Where Are You Now?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 July 2017

Beginilah aku di sepanjang tahun, berkutat di meja belajarku dengan laptop di depan mataku. Kursi kantor yang bisa bergoyang itu betul-betul memanjakan tubuhku. Aku bisa seharian duduk berjam-jam bermain game, browsing, editing, menonton youtube, apapun yang bisa kulakukan dengan laptop kesayanganku. Laptop itu adalah pemberian ayah 3 tahun lalu. Aku benar-benar menyukainya baik bentuk dan performa laptop itu. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengannya.

Saking seringnya aku berada di dalam rumah dan berkutat dengan laptopku, aku sampai lupa dunia luar. Apa yang terjadi di jalanan, apa yang terjadi di lapangan saat dulu aku sering bermain bola dengan temanku, sudah tidak menyita perhatianku lagi. Sekolah tempat aku belajar hanya seakan-akan menjadi rutinitas belaka, tak ada yang menarik.

Aku duduk di kelas 2 SMA dan aku sudah puber, aku tau apa itu cinta dan asmara dengan lawan jenis, tapi tetap saja tak ada wanita di sekolah yang menarik perhatianku. Bahwa kegiatan teman-temanku di sekolah tak ada yang menarik bagiku. Aku sudah terlena dengan kenyamananku bersama laptopku.

Di tengah lamunanku itu, aku tersadar bahwa sudah banyak yang aku lewatkan di tahun ini. Saat Natal beberapa hari kemarin, banyak sekali orang datang sekedar untuk bersilahturahmi dan mempererat hubungan. Banyak dari mereka adalah teman-teman ayah dan ibu. Aku tetap ikut menyalami mereka dan mengucapkan selamat Natal, tapi tetap saja tak ada yang menarik bagiku. Semua terasa seperti rutinitas belaka saat mendekati Natal dan penghujung tahun. Semua terasa datar.

Aku mengingat semua yang telah kulewati. Aku pun mengacaukan lamunanku dengan beranjak dari kursi kesayanganku. Aku berjalan ke arah jendela kamarku. Dari kamarku yang berada di lantai dua, aku bisa melihat jalan-jalan raya dipenuhi lampu-lampu jalan dan kerlap-kerlip malam. Di bawah lampu jalan itu aku melihat sekumpulan anak tertawa gembira sembari meniupkan terompet yang ada di tangannya. Kebetulan bahwa rumahku berada di samping jalan besar, aku cukup bisa melihat bagaimana ramainya kota di malam hari.

Aku beranjak ke arah meja belajarku kembali. Aku menggerakkan kursor laptopku untuk menghidupkan layarnya. Aku melihat tanggal yang tertera di kanan bawah laptopku. Ternyata hari ini tanggal 31. Pantas saja sudah meniupkan terompet tahun baru. Entah kenapa setelah melihat anak-anak yang memainkan terompetnya tadi, aku berkeinginan untuk keluar malam itu. Aku mau melihat pesta kembang api yang biasa ada di penghujung tahun. Aku melihat kembali jam yang tertera di layar laptopku. Jam menunjukkan pukul 10. Tanpa pikir panjang, aku mengambil kunci motorku di atas meja belajar lalu turun ke bawah. Tak lupa aku mengambil jaket dan memasukkan ipod kesayanganku ke dalam saku.

Aku tahu kalau setiap tahun di tengah kota pasti selalu ada pesta kembang api. Aku berencana untuk melihatnya malam itu. Di tengah kota ada sebuah alun-alun yang pasti ramai saat malam pergantian tahun seperti ini karena dari sanalah nanti kembang api itu akan diluncurkan. Tapi aku tidak pergi ke situ.

Aku mengarahkan motorku ke arah barat. Jalan terlihat sedikit sepi karena orang-orang bergerak ke selatan untuk melihat pesta kembang api. Setelah cukup lama akhirnya aku sampai di tujuanku. sebuah gedung. Gedung ini adalah sebuah gedung perkantoran yang sangat tinggi yang berada di antara pinggiran kota dan tengah-tengah kota. Ya, gedung perkantoran ini adalah gedung milik ayah. Aku memarkirkan motorku dan kemudian masuk ke dalam. Satpam dan resepsionis di sini sudah mengenalku. Resepsionis itu tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya sembari mengisyaratkan jariku untuk naik ke atas. Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk pergi ke atas gedung ini. Karena tidak ada yang bekerja pada malam pergantian tahun membuatku dapat dengan mudah naik ke atas. Lift ini sebenarnya tidak sampai ke atas. Jadi aku harus menaiki beberapa anak tangga lagi untuk naik ke atas.

Aku pun akhirnya sampai di atas. Tak ada yang berubah dari semen-semen rusak yang berada di lantainya. Semua sama seperti ketika 3 tahun lalu ayah membawaku ke sini untuk melihat kembang api. Aku berjalan menuju ke pinggir. Pinggiran atap ini dibatasi oleh beton sehingga cukup aman untuk melihat kejauhan dari sini.

Pemandangan kota tampak indah dari atas sini. Aku bisa melihat hamparan gedung dan jalanan yang disinari lampu jalan dari ujung hingga ujung kota ini. Benar-benar mengagumkan. Pemandangan yang sama seperti 3 tahun lalu.
Aku mengeluarkan ipod dari saku celanaku. Aku memasang headset dan menaruhnya ke telingaku lalu memutar lagu kesukaanku. Aku kemudian melihat jam di hp ku, ternyata sudah jam 23.50. aku kemudian memasukkan hpku kembali ke dalam saku celanaku.

Agak lama aku melihat-lihat kota ini. Di sini terasa begitu tenang sampai aku larut dengan ketenangannya.
Tak terasa sudah 3 tahun yang lalu aku berdiri di sini bersama ayah. Di sinilah tempat ayah memberikan laptop kesayanganku saat malam pergantian tahun waktu itu. Semua berlangsung begitu cepat. Aku mengingat kembali bahwa ayah selalu mengajakku jalan dan berpergian sebelum 3 tahun lalu. Aku selalu bertanya-tanya kenapa belakangan ini ayah tak pernah lagi mengajakku jalan dan peduli kepadaku. Semua orang terasa sama saja bagiku. Semuanya berubah setelah aku malam pergantian tahun waktu itu. Aku selalu mencoba mencari tahu.

Dan malam itu akhirnya aku pun tersadar bak terhempas dari langit. Laptop itulah yang telah mengubahku. Aku mencoba mengingat kembali bahwa sebenarnya 2 tahun ini ayah ternyata mengajakku ke sini waktu malam pergantian tahun, tapi aku sibuk dengan apa yang aku kerjakan di laptopku. Aku tak ingat apa yang kukerjakan waktu itu. Aku sering bilang bahwa aku banyak tugas yang harus dikerjakan, aku sedang melakukan ini, melakukan itu. Aku juga mengingat kembali bahwa di sekolah, banyak sekali teman-teman yang peduli padaku, tapi aku acuh tak acuh pada mereka. Semua Karena aku sudah terpaku pada keseharianku dengan laptop itu. Aku benar-benar menyesalinya.

Lagu yang kuputar di ipodku semakin menghanyutkan perasaanku.
Where are you now?
Atlantis
Under the sea
Under the sea
Where are you now?
Another dream
The monster’s running wild inside of me
I’m faded

Tak terasa kembang api sudah bermunculan di depan mataku. Lagu Faded dari Alan Walker ini memang lagu kesukaanku. Di tengah lagu yang tengah berputar, tak terasa aku meneteskan air mataku. Tiap baris lirik lagu ini seakan-akan menamparku dengan keras, bertanya di manakah aku yang asli. Air mataku semakin deras membasahi pipiku, semakin aku meresapi tiap lirik dari lagu ini.
Ya, disaat orang lain tertawa gembira, para pasangan berpelukan mesra, orang-orang merasakan kebahagiaan bersama keluarga di bawah kerlap-kerlip kembang api, aku berdiri di situ merenungi dan meratapi diriku yang hilang. Aku sekarang mengerti bahwa selama ini yang kucari hanya kebahagiaan sesaat. Digital mengubah hidupku dengan keras. Aku telah menyia-nyiakan orang-orang terbaik dalam hidupku. Semakin kuat lagu ini semakin menderaskan air mataku.

Sekarang belum terlambat. Aku harus berubah menjadi siapa aku sebenarnya.
Aku sekarang tersadar bahwa digital hanyalah kebahagiaan sesaat. Karena kebahagiaan sejati ada ketika kamu menghargai orang-orang dalam hidup ini dan berada di samping orang-orang yang begitu mencintaimu.

Cerpen Karangan: Nick G
Facebook: Nico Saut Gabriel Sitorus

Cerpen Where Are You Now? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Air Surga (Part 2)

Oleh:
Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam. “SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di

Mutiara Air Mata

Oleh:
“Hidup bukan untuk disia-siakan. Hidup itu untuk diperjuangkan. Sesulit apa pun Tuhan memberikan ujian, maka jalanilah dengan tegar. Jika kamu sudah tidak mampu, maka berdoalah dan minta pertolongan pada

Impianku

Oleh:
Hai, namaku Jessica aku sekarang kelas 3 SMA besok hari pertama aku duduk di kelas 3 SMA, tetapi aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan pelan, berfikir apa yang harus

Sarjana Kalkulator

Oleh:
Akulah si sarjana kalkulator. Di dunia ini, hanya aku yang memiliki gelar tersebut. Semenjak aku berhasil menyelesaikan pendidikanku dan berhasil juga menyematkan gelar tersebut di belakang namaku, aku semakin

Meet You

Oleh:
Jomblo, adalah status yang sulit dirubah, tak semudah merubah status di facebook. Kata Jomblo seolah adalah sebuah kata yang sangat menyeramkan untuk diucapkan. Tapi itulah kata yang tertancap padaku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *