14

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 May 2016

Udara pagi terasa dingin sekali, tak biasanya Fanya merasakan seperti ini. Selimut masih berada dalam pelukan Fanya, suara merdu burung tak tahu ke mana untuk pagi ini. Entah mengapa ada perasaan janggal menyelinap merasuki hati Fanya.

“Fanya, bangun Nak?” suara wanita yang sungguh lembut, Fanya dengar kembali pada pagi ini.
“Iya Ma.” ucapku sambil bangun dari tidurku. Itulah namaku Fanya dengan tambahan nama Fashila di belakangnya. Sungguh singkat namaku, tapi jangan salah menduga di balik nama itu ada arti tersendiri dalam keluargaku. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi, setelah 14 menit berlalu aku ke luar dari kamarku. Terlihat papa dan mama sudah mengenakan pakaian yang sangat rapi.

“HAPPY BIRTHDAY FANYA”
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut mereka, aku saja hampir lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku ke-14.
“Make a wish dulu Fanya?” ucap mama. Aku memejamkan mataku, dan ku lantunkan beberapa doa serta harapan yang aku inginkan. Ku tiup lilin angka 14 itu dan memotong sedikit kuenya untuk papa dan mama.
“Kita punya kejutan lagi loh,” ucap papaku.
“Apa Pa?” tanyaku antusias mendengarnya.
Papa membawaku dan mama pergi ke suatu tempat.
Namun saat dalam perjalanan…

“ARRGGH!!” Teriak Fanya sekencang mungkin, hingga Fanya terbangun dari tidurnya.
“Hah? Hah? Hah?” Hembusan napas yang terdengar jelas di telinga Fanya.

Kenapa ini? Kejadian itu? Tak pernah hilang dari otakku? Tante Risa segera datang ke kamar Fanya, ia mencoba menenangkan Fanya. Ia tahu betapa traumanya Fanya dengan kejadian itu, kejadian di tanggal 14 itu membuat Fanya hampir saja mengalami frustasi. Tapi, perlahan semangat Fanya bangkit kembali karena hidup Fanya masih panjang. Masih banyak halang rintang yang belum Fanya lewati.

“Fanya kenapa? Fanya mimpi kejadian itu lagi?” tanya tante Risa.
Fanya hanya menganggukkan kepalanya, sementara mata Fanya menatap lurus ke arah depan.
“Sudah jangan diingat lagi, hari ini Fanya masuk sekolah. Hari pertama di kelas sebelas,” ucap tante Risa.
“Hehe iya tante, makasih udah support Fanya selama ini.” ucap Fanya dengan tawa yang sebenarnya hambar.

Fanya melangkahkan kakinya menuju sekolah setelah sampai disana perhatian Fanya langsung beralih ke papan pengumuman. Fanya Fashila- XI.1. Sejak kejadian di tanggal 14 tersebut, Fanya menjadi lebih pendiam bahkan sangat diam. Sampai saat ini belum ada yang bisa membuatnya seperti dulu. Akhirnya ketika Fanya sampai di kelas Fanya melihat kursi yang kosong dan hanya ada satu di barisan nomor 4. Setelah selesai jam pelajaran sekolah, Fanya berjalan menyusuri jalan komplek menuju rumahnya. Fanya berjalan sambil melihat lihat keadaan sekelilingnya, tatapan matanya terpaku melihat seorang anak yang sedang bermain dengan mamanya.

Hari ini Fanya bangun pagi sekali, karena Mama kemarin udah janji mau main sama Fanya. Mama membawa Fanya ke taman depan komplek, di sana mereka bermain ayunan bersama. Setidaknya ini bisa menghibur Fanya.
“Ma, apa Fanya bisa selalu seperti ini?” tanya Fanya yang masih polos saat itu.
“Iya sayang, Mama selalu ada buat Fanya dan selalu di hati Fanya.” jawab mama dengan tulus kepada anaknya itu.

Semua kenangan indah tak akan mungkin dan tak akan pernah bisa Fanya lupakan. Walaupun di luar sana banyak berjutaan bintang yang lebih indah dari papa dan mama tapi tetap dalam hati Fanya hanya mereka yang terindah. Langit mulai gelap karena matahari hampir ditutupi awan hitam yang menimbulkan aura misterius, semilir angin pun bertiup dengan kencang yang membuat suasana saat ini semakin mencekam. Kaki Fanya terus berjalan seolah ingin membawanya dirinya untuk pulang tapi oh tidak!! Tanggal berapa ini? tanggal 14. Fanya segera bergegas menuju pemakaman umum yang tak jauh dari kompleknya. Sesampainya di sana, Fanya melantunkan sebuah doa agar mereka bahagia di sana. Tak terasa air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya. Dan di saat bersamaan ternyata awan juga tak mampu menahan tangisnya yang membuat Fanya ikut terkena tangisan awan tersebut.

“Tidak ada gunanya kamu menangis, sampai kapan pun mereka tetap di sana dan jangan pernah melupakan kenangan indah bersama mereka,” ucap orang Itu sambil memegang payung hitam yang membuat tangisan hujan terhalang untuk jatuh di antara mereka. “Kamu siapa? Tapi jika kenangan indah itu berujung pahit apa masih pantas untuk diingat?” tiba-tiba kalimat itu terlontar dari mulut Fanya tanpa disadarinya.
“Tidak perlu kamu tahu siapa aku, walaupun itu pahit tetap harus diingat. Percuma saja dirimu ingin melupakannya, itu akan membuatmu semakin mengingatnya. Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.” ucap orang tersebut. Fanya mendengarkannya dengan saksama, ia mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan orang tersebut.

Kini awan masih menangis dengan derasnya dan Fanya masih bersama orang yang tak tahu dari mana asalnya ini. Tapi perkataannya tadi membuat Fanya sedikit lebih tenang, sekarang mereka sedang berada di bawah tangisan awan. Ya sedikit lagi Fanya sampai di rumahnya, tubuhnya kini bagaikan bongkahan es, raut wajahnya bagaikan kertas putih, warna kemerahan pada bibirnya kini tampak menjadi putih akibat terpaan hujan ini. Sekarang Fanya sedang duduk di sofa sambil melihat tetesan air hujan di balik jendela. Tetesan air hujan seakan sedang melambangkan keadaan hatinya untuk saat ini. Tatapan yang membuat siapa saja heran melihatnya untuk saat ini.

Papa mengajak Fanya dan mamanya ke suatu tempat namun sayangnya saat dalam perjalanan menuju tempat itu. Terjadi sebuah kejadian yang tak pernah lekang dari pikirinnya. Mobil yang dikendarai keluarga mereka ditabrak oleh pengendara mobil ugal-ugalan dan korban yang selamat hanya Fanya. Tidak dengan kedua orangtuanya yang telah ke surga lebih dahulu sehingga membuatnya harus menahan rasa sakit dan kerinduan yang sangat mendalam pada mereka. Siapa saja pasti trauma jika mengalami kejadian seperti ini. Ditambah lagi sudah banyak kenangan indah yang telah mereka lewati bersama. Semua canda tawa mereka selalu di dalam benak Fanya. Mungkin saat ini Fanya mengharapkan mereka untuk berada di dekatnya. Tapi tidak dengan Tuhan.

Andaikan saja Fanya bisa meminta hal yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Fanya hanya ingin mereka kembali kepada dirinya. Banyak sekali kisah di balik tanggal 14 ini. Karena 14? Fanya merasakan kebahagiaan bersama mereka. 14? Fanya kehilangan mereka. 14? Fanya mencoba tegar kembali. 14? Fanya bertemu orang misterius yang membuatnya lebih tegar. 14? Adalah segalanya. Angka yang melukiskan semua perjalanan hidupnya dari awal ia ada sampai detik ini.

Cerpen Karangan: Rafika. Mrg
Facebook: https://m.facebook.com/rainbows.stories
Helo!! Aku Rafika. Bisa follow ke akun ig/twitter-ku @radenrafika21 biar kita semua lebih akrab, terima kasih.

Cerpen 14 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji

Oleh:
Bukk… Suatu benda terjatuh dari meja belajarku. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal namun mampu menghasilkan suara yang sedikit keras hingga membuat kedua mataku terbuka. Sedikit usapan tertuju pada

Kesedihanku

Oleh:
21 tahun yang lalu Inikah nasib? terlahir tanpa seorang ayah, ayah yang keberadaannya entah dimana. Dia meninggalkan ibuku di saat aku masih dalam kandungan ibuku. Tapi aku tetap bangga

Petualangan 24 Jam

Oleh:
Gue selalu dituntut sama orangtua gue agar bisa berdagang, alasannya sih simpel. Agar bisa meneruskan usaha keluarga yang sedang berjalan. Gue selalu diajari caranya berdagang dari A sampai Z.

Terima Kasih, Tuhan

Oleh:
Hari itu, Griny mendapat beasiswa untuk belajar di Inggris. Griny yang tidak pernah pergi ke luar provinsi sangatlah senang dengan tawaran tersebut. Lalu, Griny pun mempersiapkan apa saja yang

Schizoprenic

Oleh:
“Kau kejam.” “Aku hanya berharap dia mati, di mana letak kejamnya?” “Berharap seseorang mati bukankah berarti menghapus keberadaannya? itu harapan yang kejam.” “Kau melihatnya kan? Dia hampir menghantamkan Pot

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *