17 Lembar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 February 2016

Mega merah mulai menampakkan warnanya. Semua orang mulai berlindung ke gubuknya untuk berkumpul dengan sanak keluarga. Namun, tak tercantum istilah itu dalam kamus Panji, seorang pujangga berkepala batu ini. Hari-harinya ia habiskan dalam ruangan pengap penuh asap rok*k, oleh rekan-rekan mudanya. Sudah 5 tahun ini, ia tak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Banyak kalimat yang terngiang di telinga tatkala mengingat masa lampau, dan tak satu pun yang dapat ditelaah olehnya. Hanya rasa dendam yang membaluti hatinya. Namun, perjalanan hidup baru dengan 2 rekan karibnya, telah menipiskan balutan dendam pasal prahara itu.

Sebuah gitar terpetik oleh jemari lihai Panji. Teriringi sebuah lagu bergenre rock oleh Alex, yang memenuhi setiap sudut ruangan. Suasana semakin menyeruak, tatkala diambilnya gulungan kertas yang digunakan Alex sebagai mik. Deni yang semula hanya duduk manis menghisap sepuntung rok*k, membuang cuma-cuma rok*k yang apinya baru saja di pucuk. Bagai dalam ruangan auditorium, mereka berteriak-teriak sekedar memenuhi kepuasan hati. Sesuatu tak wajar memang tak bertahan cukup lama. Satu per satu dari mereka melemparkan badannya ke ranjang. Namun, tidak untuk Panji. Ia hanya menyaksi bisu tingkah rekan-rekannya. Wajar, ia hanya berperan sebagai gitaris bukan vokalis on fire seperti mereka. Sebuah peristiwa tak dirasa oleh Panji, namun disaksikan oleh Alex dan Deni. Sehelai bulu mata Panji, tiba-tiba terjatuh ke tulang pipinya.

“Wah, Nji. Orang Jawa bilang, kalau bulu mata kita ada yang jatuh, itu berarti ada seorang perindu yang merindukan kita.” Ujar Deni sembari mengambil sehelai bulu mata Panji.
“Serius? Beruntung banget lo, Nji.” Sahut Alex.

Namun, tak satu pun respon yang sepihak dengan hati Panji. Ia beranjak dari ranjang dan ke luar. Karena tingkah anehnya, Alex dan Deni hanya terpaku. Banyak yang bisa dipandang Panji dari balkon ruang kamarnya. Posisinya yang tinggi, mengalihkan julukan rusun tak terpakai ini menjadi tempat indah penuh makna. Taburan bintang serta Sang Dewi Malam, telah mengingatkannya pada seorang perindu yang telah menjatuhkan bulu matanya. Di tengah dunia nostalgianya, suatu benda mematuk kepalanya dari arah kamar. Seketika, ia melontarkan kata kasar pada kedua sahabatnya. Tapi itu bukan sesuatu yang asing bagi mereka.

“Nji, lo itu kenapa sih? Tingkah lo aneh.” Kata Alex.
“Cari target.” Balas panji lesu dan masuk ke kamar.

Kegundahan hati Panji semakin menggebu ketika disaksikannya Deni yang berusaha membuka kotak penuh misteri itu. Memang tak satu pun orang diperkenankan menyentuh kotak itu selain dirinya, bahkan sahabatnya sekali pun. Genggaman tangannya bersiap menghantam tubuh Deni. Namun, dengan cepat dihentikan oleh Alex. “Kita sahabat, tapi gue maupun Alex, sama sekali tidak pernah tahu isi kotak ini. Jangan sampai gara-gara sebuah kotak tak berguna ini, hubungan kita jadi renggang.” Ujar Deni kecewa.

Tanpa berkata apa pun, Panji mengambil jaket hitam miliknya dan ke luar. Alex dan Deni hanya mampu mengusap wajah ketika melihat tingkah aneh sahabatnya. Di depan loket antrean kereta di stasiun Gambir, Panji berdiri melawan sepi. Pandangannya terus terfokus pada selembar jadwal keberangkatan kereta. Entah apa yang mengitari pikirannya. Tak sesekali, kalimat teguran security menerpa dirinya. Namun tak satu pun yang mampu menggoyahkan tekadnya. Bahkan, hembusan angin malam pun tak kuasa menyenggol tubuhnya.

Masa malam telah terenggut oleh waktu. Suara binatang malam mulai teralihkan binatang fajar. Pandangan Panji teralihkan pada sepetak foto berfigura yang menyilaukan matanya. Foto funky bersama kedua sahabat karibnya itu, mengembalikkan alur pikirnya pada masa lampau. “Percuma Bapakmu ini merawat dan membiayai kamu kalau kamu jadi anak yang b*jat dan gak bermoral seperti ini! Daripada kau memodel rambutmu layaknya jalu ayam, cukur habis rambutmu itu! Daripada kau mewarna hitam hanya pada bibirmu, hitamkan saja seluruh wajahmu. Daripada Bapak sesak melihatmu, langkahkan jauh kakimu!”

Kalimat itulah yang terus terngiang di telinganya. Tiba-tiba, Alex dan Deni terbangun oleh kilau mentari yang menembus jendela kamar. Panji yang hanya berdiri di dekat pintu kamar, melempar keras bantal pada mereka. Seketika mereka mengaung dan bersiap menghantam wajah Panji. Namun, bongkahan amarah mereka seketika luluh saat disodorkan 3 bungkus nasi uduk oleh Panji.

“Nggak mungkin kan, kalau kalian sarapan dalam mimpi? Habisin! Susah carinya.”
“Habis dapet mangsa ya Nji. Cool man, thanks ya, Nji.” Celoteh Deni sembari membuka bungkusan nasi. Hanya senyuman kecil yang mampu diukirkan pada raut wajah Panji.

Banyak penumpang kereta yang berlalu lalang di stasiun Gambir. Lokasinya yang padat dan sarat oleh penumpang, dijadikan jembatan emas bagi para copet sejati di antero bumi ibukota. Bagai emas dalam mulut hiu, penuh resiko tentunya. Bukan keramaian namanya bila tak nampak batang hidung ketiga serangkai ini. Dengan segala penyamaran tak tentu, mereka beraksi di tengah memucuknya mentari. Namun, tak nampak Panji kali ini. Entah ke mana perginya pembangkang itu. Pembagian tugas jadi tak menyebar rata kali ini. Mereka pun beraksi hanya sepasang. Terkadang, keberuntungan memihak mereka. Tak jarang, kebuntungan pun melanda. Saat jarum pendek jam masih tak berdenting cukup lama, mereka sudah memutuskan kembali ke markas.

Perjalanan, mereka hentikan ketika Panji tiba-tiba berdiri di hadapan mereka. Namun wajah Panji babak belur entah kenapa, yang mampu memahat raut terkejut pada wajah kedua sahabatnya. Hanya gelengan dan decakan yang bisa dilakukan Alex dan Deni. Tiba-tiba, pandangan mereka teralihkan oleh sesosok wanita muda yang tengah melangkahkan kakinya di hadapan mereka. “Lex, bukannya itu cewek yang kemarin ya? Pasti rumahnya di sekitar sini. Kalu nggak, ngapain jalan kaki?” Bisik Deni pada Alex.
“Iya Lex. Kayaknya sih gitu.” Sahut Panji lesu.
“Orang bodoh namanya bila tak mengambil emas di depan mata. Ikutin yuk.”

Kini, rute perjalanan mereka ada di tangan wanita itu. Dengan cermat, mereka menerapkan prinsip iguana dalam aksinya. Tak satu pun gerak-gerik mencurigakan, dan tak satu detik pun mereka kehilangan jejak. Sebuah istana megah berdiri kokoh di hadapan mereka. Mereka semakin yakin bahwa bangunan itu milik target, ketika didengarnya kalimat dari wanita itu, “Papa, Mama pulang.” Fakta itu membelalakkan mata mereka dan tak sadar air ludah mereka tertelan. Namun, bukan ceroboh yang mengarakteri diri mereka. Alex, Deni, maupun Panji, berbalik arah dan berniat menyusun berbagai strategi untuk beraksi.

Suara ratusan jangkrik turut menghiasi gelapnya malam. Suasana sepi, sunyi, dan gelap, tak membuat ketiga serangkai ini menciut nyali. Dengan alat seadanya, mereka mencongkel pintu belakang rumah. Langkah demi langkah, mereka menelusuri setiap sudut rumah. Namun, sesuatu mengganjal di hati Panji. Banyak benda yang dikenalinya. Kakinya tergerak memasuki pintu kamar tepat di sampingnya. Panji mulai berpikir, tentang dua orangtua yang terbaring dalam ruangan itu. Di kening mereka, terpahat jutaan beban. Tidurnya yang nyenyak, melukiskan betapa letih mereka hari ini.

Air mata Panji menetes tatkala dilihatnya sepetak foto kecil yang menunjukkan padanya bahwa Panji kecil, berada di antara kedua orangtua yang terbaring itu. Air matanya tak kunjung henti. Hatinya menggebu tak tertahan. Diciumnya kedua kening orangtua itu penuh kerinduan. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mengganggu istirahat mereka. Ditutupnya pintu ruangan itu dari luar. Matanya yang merah, tak memberhentikannya untuk menelaah bangunan itu. Pandangannya terfokus pada foto pernikahan yang tergantung di dinding. Ia terkejut tatkala melihat wanita yang telah membawanya ke mari, duduk di singgasana pelaminan bersama lelaki yang sempat memanggilnya “Kakak”. Matanya berkaca-kaca, dadanya semakin sesak.

“Haruskah aku melakukan ini di atas senyuman bahagia mereka? Bolehkah ku libatkan waktu untuk pertanyaanku ini?” tanya Panji dalam hati seraya terus memandangi foto itu.
Hati Alex, Deni, maupun Panji diselimuti rasa bahagia ketika memperbincangkan rencana mereka untuk menominalkan 1 unit sepeda gunung yang diambilnya dari rumah megah itu.

Di tengah banyaknya tempat penghilang penat, warga ibukota lebih memilih kantor polisi untuk mengisi waktu luangnya di siang ini. Banyak orang yang mengantre untuk mengadukan ketidaknyamanan mereka. Terlihat seorang berselimutkan pakaian hartawan lengkap dengan body guardnya, mengadu ngotot terhadap aparat, sampai urat lehernya terlihat. “Bagaimana ini, Pak! Sudah berapa tahun anda bertugas, kondisi daerah sendiri tidak tahu? Nama restoran terkenal saya jadi tercemar gara-gara mempekerjakan copet ibukota. Markas-markas copet, anda tidak tahu? Sekarang kami jadi korban, terkena pencemaran sampah ibukota!”

Hartawan itu terus naik darah dalam ruangan. Ada seorang lagi yang melapor kepada aparat tentang maling ibukota. Rambut klimisnya menandakan bahwa ia seorang yang rapi, seragam kantornya penanda bahwa ia pekerja kantoran. “Pak, saya ingin melapor, bahwa rumah saya telah dirampok. Menurut kesaksian tetangga saya, pelaku adalah sekelompok pencopet yang bermarkas di rusun tak terpakai di sekitar Stasiun Gambir. Sebuah sepeda gunung telah hilang 2 hari lalu, dan sebuah televisi juga hilang tadi malam. Satu lagi, perhiasan emas istri saya juga hilang. Saya mohon penaganannya.” Lapor seorang berambut klimis itu.

Penggerebekan markas copet di rusun tak terpakai, telah dilakukan. Dengan diikuti pelapor korban pencurian itu, penelusuran kediaman para pencopet itu tak terlalu memuaskan. Lokasi penggerebekan berujung nihil. Tak terhembus satu pun napas tersangka dalam tempat penggerebekan, kala itu. Pandangan lelaki berambut klimis itu tertuju pada sebuah kotak misterius yang dapat dibuka kuncinya oleh polisi. Sebagian besar, barang di kotak telah usang. Namun sebuah benda semacam buku dairy, terlihat masih sering tersentuh. Tak sempat membaca, ia membawa pulang kotak itu, beserta isinya.

Kedatangan Alex, Deni, dan Panji dikejutkan oleh aktivitas para polisi di rumah mereka. Mereka bersiap untuk lari saat polisi menembakkan senapan ke udara. Namun, luncuran peluru menghampiri kaki Panji. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat, keringat dingin memenuhi sekujur tubuhnya. Tak banyak yang mampu dilakukan Alex dan Deni, hingga Panji memberi mereka sinyal untuk meninggalkannya.

Dalam pilu, Panji diinterogasi banyak oleh polisi. Tak sesekali, balutan perban di kaki membuatnya tak mampu menjawab pertanyaan dengan sempurna. Di dalam rumah megahnya, lelaki berambut klimis itu duduk di atas kursi empuk kamarnya. Tangannya tergerak untuk membuka lembar demi lembar buku dairy temuannya. Hingga ia tertarik oleh sebuah halaman berukirkan angka 16 di pojok kanan bawah. Dibukanya lagi lembar selanjutnya. Namun, hanya kosong yang ia dapat. Dilihatnya lagi lembar sebelumnya. Dengan penuh penghayatan, dibacanya kumpulan kata di halaman itu.

Wajahnya, kerut keningnya, mampu meneteskan air mataku. “Keduanya adalah sosok penjatuh bulu mataku, ku tahu itu. Satu bagian lagi, tak sempat ku pandang wajahmu. Hanya dari foto keluargamu. Kau bahagia dan tenteram sekarang, ku tahu itu. Dua hari lalu, ku ambil sepeda itu darimu. Kau ingat? Menahun aku menabung untuknya. Tadi malam, aku kembali ke rumahmu. Ku peluk erat keduanya. Lagi, air mataku mengalir pelan.”

“Juga ku ambil televisi butut dari sana. Kau ingat? Betapa bahagianya aku ketika ku dapatkannya dari hadiah undian. Banyak hutang yang harus ku lunasi. Banyak korban yang belum sempat ku datangi. Maaf telah meresahkan keluarga harmonismu. Tapi ku tahu, tak mungkin kau mendengar jerit rindu hatiku.” Lelaki itu mulai menitikkan air mata. Hingga tertanda, lembaran itu olehnya. Rasa bersalah membuat lembaran-lembaran itu terbuka. Tangannya terhenti oleh sebuah paragraf di dua lembar sebelumnya.

“Stasiun itu penuh makna bagiku. Di kala dua belahan jiwaku ini tak menolehku, ku lakukan kerja ini. Paruh waktu aku melakukannya. Meski hanya jasa cuci piring, setidaknya aku bekerja di restoran ternama. Ku kembalikan yang bukan hak karibku dari hasilku. Setidaknya, tak banyak mereka menelan barang haram. Juga tak jarang ku berdiri di sana memandang jadwal kereta. Kerinduanku telah memuncak. Ingin ku mendengar suaramu. Hari itu ku beli sepasang mukenah sutera yang dulu kau ingin. Akan ku bawa itu ke Jogja.”

Panji yang duduk termenung dalam jeruji besi itu terus memikirkan nasib kedua sahabatnya. Di sisi lain, keberadaan keluarga juga turut mengitari pikirannya. Dinding sel tahanan memang dingin, sampai tak kuasa ia menyandarinya. Hanya berbalut dekapan tangannya, ia menahan. Diingat kalimat-kalimatnya di masa lalu, yang ia sadari sebagai penyebabnya bertekad untuk tak kembali.

“Dari dulu aku tak pernah mendapat pujian. Hanya anak kecil ingusan itu yang kalian puji. Pandai, tampan, penurut, pendiam, bahkan jujur. Tapi kau tidak tahu, pendiamnya ia adalah kebohongannya. Tak berani ia mengatakan kesalahan yang ia perbuat. Sekali pun aku jujur, kalian akan memarahiku habis-habisan. Hei, kau! Kebencianku terhadapmu tak pernah padam. Jangan pernah menunjukkan wajahmu padaku. Dasar anak kecil!” Itulah kalimat yang sempat ia lontarkan kala 5 tahun lalu.

Di tengah pikirannya yang membludak, suara langkahan kaki menghampirinya. Tak sempat ia menengok wajah itu. Seorang polisi memberikan sebuah buku yang ia kenal, lengkap dengan sebatang bulpoin hitam di sampingnya. Dengan lesu ia menerimanya. Ternyata, buku itu adalah buku yang kerap digunakannya untuk menorehkan isi hatinya. Sempat ia bertanya bagaimana bukunya bisa berada di tangan polisi itu. Dibukanya halaman yang dulunya kosong, sekarang tertulis sekumpulan kata.

“Telah ku tuntaskan larik-larikmu. Sekarang aku tahu pola hidup kakakku. Tapi tetap, tak akan pernah ku tunjukkan wajahku. Pertanyaanlah yang menggerakkan tanganku untuk menulis paragraf ini. Begitu ingin aku memahamimu lebih dalam, mengapa hanya 16 lembar yang kau tulis? Kini kau tahu keberadaan kami, kenapa tak membuka identitas saja pada Bapak dan Ibu? Maafkan aku telah buruk sangka padamu. Aku tahu kau hanya mengambil barang milikmu sendiri. Tapi aku masih belum mengerti, kenapa kau juga mengambil perhiasan istriku?”

“Bukan apa-apa, tapi itu perhiasan turun temurun dari keluarga istriku. Kalau kakak memang membutuhkannya, ku beri berapa pun yang kau butuhkan. Tapi tak ku pahami kalimat di lembar ke-8 mu, ‘Ku harap bisa ku tahan rasa sakit ini, hingga ku dapat penawar untuk memperpanjang hidupku, supaya lebih lama aku bersama mereka.’ Apa maksud kalimatmu itu? Aku rindu padamu, Kak. Alangkah bahagianya aku jika kau membalasnya. Berikanlah bukumu pada polisi yang ada. Akan ku jemput balasanmu. Salam rindu.”

Panji hanya terdiam. Diletakkan buku itu di sampingnya. Dipalingkan pandangannya dari buku itu, seakan tak tertarik lagi untuk menyentuhnya. Namun, ia berubah pikiran. Ia mengambil buku itu dan mulai menulis. Setelah menulis, ia memberikan pada polisi buku yang baru saja ia tulis untuk adik semata wayangnya, yang ia tuliskan di halaman terakhir bukunya. “Aku bahagia, kini kau yang memulainya. Akan ku jawab pertanyaanmu.”

“Sebenarnya, itu bukan 16 lembar, tapi 17. Kau mungkin tak menyadari bahwa cover buku ini juga menunjukkan isi hatiku, “Please give me a hug!” Memang ku buat genap menjadi 17 lembar. Kau taju angka 17? 17 adalah angka seseorang dikatakan beranjak dewasa. Dengan kalimat-kalimatku dalam 17 lembar ini, ku tunjukkan pada dunia bahwa aku bukanlah anak kecil lagi yang tak tahu apa-apa, yang polos pikirannya. Aku bukanlah seseorang yang tak tahu diuntung seperti dulu lagi. Kini kebenaran dan kebijakan yang ku tahu. Tapi manusia tak akan luput dari kesalahan. Maaf tak membalas semua.”

Hari demi hari telah berlalu. Dari sela-sela kokohnya jeruji besi, Panji melihat 2 orang yang sangat dekat dengannya. Alex dan Deni akhirnya muncul di hadapannya. Mereka menghampiri Panji dan melepas kerinduan di antara mereka. Polisi membuka sel tahanan dan mengizinkan mereka melepas rindu. Banyak percakapan penuh ekpresif oleh Alex dan Deni. Meski wajah Panji pucat, tapi ia bahagia karena teman-temannya.

Banyak waktu yang mereka habiskan untuk itu. Namun, seorang polisi menghampiri mereka dan memberitahu bahwa waktu telah habis. Anehnya, bukan Panji yang dimasukkan kembali. Borgol mengikat kedua tangan Alex serta Deni. Mereka dibawa ke dalam jeruji besi yang sama. Panji hanya terpaku dengan kejadian tak terduga itu. Sebelum mereka masuk dalam sel tahanan, Alex berbisik, “Aku dan Denilah yang mengambil perhiasan istri Adikmu.”

Tiba-tiba, bapak, ibu, adik Panji serta istrinya, menghampiri Panji. Dipeluknya erat badan Panji oleh ibu dan bapaknya. Berkali-kali tetesan air mata menetesi punggungnya. Namun kondisi Panji tak lagi baik. Ia terdiam lemas saat di pelukan ibunya. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas, tangannya pun dingin. Seketika orang-orang di sana berteriak atas kejadian itu, tak terkecuali Alex dan Deni dalam sel. Segera Panji dilarikan ke rumah sakit. Namun, mungkin Tuhan lebih menyayanginya. Dengan mukena sutera buah tangan dari anak sulungnya, ibu Panji mengaji untuk Panji. Dalam haru, adik Panji mengaji di samping Panji yang tak bernyawa itu. Begitu ia sadar akan sesuatu, ia menghentikan aktivitasnya dan memandang kosong wajah Panji. “Inikah jawabanmu atas pertanyaan keempatku?” tanya adik Panji dalam hati.

Dalam sunyinya kursi kunjungan dalam kantor polisi, tergeletak buku dairy Panji yang kerap digunakannya. Angin terhembus membuka lembaran-lembaran bukunya. Hingga terbuka sebuah halaman dengan font beformat italic dan bertinta merah. “Aku sudah membaca semua perasaanmu, Nak. Lembaran-lembaranmu semakin membuatku dan Bapakmu rindu kepadamu. Sejatinya, kau adalah orang yang baik.”

“Kau mengambil 999 tindakan mulia di bawah 1 keburukanmu. Sekarang, kami menemukan titik terang namamu, “Panji” yang dalam bahasa Jawa berarti yang diberi kelebihan. Inilah kelebihanmu, tak mampu membiarkan orang-orang di sekitarmu menderita. Tapi, kami khawatir dengan lembar ke-8 mu. Tapi kami juga tahu, kau adalah sosok yang tegar. Salam rindu, Ibu dan Bapakmu.”

Cerpen Karangan: Cy’inge Wifqi
Facebook: Cy’inge Wifqi

Cerpen 17 Lembar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gaun Terakhir

Oleh:
Matahari telah kembali ke peraduan, malam telah tiba. Pemandangan yang indah di meja makan telah menggoda selera. Waktu berkumpulnya satu keluarga kecil untuk makan malam. Disela-sela waktu makan, Hikma

Sister

Oleh:
“Hahaha…” tawa seseorang terbahak-bahak dari ruang tengah “woiiii! Berisik” teriakku kesal melihat tingkah kakakku yang sangat menggangguku belajar “hahaha!!!” tawanya malah semakin mengeras, huuh… gimana bisa konsen kalau begini

Selamat Tinggal Kakak

Oleh:
Ali adalah seorang anak tunggal yang hidupnya dipenuhi dengan kesendirian. Ayahnya tewas sejak Ali berumur 6 tahun, saat itu Ayah Ali menjadi korban tabrak lari. Sekarang Ali hanya ditemani

Berbeda

Oleh:
“Papa, aku mau dibelikan piano seperti milik Wanda, kemarin papanya membelikan piano yang sangat besar untuknya!” kataku. “Vanda, kamu tak boleh begitu, Wanda kan saudara kembarmu, iri kepada saudara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *