Women, Gossip & Reality (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 November 2013

Amel dan Ocha masih menatap tajam wajah Vira, sepertinya mereka berdua mengharapkan penjelasan mengenai perkataan yang keluar dari mulut Maike tadi. Vira tersenyum lalu ia menatap Lila, tidak lama kemudian Amel dan Ocha pun ikut-ikutan menatap Lila yang sedang kebingungan karena perbuatan Maike.
“Sebenarnya ada apa sih…, jangan main rahasia-rahasiaan deh?” Tanya Amel penasaran.
“Mai… Tadi loe ngomong apa sih, jelasin dong… aah” kata Ocha.
“Enggak… ah nanti gue salah lagi” jawab Maike.
“Vir… Emangnya yang di omongin Maike itu benar?” Tanya Amel lagi.
Vira tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“Ya… ampun Viraa? Kenapa loe enggak ngomong dari awal” kata Ocha panik.
“jadi selama ini loe kemana, Vir?” Tanya Lila.
“Gue cuti terus liburan ke Bangkok, gue mau menenangkan pikiran yang ruwet ini” jawab Vira.
“Coba kalo loe ceritakan ini semua sama kita, gue yakin kita bisa menemukan jalan keluarnya” jelas Amel.
“Mungkin kita bisa sekalian liburan bareng ke Bangkok untuk menghibur loe, Vir” canda Ocha sambil tersenyum.
“Gue enggak mau merepotkan kalian, hmmm… selain itu gue juga enggak mau mengecewakan orang tua gue” jelas Vira.
“Tapi Vir… itu semua buat masa depan loe, loe berhak memutuskan jalan hidup loe sendiri” kata Lila yang di anggukan oleh Maike.
“Terus keputusan loe sekarang bagaimana?” Tanya Ocha.
“Pasrah… Saja Cha, mungkin ini jalan yang terbaik” jawab Vira singkat.
“Lho… loe enggak boleh begitu dong Vir?” Kata Ocha.
“Loe juga belum pernah bertemu dan kenalan sama calon loe itu kan, kalau nantinya loe enggak cocok sama dia bagaimana, loe juga mau pasrah saja seumur hidup loe?” jelas Lila.
“Aje gila… Loe belum pernah ketemu Vir? Parah… Banget loe”, Teriak Amel kaget.
“Wah… Vir, sama saja loe beli kucing di dalam karung? Tau enggak…” Jelas Ocha.
Vira menarik napas panjangnya. Lalu ia duduk di sofa dekat tempat tidur Maike.
“Loe telepon aja calon pilihan orang tua loe itu, lalu loe minta ketemuan sama dia…, loe berbicara panjang lebar sama dia. Dari situ mudah-mudahan loe bisa tahu karakter dia seperti apa” saran Maike sambil menatap Vira.
“Gue enggak pede… Mai” kata Vira.
“Loe harus pede dong Vir…, loe tuh cantik, pintar lagi” jelas Maike.
“Begini aja deh, loe janjian sama dia di café coklat. Terus nanti kita pantau loe dari jauh, biar kita semua tahu cowok itu bajingan apa tidak” usul Lila sambil tersenyum.
“Ide… Bagus? Kalau nanti dia kurang ajar sama loe, jangan khawatir ada kita disana” kata Amel sambil tersenyum.
“Iyah… Vir, sepertinya loe harus bertemu dengan dia dulu sebelum keluarga besar loe berdua bertemu dan menentukan tanggal pernikahan loe” jelas Ocha.
“Iyah… deh, nanti gue coba cari tau nomor telepon dia dan ngajak ketemuan” jawab Vira.
“BTW… Nama calon loe itu siapa sih, kayanya dari kemarin gue enggak pernah tahu” Tanya Amel.
“Eddo… Mel”, jawab Vira sambil tersenyum.
“Terus nasib gue bagaimana nih” Tanya Maike bingung.
“Emangnya loe kenapa Mai?” kata Lila.
“Lho… Gue kan juga kepengen ikut nemenin Vira ketemuan sama Eddo kaya loe semua” celoteh Maike.
“Ya… ampun Mai?” Teriak Ocha sambil tertawa.
“Waduh… Gue bakalan ketinggalan satu episode dong, terus enggak update deh alias ketinggalan gossip” kata Maike sambil cemberut.
“Eh… loe urusin dulu tuh bayi loe, dasar emak-emak ganjen” ledek Vira sambil tertawa terbahak-bahak.

Malam ini menjadi pertemuan yang menarik di antara kelima sahabat itu. Tepat di hari kelahiran putrinya Maike, Lila dan Amel berbaikan setelah berperang dingin dua minggu lamanya. Vira yang di nantikan kehadirannya selama ini pun tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Suasana di kamar bernomor 321 itu menjadi hangat berkat kehadiran Ocha, Lila, Vira dan Amel yang menemani Maike di sepanjang malam.

Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh mereka datang juga. Di hari sabtu ini mungkin adalah hari yang akan memberikan sejarah baru bagi Vira karena ia akan bertemu dengan calon suaminya untuk yang pertama kali. Sebelum bertemu dengan Eddo, Vira janjian dengan Amel dan Ocha untuk mampir sebentar di butik Lila. Lila pun menunggu kehadiran ketiga sahabatnya dan berniat untuk mendandani Vira agar terlihat cantik di malam ini.
Lila tersenyum begitu melihat Amel masuk kedalam butiknya.
“Weks… Sepertinya gue yang pertama hadir nih” kata Amel sambil tersenyum ia mencium pipi Lila.
“Gak apa-apa jeng, kita kan jadi bisa ngobrol-ngobrol dulu sebelum yang lain datang? Hmmm… Loe mau minum apa nih” Tanya Lila.
“Apa sajalah yang ada di sini” jawab Amel sambil duduk di sofa.
Sesaat kemudian Lila keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat.

“Kabar Argo bagaimana, Mel” Tanya Lila.
“Baik, La” jawab Amel.
“Hmmm… Kok jadi gue yang deg-degkan ya, padahal si Vira yang mau ketemuan” kata Lila sambil terawa.
“Sama…, La? Tau gak sih loe… gue juga sampai tidak bisa tidur semalam” jelas Amel.
Lila dan Amel pun tertawa terbahak-bahak.
“La… Gue baru sadar, setelah di pikir-pikir ternyata loe benar. Kalau gue harus lebih bersabar untuk menunggu Argo melamar gue” kata Amel.
“Nanti kalau sudah saatnya, pasti indah pada waktunya Mel? Gue sangat percaya itu. Begitu juga dengan hubungan gue sama Kanza. Kalau ternyata gue berjodoh sama dia, pasti kita akan bertemu. Yang pastinya kita harus saling jujur dan menjaga kepercayaan dia” jelas Lila sambil tersenyum.
“Iyah… Mungkin selama ini gue cuma takut kalau gue yang paling belakangan menikah di antara kalian, secara lho gue kan yang paling lama berpacaran sama Argo di antara kalian” kata Amel sambil tertawa.
“Hahahahahah… Dasar kaya anak kecil aja loe Mel, emangnya menikah itu permainan? Itu untuk seumur hidup tahu” teriak Lila sambil menepuk keningnya.
“Iyah… La, sekarang gue cuma berharap hubungan gue dan Argo dapat berjalan lancar sampai waktunya tiba untuk menikah” Kata Amel.
“Intinya kita berdoa, yakin, pasrah dan ikhlas Mel”, jelas Lila sambil tersenyum.
“Terima kasih yaa La, dari kejadian kemarin loe udah bisa menyadarkan gue kalau gue enggak boleh egois” kata Amel.
“Biar bagaimana pun loe tetap sahabat gue Mel, walau kita terkadang tidak sepaham” jawab Lila.
Amel tersenyum lalu ia memeluk erat sahabatnya itu.

Lima belas menit kemudian Ocha dan Vira datang ke butik Lila, dengan semangat Lila pun mendandani Vira secantik mungkin.
“Aduh… ini berlebihan nggak sih?” Teriak Vira yang terlihat tidak percaya diri.
“Yaa… ampun Vir, itu masih biasa aja kali? Enggak heboh-heboh banget kok” kata Ocha.
“Mendingan loe diam aja deh, percaya sama si Lila, cerewet amat sih…” jelas Amel sewot.
Sesaat kemudian Lila, Amel dan Ocha tertegun memandang Vira yang sedang berdiri di depan cermin.
“Wow… Loe cantik banget Vir” kata Amel sambil tersenyum.
“Jujur apa bohong?” Tanya Vira cemberut.
“Jujur…” teriak Lila, Ocha dan Amel kompak.
Lalu mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak.

Setiba di Café Coklat, Amel, Lila dan Ocha memilih sofa yang berada di pojok ruangan. Hmmm… tempat yang paling nyaman dan cocok untuk memata-matai Vira dan calon suaminya nanti.
“Ussttt… Eh…eh… cowok nya Vira udah datang”, bisik Lila sambil menatap tajam pandangannya ke arah pria berbadan tegap yang sedang berjabat tangan dengan sahabatnya.
“Eh… eh… Mukanya kaya gimana, gue enggak bisa ngeliat nih” kata Ocha penasaran.
“Dari tipe-tipe nya sih tuh cowok kaya polisi” bisik Amel sambil tertawa.
“Emangnya kalo cowok cepak, udah pasti polisi? Sok tau loe Mel” kata Lila tertawa.
“Aduh…, ngapain sih nih, emak-emak telepon gue melulu? Enggak tahu yaa gue lagi sibuk mantau si Vira ma cowoknya” gerutu Ocha kesal.
“Siapa sih Cha?” Tanya Lila.
“Itu si Maike” jawab Ocha.
“Udah nggak usah di angkat” bisik Amel yang masih saja tertawa.
Ocha menganggukan kepalanya sambil terus menerus serius mengamati gerak-gerik Vira dan laki-laki berbadan tegap itu.

Ketiga sahabat itu pun tidak berkedip memandang dua orang yang sedang asik mengobrol di dekat jendela sana. Tiba-tiba Vira menengok ke arah mereka, sontak saja dengan sigap Lila, Amel, dan Ocha pun pura-pura sibuk dengan urusannya masing-masing, Lila pura-pura cepat-cepat meneguk minumannya, Amel pura-pura menguap karena ngantuk dan Ocha langsung sibuk mengangkat telepon Maike yang sedari tadi tidak henti-henti berbunyi.
“Gila ya loe semua, gue telepon enggak ada yang mau angkat? Loe semua sudah lupa sama gue” teriak Maike kencang sewaktu Ocha menyapanya.
“Sorry.. Mai, lagian loe teleponnya di waktu yang kurang tepat di saat kita bertiga lagi memantau target” jelas Ocha sambal tertawa terbahak-bahak meledek Maike.
“Ah… Alasan aja, udah enggak asyik kalian semua?” gerutu Maike.
“Lagian ngapain sih loe telepon-telepon segala, nanti juga bakalan kita kasih tau beritanya” kata Ocha.
“Ah… kelamaan, gue kan penasaran” teriak Maike lagi.
“Penasaran? Percuma loe juga enggak bisa ngeliat” jawab Ocha.
“Please deh Cha, hari gini tuh jaman sudah canggih? Loe foto tuh cowok terus loe kirim ke gue cepet, cucok enggak tuh cowok?” tanya Maike.
“Sebelas-duabelas sama Jonny Depp lah” canda Ocha sambil tertawa.
“Ah… serius loe? Cepetan fotoin gue” teriak Maike sambil memohon.
Amel dan Lila tertawa sambil memandang Ocha yang sedang asyik meledeki Maike yang sudah tidak sabaran ingin melihat wajah calon suaminya Vira.

“Nih emak-emak keras kepala banget ya, terpaksa deh gue ikutin kemauannya daripada dia terus-terusan telepon gue” kata Ocha sambil tertawa ketika mematikan ponselnya.
“Hahahahaha… iyah, ganggu aja tuh si Maike” kata Lila.
“Bagaimana caranya gue motret tuh cowok, mereka kan jauh” gerutu Ocha sambil membidik kamera ponselnya.
“Udah… loe foto dari sini aja, masalah jelas atau tidak jelasnya itu urusan si Maike?” bisik Amel sambil mengedipkan matanya.

Hahahaha… begitulah kejadian di Café Coklat. Sepertinya rencana pertemuan Vira dan calon suaminya yang bernama Eddo itu berjalan cukup lancar. Amel, Ocha, dan Lila yang sebelumnya merasakan kecemasan pun tersenyum melihat pasangan yang baru saling mengenal itu. Mereka bergosip sambil menikmati hangatnya susu coklat sepanjang di malam minggu itu di café. Dan upsss… Di sepanjang malam itu pun Maike selalu mengerutkan keningnya jika melihat hasil foto yang tidak terlalu jelas itu yang di kirim oleh Ocha hehehehe.

Semenjak pertemuan itu, Vira bisa merasa lebih dekat dan mengenal Eddo. Akhirnya ia pun setuju untuk menjalin hubungan lebih dekat dengannya sampai hari pernikahannya tiba. Tiga bulan kemudian, Vira dan Eddo melaksanakan akad nikah. Lila tersenyum sambil meneteskan airmatanya ketika melihat Vira memohon doa restu kepada orang tuanya. Dalam hatinya ia sangat berharap jika hubungannya dengan Kanza akan berakhir seperti sahabatnya itu. Begitu juga dengan Amel. Amel tersenyum ketika ia melihat Argo yang sedang memandangi dirinya dari kejauhan. Maike dan Ocha pun saling berpegangan tangan dan terharu melihat Vira yang sangat bahagia pada hari itu. Akhirnya Vira sahabat mereka sudah mendapatkan pasangan hidupnya walaupun melalui perjodohan oleh kedua orang tua.

Pada sore itu Lila di kejutkan oleh sahabat-sahabatnya yang datang ke butik miliknya. Lila tertawa melihat Amel, Maike dan Ocha yang tampak gembira mengunjunginya.
“Hai… ada acara apa nih, kok tiba-tiba loe semua pada datang kesini” Tanya Lila.
“Mau menunggu kedatangan pengantin baru pulang dari bulan madunya” jawab Maike sambil duduk di sofa.
“Oh… Si Vira juga mau datang juga ke butik gue” Tanya Lila lagi.
“Iyah… Dia yang nyuruh kita kumpul di butik loe, La” jelas Ocha.
“Okie… Sambil menunggu si Vira datang, gue punya info yang keren banget nih” kata Amel sambil mengedipkan matanya.

Keempat sahabat itu pun duduk santai di sofa dan seperti biasa mereka mulai bergosip ria di hari itu.
“Gosip maksud loe, Mel?” tanya Maike.
“Hmmm… kurang lebih seperti itulah” jawab Amel.
“Apaan sih…?” Teriak Lila penasaran.
“Hmm… Loe masih ingat kan sama Dina teman SMU kita…”
“Oh… Si Dina yang gendut terus yang idungnya pesek itu” kata Ocha yang memotong perkataan Amel.
“Wah… Parah loe cha omongannya!” teriak Lila sambil tertawa.
“Lho gue berkata yang sebenarnya kan?” Jelas Ocha.
“Iyah loe benar Cha, tapi loe bakalan Syok kalo melihat Dina yang sekarang” kata Amel.
“Kenapa Mel, tambah parah yaa tuh anak” Tanya Maike sambil tertawa.
“Tahu nggak, sekarang si Dina cantik banget jeng. Badannya kurus langsing, dan idungnya itu lho…, mancung banget” jelas Amel Antusias.
“Ah loe salah lihat orang kali” kata Lila.
“Beneran La”, jawab Amel.
“Aih… serius loe? Jangan-jangan dia sedot lemak sama operasi idung di Honghong” kata Ocha sambil tertawa.
“Serius Mel, emangnya loe ketemu sama dia dimana” Tanya Lila lagi.
“Kemarin gue ketemu sama dia waktu gue lagi jalan sama Argo di Mall” jawab Amel.
“Si Argo juga kaget dong melihat si Dina, waktu SMU kan Argo suka jailin dia” tanya Ocha.
“Bukan kaget lagi, dia juga syok sama seperti gue” teriak Amel.
“Terus si Argo komentar apa” Tanya Lila.
“h… Dia bilang, sayang kamu operasi idung juga dong biar mancung juga kaya si Dina” celoteh Amel.
Mendengar celotehan Amel. Lila, Maike dan Ocha pun tertawa terbahak-bahak.
“Hai… semua” sapa Vira sambil tertawa ia pun berjalan menghampiri ke empat sahabatnya.
“Hallo… penganten baru” teriak Ocha sambil berlari menghampiri Vira.
“Aih… Bagaimana honeymoon nya Vir, seru nggak?” Tanya Lila.
“Hmmm… ternyata menikah itu enak lho jeng” canda Vira sambil tertawa.
“Jiaah…, semua orang juga tahu kalo kawin itu enak” teriak Amel yang ikutan tertawa juga.
“Mana oleh-oleh yang gue pesan, baju buat anak gue” kata Maike.
“Tenang-tenang semuanya pasti kebagian” jawab Vira sambil tersenyum ia pun membuka tasnya yang berisikan barang-barang.

Amel, Maike, Ocha dan Lila mendapatkan oleh-oleh yang banyak dari Vira, mulai dari pernak-pernik yang lucu-lucu, parfum sampai baju bayi untuk anaknya Maike.
“Thanks ya… kalian semua adalah sahabat yang terbaik di dalam hidup gue” kata Vira sambil tersenyum.
“Kita semua sudah seperti saudara Vir, jadi kalo loe bahagia kita juga bisa merasakan kebahagian itu. Yang terpenting kita harus menjaga hubungan ini sampai nenek-nenek okie…” jelas Lila.
Kelima sahabat itu pun saling tersenyum dan berpelukan.

“Eh… Selama gue pergi ada gossip apaan nih, jangan bilang loe semua pada ngegosipin gue ya” celoteh Vira.
“Aih… ge-er banget sih loe, Vir? Emangnya situ selebriti” canda Ocha.
“Ada tuh, gossip yang lagi hot, si Dina teman SMU kita, Amel bilang idungnya sekarang mancung” jelas Maike sambil melihat-lihat oleh-olehnya.
“Serius loe, Mel?” Tanya Vira sambil tertawa.
“Hmmm… sebenarnya ada lagi gossip yang paling baru” kata Amel.
“Apaan tuh, kok loe baru bilang sekarang” Tanya Ocha.
“Gue nunggu kita pada kumpul semua, Cha” jawab Amel.
“Ada apa sih Mel, kayanya serius banget” kata Lila.
“Hmmm… Argo kemarin sudah melamar gue secara pribadi” jelas Amel sambil terseyum.
“Wow… Selamat yaa Mel”, kata Meike sambil tersenyum memandang Amel.
“Akhirnya ada yang menyusul gue juga? Jangan kelamaan ya kalau bisa tahun ini juga” kata Vira.
“Gue deg-deg’an banget sewaktu dia berkata kita nikah yuk” teriak Amel bahagia.
“Waaah… Gue turut senang ya, Mel” kata Lila sambil memeluk Amel.
“Gue juga punya kabar gembira nih” kata Ocha.
“Apalagi tuh”, Tanya Maike.
“Akhirnya Mas Wendy setuju, untuk ikut program bayi tabung. Doain yaa agar gue berhasil, hmm supaya si Rasya anaknya Meike punya teman main” jelas Ocha sambil tersenyum.
“Amin…” Jawab keempat sahabatnya dengan kompak.
“Minggu depan gue juga mau buat acara aqiqah Rasya, kalian datang ya” kata Maike yang tidak mau kalah untuk menyampaikan berita bahagia di malam itu.
Lila tersenyum, ia bahagia melihat keempat sahabatnya yang sangat bahagia. Ia pun teringat pada Kanza yang nun jauh di sana.

Tidak lama kemudian Amel, Ocha, Vira dan Maike pamit pulang pada Lila. Setelah keempat sahabatnya pergi meninggalkannya Lila pun buru-buru mengecek pemasukan dan pengeluaran barang hari ini di mejanya, sementara itu para karyawan Lila sibuk merapihkan toko sebelum butik itu di tutup. Akan kah aku mendapatkan kebahagiaan yang semua sahabatku miliki sekarang ya Tuhan, aku sangat iri melihat kebahagian mereka kata Lila dalam hatinya. Tubuh Lila menjadi lemas ia pun menjadi sedih dan menundukan kepalanya.

“Maaf Pak butik kami sudah tutup” kata salah satu karyawan Lila.
Laki-laki itu hanya tersenyum mendengar perkataan karyawan Lila, lalu ia berjalan menuju meja Lila. Ia berdiri di depan Lila yang sedang melamun dan menundukan kepalanya. Melihat keberadaan seseorang di hadapannya Lila pun mengangkat kepalanya dan berkata…
“Maaf Pak, butik kami sudah tutup, ada yang bisa saya ban…bantu… ya… Tuhan, kanza” teriak Lila sangat kencang ketika ia baru menyadari bahwa yang berada di hadapannya adalah kekasih yang sangat ia cintai.
“Halo… Sayangku” sapa Kanza sambil tertawa.

Lila masih tidak percaya kalau Kanza yang berada di hadapannya. Mata Lila pun berbinar-binar memandang Kanza, Ya Tuhan terima kasih engkau telah mendengar permintaanku, dan aku harap ini bukan mimpiku di malam ini kata Lila dalam hatinya. Lila memeluk Kanza dengan erat. Ini bukan mimpi tetapi kenyataan, Ternyata ia pun mendapatkan kebahagiaan di malam ini seperti keempat sahabatnya.

Sengaja Kanza tidak memberitahu Lila tentang kedatangannya di malam itu, ia mau membuat kejutan untuk kekasihnya. Kanza… pulang ke Indonesia untuk berlibur selama sebulan. Mendengar berita itu bertambahlah kebahagian Lila, ia pun berencana akan membawa Kanza ke café coklat untuk bertemu dengan para sahabatnya yang sudah tidak sabar untuk mengenal lebih jauh sosok Kanza yang selama ini menjadi pria misterius bagi mereka.

Itulah kebahagiaan yang mereka miliki seutuhnya, mempunyai sahabat sangat menyenangkan di dunia ini. Senang, sedih, susah mereka rasakan bersama Dan pada kenyataannya ternyata wanita itu tidak bisa jauh dari gossip dan reality yang mereka alami sendiri di kehidupannya.

(tamat)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Cerpen Women, Gossip & Reality (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Itu…

Oleh:
“Tunggu Nit, dengerin penjelasan dari aku dulu! Maafin aku, aku nggak nyangka kejadiannya jadi seperti ini. Nita, tunggu!” teriak cewek berkacamata yang berlensa tebal sambil berlari mengejar sahabatnya, Nita.

End of Love Story (Part 2)

Oleh:
Untuk kedua kalinya setelah putusan nyambung lagi -seperti pacaran aja, kan kami tidak ada komitmen karena status. Hanya TST (tahu sama tahu). Untuk kesekian kalinya juga kami sering janjian

Pertemuan Yang Berarti

Oleh:
Pagi yang terasa biasa, masih tanpa ayam berkokok seperti suasana di desa, enggan rasanya aku bangun untuk mandi dan bersiap ke kantor, rasa ngantuk masih melanda karena semenjak kembali

Salah Paham

Oleh:
Pada suatu hari, hiduplah seekor Kelinci di suatu taman. Ia hidup bersama-sama dengan Kucing, Kucing adalah sahabatnya yang sangat setia. “Mengapa aku sering terkena penyakit seperti ini?” Ucap si

Perjuangan yang Terbuang Sia Sia

Oleh:
Aku, Adinda, dan Laura adalah 3 sekawan yang sangat akur, kalaupun berantem palingan juga sehari gak lebih. Karena kami telah bersahabat sejak lama kami merasa bosen kenapa persahabatan kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Women, Gossip & Reality (Part 2)”

  1. rina anggrainy samosir says:

    Keren deh ceritanyaa, ditunggu lagi ini cerita2 yang kek gini 😉

  2. Vany says:

    Wah cerpennya bagus banget. Yg kaya gini nih cocoknya dijadiin film. Sukses selalu yah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *