25 November

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 July 2016

Sore ini kembali aku rasakan sakitnya. Lukanya terlalu dalam. Malam nanti, bersama gerimis aku akan pergi tinggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan di sini. Aku rapuh jika tak segera pergi. Besarnya cinta ini selalu hadirkan luka. Dulu aku juga pernah mengalami luka ini, hanya saja tak separah hari ini.

ABIVANIA WIBOWO itu aku. Vanya, panggilanku. 25 Desember 2006. Aku menikah dengan suamiku, NEVAN WIBOWO. Ya, memang tepat pada hari natal, sehari ssebelum tsunami di Banda Aceh terjadi. Nevan termasuk suami yang senang membantu istri, terbukti ketika kesibukanku di kantor menjadikan aku kelelahan hingga tak sempat untuk membuat sarapan pagi. Dia akan dengan senang hati melakukannya untukku. Lalu aku akan dengan terkejut bangun dari tidurku dan segera minta maaf.

6 tahun aku mejalani pernikahan ini, mulailah terlihat beberapa masalah. Sering sekali aku dibuatnya cemburu oleh rekan-rekan bisnis wanitanya. Nevan begitu supel, hingga tak sedikit yang mengenal dan akrab dengannya. Meski anak kami sudah berumur 4 tahun, namun tetap saja aku selalu khawatir, suatu saat nanti Nevan meninggalkan aku. Hingga pada suatu malam saat Raya, anak kami tertidur, seperti biasa aku mengajaknya berbincang sebentar.
“Ayah…”. ucapku memulai percakapan malam ini.
“Ya Bunda…”.
“Aku mau ngasi tahu sesuatu… tapi…” aku berhenti sejenak memastikan ia masih memperhatikan keluh kesahku atau tidak.
“Tapi kenapa bunda…?” tanyanya.
“Tapi Ayah jangan geer ya yaah..!!” ucapku benar-benar polos. Dia tertawa.
“Maksud Bunda apa… Bunda cerita aja… Ayah gak mungkin Geer kok..” jawabnya smbil menyentil hidungku, lantas menjulurkan jari kelingkingnya ke arahku. Aku menyambutnya.
“Aaa…aku cem..buru..” aku langsung membenamkan wajahku pada bantalan kursi di sofa tempat kami biasa nonton TV. Aku menduga pasti Nevan tertawa. Ternyata aku salah, dia hanya tersenyum dan menyingkirkan bantalan itu dari wajahku yang saat itu sudah bersemu merah.
“Bunda sayaang… aku senaaang sekali jika bunda cemburu.. karena itu menjadi bukti bahwa bunda mencintai aku…” Aku rasakan wajahku semakin memerah. “tapi bunda tak perlu cemburu berlebihan, aku disini… di dekat bunda… dan memang tercipta untuk bunda…”, lanjutnya sembari tersenyum menatpku.
“Ayah sendiri… apakah…”
“Kalau ayah nggak cinta mana mungkin hari ini ada Raya…” Padahal aku belum menyelesaikan ucapanku, namun Nevan seperti sudah bisa menerkanya.
“ah Ayaaaah…” rengekku sambil melempar bantalan kursi. Kami pun tertawa.

24 November 2012 Bersama Nevan dan Raya aku menyiapkan sarapan pagi ini. Hari minggu pagi, hari dimana kami bisa benar-benar meluangkan waktu bersama. Begitu acara sarapan pagi selesai, kami menemani Raya umtuk bermain bersama teman sebayanya, di taman dekat kompleks kami.
“Bunda…”, Nevan memanggilku. Aku hanya menoleh. Aku tak bisa tersenyum. Ini terjadi setelah Nevan mengatakan bahwa esok ia harus segera berangkat ke Kuala Lumpur untuk bisnis lanjutannya. “Bunda sayang… jangan cemberut gitu dong… Ayah kesana untuk bunda dan untuk Raya… bukan untuk yang lainnya…”. Nevan menggenggam tanganku erat sekali. Aku belum bisa tersenyum untuknya. Aku malah bekaca-kaca. Kulihat Raya masih sibuk dengan permainannnya. “Kita pulang yuuk…” Nevan mengajakku pulang setelah menitipkan Raya pada Ibu pembimbing playgroupnya. Aku hanya menurut saja.

Begitu sampai di rumah, tak kuasa lagi aku menahan luapan tangisku, Nevan memelukku erat. “Ayah, bunda ikut yaa…” rengekku manja.
“kalau bunda ikut… Raya di sini bersama siapa.. kantor bunda gimana… Bunda di rumah saja ya?”
“tapi… bunda seperti punya firasat buruk…” ucapku masih dengan menangis tersedu-sedu. Semakin aku erat memeluk Nevan. Entah firasat apa ini, aku juga tidak begitu tahu. Yang jelas aku tidak ingin Nevan tetap pergi.
“besok… begitu sampai di sana, aku akan langsung menghubungi bunda. Bunda jangan nangis yaa, sebentar lagi Raya datang, kalau sampe dia melihat bunda nangis gimana..?”, ucapnya seraya melepas pelukannya untuk mengusap air mata di wajahku. Aku mencoba tersenyum. Ia mengecup keningku.

Bersama Raya dan adik bungsuku, aku mengantar Nevan ke bandara. Tak biasanya Raya menangis sekeras ini, hingga aku hampir saja terjatuh karena menahannya meronta-ronta. Untungnya ada Ilham, adik bungsuku yang akhirnya mengajak Raya bermain-main di sekitar bandara. Aku masih tetap bersama Nevan. Erat sekali aku menggenggam tangannya. 15 menit lagi pesawat yang menuju Kuala Lumpur akan di berangkatkan. Namun untukku terasa hanya satu menit saja. Nevan dan teman-temannya melambaikan tengan bersama. Ilham mengajakku pergi sebelum pesawat itu take off, karena itu pesan Nevan untuknya. Baru saja sampai di pintu keluar, tiba-tiba jari manis di tangan kiriku teresa sakit sekali. Aku baru ingat, aku pernah merasakan sakit yang sama ketika Nevan hendak berangkat ke Sidney juga untuk hal yang sama. Namun kali ini sakitnya begitu ngilu aku rasakan. Hingga tas jinjing yang aku bawa, terjatuh. Ilham yang waktu itu menggendong Raya, bergegas membantuku.
Belum selesai aku dan Ilham membereskan barang-barang yang tumpah dari tas jinjingku. Tiba-tiba…

BLAAAAARRRR…!!!

Terdengar suara ledeakan yang sangat memekakkan telinga. Pengunjung berlari berhamburan. Sayup-sayup aku mendengar teriakan seseorang… “Pesawat yang baru saja akan take off itu meledak…” Mendengar itu, tanpa memperdulikan yang lainnya aku berlari…
“AAAYYYAAAAAAAAAH…” Tampak jelas di sana kobaran api yang menjilat-jilat langit mendung hari ini. “tooolooooong… tolong selamatkan suamiku…!!!” Aku berteriak sambil meronta. Dua orang petugas menahanku untuk tidak menghampiri tempat kejadian. Sempat aku lihat Ilham menenangkan Raya yang juga meronta karena ketakutan. Ilham menghampiriku dan Raya masih sesenggukan dalam gendongannya. Aku sudah lemas, tak kuasa membayangkan mengapa semua ini terjadi begitu saja.

Menurut para polisi yang menyelidiki kejadian ini, ledakan pesawat terjadi karena seseorang telah dengan sengaja meletakkan bom di toilet pesawat. Diduga pelaku tidak lain adalah orang suruhan dari PT. ANU yang telah sekian lama menyimpan dendam pada direktur perusahaan tempat Nevan bekerja.

Ayah dan Ibu Nevan datang.. mereka langsung memelukku. “ibu… Nevan buuu…” Beliau hanya mengangguk dalam pelukanku. Ayah menggendong Raya yang mulai tenang. Hari ini 25 November 2012. Nevan benar-benar meninggalkan aku. Tidak hanya aku tapi juga Raya, buah hati kami. Dalam do’a tak henti aku menyebutkan namanya. Aku tak kuasa menahan tangis setiap kali Raya bertanya dengan polosnya..

“Bunda…Ayah kapan pulang..?” Tapi setiap kali itu pula Raya akan mendapat jawaban yang sama dariku.
“mungkin besok sayang..” Lalu aku akan pergi dengan penuh air mata sambil menyerahkan Raya pada Babysiternya. Aku mengambil handphone hendak menghubungi ibu. Ada satu pesan yang sejak tragedi itu terjadi tak pernah aku buka karena aku kira itu hanya dari operator saja. Begitu aku buka aku langsung terduduk lemas..

Bunda sayang… ayah pamit yaa… jagain Raya buah hati kita
25-11-2012

Cerpen Karangan: Novi Hikmah
Facebook: novihikmah{-at-]yahoo.co.id

Cerpen 25 November merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Desperate Like This (Part 1)

Oleh:
Summary: “Kalau aku bisa, aku akan pergi dari sini sekarang.” “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Ada di dekat orang yang kita cintai tapi tak pernah terkenali olehnya. Kita

Don’t Go

Oleh:
Seorang perempuan menggulurkan tangan… “Taksi…!!!” Sebuah taksi berhenti tepat di depan selvi. “Pak Ke Bandara ya…!” “Oke neng…” Taksi itu melaju menembus jalanan kota bandung, yang jalannya lumayan ramai.

Hadiah Terakhir

Oleh:
Sejak aku berumur 8 tahun ayahku meninggal dunia dan sejak saat itu juga aku dibesarkan oleh ibu seorang diri. Namaku Refiska Ayu biasa aku biasa dipanggil Fiska, kata ibuku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *