22 Desember

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 April 2018

Mentari telah menerbitkan cahaya dari balik jendela kaca rumahku pagi di tanggal 22 desember 2015 itu menandakan betapa indahnya pagi dihari ibu ini, kudengar dari balik pintu kamarku ada suara, iya jelasnya itu suara ibuku, dia membangunkanku dengan nada yang pelan dan lembut sekali, aku beranjak dari kamar tidurku dan menghampiri ibuku, kutanyakan,”ibu apakah ibu sudah di buatkan bubur?”
Lalu ibuku menjawab dengan pelannya “belum”
“kamu kedapur sana dan buatkan ibu bubur ibu sudah lapar”

Kebetulan hari itu hari libur lalu aku cepat bergegas menuju dapur dan membuatkan ibuku bubur serta memasak air panas untuk ibuku mandi nantinya.

Sekian lama aku masak bubur akhirnya bubur menampakkan kematangan, langsung secepatnya aku mengambil piring untuk menuangkan beberapa sendok bubur ke piring ibuku, tak lupa air putih yang mendampinginya.

Semasa ibuku makan, aku bergegas menyiapkan air yang sudah kumasak tadi, kusiapkan sampai hangat kuku, selesainya ibuku makan lalu aku menggendong ibuku menuju kamar mandi serta memandikanya, disaat memandikanya aku merasa sedih, sambil kupertanyaakan dalam hatiku ‘tuhan kenapa cobaan seberat ini engkau berikan pada ibuku’,

Setelah semua selsai dan rapi aku pun menggendong kembali ibuku menuju kamar tidur, jika selesai mandi seperti ini aku tak pernah langsung meninggalkanya sendiri, aku selalu membiasakan diri untuk memijat tangan dan kakinya sampai dia merasa mengantuk dan tetidur, di tidurnya kutatap matanya, sunggguh teririsnya hatiku, orang yang aku sayangi selama ini ia yang selalu memberikanku segalanya yang aku inginkan, dan tak jarang dia kumarahi saat masakan yang ia buat tak sesuai seleraku, kini dia tepat berada di hadapanku dengan keadaan lemah tak berdaya.

Kini mentari yang tadinya berseri besinar perlahan laham hilang ditelan terbenamnya sunset menandakan sore telah tiba, aku mendengar jeritan keras dan tangisan hebat, iya itu ibuku, aku langsung berlari menuju ruangan tengah, kupeluk ibuku dan dia membalas pelukanku dan sesekali menghentakan pelukanku karena kesakitan, dia menangis dan aku yang tak tega melihatnya, pelan pelan air mataku terjatuh, aku menangis seakan ikut merasakan kesakitan yang dirasakan ibuku. Aku menangis sambil berkata “mohon ibu tenang ibu sabar semua pasti akan ada jalannya ibu tahan ya bu”

Selama 2 tahun ibuku menginap penyakit kanker payudara tepat pada pukul 7:00 tanggal 22 desember 2015 di hari ibu, ibuku menghebuskan nafas terakhirnya di pangkuan bapakku, aku menangis sambil memegang kaki ibuku di benaku berkata ‘tuhan kenapa engkau mengambil dia begitu saja, tuhan bukan kah engkau tau segala dosa yang belum sempat kutebus kepada ibuku, bukankah engkau tau hari ini hari ibu dan sama sekali belum terucap kata kata selamat di bibirku untuk ibuku’, kini ia telah pergi meninggalkan kami semua

Cerpen Karangan: Komang Susan
Facebook: Komang Susan

Cerpen 22 Desember merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Kabut

Oleh:
Sudah tiga hari Ari tinggal di kampung halamannya sejak kepergiannya ke kota tempat ia menekuni ilmu. Baru kali ini Ari pernah pulang ke tempat kelahirannya setelah setahun ia berada

Sophia

Oleh:
“aku tidak mau menanggung malu ini sendiri. kau juga harus merasakannya” ucap Laras membelakangi Endra. Hening tanpa ada sahutan dari Endra. “kau besarkan bayi ini. Pastikan dia tetap bersamamu

Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

Sayap Yang Tak Seimbang

Oleh:
Tuhan telah memiliki takdir yang berbeda kepada hamba-Nya. Tuhan telah menciptakan sepasang sayap yang kembar yang lahir dari rahim ibu yang sama. Seperti halnya aku dan Angga. Serupa tapi

Sajadah Milik Nenek

Oleh:
“Karina! Bangun nak, sudah jam 4 sore, ayo mandi dan shalat Ashar dulu!” Mama membangunkanku. “Hoamm… Mama aku masih ngantuk!” jawabku. “Ayo Karina!” kata mama. “Iya Maaa” kataku. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *