Yang Terindah Tapi Tidak Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 24 January 2013

Ini mungkin hanya cerita yang sering kalian dengar. cerita tentang lelakiku yang sekarang berada di sana.

sebut saja dia ‘Gigi’. dia adalah teman SD-ku. kami sempat beberapa tahun satu kelas. tapi perasaanku saat itu tak lebih hanya mengaguminya, karena aku tahu dia menyukai perempuan lain kelas sebelah.
kami sering menghabiskan waktu bersama. bangkuku tepat di depannya. sering dia menoleh ke belakang untuk bercanda dan bergurau denganku dan teman sebangkuku. aku cukup menikmatinya. aku mengaguminya bukan karena ia menarik saja. ia bisa dikataan cukup cerdas dan pintar di kelas. selalu masuk 8 besar. dia juga pintar bahasa inggris dan matematika. pelajaran yang cukup menyulitkanku hingga sekarang.

setelah kita lulus SD, hampir tak ada kontak aku dengannya. dia sejenak pergi dari kehidupanku. aku masuk di sekolah negeri yang dekat dengan rumah nenekku, sedangkan dia dekat alun-alun kota. tidak pernah terpikirkan sedikit pun aku bisa bertemu dengannya.

bisa dibilang sedikit aneh saat kita bertemu. tebak dimana? di jalan? tabrakan? perpustakaan? mengambil buku yang sama? oh, tidak. itu semua salah. kami bertemu di kolam renang. ๐Ÿ˜‰
kok bisa?
gimana?
sebegitu kayanyakah aku hingga memiliki kolam renang?
atau dia yang kaya?
bukan-bukan, kami bertemu di tempat wisata daerah kami. seperti Jatim Park di Batu atau Taman Jaya Ancol – Jakarta.
sekolah kami sama-sama harus memiliki nilai auatik untuk pelajaran olahraga. kami tidak sengaja bertemu di kolam arus. pertemuan yang tidak menyenangkan awalnya. kepalaku terbentur kakinya. membuat kepalaku pening sesaat, dan aura jelekku muncul. ^^

secara spontan aku memberi respon marah-marah dengan orang orang yang berada di depanku. dia hanya meminta maaf lalu pergi begitu saja. aku maafkan untuk yang pertama. tapi untuk putaran kedua, kami berbenturan lagi. kali ini sebaliknya. dia tidak mengucap apapun, tapi kakiku merasa menendang kepala orang langsung meminta maaf.

“maaf, ya…” aku mencoba menepi dan menelengkupkan kedua tanganku.
“gak pa-pa, santai aja.” dia tersenyum manis sekali. sesaat aku tersadar sepertinya wajah ini tak asing buatku.
“Qiqi? inget gak? aku? Ila, temen SD-mu.”
“Ila? ngapain di sini?”
“Biasa, dua minggu sekali ‘kan sekolahku jadwalnya renang buat penilaian. kamu? refreshing?” tanyaku lagi, kita sedikit menyepi dan mencari teman duduk.
“hahaha, kelihatannya gimana? apa aku seperti berlibur?” tawanya sungguh renyah. seperti dulu, tanpa beban.
“gak tau, aku ‘kan nanya’. malah balik tanya’.” sedikit memajukan bibirku satu senti. hehe, khasku .
“aduh, jangan monyong gitu dong. aku sama kaya’ kamu. penilaian untuk nilai olahraga. oh iya, kamu sekolah mana sekarang?” tanyanya lagi.
“aku di SMPN (sengaja aku kosongi, maaf ya…)” jawabku.
“kamu?” sedikit bodoh aku menanyakan hal yang jelas-jelas aku tau waktu itu, tapi untuk sekedar basa-basi dan jaga image. dia menjawab dengan jawaban yang sudah ku tebak.

dari pertemuan itu, saat pulang dari penilaian renang, kami memutuskan jalan-jalan untuk melepas rindu dan kabar. mengobrol bagaimana kadaan teman-teman SD. makan malam. sungguh tidak pernah terbayangkan bisa bertemu dengannya lagi.

hampir setiap selesai penilaian renang kami keluar bersama. tak ayal bertukar nomor handphone menjadi awal kisah itu berlanjut. tak lama, karena kita sering bersama jalan-jalan dan jujur aku merasa cocok. lebih mengenalnya lebih dalam membuatku merasa nyaman. dia menembakku. dan bisa dipastikan jawabanku menerimanya.

saat itu akhir november. sedikit diteman gerimis hujan. suasana yang sampai sekarang menjadi daftar favoritku untuk menghilangkan penat. sering sekali kita menghabiskan waktu bersama. dia menjeputku sekolah, menemaniku membeli keperluan, atau sekedar makan bersama di pinggir jalan.

semua begitu indah. hingga seminggu sebelum ulang tahunku. aku merasa, dia sedikit berlebihan akhir-akhir ini ketika mengalah dan menuruti semua yang aku mau. membuatku merasa tidak enak. entah kenapa, malam itu ia begitu teduh dari biasanya. jujur meskipun kami sering menghabiskan waktu bersama, aku sangat menjaga jarak dan kontak fisik dengannya. tapi malam itu, ia berani memegang tanganku. seharusnya malam itu hujan seperti kemarin-kemarin. tapi bulan begitu pualam menemani obrolan kami di teras.

saat ia memegang tanganku, ia berkata “jangan pernah merasa sendiri (jujur aku sampai sekarang kadang merasa sepi meski dalam keramaian), aku di sini. jangan juga merasa bahwa Tuhan selalu memberi cobaan yang membuatmu jatuh, justru sebaliknya. dan jangan lupa berusaha dan berdo’a agar semua masalah tidak berlarut-larut.” begitu erat ia memegang tanganku, aku ingin melepasnya, tapi berat sekali. tangannya begitu besar dan hangat.

sebenarnya saat itu banyak sekali masalah yang datang silih berganti di kehidupanku. mulai hampir terjadinya perceraian orangtuaku, adikku yang harus dibawa ke psikiater, nilai-nilaiku yang menurun, serta di gantikannya aku dari tim inti basket sekolah karena sudah digantikan oleh pemain-pemain baru yang lebih aktif. pikiranku sudah tak karuan jika mnegingat masalah-masalah itu. tapi dia memberi warna baru. kalau ku katakan sekarang, bisa jadi dia morfin yang bisa membuatku fly. hahaha, jangan idanggap serius, ini hanya sebuah perumpaan. jika aku bersama dia, bisa dibilang aku sangat bahagia, hingga waktu tidak terasa berputar dan terhenti disitu.

bisa dibilang sejak kejadian dia memegang tanganku, hubunganku dnegannya jadi semakin erat. sms untuk bertanya sedang apa, sudah makan, sudah sholat, sudah belajar, jangan lupa makan, tak penah absen barang sedetik pun. handphone jadi tidak pernah lepas dari genggamanku. beberapa hari kemudian, sangat terukir jelas dalam ingatanku, tiga hari sebelum ulangtahunku, ia meminta ijin untuk melihat pameran mobil dengan teman-temannya di salah satu supermarket luar kota bersama teman-temannya. sedikit berat sebenarnya aku memberi kata ‘ya’. hingga dia ku beri syarat untuk meminta ijin dulu kepada ibunya saat aku menelpon nanti malam. ibunya memberi ijin. aku sedikit berat. tapi aku juga tak bisa mencegahnya. aku hanya kekasihnya, belum istrinya. jadi aku tidak berhak mengekangnya dengan ketakutan-ketakutan konyol dalam pikiranku, pikirku saat itu.

hampir seharian ia tidak mengirim kabar, aku pun tak ingin menggaggunya, aku tak ingin dengan kehadiranku di hidupnya ia jadi terganggu. namun, hingga ba’da maghrib pun tak ada satu pesan maupun panggilan darinya. perasaanku sedikit khawatir. namun, aku tepis pikiran yang bukan-bukan itu. namun, aku mengirim pesan hampir lima kali menanyakan, apakah dia sudah pulang atau belum, sudah makan atau belum, mengapa tidak ada kabar. menelponnya, namun handphonenya sepertinya drop.

saat ba’da isya’ temanku Sd yang juga tetanggaku mampir ke rumah.
“tumben nih anak ke sini?” batinku.

“La, aku boleh pinjam sepedamu nggak?” tanyanya buru-buru.
“Bolehlah, mau kemana emangnya malem-malem gini?” tanyaku.
“Kamu nggak tau, kalo Gigi kecelakaan. temen kita pas SD itu lho…” seperti ada hantaman di kepalaku.
“Gigi yang mana? kamu bercanda….” aku mencoba bergurau, berharap yang dimaksud Gigi yang lain, meskipun aku tau tidak ada teman SD-ku yang lain yang bernama Gigi.
“tadi sore, waktu dia pulang dari pameran mobil katanya. saat pulang dia menyetir dan berboncengan tiga. tau sendiri ‘kan jalannya banyak lubang yang dalam. sat belokan, ia masuk ke lubang dan jatuh terpental. dan …..” sedikit berat tetanggaku ini melanjutknn, aku pun tak ingin tau kelanjutannya. seperti di depan mataku sendiri saat tetanggaku sekaligus temanku itu bercerita. bagaimana Gigi mengalami itu semua. seperti di tusuk sembilu hatiku. “sayangnya dari belokan itu tadi ada truk yang melaju kencang dan menerima badannya.” katanya lagi. deg. kini jantungku yang seperti di serbu beribu panah. aku jatuh terduduk di pagar. seperti ada batu besar yang menimpa kepalaku. sakit, peningm sesak. entah apa itu rasanya.

“Kamu nggak pa-pa, La? Aku harus cepat-cepat ke rumah Gigi sekarang, jenazahnya akan di kubur malam ini. aku pinjam ya… Assalammu’alaikum.” aku melihatnya mengayuh sepeda yang melaju agak kencang. semakin jauh. dan menjadi titik, lalu titik itu hilang. agak lama aku berada di pagar. menjadi sedikit ling-lung.

saat tersadar aku langsung mengambil handphone, mencoba menelpon handphone kekasihku. Gigi. tidak aktif. aku mencoba sms. aku masih ingat jelas apa saja smsku yang sepeti orang kesurupan itu.

“aku dengar kamu kecelakaan? itu bohong kan?”
“please balas smsku yank. jangan buatku berfikir yang tidak-tidak.”
“kamu janji nggak akan ninggalin aku. jangan buat aku kesiksa gini!”
“YANK! PLEASE BALAS SMSKU. APA KAMU BAIK-BAIK SAJA? AKU NUNGGU KAMU!”
yah, empat pesan itu ku kirim berturut-turut. aku ingin pergi ke rumahnya. aku ingin membuktikan bahwa itu bukan Gigi-ku yang tetanggaku maksud. tapi aku takut, aku takut itu semua nyata. aku takut itu bukan kebohongan.

hingga larut malam pun, temanku belum pulang juga. aku tertidur di ruang tamu. hingga esok harinya, aku mendapat telpon. kali ini yang membuatku percaya itu Gigi-ku adalah telpon itu dari ibunya. yah, ibunya. ibunya bilang Gigi mengalami pendarahan di otak, dia kecelakaan saat pulang dari pameran kemarin. ibunya memintaku datang ke rumah untuk bertemu denganku.

aku beranjak bangun dengan gontai, seperti tidak punya tenaga. aku mandi sambil menangis. sholat subuh pun dengan menangis. saat itu, untungnya aku di rumah seorang diri. ibuku menemani kekakku yang sedng sakit keras. sedang ayahku sibuk bekerja seperti biasa. adik-adikku ikut ibuku. cukup lama aku berdiam di kamar. ku pandangi sms-sms Gigi sebelum berangkat ke rumahnya. ini mustahil, kataku dalam hati. tidak mungkin dia pergi secepat ini.

tapi ku langkahkan saja ke rumahnya yang memang agak sedikit jauh. aku memutuskan berjalan kaki saja. sesampainya di sana. begitu ramai. aku mengenal wajah-wajah itu. dia. dia. dia. mereka teman SD-ku. dan dia. perempuan itu, yang dulu sempat di taksir Gigi. dan aku dengar hingga SMP sebeum denganku Gigi berharap dengan perempuan itu, tapi perempuan itu menolaknya. aku tidak mau dan tidak ingin tau apa alasannya. sepertinya dia sangat menyesal.

aku sendiri, tidak menitikkan kristal beingku seidkit pun. saat aku masuk di rumahnya. ibunya langsung memelukku. sedikit kaget. tapi ku biarkan. ia mengelus rambutku sambil berkata sabar, sabar, sabar. berulang-ulang. entah aku kerasukan jin atau apa, aku malah menanggapinya dengan senyum pahit. aku tau ibunya lebih kehilangan daripada aku.

ibunya bercerita bahwa ijinnya Gigi sangat jauh sekali dari bayangannya. Gigi bilang pergi ke sebuah supermarket terkemuka di dalam kota. ternyata di luar kota. ibunya tidak menyangka. ibunya juga bilang bahwa Gigi adalah anak kesayangannya. tersayangnya. yang paling ia banggakan. entah kenapa, padahal dia bukan anak pertama dan bukan anak terakhir. dia anak ketiga dari empat bersaudara. aku mendengarkan penuturan ibunya dengan derai airmata itu. ku tanya dimana makamnya. di dekat desa. aku tau tempatnya.

hampir satu jam aku di sana. tamu-tamu semakin banyak berdatangan. aku juga tak bisa berlama-lama di sana. rasanya jika melihatku,, ibunya seakan mau menangis. aku tidak mau menambah kesedihannya dengan tetap berada di situ. ketika mau ku pakai sepatu keatsku, kedua temannya yang sangat ku kenal menghampiriku.
“La, maaf. seharusnya aku yang menggonceng. ia bilang sedikit ngantuk.” katanya sambil tergagap dan begitu lirih, mungkin takut untuk aku damprat atau aku bentak. kemudian, ia mengambil sebuah benda, putih. ternyata sebuah mug. sudah banyak sekali bagian yang pecah, itu mungkin hanya puing-puingnya saja. dari pecahan itu, ada gambar hati yang tak ada belahannya dan tulisan namaku disana.
“ini kadi Gigi buatmu. sebenarnya selain melihat pameran mobil, dia mengajak kami untuk mengambil mug ini di rumah temannya.” ia menyerahkan mug itu, oh bukan, bukan mug, hanya pecahannya.
tiba-tiba aku mulai merasa muak melihat wajah mereka. aku memilih menundukkan kepalaku yang mulai terasa pening. ku genggam mug itu. mungkin saat itu amarah iblisku sedang tidak karuan. aku sedikit lupa. (haha, mungkin aku terlalu pintar melupakan kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidupku). aku banting mug itu.
“La, kok di banting? Ini… Ini dari Gigi.” katanya sambil memunguti mug yang ku pecahkan.
“Pergi kalian dari hadapanku. harusnya bukan Gigi yang tidur di situ. tapi kalian! jangan pernah datang di hadapanku lagi. aku muak lihat muka kalian! harusnya kalian yang nggonceng. dan mungkin sekarang dia masih bisa bersamaku! harusnya kalian sadar, kalau dia bilang ngantuk, bakal terjadi apa-apa! kalian…. kalian…..” aku membentak mereka. entah, mungkin banyak juga para tamu yang melihatku. aku berlari, karena takut airmata ini leleh di hadapan Gigi. aku berlari sekencang-kencangnya. jangan ditanya sudah berapa orang yang ku senggol dan hampir memakiku? banyak. tapi saat itu aku tidak peduli. benar-benar sudah tidak memiliki akal sehat mungkin.

sampai di rumah, kedua anak itu ternyata sudah menungguku di depan rumah. aku lalui sja mereka seakan tidak melihatnya. aku benar-benar sudah muak. salah satu dari mereka memegang lenganku. mencob untuk berucap maaf lagi padaku. rasanya aku seperti robot jika ku ingat. aku tidak peduli dengan mereka. karena aku kesal, aku tampa pipinya. entah yang mana. ku masuk rumah, dan membanting pintu.

ku naiki tangga untuk segera ke kamar. begitu gelap. mandung datang. belum sampai lima menit, handphoneku berbunyi. dari ayah.
“Nduk, bapak (panggilan untuk kakekku) meninggal. kamu di jemput ayah apa naik angkot ke sana? ayah mau pulang dari kantor.” cukup lama aku diam tak merespon. apa lagi ini? begitu banyak rasanya cobaan yang menimpaku. mengapa tak kau ambil saja nyawaku? Bapak. orang yang selalu mengantarku ke sekolah mulai dari ku kecil jika orangtuaku sibuk. orang yang selalu menemaniku di rumah saat semua sibuk dengan kerjaan. orang yang rela bangun malam untuk meletakkan kompres saat aku sakit dan orangtuaku di luar kota. orang yang rela bolak-balik mengepel lantai kamarku saat atap rumahku bocor. orang yang ….. rasanya sakit mengingat itu semua. mengapa Tuhan begitu tega?
“aku naik angkot aja yah.” langsung ku tutup telpon. tanpa berganti baju, ku ambil sepeda bututku untuk ke tempat parkir langgananku. aku menaruhnya, dan menyeberang untuk mencegat angkot. dengan buru-buru aku naik meskipun angkor sepertinya tidak muat lagi dengan penumpang. aku tidak peduli.

sepanjang perjalanan aku hanya diam. sampai di rumah nenek, aku langsung berlari. terhenti di pintu yang penuh sesak bapak-bapak. ada yang menarikku tiba-tiba, tanteku. dengan linangan airmata, ia bilang tamu wanita di bagian belakang. nenek dan ibuku ada di sana. aku menurut saja. dengan airmata yang perlahan tidak dapat ku hentikan sambil berjalan mengikutinya.

setelah menunggu di sholati dan di tutup lagi kain kafannya. aku diijinkan untuk menciumnya terakhir kali. aku bilang, aku nggak sanggup. aku takut airmata ini mengenai wajahnya yang teduh. tapi ibuku bilang ini kesempatan terakhir. ‘bapak’ tidak akan ada lagi, dan aku tak bisa memandangnya lagi.

ku beranikan diriku untuk mencoba tersenyum dalam kepalaku yang terasa sangat berat karena menahan tangis. ku cium kening, dan kedua pipinya. terakhir ku cium tangannya yang keriput. tapi, aku tak ikut mengantarnya ke makam. aku takut. jika hati ini tak kuat. aku sadar bahwa hati ini begitu lemah.

ya Allah, kau beriku cobaan begitu hebat. hingga kini aku tau. memang hanya kepadaMu-lah harusnya rasa sayang ini ku persembahkan seutuhnya. ini kisahku enam tahun lalu. sempat setelah itu, aku menjadi nakal. yah, aku nakal. membolos, bahkan sering melamun karena terus merasa tak percaya aku kehilang dua orang yang ku sayang sekaligus dalam dua hari. dan beberapa sebelum ulang tahunku. pengalaman yang tak terlupakan buatku.

tapi aku sadar, mereka yang terindah. akan selalu ada dalam do’a-do’a kecilku setelah sholat. Tuhan bukan tidak adil, tetapi DIA sangat mengerti hingga memberi ujian yang begitu mengguncang psikisku hingga bertahun-tahun baru bisa ku normalkan lagi.

kawan, panjang banget ya ceritaku? ini bukan cerpen, tapi cerjang. hehe , cerita panjang. tapi ini benar-benar terjadi. aku hanya ingin berbagi dengan kalian yang membacanya. jangan pernah menyesali an membuat kalian berhenti pada satu titik seperti yang aku lakukan. karena akan menyakiti orang-orang yang peduli padamu dan berada di sekitarmu. kenanglah saja dia yang pergi dengan keikhlasan dan do’a dalam setiap sujudmu pada-Nya. jangan lakukan hal bodoh sepertiku. dan gunakanlah waktumu untuk membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingmu saat ini. waktu tercipta bukan untuk terulang. ^^

semangat menjalani hidup ya…. ๐Ÿ™‚

Cerpen Karangan: Varra Laila
Facebook: falla_ajja[-at-]yahoo.co.id / Varra Laila Falla

Cerpen Yang Terindah Tapi Tidak Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perempuan Ini

Oleh:
Matahari terus bersinar dengan bangga, Ryan menatap ke atas satu kata yang pasti terlintas di otaknya โ€œPanasโ€ cukup untuk menggambarkan keadaanya yang begitu mengenaskan. Anak laki-laki ini hanya menatap

Duniaku Setengah Komik

Oleh:
Ketika aku masih muda, orang-orang dewasa bilang “jika kau berharap sesuatu, tunggu sampai bintang jatuh” dan harapan itu akan menjadi nyata, menurutku itu bohong, penipu! Bagaimana bisa harapan menjadi

Rasa Benci Akan Rindu

Oleh:
Perpisahan tanpa kata, senyum atau tangisan. Beberapa orang bilang kalau itu perpisahan idaman. Layaknya maling yang mengendap keluar rumah tanpa jejak dan berusaha tak memunculkan sedesah suara pun. Seperti

Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Fakir

Oleh:
Matahari sudah tinggi dan sinarnya cukup menyengat. Bagi orang yang tak terbiasa pastilah sudah meringis dan mencari perteduhan. Tapi aku sudah terbiasa. Mungkin kulit gelapku sudah beradaptasi karena setiap

โ€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?โ€
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *