Women, Gossip & Reality (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 November 2013

Apa yang ada di benak kalian tentang arti sahabat. Sahabat itu adalah suatu hubungan emosional antara dua orang atau lebih yang didasari oleh persamaan sifat dan karakter yang bisa saling melengkapi dan menyayangi satu dengan yang lainnya menjadi suatu ikatan batin yang kedekatannya bisa melebihi saudara. Hmmm atau Sahabat itu adalah seseorang yang selalu berada di samping kita di kala kita senang, sedih atau sedang galau gitu? Ada juga yang bilang sahabat adalah segala-galanya bagi dia, karena sahabat adalah orang yang satu-satu nya mengerti tentang keadaan diri kita, tentang rahasia yang kita punya bahkan ada pula orang yang bisa sepenuhnya mau berkorban apapun demi menyenangkan hati sahabatnya. Yang pasti sahabat itu akan selalu memberi warna pada dunia kita. Seperti yang di alami oleh lima orang cewek yang sudah menjalin persahabatan sejak SMU lalu mereka juga masuk ke peguruan tinggi yang sama. Setelah lulus dari perguruan tinggi dan menggondol title Sarjana mereka berlima mulai memasuki kehidupan yang berbeda di dunia baru mereka yang semakin dekat dengan impian mereka masing-masing.

Seperti Lila, cewek yang di panggil Lala oleh para sahabatnya itu langsung mewujudkan impiannya dengan membuka sebuah Butik setelah lulus kuliah. Cewek yang paling imut dan feminim di antara keempat sahabatnya ini mengalami trauma dalam kehidupan percintaannya. Setelah di tinggal diam-diam oleh mantan pacarnya, Lila sulit untuk mempercayai lagi yang namanya kesetiaan. Dan sekarang secara mengejutkan ia memutuskan untuk berpacaran jarak jauh dengan cowok Indonesia bernama Kanza yang berkerja di Montreal Canada. Apakah Lila sudah bisa menanggalkan rasa traumanya tentang kesetiaan.

Berbeda dengan Vira, cewek yang bernama lengkap Elvira ini adalah cewek yang ambisius dan pintar. Dengan nilai kumlot yang diraihnya, kini Vira berhasil menjadi PNS di sebuah Depertemen dengan jenjang karir yang cemerlang. Dan kini Vira sedang resah karena mau di jodohkan dengan seorang pria pilihan orang tuanya.

Hmmm… Sepertinya kalau di Tanya siapa sih yang kehidupannya lurus-lurus saja? Dia adalah Maike sang Sekertaris. Cewek yang di panggil Mai ini adalah cewek yang paling beruntung di dalam hidupnya. Di ujung tahun lalu ia menikah dengan cowok impiannya yang ia pacari secara diam-diam, walaupun hubungannya sempat di tentang habis-habisan oleh Ayahnya yang terkenal sangat galak. Akhinya kini ia telah mengandung dan hidup dengan laki-laki pujaannya.

Yang paling beruntung di antara mereka berlima dalam masalah percintaan adalah Ocha. Ocha sudah menemukan belahan jiwanya sejak ia bertemu dengan Wendy pada semester pertama sewaktu kuliah dulu. Tapi hidup tidak selamanya sempurna, kini pemilik Event Organizer itu pun sedang resah karena belum dikaruniai seorang anak yang ia dambakan setelah tiga tahun pernikahannya.

Dan yang terakhir adalah Amel, Karyawan sebuah Bank ini terkenal sangat jutek di antara keempat sahabatnya. Kini ia sedang mengalami rasa jenuh dengan kekasihnya yang bernama Argo yang belum berani untuk melamarnya, dan membawa hubungan mereka berdua ke jenjang pernikahan, padahal mereka sudah berpacaran semenjak SMU.

Mereka berlima adalah sahabat dekat yang selalu meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan mereka masing-masing untuk bertemu melepas rindu, mengobrol dan bergossip di café Coklat yang sudah hampir dua tahun lamanya setia menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk dikunjungi.

Lila tersenyum ketika ia melihat sebuah sedan hitam berhenti di depan Butiknya. Kemudian ia buru-buru mengambil tasnya dan berlari keluar Butik menghampiri sedan itu.
“Hai… Kok mendadak banget sih Jeng ngajak ketemuannya, untung kita semua pada bisa datang” kata Lila sambil naik dan menutup pintu mobil.
Vira tersenyum lalu ia segera menancapkan gas mobilnya meninggalkan Butik Lila menuju café Coklat.
“Nah… itu dia mereka datang” teriak Maike sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Lila dan Vira.
“Yaa… ampun Mai, loe kan lagi hamil?” Kalem sedikit kenapa kata Ocha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Maike.
“Dari mana aja sih kalian berdua, kita sudah nunggu satu jam nih di sini” Tanya Amel.
“Sorry Mel, jalanan macet” jawab Lila sambil duduk di samping Maike.
“Ada apa sih? Sore-sore gini kita di suruh ngumpul, mendadak lagi” Tanya Ocha penasaran.
Vira terseyum lebar sambil memandang teman-temannya.
“Hai… Ada apa sih? Jangan buat orang penasaran dong… Ahhh” kata Amel.
“Hmmm… Jeng-jeng semua, tiga bulan lagi gue mau married” kata Vira sumringah.
“Apa… Yang benar” teriak Ocha sambil memeluk erat Vira.
“Wahhh… Selamat yaa Bu, akhirnya PNS kita yang satu ini menikah juga” kata Maike.
“Terus… terus, loe mau married sama siapa Vir? Bukannya loe masih jomblo..” Tanya Amel penasaran.
“Gue… hmmm, gue mau di jodohkan sama orangtua gue Mel” jawab Vira sambil tersenyum.
“Terus loe setuju aja gitu” Tanya Amel lagi.
“Daripada gue jadi perawan tua? Nanti repot lagi” canda Vira sambil tertawa terbahak-bahak.
“Gue harus bantu apa nih untuk mewujudkan impian loe itu Vir?” Tanya Lila.
“Enggak usah repot-repot, La” Jawab Vira.
“Hmmm… sudah beli souvenir belum Vir, gue bisa nganterin loe kok nyari souvenirnya? Loe mau cari dimana tinggal bilang saja sama gue. Mau ke Tanah Abang atau kita ke Mangga Dua?” jelas Maike.
“Yaaa… Ampun Bu, loe itu lagi hamil? Enggak inget apa sama yang melendung kaya balon di perut loe” kata Lila sambil tertawa.
“Kalian semua nggak usah repot-repot, yang gue mau dari loe semua, pokoknya loe harus dan wajib datang di pernikahan gue bersama pasangan kalian masing-masing” kata Vira tersenyum.
“Okieee…” Teriak Ocha, Maike, dan Amel kompak.

Ups…, kenapa kali ini si Lila tidak ikutan berteriak seperti yang lainnya? Yup… heheheh itu karena ia merasa jauh dari yang namanya pasangan. Lila tidak antusias seperti yang lainnya. Ia merasa mulai kesepian dan mulai tercampakan kalau sudah membahas mengenai pasangan masing-masing. Sebenarnya banyak kok cowok-cowok yang tertarik dengan cewek yang berparas ayu dan feminim itu. Lalu apa yang berada di benak Lila sekarang…

“Gue ke toilet dulu ya” kata Lila sambil bangkit dari sofa lalu pergi meninggalkan teman-temannya.
“Ada yang salah sama omongan gue ya? Kok tiba-tiba Lila mendadak mau ke toilet dengan mimik muka sedih gitu” Tanya Vira.
“Secara lho… mungkin dia agak tersinggung atau jenuh kali ketika kita berbicara tentang pasangan kita” jawab Amel.
“Kasihan Lila, kayanya dia sensitif banget kalo kita lagi membahas tentang pasangan kita masing-masing” kata Maike sambil mengelus perutnya.
“Sebenarnya hubungan dia sama si Kanza itu bagaimana sih” Tanya Amel penasaran.
“Mana gue tau, dia kurang terbuka dengan kita tentang hubungannya dengan cowok yang enggak jelas keberadaannya itu” jawab Ocha.
“Bagaimana kalau Lila kita carikan jodoh saja” usul Vira.
“Hmmm… boleh juga, seperti apa yaa cowok yang cocok untuk Lila” kata Ocha.
Hahahaha… dasar? Beginilah sifat cewek-cewek kalau sedang berkumpul. Kalau salah satu dari mereka sedang tidak berada di tempat, sudah pasti mereka akan cepat-cepat membicarakannya. Dan kali ini Lila lah yang terkena dampaknya, gara-gara bête dan pura-pura mau pergi ke toilet sebentar. Dengan secepat kilat mereka mendiskusikan tentang hubungannya dengan Kanza, cowok yang sudah satu tahun ini merajut cinta kasih dengannya.

Sore itu Maike mampir ke Butik Lila sehabis pulang dari kantornya. Maike mendapatkan Lila sedang termenung menatap ponselnya sampai-sampai ia tidak tahu kalau Maike sudah berada persis di hadapannya.
“Hai… Bengong aja! loe enggak liat ibu-ibu hamil segede ini berdiri di depan muka loe” kata Maike yang membuyarkan lamunan Lila.
“Hai… kok tumben pulang dari kantor mampir ke Butik gue Bu”, kata Lila sambil tertawa.
“Gue janjian sama suami gue di sini? Boleh kan…” Tanya Maike.
“Ya… Ampun Mai, kaya gue siapa aja sih? Loe mau nunggu atau tidur di Butik ini juga boleh kok” jawab Lila sambil memeluk Maike.
“Ehhh… Bu, kabarnya Kanza bagaimana” Tanya Maike penasaran.
“Baik… semalam baru saja dia menelepon gue, katanya lagi winter disana” jawab Lila sambil tersenyum.
“Kenapa enggak sekali-kali loe yang berlibur kesana, kayanya seru tuh berlibur sekalian bertemu dengan pujaan hati” canda Maike.
“Maunya sih Mai, tapi belum ada waktunya nih” jawab Lila.
“Ampun deh… La, kalau masalah waktu sih, waktu luang loe itu lebih banyak di bandingkan gue yang kerja kantoran kaya gini” kata Maike sambil tersenyum.
“Gue tau… loe semua sempat ngegossipin gue kan, di café kemarin?” sindir Lila.
“Yaa… iyah sih kita-kita sempat membahas hubungan loe sama Kanza gitu kemarin. Loe yakin La, kalau hubungan kalian akan baik-baik saja, loe berdua kan berjauhan? Loe yakin kalau Kanza itu bakalan setia sama loe” Tanya Maike ragu-ragu.
Lila menganggukan kepalanya sambil tersenyum memandang Maike. Mereka berdua lalu mengobrol di meja kerja Lila.

Tidak lama kemudian salah satu karyawan Lila datang dan memberikan Lila sebuah kotak paket untuknya.
“Dari siapa La? Tanya Maike”.
“Hmmm… Dari Kanza” jawab Lila sambil tersipu malu.
“Wow… Baru saja orangnya di omongin, tiba-tiba datang paket darinya” canda Maike tertawa terbahak-bahak.
“Ahhh… Loe bisa aja!” kata Lila.
“Ayo… ayo buka cepetan? Gue penasaran nih” kata Maike.

Lila membuka kotak yang di pegangnya. Lalu ia terkejut dan matanya pun langsung berbinar-binar ketika melihat sebuah Gaun cantik berwarna maron yang berada di dalamnya.
“Wow… Ini kan Gaun yang gue lihat ada di catalog seminggu yang lalu? Ini mahal lho harganya, selera Kanza bagus juga ya…, wahh romantis banget? gue jadi iri” teriak Maike sambil tertawa.
Lila tersenyum memandang Maike, hatinya pun sangat gembira ternyata walaupun jauh di sana tetapi Kanza masih sempat memberi perhatian dan membelikan sesuatu untuknya.

Dua hari kemudian seperti biasa di jumat sore itu mereka menyempatkan diri untuk berkumpul di café coklat sepulang dari kantor. Tapi kali ini hanya Amel, Ocha dan Maike yang hadir di café itu sedangkan Vira belum muncul dan Lila masih sibuk dengan urusan Butiknya.
“Masa? Serius loe Mai, Si Lila dapat Gaun dari Kanza” Tanya Ocha tidak percaya.
“Yaa… ampun masa loe enggak percaya sama gue sih Cha” kata Maike sambil menatap Ocha.
“Yay… gue sudah bisa ngebayangin pasti si Lila senang banget” kata Amel.
“Sepertinya hubungan mereka berdua sudah serius deh, jangan-jangan enggak lama lagi mereka berdua juga mau nikah nih” jelas Maike.
“Dengan Kanza memberikan gaun yang indah itu pada Lila, loe sudah bisa mengambil kesimpulan kalau hubungan mereka serius?” Kata Amel.
“Yaaa… Loe jangan terlalu negative thinking juga sih Mel, kita kan tidak tahu hubungan mereka sekarang seperti apa? Kalau gue bilang sih, so far hubungan mereka baik-baik saja. Kita kan akhir-akhir ini tidak pernah mendengar Lila mengeluh tentang hubungannya dengan Kanza” jelas Ocha panjang lebar.

Hmmm… Lagi-lagi di sore itu Lila yang menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Gara-gara Maike mengadu tentang gaun yang di berikan Kanza, Ocha dan Amel pun sempat beradu argumentasi tentang keseriusan hubungan sahabatnya. Sementara itu orang yang masih dijadikan topik hangat masih berada di Butiknya menunggu kedatangan Vira yang berjanji mau datang malam ini.
“Anak-anak kan hari ini pada kumpul di café Vir, loe enggak datang kesana” Tanya Lila sewaktu Vira datang.
“Malas… ahhh” jawab Vira acuh.
“Lho kenapa”, kata Lila sambil mencatat baju-bajunya yang baru datang.
“Palingan juga nanti ujung-ujungnya ngebahas tentang pernikahan gue, gue agak malas ngomongin pernikahan gue sekarang” jelas Vira.
“Lho..lho… calon pengantin kok mukanya ketekuk tujuh gitu sih, kaya serbet yang udah demek, tau gak…?” canda Lila sambil tertawa.
Tiba-tiba Vira menangis tersedu-sedu sambil mengusap airmatanya. Lila yang sedang sibuk pun terkejut melihat sahabatnya menangis di hadapannya.
“Loe kenapa Vir”, Tanya Lila bingung sambil memeluk Vira.
“Gue… gue enggak mau nikah sama dia, La..?” kata Vira sesegukan.
“Waduh… Kok jadi gini, bukannya kemarin loe senang-senang aja mau nikah. Hmm.. loe lagi stress kali menghadapi persiapan nikahan loe?” Tanya Lila bingung.
“Bukan La, gue enggak mau dijodohin? Boro-boro suka ma cinta? Kenal dan bertemu sama orangnya aja gue belum pernah” jelas Vira.
“Jadi selama ini loe belum bertemu dengan cowok yang mau di jodohin sama bonyok loe itu?” Tanya Lila panik.
Vira menggelengkan kepalanya. Lila menarik nafas panjang dan berusaha mengatur irama detak jantungnya melihat Vira yang tampa histeris menerima kenyataan yang akan dialaminya.

Wah… wah.. wah… apa yang dialami sama Vira sepertinya begitu serius. Ternyata ia tidak suka dengan perjodohannya itu, tetapi mengapa kemarin Vira mengumumkan tentang rencana pernikahannya dengan begitu gembira di hadapan para sahabatnya. Mungkinkah itu hanya untuk membuat teman-temannya senang atau ada maksud yang lainnya? sepertinya saat ini cuma Lila yang ia percaya untuk membantunya. Sementara itu Ocha, Amel dan Maike masih saja sibuk ngegossip membahas hubungan Lila dan Kanza di café coklat, padahal mereka tidak tahu ada berita yang lebih menarik dan sedang panas-panasnya yaitu tentang perjodohan Vira yang tidak semulus yang mereka kira.

Semenjak malam itu Vira menghilang, ia menjadi sulit sekali untuk dihubungi oleh sahabat-sahabatnya, sebagian menganggap Vira mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya atau sedang pergi keluar daerah seperti biasanya. Tetapi tidak untuk Lila, ia menjadi sangat panik karena hanya dialah satu-satunya orang yang tahu persis keadaan yang dialami oleh Vira yang sebenarnya. Lila takut terjadi sesuatu yang menimpa sahabatnya itu. Hmmm… jangan-jangan Vira kabur dari rumahnya atau dia nekat bunuh diri karena tidak mau di jodohkan sama orang tuanya pikir Lila dalam hati. Duh… bisa pusing kalau begini, apa yang harus aku lakukan yaa Tuhan Tanya Lila dalam hatinya.

Tidak lama kemudian Lila menghubungi Maike dan mengajaknya ketemuan di café coklat sepulang dari kantor nanti.
“Ada apa sih, La? Kayanya serius banget muka loe” Tanya Maike sambil duduk di sofa ketika sampai di café coklat.
“Gue bingung…, Mai” jawab Lila lesu.
“Bingung kenapa, soal Kanza?” Tanya Maike.
Lila menggelengkan kepalanya sambil menatap Maike.
“Lalu apa dong, ngomong aja sama gue, siapa tahu aja gue bisa membantu loe” kata Maike sambil tersenyum.
“Beberapa hari ini gue susah banget menghubungi Vira, sudah berkali-kali gue telepon tapi enggak diangkat, SMS nggak di bales, telepon ke kantornya enggak ada… bahkan sampai gue Email juga enggak ada kabarnya” jelas Lila.
“Emangnya loe ada perlu banget sama dia” kata Maike.
“Gue khawatir sama dia Mai” jawab Lila.
Maike serius menatap Lila, dengan ragu-ragu Lila pun mulai menceritakan apa yang telah ia ketahui semua tentang masalah yang dialami Vira.

“Lho… ya ampun kok bisa gitu? Kemarin kayanya dia senang-senang aja mau di jodohin sama bonyoknya” Tanya Maike penasaran.
“Hmmm… Gue juga enggak ngerti deh tentang masalah itu” jawab Lila.
“Ohhh… Gue tahu mungkin Vira lagi berusaha untuk menghibur dirinya sendiri kalau sebentar lagi dia mau nikah atau jangan-jangan dia mau membuat Amel iri karena telah di tikung duluan? Secara lho si Amel kan udah ngebet banget mau nikah” jelas Maike sok tahu.
“Terus gimana dong, gue khawatir sama Vira.. Mai?” Tanya Lila.
“Masalah hati tidak bisa di bohongin La? contohnya gue dulu, walaupun Bokap gue udah berusaha menghalalkan apapun buat pisahin gue sama Daniel. Tetap saja gue enggak bisa kelain hati. Di hati ini cuma ada Daniel? Apalagi si Vira yang langsung di kawinin kaya gitu… hati dan perasaann dia bagaimana tuh? Yang jelas hati itu tidak bisa di bohongin… Hufh” gerutu Maike.
“Hmmm… Kasihan Vira” kata Lila sedih.
“Kita harus ketemu sama Vira dan bicara soal ini, mungkin dia mau terbuka sama kita? Mudah-mudahan ada jalan keluarnya yang baik” jawab Maike.
“Iyah jangan sampai dia salah mengambil keputusan. Vira berhak menolak atau menerima perjodohannya, karena itu menyangkut masa depan dia nanti” jelas Lila sambil tersenyum.
Tiba-tiba Maike melambaikan tangannya ke arah pintu masuk cafe, Lila pun cepat-cepat menoleh ke belakangnya. Ia melihat Ocha sedang tersenyum dan berjalan menghampiri mereka berdua.
“Lho… Ocha datang ke sini” Tanya Lila bingung.
“Sorry La…, gue yang ngajak dia datang kesini? Kirain gue loe enggak mau ngobrol hal yang serius kaya gini, sorry yaaa… Peace” bisik Maike sambil mengangkat kedua jarinya.
Lila menarik nafas panjangnya lalu ia berusaha memaklumi sahabatnya yang sedang hamil tua itu.
“Hai… Loe berdua sudah lama disini”, Tanya Ocha sambil duduk di sebelah Lila.
“Lumayanlah…” jawab Maike sambil menyeruput minumannya.
“Aihhh… gue sebel deh sama Dokter gue, enggak manjur ahhh omongannya” ujar Ocha kesal.
“Kenapa emangnya Cha” Tanya Lila.
“Gue mau ganti Dokter aja deh? Hmmm… Dokter loe bagus nggak Mai” Tanya Ocha.
“So…far sih bagus aja” jawab Maike.
“Tahu nggak… gue udah kaya hewan herbivore aja sekarang, tiap hari tuh yang gue makan touge… touge terus, asal kalian tahu aja ya, enggak pagi, siang, sore, bahkan malam yang gue makan Touge, terus jajanan yang berbahan dari touge udah gue embat semua mulai dari touge goreng, manisan touge bahkan kalau gue makan Bakso yang banyak tuh tougenya di bandingin bakso sama mie nya. Tapi belum ada hasilnya sampai sekarang” gerutu Ocha cemberut.
“Sabar… Cha” hibur Maike.
“Ini sudah tiga tahun Mai, gue sama mas Wendy tuh sehat dan normal” jelas Ocha putus asa.
“Mungkin belum di kasih sama Tuhan kali Cha, terus kalau kaya gitu loe bisa apa?” kata Lila.
“Gue kan malu sama keluarganya mas Wendy, La…? nanti mereka kira gue lagi yang bermasalah” jawab Ocha.
Lila dan Maike memandang Ocha yang tampa risau dengan keadaannya.
“Apa gue ikut program bayi tabung aja yaa…, sekarang kan sudah bisa buat bayi tabung di Indonesia, jadinya kita nggak perlu repot-repot ke Singapore lagi. Hmm tapi Mas Wendy sampai saat ini masih kurang setuju dengan ide gue ini” kata Ocha.
“Sabar aja dulu.. lah Cha, bayi tabung itu biayanya besar banget lho? Nanti kalau gagal loe kecewa lagi” saran Maike.
Ocha terlihat pasrah lalu ia menarik nafas panjangnya.
“Ehhh… Amel belum datang ya, lama juga tuh anak sampai nya?” kata Ocha lagi, sambil melihat jam yang berada di tangan kanannya.
“A…Amel mau datang kesini juga” Tanya Lila sambil memandang Maike.
Maike menggelengkan kepalanya.
“Gue yang ngasih tau kok… kalau kita mau kumpul di sini” Jawab Ocha santai.
“Tuh… yang lagi di omongin datang… hmmm panjang umur dia?” Kata Maike.
Amel menghampiri Lila, Maike dan Ocha yang sedang duduk santai di pojok ruangan café. Lalu dengan cemberut Amel berkata.
“Huaaahhh… kalau kaya gini terus mendingan gue putus aja deh sama si Argo?” teriak Amel kesal.
“Lho… Kenapa lagi nih anak datang-datang kaya orang kesurupan, enggak loe… enggak Ocha datang kesini bikin gue Stress aja, jangan sampai nanti gue lahiran disini yaa jeng?” cerocos Maike yang bingung melihat tingkah Ocha dan Amel.
“Loe ribut lagi sama Argo… Mel?” Tanya Ocha penasaran.
“Gue heran aja tuh sama dia, gue dan Argo kan sudah pacaran sepuluh tahun? Masa buat ngelamar gue aja dia masih ragu-ragu, gue jadi enggak ngerti apa yang ada di otak dia” jelas Amel.
“Ehh… minuman gue tuh!” protes Maike ketika melihat minumannya di ambil dan di teguk oleh Amel yang masih terlihat kesal.
“Nanti… kita bisa pesan lagi, Mai…!” bisik Lila sambil tertawa melihat tingkah Maike.
“Argo bukannya masih ragu sama loe Mel, mungkin dia belum siap untuk menikah” kata Ocha bijak.
“Ahhh… Kalau belum siap Itu alasan klise, gue sama Argo kan sudah lumayan bisa mandiri. Kita sudah bisa kok untuk memenuhi kebutuhan kita masing-masing” jawab Amel.
“Yaa… Mungkin dia belum siap secara mental” jelas Lila.
“Terus sampai kapan gue harus nunggu dia siap La? satu tahun, tiga tahun atau nunggu sampai gue tua dan berkeriput? Gue enggak mau menikah paling terakhir di antara kita” kata Amel.
“Terus… Apa kabar sama gue, mel? Tenang aja… bukan loe kok yang nikah paling belakangan di antara kita? Masih ada gue” jawab Lila sambil tersenyum.
“Emang loe pikir nikah itu gampang? Susah tahu” kata Maike sambil menatap Amel.
“Sudah… lah kita bahas yang lain aja, pusing gue kalau sudah membahas tentang pernikahan?” usul Lila.
“Iya.. bosen.. ahhh?” dukung Maike.
“Ehhh… La, gue lupa nih dari kemarin gue kepengen banget mau ngomong sesuatu sama loe?” kata Ocha.
“Ngomong apa Cha” Tanya Lila sambil mengerutkan keningnya.
“Gue punya teman cowok, ganteng, kerjaannya oke… Dia lagi nyari pacar? Ya siapa tau aja loe cucok sama dia gitu…” goda Ocha sambil tersenyum memandang Lila.
“Lho… Gue kan sudah punya pacar? Si Kanza mau gue kemanain” jawab Lila.
“Yaa… Loe coba-coba aja, jajal dulu jalan dan berteman sama dia. Siapa tau aja” nyambung jelas Ocha.
“Gue selingkuh dong namanya” kata Lila sambil tertawa.
“Loe jangan terlalu setia juga kali La sama si Kanza, belum tentu juga si Kanza setia sama loe di sana” sindir Amel.
“Lho… maksud loe apa Mel?” Tanya Lila yang terlihat kesal.
“Yaaa… Maksud gue hmm… kita berpikir realitas aja sih La, dulu hubungan loe sama yang satu kota aja bisa di selingkuhin? Terus apa kabar sama hubungan jarak jauh? lain Negara lagi, buat gue itu cuma buang-buang waktu aja sih. Jaman sekarang jarang kan ada cowok yang setia” Jelas Amel panjang lebar.
“Lho… Loe kok bisa ngomong kaya gitu sih Mel? Omongan loe sudah nyakitin gue tau ngga? Terserah gue dong ini hidup gue, kenapa loe yang repot?” kata Lila kesal.
Lila berdiri dari sofa lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Ocha, Maike dan Amel. Ocha cepat-cepat mengejar Lila yang terburu-buru melangkahkan kakinya keluar café.
“Loe… sih Mel bikin gara-gara aja? kata Maike” sambil menatap tajam Amel.
“Gue kan cuma mau berkata jujur Mai?” Jawab Amel membela diri.
“Jujur tapi jangan sampai nyakitin orang tau, kalau loe lagi punya masalah, jangan numpahin kekesalan loe ke orang lain dong? Itu enggak baik. Terus sekarang bagaimana… jadi berantakan, kan?” Jelas Maike lagi.
“Sorry… deh” jawab Amel tertunduk.
“Kalau mau minta maaf sama Lila sana? Bukan sama gue” jelas Maike kesal.

Jiaahhhh… apa yang telah terjadi dengan keempat sahabat itu di sore ini. Lila yang tadinya mau bertukar pikiran dengan Maike malah terlihat kesal dan pergi dari café coklat karena perkataan Amel. Sepertinya di sore itu waktu yang tidak tepat untuk bertemu dan bergossip…

Dua minggu sudah sejak kejadian di sore itu mereka tidak bertemu. Lila masih malas untuk menghubungi teman-temannya, begitu pula dengan Amel yang sepertinya masih ragu menghubungi Lila untuk sekedar menanyakan kabar dan meminta maaf atas perkataannya kemarin. Mereka pun belum mendapat kabar dari Vira yang entah sekarang sedang berada dimana. Di sabtu siang itu Ocha sedang berada di rumah sakit ibu dan anak yang telah di rekomendasikan oleh Maike untuk berobat, tak di sengaja ia pun bertemu dengan Maike yang sedang berbaring di atas tempat tidur beroda yang tengah di dorong oleh seorang suster dan suaminya. Ocha pun cepat-cepat menghampiri sahabatnya itu.
“Lho… loe kenapa Mai…?” Teriak Ocha panik.
“Maike mau melahirkan… Cha” jawab Daniel suami Maike.
“Bu…bukannya ini belum waktunya untuk melahirkan, Niel” Tanya Ocha lagi.
“Iyah… Tapi tiba-tiba saja Maike mengalami kontraksi terus menerus” jelas Daniel.

Maike di bawa ke dalam ruang bersalin bersama dengan Daniel. Sementara itu Ocha menunggu di luar, sambil buru-buru mengambil ponselnya ia pun langsung menghubungi Lila, Vira dan Amel dengan hati cemas. Dua jam kemudian Amel sampai di rumah sakit, ia menghampiri Ocha yang sedang duduk sendirian.
“Bayinya sudah keluar… Cha” Tanya Amel.
“Belum…” Jawab Ocha sambil menggelengkan kepalanya.
“Loe sudah hubungin Lila sama Vira” Tanya Amel lagi.
“Sudah… Mudah-mudahan mereka berdua bisa datang” jawab Ocha.
“Chaaa…” teriak Lila sambil berlari mendekati Ocha.
“La… loe sudah datang” kata Ocha sambil tersenyum.
Lila tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Ia masih malas untuk menyapa Amel. Lila lalu mengobrol dengan Ocha di sofa sedangkan Amel berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin. Tiga jam kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Ocha, Lila dan Amel pun bisa bernapas lega dan mengucapkan syukur. Setelah Maike dan bayi mungilnya di bersihkan, mereka berdua kemudian di pindahkan ke dalam kamar perawatan yang berada di lantai tiga.
“Hai… Tante-tante ku yang cantik…” Sapa Maike sambil menyusui bayi perempuannya ketika melihat ketiga sahabatnya masuk kedalam kamar.
“Selamat ya… Bunda” kata Lila sambil mencium pipi Maike.
“Wahhh… kita sekarang sudah punya keponakan deh, gue mau gendong dong… Supaya nular” kata Ocha.
“Selamat…yaa Mai, anak loe imut banget” puji Amel.
Maike tersenyum melihat ketiga sahabatnya itu, lalu ia memandang Lila dan Amel yang masih terlihat kaku satu sama lainnya.
“Tante Lila sama Tante Amel masih marahan yaa? Ayooo… Baikan dong, aku kan sedih ngeliatnya, baru aja nongol ke dunia ehh ada yang lagi perang dingin” celoteh Maike yang menirukan suaranya seperti anak kacil.
“Iyahhh… nih sudah tua juga masih main marah-marahan aja kaya anak kecil tau?” Canda Ocha.
“Jadi garing nih Cha suasananya…”, kata Maike lagi.
“Garing…? Emangnya loe kira kacang goreng, Mai” celetuk Ocha.
Mendengar celetukan Ocha tampa di sengaja Lila dan Amel pun tertawa.
“Jiaahhhhh… dah mulai kompak tuh mereka berdua Cha?” sindir Maike sambil tertawa juga.
“Udahlah… baikan aja, pake malu-malu segala” canda Ocha lagi sambil mengedipkan matanya.
Amel dan Lila saling berpandangan, lalu mereka tersenyum.
“Hmmm… Maafin gue yaa La, kemarin omongan gue sudah kasar banget sama loe” kata Amel sambil memandang Lila.
“Iyah… Mel, maaf juga kemarin mungkin gue lagi sensitif jadi sok-sok ngambek gitu deh” jawab Lila sambil memeluk Amel.
“Horeee… Akhirnya Tante-tante aku sudah baikan lagi” kata Maike sambil tertawa.
Ocha tersenyum lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar.
“Vi… Viraaa…?” teriak Ocha ketika melihat seseorang dengan ragu-ragu masuk ke dalam kamar Maike.
“Hai… semua…” sapa Vira sambil tersenyum.
“Yaa… Ampun, Vira… Loe kemana aja sih? gue hubungin, gue cariin kemana-mana, tetap enggak ada kabarnya? Gue kan cemas tau…” cerocos Lila ketika melihat Vira.
“Emangnya loe kemana sih Vir? bertapa di goa ya” kata Amel sambil tertawa.
“Hmmm… jangan bilang loe kabur dari rumah karena loe berubah pikiran enggak mau di jodohin sama Bonyok loe? Sebenarnya loe enggak mau di jodohin… kan? Gue sudah kok tau semua masalah yang loe alami Vir…” jelas Maike.
“APA…?” Teriak Ocha dan Amel kaget dan bingung.
“Maikeee…?” teriak Lila sambil melototkan matanya.
“Upsss… so… sorry, gue lupa keceplosan ngomong?” teriak Maike sambil menutup mulut dengan tangannya.
Lila menepuk jidadnya sedangkan Ocha dan Amel buru-buru menatap Vira yang sedang terbengong-bengong oleh perkataan Maike yang sangat tepat sasaran.

“Maaf… maaf… maaf” kata Maike minta ampun pada Lila yang masih saja memandanginya.
“Ihhhh… jadi kacau deh, tuh mulut enggak bisa diam ya?” Bisik Lila.
“Maklum Bu… Terlalu sentimentil pasca lahiran” jawab Maike sambil tersenyum malu.

Hahahahaha… inilah uniknya mereka, tidak ada yang bisa menyimpan suatu rahasia dengan aman, pasti ada saja yang membongkarnya. Kali ini Maike yang keceplosan ngomong, karena terlalu antusias melihat kedatangan vira, ia lupa jika apa yang di ceritakan oleh Lila itu adalah rahasia untuk mereka berdua saja…Ic…ic…ic (bersambung)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
Hi…. waahh akhirnya ada ide juga untuk menulis, setelah dua bulan lamanya tidak pernah mengirim cerpen lagi di Cerpenmu. Semoga teman2 suka dengan cerpen yg aku tulis yaa….. selamat membaca 😀

Cerpen Women, Gossip & Reality (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Princess Anna (Part 1)

Oleh:
Monday is monster day, itu menurut gue. Hari senin itu beda dari hari biasanya, tiap hari senin gue harus bangun lebih pagi dari hari lainnya, kenapa? Alasannya sih cuma

Yang Lalu Tetap Berlalu

Oleh:
Siang yang bersahabat, matahari adem ayem di cakrwala. Ku langkahkan kaki ke luar kelas. “Ana” itulan panggilanku, Lifi mendekatiku. Aku dan Lifi mampir sebentar di toko depan sekolah. Sewaktu

Keakuran Dari Sebuah Pertemanan

Oleh:
Pagi ini tidak seterik pagi kemarin, matahari malu-malu menunjukkan dirinya ke permukaan tanda badai besar akan datang, dia Latifah Mudrikah berjalan dengan seksama menuju sekolahnya yang terpaut 500m dari

Korban Pukul

Oleh:
Demi menjaga perdamaian dan ketenteraman desa, dibuatlah peraturan dimana bagi yang melepaskan pukulan ke orang lain dengan maksud menyakiti dan mengajak perkelahian akan dikenakan denda sebesar 10.000.000 Rupiah. “Sekarang

Hujan

Oleh:
Bulir bulir hujan yang turun dengan deras menemaniku sedari tadi. Aku mengeratkan selimut yang menutupi tubuhku. Dingin. Sorot mataku tak henti-hentinya menatap ke arah luar jendela. Hujan masih saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *