padahal bapak wanita itu .. Bla-bla-bla. Tapi di sisi lain, mungkin aku harus sadar diri, belajar ilmu ikhlas, atau mungkin ini teguran karena aku terlalu mencintai makhluk-Nya ketimbang pencipta-Nya. Bla-bla-bla.” Ucap Pak Haji sambil menatapku. Sekarang aku tahu, mendung masih ada meskipun gelap menutupinya.

Seketika semua menjadi tiang-tiang kokoh untuk seorang sahabat yang ‘dikhianati’ karena mainset matrealisme atau lebih jauh lagi kita sebut hedonisme. Semoga aku salah. Tapi memang itulah yang terjadi, sekali pun aku tak bermaksud mengantagoniskan wanita itu. “udah Ji, gak usah sedih. Tahu sendiri kan, aku ditinggal nikah dua kali. Padahal kemarin di persembahan skripsi, aku tulis spesial buat dia, tapi kandas! Singoo kok.” tutur Pak Ustadz kelahiran palembang yang gemar ‘berzikir’ dengan kata “singo.” ini. Rifki mengawali tawanya, seakan ia menuntunku dan semua orang untuk bersama-sama mengikuti tawa nyinyirnya.

“Pak penyair, tukang galau, pye iki?” mereka berharap jawaban dari orang yang mungkin salah, mereka menatapku. Aku hanya bisa berkata, “melepas adalah puncak mencintai.”
“bagaimana kita merasa PeDe memiliki, sedangkan kita sendiri bukan kita yang memiliki.” kembali ku lanjutkan kalimatku. “cinta adalah anugerah, bukan paksaan. Jadi biarkan saja dia terbang sejauh apa pun yang ia mau, selama kita sudah berusaha jadi yang terbaik. Serahkan endingnya sama Allah.” aku tertawa, karena merasa sok bijak. Tapi dengan begitu aku tak lagi terlihat seperti anak TK.

Jawabanku ditegaskan lagi oleh Pak Ustadz dan Pak Haji dengan ayat-ayat suci al-Quran. Aku tak sehafal mereka. Tapi setidaknya jawabanku berdasar. Aku lanjutkan cerewetku, “Ji, mungkin yang dia lihat sekarang kamu hanyalah ulat yang terperangkap di jaring laba-laba. Ia takut menolongmu, atau ‘jijik’ untuk mendekatimu karena suatu hal. Dan ia lebih memilih menolong kupu-kupu yang juga terperangkap, padahal kupu-kupu awalnya juga seekor ulat. Dan yang sering orang-orang lupakan adalah terlalu sibuk menolong ulat atau kupu-kupu, tapi tak pernah berpikir bahwa laba-laba belum makan.”

“filosofis banget cuk.” kata Pak Haji yang terlihat sambil mencerna kalimatku. Tiba-tiba Pak Ustadz ini nyambung, “simplenya, kita sebagai laki-laki harus berusaha menjadi taman yang menghadirkan kupu-kupu yang indah.” begitu tandasnya. “kalau yang datang cuma hama, dan musim kemaraunya panjang gimana Pak?” tanyaku sedikit ngawur.
“sialan.” katanya sambil tertawa. “hahahaha.”

Kalimat pasrahku mengatakan. “itulah seninya hidup.” atau “sudahlah, itu bagian dari jalan takdir.” Tapi terkadang aku pun masih bertanya-tanya mengapa ketika kita serius, dia tak seserius kita? begitupun sebaliknya. Entahlah. Tapi begitulah pelajaran, meskipun itu ditempa dari tangan-tangan kasar dan berat tapi sebenarnya itu menguatkan. Kita telah disuguhi pilihan, galau atau bangkit. Jika kamu memilih galau, berarti kamu hanya memilih menikmati keresahanmu tanpa menemukan penyelesaian. Tapi kalian pasti tahu, aku lebih memilih galau, karena dengan galau setidaknya aku bisa menulis puisi. Jangan ditiru. Pilihlah bangkit, dan tak usah sibuk mencari kesenangan, tapi ciptakan kesenangan itu.

Ditinggalkan dan meninggalkan adalah masalah untuk semua manusia. Entah sekarang atau suatu hari nanti, kita pasti ditinggalkan atau meninggalkan orang yang kita cintai ataupun yang mencintai kita. Tegar, ikhlas, dan serahkan kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. Kita tak pernah diberi beban melebihi batas kekuatan kita, seperti halnya Allah tak menciptakan manusia bisa terbang, (khusnudzon) karena Allah tahu manusia bisa membuat kapal terbang. Kuatlah, kita memang harus jatuh kalau ingin bangkit.

Cerpen Karangan: M. Ubayyu Rikza
Blog: Bayrikza.Blogspot.Com
Facebook: Bayu (Muhammad Ubayyu Rikza)

Cerpen Warung Kopi (Pesan Untuk Kawan) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kopi Pending

Oleh:
Naples, Italia. Tempat paling pas untuk ngopi sepulang kerja. Ditambah pemandangan kota yang perlahan menelan senja tepat di depan mata. Keindahan yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Setelah pulang

Anugerah Tuhan

Oleh:
Namaku Eca Wijaya. Biasanya aku dipanggil Eca. Aku satu-satunya anak tunggal di keluargaku. Mamaku sudah meninggal 10 tahun yang lalu karena kecelakaan maut yang juga hampir merenggut nyawa aku

Diary Ellen

Oleh:
Aku Audrey. Audrey Yisha Anggata tepatnya. Aku tergabung dalam sebuah geng. Geng persahabatan. Namanya GAC. G: Lisha Givha Ulna (Givha) A: Audrey Yisha Anggata (Aku) C: Alina Cila Hisya

Penaluna

Oleh:
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama

Unconditional (Part 1)

Oleh:
Gadis itu menyeruput jus jeruknya tanpa ekspresi nikmat. Lalu dia menyingkirkan anak-anak rambutnya, yang diterbangkan angin dari wajahnya, dengan gerakan yang gusar. “Dia bakal marah besar kalau tahu tentang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *