34 Km

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Keluarga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 February 2016

Sejuk semilir angin menembus tulang rusukku. Ku singkap anak rambut yang menutupi telinga Lani. Ku usap lembut. “Vin, vin…” Ku dengar seseorang memanggilku dari luar pintu.
“Vin, maaf aku langsung masuk saja ku pikir pintunya terbuka pasti kamu di rumah.” Ternyata bukle yang memanggilku tadi. Belum sempat aku bertanya ada apa.
“Bukle pinjam uangmu dulu Vin, si Ibnu butuh mau bayar spp les.” katanya lagi sambil menatapku sayu.
“Berapa Bukle, Vina cuma punya segini udah dibeliin susunya Lani kemarin.” Ku perlihatkan uang 50 ribuan satu dan 20 ribuan. “Haduh ndak cukup Vin, butuhnya 120 ribu. Ya udah Bukle cari pinjaman lain aja.” kemudian bukle berlalu menutup pintu rumahku.

Aku bekerja di sebuah instansi lembaga pendidikan di kotaku. Lani adalah anakku satu-satunya. Suamiku tinggal di luar kota sejak dimutasi karena ada proyek di sana. Aku tinggal bersama orangtua dan anakku di kota pacitan. Tidak heran kalau bukde dan tetanggaku sering datang ke rumah dan meminjam uang, ibuku orang yang sangat baik bila memang ada uang tak segan membantu orang lain meski kadang uang itu tidak dikembalikan.

Setiap hari aku bekerja untuk kebutuhan Lani yang masih berusia 2 bulan. Suamiku terkadang pulang seminggu 2 kali. Maklum perjalanan pacitan Surabaya cukup jauh jika ditempuh hanya dengan sepeda motor. Sedangkan aku melaju perjalanan 34 km ku dari rumah sampai tempat kerja setiap hari kecuali hari libur aku menjaga Lani di rumah dengan ibu dan ayah. Ayahku sudah tidak bekerja semenjak Lani ada. Hari ini senin dan aku bersiap menuju kantor tiba-tiba telepon rumah berdering.

“Kring…”
“Assalamualaikum, ini siapa ya?” ku dengar ibu mengangkat telepon di ruang tengah.
“Oh ya.. ada. Oh gitu. Nanti saya sampaikan ya.”
“Iya walaikumsalam.” Ibu menutup telepon dan menghampiriku.
“Siapa Bu?” tanyaku sambil berkemas ke kantor.
“Argo itu Vin, mau nebeng bareng kamu.”
“Loh Bu, terus Ibu bilang iya gitu?”
“Iya Vin, kasihan katanya motornya lagi di bengkel.” ibu berlalu dan menggendong Lani ke teras.

Aku berpikir keras kenapa Argo selalu cari waktu untuk mengambil hati ibu. Argo adalah laki-laki yang dijodohkan ibu denganku tapi aku lebih memilih Mas Rio, suamiku. Hingga aku menikah dengan Mas Rio, ibu tetap saja melebih-lebihkan sosok Argo. “Sayang, Ibu berangkat kerja dulu ya.” ku kecup kening Lani yang menatapku dan tersenyum. Meskipun Lani masih bayi dan sering waktu aku tidak ada untuknya tapi aku tahu dia mengerti aku sangat menyayanginya.

“Hmm..” gumamku saat Argo tengah menyetopku di pertigaan jalan.
“Vin, Ibumu sudah bilang kan aku nebeng hari ini?” Katanya slengekan.
“Iya. Ya udah naik,”
“Aku aja yang di depan kan aku cowok masa diboncengin cewek.” Kita pindah posisi, Argo memboncengku.

Hari itu berlalu begitu saja. Esoknya Mas Rio pulang ke Pacitan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika Mas Rio pulang, aku bisa menikmati secangkir kopi susu bersamanya di balkon kamar. “Kalau Mas ingat, kapan ya terakhir kita ngopi bareng seperti ini?”
“Mungkin bulan lalu, yang pasti itu sudah lama sekali sayang.” tuturnya sambil tersenyum.
“Iya Mas. Oh ya tadi Argo berangkat kerja bareng aku Mas, maaf Mas aku baru bilang sekarang.” Segera ku ucap maaf pada suamiku, aku salah tidak izin pada suamiku ketika bertemu Argo.
“Iya, itu bukan yang pertama kali kan Argo coba mendekati kamu.” Katanya lagi dengan menyentil hidungku.
“Maaf Mas, kalau bukan karena Ibu mengiyakan aku juga tidak mau.”
“Iya sayang Mas ngerti. Lani sudah tidur ya?” Mas Rio mengalihkan pembicaraan. Kemudian Mas Rio menjemput Lani yang sudah tidur di kamar ibu.

“Sayang, Mas berangkat lagi ya ada meeting mendadak.” ku lihat Mas Rio sudah berpakaian rapi dan bersepatu.
“Ku buatkan kopi dulu Mas,” Aku bangun dari kasur sambil menggendong Lani.
“Ndak usah sayang, biar nanti mas beli di sana selesai meeting.” Mas Rio mengecup keningku dan Lani dan langsung pergi.

Buat aku dan Lani, Mas Rio adalah sosok suami sekaligus ayah yang sangat sayang dan bertanggung jawab meski bukan ayah siaga ketika Lani membutuhkan kasih sayangnya.
“Vin, Rio nanti pulang ke sini ya?” ibu menepuk pundakku pelan dari belakang. “Tidak Bu,”
“Lani, cucu kakung. Gendong kakung ya lihat kucing…” ayahku ke luar dari kamar menuju kami yang sedang berdiri di depan pintu ruang tamu.
“Oh ya, tadi Argo telepon Ibu..”
“Kenapa Bu? nebeng lagi.” aku memotong pembicaraan ibu.
“Bukan, katanya nanti mau mampir sini. Kamu diajak bareng. Katanya untuk rasa terima kasih karena kamu sudah mau ditebengi kemarin.”
“Hmm. Lani sayang Ibu mandi dulu ya.” Aku berlalu meninggalkan ibu. 07.00… Ketika aku ke luar dari kamar dan berkemas ke kantor si Argo sudah di ruang tamu menggendong Lani.

“Hai Vin, sudah siap?” sapa Argo.
“Maaf Go, aku bisa berangkat sendiri.” Ku kecup Lani, berpamitan dengan ayah dan ibu kemudian ku startermotor maticku.
Entahlah mungkin Argo merasa diabaikan, dia mengendarai mobilnya tepat di belakangku. Ku perhatikan di spion dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ku pikir Argo akan menabrakku dari belakang jadi aku berjalan agak ke pinggir. Tiba-tiba Argo mengerem mobilnya tepat di depan motorku.

“Vin, Nitip ini buat Lani dan Ibumu. Tadi aku lupa..”
“Apa ini?” Ku bolak-balik sebuah box yang berukuran medium dibalut kertas kado itu.
“Udah kasih aja nanti. Terima kasih ya.”
“Terima kasih untuk apa?” Argo pergi ke arah selatan 34 km persis dengan arah kantorku karena kantornya juga bersebelahan dengan kantorku. Ku pacu lagi motor maticku sekitar 30 menit. Kemudian ku parkir motor dan…

“Vin, itu ada apa? Banyak orang di seberang jalan ” Alfi rekan kerjaku menunjuk ke arah jalan di mana berkerumun orang-orang. “Aku nggak tahu Fii, coba ke sana yuk.” Aku dan Alfi berjalan menyeberangi zebra cross menuju kemurunan orang tadi dan menyeruak di antara orang-orang panik itu. Ku ingat lagi Argo yang mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil sedan Hitam dengan plat nomor yang sama kini di depanku dengan bumper yang penyok, keping kaca di mana-mana. Tapi aku tidak melihat Argo. “Di mana dia, lalu untuk apa dia memberiku box medium tadi?” aku berdiam diri.

Tiba-tiba saja aku sudah berada di kantor. Ku tanya Alfi, “Sejak kapan kita di sini?”
“Loh, kan tadi setelah melihat kecelakaan di seberang jalan, kita balik lagi ke sini Vin. Aku panggil-panggil kamu diem aja ya udah aku tarik aja tanganmu dan kita di sini deh.” panjang lebar Alfi menjelaskan kejadian tadi.

Lalu, aku teringat dengan box medium berbalut kertas kado tadi dan aku segera membukanya. Ternyata di dalam box tadi ada sebuah Buku dongeng untuk anak-anak dan selembar kertas bertuliskan, “Bu Indah terima kasih telah memberi jalan untuk saya menyayangi Vina dan Lani. Saya sadar saya tidak berhak atas mereka, Riolah yang bisa membahagiakan Vina dan Lani. Mulai hari ini saya akan berhenti mengejar Vina.”

Cerpen Karangan: Nofita RS
Blog: nofitars.blogspot.com

Cerpen 34 Km merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jadilah Masa laluku, Selamanya

Oleh:
Sekarang aku ingin menghapusnya, menghapusnya dari hidupku, menghapusnya dari fikiranku, dan tentu saja aku ingin menghapusnya dari hatiku, namun itu bukanlah hal yang mudah. Jika tiba saatnya aku telah

Move On

Oleh:
Malam yang sunyi menemani lamunan seorang gadis yang bernama Husna. Sembari di temani lagu-lagu galau air matanya terus bercucuran seakan tak terbendung lagi. “Ya Allah, apakah aku harus ungkapkan

Hana Si Arwah Cantik

Oleh:
Yuka Abadi merupakan seorang mahasiswa seni rupa di salah satu universitas negeri di Jogja. Dari segi penampilan aja emang udah keliatan banget kok, kalo dia tuh anak jurusan seni

Belenggu Dendam

Oleh:
Namaku Elena, usiaku sekarang 24 tahun. Seminggu lalu aku baru saja diwisuda akademi farmasi Indonesia. Aku pikir setelah aku selesai sarjana dan hidup bebas tanpa bergantung pada orang lain

Saranghae Appa (Part 2)

Oleh:
“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *