Woody dan Rara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 October 2017

Aku kembali melewati pabrik es krim Woody di jalan raya Bogor Jakarta pada sore hari. Sebuah merk es krim klasik, dari masa tempo dulu. Bergambar Woody Woodpecker, si burung pelatuk, sebuah seri dari rangkaian tokoh-tokoh film kartun Walt Disney.

Tadi aku baru saja melewatinya ketika mengantarkan Mayang, adik sepupu isteriku yang mau pulang ke rumahnya, di daerah Ahmad Yani, Bogor. Sebelumnya, dia baru saja menghadiri pesta kondangan manten di minggu siang, berlangsung di GOR Jl. Kalisari III dan menyempatkan dirinya singgah ke rumah kami setelah pulang dari acara itu.
Supaya dirinya tak sampai kemalaman tiba di rumahnya, di Bogor, maka aku dimintai isteriku mengantar Mayang sampai ke pangkalan mikrolet di sekitar jalan Teguh Beriman, Cibinong. Juga di situ dikenal sebagai tempat perhentian untuk bisa berganti menumpang kendaraan angkot yang akan membawanya ke rumah.

Kebetulan sore-sore begini, unit-unit mikrolet 08 ini masih banyak yang beredar di jalan Raya. Di ruas jalan antara Pondok Rajeg sampai ke Jalan Raya Tegar Beriman, sebuah jalan yang di kanan kirinya berisikan kantor-kantor instansi pemerintah Kabupaten Bogor.
Sementara pabrik es krim Woody berada di sisi kiri jalan menuju arah Jakarta dari Bogor. Beberapa kali aku dan isteriku sempat singgah di sini untuk mengudap es krim dan mengkonsumsi beberapa jenis makanan kecil lainnya yang dijajakan di situ. Sekarang di saat-saat begini setelah aku berusia separo baya, maka kian terasa kalau label es krim Woody itu telah memberikan kesan nostalgia yang mendalam di hatiku.

Perkenalanku dengan es krim Woody ini dimulai ketika aku menempuh kelas 5-6 SD di Palembang. Ketika itu aku diberi stiker bergambar Woody dan Flipper, si lumba-lumba atraksi, oleh anak-anak perempuan keluarga Drh. Mulyono Khrisna, Kepala Dinas Peternakan di kotaku: Teteh dan Mimiek. Kebetulan juga, saat itu sedang ada acara atraksi lumba-lumba selama beberapa hari di Palembang.
Stiker itu diselipkan di setiap tutup cup es krim yang mereka konsumsi sebelumnya. Sama seperti model Woody. Setelah itu, aku juga mendapat beberapa stiker Woody gratis dari Supriyadi, sahabatku sejak SMP Kelas 2.

Sebelumnya, ketika masih duduk di bangku SD pada 1970-an, sebagai anak orang kebanyakan, aku dan adik-adikku lebih terbiasa mengkonsumsi es Yeye, semacam es lilin bertangkai kayu terbungkus sejenis plastik transparan tipis. Tentunya dengan harga yang lebih murah dibanding es krim. Kalau tidak salah berharga Rp 5-10 sebatangnya ketika itu, sementara es krim Woody per cup-nya jauh lebih mahal dari itu. Aku tak tahu, tapi rasanya tak pernah terbeli dengan uang jajanku.

Aku sudah memiliki tiga orang adik saat itu. Sedangkan ayah kami bergaji sekitar Rp 7.500 per bulan, sebagai PNS di Pen-Dam IV Sriwijaya. Tentu tak cukup memadai uangnya apabila mesti sering-sering membelikan kami es krim seperti itu. Bagi kami, es krim Woody hanya barang impian saja. Kami hanya bisa membayangkannya saja, ketika itu…

Aku juga baru ingat sekarang, kalau diriku baru merasakan sedap dan nikmatnya es Yeye itu setelah mendapatkan uang pemberian atau tips dari Bi Acah. Dia perempuan teman tetangga Ibu, yang kala itu sudah makmur dan beruang setelah dinikahi seorang g*rmo dari daerah lokalisasi dekat Talang Ratu, depan pekuburan Kristen.

Es Yeye adalah sejenis es lilin dengan aneka macam rasa. Mulai dari yang berwarna merah, kacang hijau, sampai ketan hitam. Maksudnya di bagian atasnya ada adonan kacang hijau atau ketan hitam. Ketika itu aku baru saja mengalami kecelakaan, terjatuh di lantai aula gedung pertemuan Santo Pius. Akibat main kejar-kejaran, lari-lari dengan beberapa teman kelasku di sekolah pada waktu siang sebelum masuk kelas, Pkl. 13.00. Lenganku sampai digips selama beberapa bulan.
Tanganku terkilir…, bahkan sampai retak tulang hastanya. Kayaknya kakiku kena dijegal temanku, sehingga akhirnya aku terjatuh. Ketika bangun, aku tak bisa lagi mengembalikan siku kiriku yang tulangnya sudah menonjol keluar. Tidak bisa lagi dikembalikan normal seperti semula. Aku jadi panik dan menangis ketakutan.

Aku dibawa ke RS Charitas setelah itu. Lalu dibius dan ditreatment untuk menormalkan kembali tanganku oleh Dr. Gozali, ayah teman sekolahku juga kemudian. Ketika masih menjadi perawat di RS itu, ibuku pernah menjadi salah satu perawatnya. Setelah itu, aku diantar pulang Pak Harjono, guru kelas 3A kami ke rumah.

Aku tak tahu, siapa yang telah menjatuhkanku begitu. Ada kata-kata teman menyebutkan nama Rudi, tapi bukan dia…. Ternyata, setelah tiga tahun berlalu dan setelah SMP aku bertemu lagi dengan temanku, Antoni dan Gani, kakaknya. Antoni saat itu baru mengaku, kalau dulu dialah yang memangkah kakiku…. Aku teringat, kalau dia juga yang mengatakan nama Rudi. Namun justru dengan keadaan begitulah, akhirnya aku bisa merasakan nikmatnya es Yeye itu.

Sebelumnya aku dan adik-adik lebih terbiasa mengudap es bungkus. Sebuahnya berharga masih seringgit atau 2,5 rupiah. Ongkos oplet atau angkutan umum dari mobil jip-jip Willys lama yang dimodifikasi, sekitar Rp 10-15 per sekali rit. Dengan trayek dari Palimo, Km 5 sampai ke terminal Jembatan Ampera, di Pusat Kota. Jembatan yang membelah Sungai Musi, sungai terlebar di Pulau Sumatera. Atau dari rumahku, km 4,5 ke sekolah yang terletak di sebelah RS Charitas dan sederetan rumah jabatan Pangdam IV Sriwijaya. Sedangkan anak-anak kecil seperti aku, biasanya membayarkan hanya Rp 5 saja.

Kadang-kadang, kami dimarahi mamang supir karena dianggap ongkosnya masih kurang. Terlalu sedikit… Kami turun dan cepat berlari menghilang, kalau dipelototi atau dimintai tambahan uang lagi oleh si supir. Takut, dak katek duit lagi…
Apabila ada kelebihan uang alias tak dipergunakan, karena menumpang kendaraan teman atau ketika itu aku berlangganan manak, menumpang kendaraan keluarga Drh. Mulyono -teman ayahku, maka barulah aku bisa jajan.

Saat itu, es krim Woody termasuk jenis jajanan mewah bagi keluarga kami. Kalau sedang menonton pawai 18 Agustus —Pawai Pembangunan- di tengah kota Palembang, depan RS Charitas, dan kami kelelahan karena berpanas-panas menonton, maka ibu biasanya mengajak kami mampir ke Kafe Fortuna.
Di situ, kami bisa menikmati es krimnya. Letaknya di seberang jalan, depan Pasar Cinde. Tepatnya menyerong sebelumnya tetapi masih di jalur angkutan oplet yang membelah kota Palembang ketika itu.

Aku baru mencicipi es krim Woody lagi, ketika berpacaran dengan gadis yang berumah di jalur Jakarta Bogor ini. Tentu saja, saat itu aku sudah memiliki kemampuan beli yang lumayan. Harga es krim Woody ini sudah tak lagi terlalu mahal bagi ukuran kantongku. Malah terkesan jauh lebih murah dibandingkan dengan es krim Ragusa, tinggalan pengusaha keluarga Italia yang diperdagangkan di Jl. Veteran, Jakarta Pusat sampai saat ini. Atau malah di bawah harga es krim Walls ataupun Campina yang didistribusikan oleh Unilever ke seluruh Indonesia.
Makanya aku masih memiliki kenangan yang tak terlupakan dengan es krim Woody sampai saat ini. Terlebih di saat-saat kondisiku yang sedang terpuruk seperti sekarang. Ah…, aku jadi ingin membelikannya untuk si Rara, anak tetanggaku yang berusia 3-4 tahunan. Ia selalu rajin menyapaku, kalau aku mau berangkat ke kantor maupun ketika diriku baru tiba di rumah. Ia tinggal di sebelah rumahku dan selalu mengisi hari-hari perkawinan kami berdua isteriku yang sampai sekarang tak kunjung mendapatkan anak.

Isteriku sering mengirimkan pesan WA berisi kesedihannya, apabila memperbincangkan anak seperti Rara. “Dia selalu menanyakan ke mana engkau mau pergi kepadaku, Mas. Dan sesudah itu, dia baru masuk pulang ke rumahnya,” ujarnya di HP.
Baru ketika hari petang, Rara akan menyembulkan kepala dan wajahnya lagi dari balik pintu rumahnya. Lalu segera menghambur ke luar, ketika mendengar bunyi mesin sepeda motorku berhenti dan di parkirkan di depan rumah kontrakan kami.

Setelah memastikan kalau memang aku yang datang, maka ia segera menyapa dengan mulut cadelnya, “Oom, oom!” Lalu ia memutar-mutarkan badannya dan memamerkan kalau dirinya sudah mandi sekarang atau karena sedang mengenakan pakaian bersih dengan mode yang tertentu.
Apalagi kalau bajunya masih baru, gres. Sapaannya baru berhenti, kalau aku menjawabnya dengan gerungan kucing mengeong atau dengan meriakkan perkataan ‘Rara-rara’. Atau menggodanya dengan berpura-pura mau meminjam dan memakai baju yang sedang dikenakannya. Tentu saja permintaanku akan ditolaknya, sambil memonyongkan mulutnya dan memajukan bibirnya yang kecil, genit mencibir. Mengejek dan menolak keinginanku.

Si anak gadis kecil ini mungkin sekali ingin memiliki figur orangtua seperti anak-anak lain, teman-teman sebayanya. Mereka mempunyai ayah yang rutin pergi pagi dan pulang pada sore hari. Reguler. Sementara ayah Rara sendiri, perginya pagi-pagi jauh sebelum dirinya bangun tidur, dan baru pulang tengah malam ketika dirinya sudah tertidur lelap. Ayahnya adalah seorang supir taksi Blue Bird….*

Jakarta, 5 Desember 2016

Cerpen Karangan: Eko Budi Raharto

Cerpen Woody dan Rara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Prelude Sajak dari Rhun

Oleh:
“Berhenti saja menulis, Oja. Sastra kini hanya dibuat oleh tanganmu seorang. Penikmatnya hanya runyam kehidupan pulau Rhun, makan saja susah Ja, kau ini, malah masih saja berkeras kepala” aku

Tegar, Ikhlas dan Bersyukur

Oleh:
Aku adalah seorang pria yang boleh di bilang lugu, cupu dan kurang pergaulan, Semasa aku smk aku di kenal sebagai anak yang biasa saja tapi aku mempunyai mimpi dan

Membersihkan Dosa dengan Deterjen

Oleh:
Sore hari dibalut dengan cahaya kuning. Kata orang desaku senja kala. Dimana langit berwarna jingga. Masih terasa dingin karena hujan menyisakkan rintik. Aku turun dari bis. Air mata yang

Robot Berikutnya

Oleh:
Hari lebih sunyi dari biasanya. Namun lebih terang-benderang. Aku jadi sedikit memuji rumah sakit ini. Karena penerangan dan tata cahayanya. Yang begitu putih dari ratusan neon yang bahkan tak

Mak Uti

Oleh:
Dua hari terakhir ini ibuku tak henti menelpon menyuruhku pulang. Aku heran, tak biasanya ibu bertingkah seperti ini. Mengapa tak suruh aku pulang jauh-jauh hari sehingga aku bisa mempersiapkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *