10 Juta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 22 January 2018

Di bawah teriknya paparan matahari, di antara hamparan sawah yang menguning, dan pepohonan yang menari ditiup sang bayu, Adam mengayuh sepedanya dengan gembira bersama kedua temannya. Ia memang suka berkeliling desa kelahirannya itu.

“Wah, keadaan di Kajen memang top banget, ya?” kata Fadhil, salah seorang teman Adam.
“Tentu dong. Desa kelahiranku gitu lho.” sahut Adam.
“Pondok-pondok pesantren seolah-olah menyambut kita, begitu juga masjid. Lantunan ayat Al-Qur`an terus berdengung di kuping. Jadi adem banget di hati hehehe…” kata Agung.
“Kesannya Desa Kajen ini agamis banget.” kata Fadhil lagi.

“Oh ya, tentu. Kan di Kajen banyak orang-orang yang agamis, contohnya aku, hahaha…” sahut Adam sambil cekikikan.
“Kamu agamis? Agamis dari mananya?” ejek Agung.
“Dari matamu.. matamu.. Kumulai jatuh cinta. Hahahaha…” suara nyanyian Adam.
“Maho!! Masak cowok jatuh cinta sama cowok? Dasar!!” sahut Fadhil.

“Idihh.., siapa juga yang mau dicintai sama Adam?” kata Agung jijik melihat kelakuan Adam.
“Ada dong pastinya, hehe. Oh iya, nanti kita ke gubuk biasa, kan?” tanya Adam kepada kedua temannya.
“Pastinya!!” kata Fadhil dan Agung bersamaan.

Mereka bertiga pun mengayuh sepeda dengan secepat kilat. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di sebuah gubuk kecil di tengah hamparan padi menguning yang bergoyang ditiup sang bayu. Mereka bermain dan bersenang-senang di sana.

“Segarnyaaa udara di siniii…” kata Adam.
“Iya, tapi kalau nggak ada kamu mungkin udaranya bisa tambah segar. Hahaha..” ejek Agung lagi.
“Maksud kamu aku setan, gitu?” tanya Adam kepada Agung.
“Lho, aku kan nggak bilang gitu, Dam. Tapi, alhamdulillah, kalau kamu nyadar.” jawab Agung santai.

“Wis.., wis ah!! Ayo pulang!! Sudah siang ini, nanti ibu kita marah, lho.” ajak Fadhil.
“5 menit lagi, Dhil.” kata Adam.
“Ya wis, 5 menit lagi.” kata Fadhil.

Setelah 5 menit berlalu mereka pun mengayuh sepeda lagi untuk pulang ke rumah masing-masing dengan perlahan. Tiba-tiba, Adam mengerem sepedanya tepat di depan makan Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.

“Lho, lho, ada apa ini? Kok berhenti, Dhil?” tanya Agung kepada Fadhil.
“Mboh, Si Adam kok. Ada apa, toh, Dam? Kok mendadak berhenti?” tanya Fadhil kepada Adam.
“Lihat, deh! Itu ada apa di makamnya Syekh Mutamakkin? Kok rame banget?” tanya Adam.
“Oh itu tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, Dam.” jawab Fadhil.

“Tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin? Tradisi apa itu, Dhil?” tanya Adam lagi.
“Itu tradisi yang ada di Kajen untuk menghormati jasa Syekh Mutamakkin, Dam.” jelas Fadhil.
“Syekh Mutamakkin itu siapa, Dhil?” tanya Adam lagi.
“Wis, nanti tanya bapakmu saja, sekarang kita pulang aja!!” ajak Fadhil.

Setibanya di rumah, Adam bertanya kepada Bapaknya mengenai tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.
“Pak, Syekh Mutamakkin itu siapa, toh?” tanya Adam kepada Pak Abdul, bapaknya.
“Syekh Mutamakkin itu leluhur di Desa Kajen ini, le.” jawab Pak Abdul.

“Lalu tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin itu buat apa, Pak?” tanya Adam lagi.
“Itu tradisi buat mengormati jasa-jasa Syekh Ahmad AL-Mutamakkin.” jawab Pak Abdul.
“Seberapa besar, sih, Pak, jasa beliau? Kok sampai tiadakan tradisi kayak gitu.”
“Ya besar banget jasa beliau, le. Beliau itu sudah menyebarkan Islam di Desa Kajen dan sekitar Kota Pati.”

“Pak Abdul!!” suara seseorang dari luar rumah.
“Sebentar ya, le!” suruh Pak Abdul.
Pak Abdul pun pergi menuju ke teras rumah diikuti Adam di belakangnya.

“Piye, Pak? Sudah ngirim besek dan ambengan, belum?” tanya Pak Slamet, tetangga sebelah Pak Abdul.
“Sudah, Pak. Kemarin sore sudah tak antar.” kata Pak Abdul kepada Pak Slamet.
“Oh, nggih sampun, Pak Abdul. Matur nuwun.” kata Pak Slamet.

“Besek itu apa, Pak?” tanya Adam.
“Besek itu makanan yang dimasukkan ke dalam wadah dari anyaman bambu atau ditaruh di wadah berbentuk bundar, le.” jawab Pak Abdul.
“Kalau ambengan?” tanya Adam lagi.
“Ambengan itu nasi, lauk serta ayam utuh yang di masak dan ditaruh dalam wadah berbentuk bundar, le.” jawab Pak Abdul.

“Buat apa iu, Pa`e?” tanya Adam lagi.
“Buat bancakan bagi para peziarah di makan Syekh Mutamakkin. Setiap keluarga wajib membuat 3 besek dan ambengan, le. Sebelum dibagikan kepada peziarah, makanan tersebut dido`akan agar mendapat barokah.” jelas Pak Abdul.
“Itu termasuk serangkaian acara tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, Pak?” tanya Adam.
“Bukan, besek dan ambengan itu cuma untuk dibagikan kepada peziarah, le.” jawab Pak Abdul.

“Kalau begitu apa saja acara-acara tradisinya, Pak?”
“Pertama-tama diadakan Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib dan Binnadhor pada tanggal 6 Sura. Kemudian, setelah acara tersebut berakhir, besek dan ambengan dibagikan.” jelas Pak Abdul.
“Bedanya Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib sama Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor apa, Pak?” tanya Adam.
“Kalau Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib untuk tamu undangan saja, sedangkan Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor untuk khalayak umum yang tidak hafal Al-Qur`an.” kata Pak Abdul.

“Setelah itu apa ada acara lagi, Pak?” tanya Adam lagi.
“Ada, le. Pada tanggal 9 Sura, ada acara buka selambu makam lama dan pelelangan. Kedua acara itu dimulai dari jam 7 pagi.” kata Pak Abdul.
“Selambu makam? Apa itu, Pak? Adam kok nggak pernah tahu?”
“Selambu makam itu penutup makam, supaya makam itu tetap bersih dan suci.”

“Ohh gitu. Buat apa penutup makam dilelang, Pak? Memang ada yang mau? Terus mau diapakan, Pak? Buat besok kalau yang lelang meninggal?” tanya Adam berurutan.
“Hahahaha…, kamu ini ada-ada saja toh,le. Orang di sini percaya kalau selambu makam itu punya banyak kegunaan, diantaranya sebagai pengobatan, penglaris, menjaga keselamatan diri, dan masih banyak lagi. Bapak pun percaya tentang kegunaan selambu makam Syekh Mutamakkin.”

“Haaa??!!! Beneran itu, Pak?” tanya Adam seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bapaknya.
“Iya, masak bapak bohong? Besok kamu ikut bapak ke makam Syekh Mutamakkin, ya! Nanti kita ikut Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor, ajak ibumu sekalian!” ajak Pak Abdul.
“Siap, Pak.”

Keesokan harinya, Pak Abdul sekeluarga pergi ke makam Syekh Mutamakkin.
“Wahh.., makamnya bagus banget! Nggak kayak makam-makam kayak biasanya.” kata Adam.
“Iya, Adam, ini kan makam leluhur Desa Kajen.” sahut Bu Fatimah, ibu Adam.

Setelah selesai mengikuti acara Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor, mereka bertiga kembali ke rumah. Setibanya, Bu Fatimah segera pergi ke dapur dan membuat teh serta membawakan biskuit untuk Pak Abdul dan Adam.

“Yee…, ibu bikin teh…” teriak Adam.
“Kamu ini kayak nggak pernah ibu bikinin teh aja.” sahut Bu Fatimah sambil senyam-senyum.
“Abisnya teh buatan ibu enak, sih…”
“Ah, kamu bisa saja.” kata Bu Fatimah.

“Assalamu`alaikum.” salam orang dari luar rumah.
“Wa`alaikumsalam.” salam Bu Fatimah lalu menuju ke luar rumah.
“Ehh, Pak Samad, silahkan masuk, Pak! Adam, ini Pak Samad sudah datang!” teriak Bu Fatimah.

“Kok tumben jam segini Pak Samad sudah datang? Biasanya setelah Maghrib?” tanya Adam kepada Pak Samad.
“Nanti malam Pak Samad mau pergi. Ayo, kemarin ngajinya sampai di mana?”

Adam pun segera membaca lantunan ayat-ayat Al-Qur`an. Sementara itu, Pak Abdul dan Bu Fatimah tengah asyik mengobrol sambil menonton televisi dan menikmati hidangan yang ada.

“Oiya, Bu, ibu tahu tentang pelelangan selambu makam Syekh Mutamakkin, nggak?” tanya Pak Abdul.
“Ibu tahu, Pak. Ada apa?”
“Bapak pengen lelang selambu itu.”
“Haa?!! Bapak mau lelang? Buat apa, Pak?” tanya Bu Fatimah.

“Selambu makam Syekh Mutamakkin, kan dipercaya bisa mendatangkan barokah, Bu.” jawab Pak Abdul.
“Memangnya bapak mau lelang berapa?” tanya Bu Fatimah lagi.
“10 juta.” jawab Pak Abdul singkat.
“10 juta? Bapak gila? Itu terlalu banyak, Pak? Selambu kayak gitu juga banyak di toko-toko pinggir jalan, malahan lebih murah.” kata Bu Fatimah.

“Itu bedalah, Bu. Itu nggak bisa mendatangkan barokah.”
“Ya penting murah, Pak.”
“Nggak bisa gitu dong, Bu!!”
“Ya bisa dong, Pak! Pokoknya ibu nggak setuju kalau bapak mau lelang 100 juta, kalau 1 juta ibu setuju.”

“1 juta? Mana dapet, Bu. Selambu kayak gitu yang lelang banyak, pengusaha-pengusaha lagi.” kata Pak Abdul.
“Pokoknya ibu nggak bolehin bapak lelang 10 juta. Mubazir, Pak. Cuma buang-buang uang aja! Mendingan uang 10 juta itu ditabung buat keperluan besok. Jangan malah dibuat lelang selambu kayak gitu.” kata Bu Fatimah dengan nada agak tinggi.

“Selambu itu bisa datengin barokah, Bu. Siapa tahu setelah kita beli selambu itu, kita dapet uang 1 milyar. Kan untung, Bu.” kata Pak Abdul menyakinkan.
“Iya kalau dapat, kalau enggak? Kan rugi. Hari gini kok masih percaya sama selambu kayak gitu. Itu cuma selambu biasa, Pak, di toko-toko pinggir jalan tuh juga banyak yang jual. So, ngapain harus lelang 10 juta kalau banyak selambu yang harganya paling cuma 100 ribuan. Mending uang 10 juta ditabung, Pak. Lebih berguna!!” bentak Bu Fatimah.
Saking kencangnya keributan antara Pak Abdul dan Bu Fatimah, Pak Samad, guru mengaji Adam jadi tidak fokus mengajar Adam. Pikiran beliau terus mengarah ke keributan itu.

“Astagfirullah.., ada apa itu, Adam?” tanya Pak Samad.
“Dari tadi bapak dengar ada keributan.” tambah Pak Samad.
“Iya, Pak. Adam juga dengar.” kata Adam.

“Sepertinya orangtua kamu bertengkar. Bapak ingin melerainya, tapi bapak tidak tahu permasalahannya. Kamu tahu tidak?” tanya Pak Samad.
“Adam juga nggak tahu, Pak. Biasanya bapak sama ibu nggak kayak gini.”

“Plaakkkkk…” suara tamparan Pak Abdul.”
“Allahu Akbar..” kata Pak Samad yang langsung berlari menuju ke sumber keributan disusul oleh Adam.
“Kamu beraninya main kasar, ya? Kamu pikir aku takut sama kamu? Haa?!! Nggak sama sekali!! Mentang-mentang kepala keluarga, bisa seenaknya sendiri. Kamu pikir cari uang gampang apa?” bentak Bu Fatimah.
“Seenaknya? Kalau mau ngomong dipikir dong!! Aku ngelakuin ini juga biar keluarga kita dapet barokah. Kamu bukannya dukung suami mau berbuat baik kok malah marah-marah!!” bentak Pak Abdul.

“Pyaarrrr…” suara vas bunga yang dibanting tepat di bawah kaki Adam.
“Aduuuhhhh…” teriak Adam.
“Adamm!!” kata Bu Fatimah, Pak Abdul, dan Pak Samad bersamaan.
Pak Abdul dan Pak Samad pun membopong Adam ke sofa, sedangkan Bu Fatimah mengambil P3K di kamarnya.

“Pak Abdul sama Bu Fatimah kenapa bertengkar? Ada masalah apa? Barangkali saya bisa bantu.” tawar Pak Samad.
“Ini, Pak, masak saya dilarang lelang selambu makam Syekh Mutamakkin sama istri saya.” kata Pak Abdul kesal.
“Iya jelas saya larang dong, Pak. Masak lelang 100 juta? Gila banget!! Dia pikir cari uang gampang apa?” kata Bu Fatimah.
“Kamu tuh yang gila. Suami mau berbuat baik malah dilarang. Pinter banget kamu!!!” kata Pak Abdul lagi.

“Memang aku pintar dari lahir. Sudah jelas-jelas kalau itu cuma buang-buang uang saja! Mubazir, ya kan, Pak Samad?” tanya Bu Fatimah.
“Ya enggaklah itu kan buat penghormatan kepada Syekh Mutamakkin. Lagipula hasil lelangnya juga buat kegiatan-kegiatan Islami.”
“Alahh…, nggak usah bohong kamu. Kamu pikir dengan kamu bilang kayak gitu aku jadi ngizinin kamu lelang gitu? Nggak bakal!!”

“Sudah.., sudahhh!!! Kok malah ribut lagi!!” bentak Pak Samad.
“Iya nih, bapak sama ibu kayak anak kecil aja! Sudah dong, jangan ribut lagi! Semua masalah kan bisa diselesaiin dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi!!” sahut Adam.

Pak Abdul dan Bu Fatimah pun diam, kemudian Pak Samad menjelaskan semua yang menjadi permasalahannya kepada Pak Abdul dan Bu Fatimah.
“Begini ya, Bu Fatimah, bukannya saya mau memihak pada Pak Abdul, tapi memang apa yang dikatakan Pak Abdul itu benar, Bu. Selambu itu dapat digunakan sebagai penghormatan kepada Syekh Ahmad Al-Mutamakkin serta pembawa barokah seperti apa yang dikatakan Pak Abdul tadi. Selambu itu juga bisa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat perantara Syekh Ahmad Al-Mutamakkin. Itu bukan buang-buang uang atau mubazir, Bu. Tapi, lelang itu merupakan sarana bagi kita untuk beramal. Karena, hasil dari pelelangan selambu tersebut, akan digunakan untuk keperluan Islami di Desan Kajen, seperti pembangunan masjid, dan lain-lain. Jadi, kita jangan hanya memikirkan dunia saja, melainkan akhirat juga, Bu. Semakin banyak jumlah uang yang kita sumbangkan semakin banyak juga pahala yang akan kita peroleh.” jelas Pak Samad.

“Jadi, yang saya pikirkan itu salah ya, Pak Samad?” tanya Bu Fatimah.
“Iya, Bu. Itu memang sudah tradisi yang diadakan setiap tahunnya di Kajen, Bu.” tambah Pak Samad.

“Ohh…, Pak…, ibu minta maaf, ya? Ibu sudah salah, ibu kira itu cuma buang-buang uang saja. Maafin ibu, ya, Pak?” pinta Bu Fatimah.
“Iya, Bu. Bapak juga minta maaf, ya, Bu, tadi bapak sudah menampar ibu?” kata Pak Abdul.
“Iya, Pak. Besok kita datang ke pelelangan bareng-bareng, ya, Pak?” tanya Bu Fatimah.
“Siapp, Bu!!” sahut Pak Abdul.

“Nah.., gitu dong, Pak, Bu, yang rukun!! Jangan berantem lagi!! Kayak anak kecil tau!! Hehehe…” sahut Adam.

Keesokan harinya, Pak Abdul sekeluarga mengadiri acara pelelangan selambu makam Syekh Ahmad Al-Mutamakkin dengan sukacita. Dan akhirnya, penawaran tertinggi jatuh pada Pak Abdul dengan nilai Rp. 10.000.000,00. Pak Abdul dan Bu Fatimah pun sangat senang bisa mendapatkan selambu tersebut dan mereka berdua berjanji akan menyimpannya dengan baik.

Cerpen Karangan: Almaida Lathifa
Kalau mau copas, bilang ya, guys..
Makasih..

Cerpen 10 Juta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mama

Oleh:
Hari ini, Sari sedang kesal dengan mamanya karena tidak dibelikan boneka Barbie. “Kenapa, sih, mama gak mau membelikan aku barbie itu?! Padahal, kan uang mama cukup banyak untuk membeli

Secercah Harapanku

Oleh:
“kamu ingat, 13 tahun yang lalu tepat nya saat kamu berusia 4 tahun, waktu itu kamu menangis dan terus menangis karena sakit, dan dokter bilang di otak kamu ada

Mendung di Akhir Senja

Oleh:
Malam ini, entah mengapa, Hamid merasakan kantuk yang teramat sangat. Bagai semburan radiasi TV yang tiada habisnya tatkala dihidupkan. Ia sedikit memaklumi, ia belum tidur pada siang ini. Waktunya

Allah Itu Adil

Oleh:
Terdengar suara riuh rendah di lokal Aqira, yaitu IV-D. Pak guru sedang membagikan hasil ulangan Matematika. Semuanya takut dan agak deg-degan sambil menelan ludah. Menurut mereka, matematika adalah mata

Then I go

Oleh:
“Seperti salju yang menunggu dirinya menghilang saat musim panas datang, aku juga menunggu kalian menghilang pelan-pelan agar aku bisa mengenang kalian dengan baik,” Di tengah halaman yang berselimut salju,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *