60 Minutes

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 25 October 2015

“Lia, bangun! Jam berapa ini? Kau ini loh anak perempuan. Jam segini belum bangun juga. Bangun!” omelan Ibuku selalu menjadi sarapan setiap hari. Bahkan aku hafal kalimat apa saja yang diucapkannya.
“Yaa.” sahutku dengan malas.
“Jam berapa ini? Mataharinya saja belum ke luar. Masa iya aku harus duluin. Kan kasihan.” batinku dalam hati.

Tapi mau tak mau, sepagi ini aku harus sudah bangun. Aku sebagai anak perempuan satu-satunya harus membantu Ibuku mengerjakan semua hal sebelum sekolah jam setengah 7 nanti. Meski menurutku semua yang ku lakukan selalu saja salah di mata mereka. Buktinya setiap hari selalu adaaaa saja hal yang membuatku harus mendengarkan omelan tak jelas mereka. Malah kadangkala pukulan mampir di tubuhku. Dan itu sudah sangat biasa bagiku. Aku pun segera mandi dan melakukan sesuatu yang sepantasnya dilakukan orang normal setelah mandi. Lalu aku segera bergegas ke luar dan membantu Ibuku. Aku tak ingin lagi telingaku panas karena omelan Ibuku.

6.00 am Semua beres. Dan sekarang aku harus segera bersiap untuk berangkat sekolah. Untungnya sekolahku hanya berjarak 2 km dari rumah. Jadi aku tidak begitu terburu-buru. Selang 5 menit aku sampai di sekolah, bel berbunyi, tanda agar otakku bersiap menerima semua yang akan ku jejalkan padanya. Pelajaran berjalan seperti biasa. Dan tak ada yang istimewa. Selalu begitu. Tapi hari ini sedikit berbeda, ada temanku yang kecelakaan dan akhirnya kami sekelas harus menjenguknya.

Karena jarak rumah sakit dan sekolah cukup jauh, jadi kami harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Dan setelah sampai, kita menjenguk secepat mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul 3.00 pm. Perjalanan satu jam, ditambah seperempat jam untuk sampai di rumah membuat bagian tubuhku terkena pukulan (lagi). Karena batas pulang jam 4.00 pm. Dan aku sampai di rumah jam 4.15 pm.

Bayangkan! Hanya telat 15 menit saja pukulan mendarat di tubuhku, bagaimana jika sampai 1 jam? Ah, membayangkannya saja begidik. Setelah selesai, aku masuk kamar dan hanya bisa menangis. Ya, selalu begini. Menangis saat sudah sendirian. Di kamarku. Tanpa ada yang mengucapkan kalimat “Sabar” pun. Inilah aku. Gadis 17 tahun yang mempunyai keluarga tapi merasa sendiri. Merasa semua yang ku lakukan selalu salah. Menyebalkan bukan? Ah hidup macam apa ini!

12.05 am Tubuhku masih sakit. Begitu pun dengan hatiku. Mataku masih sembap. Membuatku sama sekali tak bisa sekedar memejamkan mata. Aku pun berdiri dekat jendela. Berteman langit malam yang muram dan gerimis yang tak henti-henti membasahi bumi. Lagu Given Up dari Linkin Park mengalun indah (walau pun keras) di headsetku. Ya, lagu yang ku dengarkan sama dengan diriku saat ini. Aku telah menyerah. Tapi sebenarnya aku masih ingin hidup. Tapi bukan yang seperti ini. Hidup yang normal. Penuh kehangatan keluarga. Tanpa pukulan setiap harinya. “Ah, hanya khayalan belaka,” pikirku.

4.00 am Aku belum tidur. Tidak bahkan. Tetap pada posisiku, hanya saja aku kini duduk di jendela kamarku. Aku masih terus berpikir. Bagaimana terlepas dari semua ini. Aku lelah. Aku ingin disayangi. Tanpa ku sadari, air mata mengalir. Mengingat semua yang terjadi saat aku masih kecil dulu. Disayang. Dibanggakan. Apakah saat ini aku tak bisa dibanggakan? Setiap UAS rangking satu selalu kudapatkan. Setiap hari ku bantu orangtuaku. Apalagi? Tiba-tiba terlintas di benakku untuk pergi sebentar. Untuk menyadarkan orangtuaku bahwa aku ada. Dan mereka akan menyadari aku ada sebelumnya saat aku tak ada.

“Ya! Aku mungkin perlu kabur sehari saja. Toh besok tanggal merah, dan selanjutnya hari minggu,” batinku.
Tekadku sudah bulat. Aku mengemasi barangku. Hanya 2 stel baju saja. Mukena. Dan uang celenganku. Ku tinggalkan surat. Entah mereka marah atau khawatir saat membacanya aku tak tahu. Yang penting tekadku sudah bulat. Aku akan kembali hari senin dini hari setelah hatiku tenang.

5.00 am Setelah salat subuh, aku bergegas ke luar lewat jendela. Pintu kamarku ku biarkan tertutup agar dikira aku masih tidur. Aku memanjat pagar. Lalu pergi ke alun-alun jogja selatan. Aku duduk di bangku kecil. Membuka kotak makan berisi roti isi cokelat. Berniat memakannya. Tapi saat akan memakannya, ada seorang pria, kira-kira usianya 2 tahun di atasku. Duduk tak berdosa di sampingku. Memang ini tempat umum, tapi bukankah masih ada bahkan banyak bangku yang kosong. Dan yang membuatku lebih geram lagi, dia bahkan tanpa permisi saat tanpa dosa duduk di sebelahku. Dia malah asyik dengan gadgetnya. Game sepertinya. Dan parahnya lagi dia dengan tenang mendengarkan lagu di headsetnya. Memang terlihat keren. Ditambah lagi wajah tampannya dan style bajunya yang modis. Tapi itu semua tak menyurutkan niatku untuk mengungkapkan ketidaknyamananku. Akhirnya aku memulai pembicaraan dengannya.

“Mas,” panggilku.
Dia masih diam.
“Mas, bisa dengar saya?”
Masih diam saja. “Sial. Tulikah orang ini?” batinku geram.
Akhirnya dengan sedikit keberanianku aku menepuk pundaknya. Dia pun melepas headsetnya dan menoleh ke arahku. Benar dugaanku, sangat tampan. Tapi itu tak berpengaruh. Aku tetap geram.

“Ya ada apa?” katanya.
“Mas bisa duduk di tempat lain? Bukankah masih banyak yang kosong?” kataku dengan senyuman manis yang sama sekali tak ikhlas ku keluarkan.
“Iya. Memang. Lalu?” jawabnya dengan tanpa rasa bersalah.
“Ya. Saya keberatan jika mas duduk di samping saya. Bisakah mas pindah?” jawabku geram.
“Saya setiap hari ke sini dan selalu duduk di sini. Dan selama hampir satu tahun, tidak ada yang merasa terganggu saat saya duduk di sini,” ucapnya kalem dengan senyum manisnya.

“Mas, tapi hari ini saya lebih dahulu duduk di sini. Dan saya merasa terganggu” Ucapku menjelaskan sekali lagi.
“Jika saya tidak keberatan duduk dengan kamu, bagaimana?” katanya tanpa dosa. Dan tetap, tersenyum.
“ah sudahlah, daripada pagiku bermasalah, lebih aku pergi dan duduk di tempat lain menikmati indahnya matahari yang masih akan bersinar di cakrawala,” batinku.
Aku pun beranjak pergi dengan hati panas. Di hari Pertama saja sudah seperti ini. Bagaimana besok? Menyebalkan! Ketika aku mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Dia. Siapa lagi jika bukan dia. Si perusak itu.

“Lepaskan,” sergahku.
“Temani aku. Duduklah di sini. Aku minta waktumu 60 menit saja. Jika kau minta bayaran, akan ku bayar berapa pun,” ucapnya pelan.
“Apa-apaan. Mas, saya sudah baik hati meninggalkan bangku untuk mas. Dan sekarang? Mas masih saja akan mengganggu pagiku. Lepaskan tanganku,” jawabku dengan nada marah.
“Hanya 60 menit. Apapun imbalannya. Tolonglah. Aku tak akan melakukan apapun padamu. Janji,” pintanya memelas.
“Jika dengan satu jam di sini saja aku meminta apapun akan diberi, mengapa aku harus pergi ke sana? Toh aku tak jelas akan ke mana,” batinku.
“Ya baiklah,” jawabku sekenanya.

6.00 am Dia melepaskan tanganku dan aku pun duduk di tempatku yang sempat ku tinggalkan beberapa menit tadi.
“Jimmy, panggil saja jim,” ucapnya memperkenalkan diri. Tak lupa tangannya diulurkan.
“Chalia, lia saja,” jawabku secuek mungkin.

Ku akui saat itu benar-benar konyol. Duduk di satu bangku sedangkan bangku lainnya kosong tanpa penghuni. Tanpa berbicara. Malah asyik sendiri dengan aktivitas masing-masing.
Aku pun membuka kotak makan dengan isi roti buatanku dini hari tadi. Mengeluarkan isinya satu, dan mulai menggigitnya. Dan sialnya dia memperhatikanku, dan tak lama kemudian tawa renyahnya memecah kesunyian kami berdua sedari tadi.
“Usiamu berapa, masih saja seperti anak kecil. Membawa bekal makan dalam kotak,” ucapnya disertai tawa setelahnya.
“Memang apa urusannya denganmu? Toh ini buatanku sendiri. Dan tempat makanku juga tidak kekanak-kanakan. Apa yang salah?” jawabku sebal.
“Tidak salah. Hanya saja kau mengingatkan Adikku yang yang jika masih hidup mungkin dia seusiamu. Dia selalu ku ejek. Dan aku sangat menyesalinya,” jelasnya panjang lebar.

“Maaf,” kataku sesegera mungkin.
“Tak apa. Dia sudah bahagia di sana,” jawabnya tegar dengan wajah memandang langit.
“Kau mau roti? Aku membuatnya 2 buah. Dan aku masih memakannya satu. Satunya boleh saja kau makan,” tawarku. Dengan senyum mengembang mencoba mencairkan suasana.
“Kau tidak menyesal? Kau sudah kenyang?” jawabnya meyakinkan.
“Jika aku belum kenyang, aku kan bisa minta apa saja padamu. Seperti janjimu padaku,” jawabku enteng.
“Oh ya, benar. Kalau begitu, mana rotinya?” jawabnya senang.
Aku pun memberikan satu rotiku padanya. Dan dia memakannya dengan lahap. Terlihat sekali dia belum makan apapun sedari pagi. Aku terus menatapnya hingga dia menghabiskan roti itu.

“Ada yang salah denganku?” tanyanya.
“Tidak. Emm, kau pasti belum sarapan di rumah?” tanyaku.
“Sarapan? Bahkan aku lupa bagaimana rasanya sarapan dengan keluargaku di rumah. Mereka pergi satu persatu setiap pagi, seolah punya hidup masing-masing di luar sana, dan rumah hanya sebagai peristirahatan saja. Dan aku pun begitu. Bangun pagi, sekolah, makan di sekolah, pulang sore, masuk kamar. Kamarku adalah hidupku. Ku akui keluargaku kaya dalam Segi materi, tapi keluargaku miskin dalam segi kehidupan yang sesungguhnya.”

“Aku bahkan iri dengan keluarga temanku yang hidup pas-pasan tapi setiap hari bisa sarapan, makan malam, menonton TV, dan segalanya dilakukan bersama. Sedangkan aku? Berbicara saja tak pernah. Maka dari itu aku setiap pagi selalu pergi ke sini dan menghabiskan pagiku duduk di sini sebelum sekolah. Dan jika hari libur seperti ini, entah sampai jam berapa aku menghabiskan hariku di sini,” jelasnya panjang lebar tanpa sungkan seolah sedang berbicara dengan orang yang sudah dikenalnya lama.
“Maaf aku membuatmu teringat hal yang mungkin bagimu sangat tidak menyenangkan. Maaf sekali lagi,” ucapku dengan rasa sangat bersalah.
“Tidak, kau tidak bersalah. Aku bahkan sangat senang kau ada di sini. Aku bisa menceritakan semua yang selama ini ku pendam. Entah mengapa aku merasa nyaman menceritakan semuanya padamu,” jawabnya tenang.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya,” jawabku.

“Kau tega melakukannya? Bahkan baru kali ini aku berbicara dengan seseorang kecuali penjual makanan, saat menghabiskan pagi di sini,” katanya memelas.
“Lalu apa yang bisa ku lakukan untukmu?” tanyaku.
“Cukup temani aku selama 60 menit dari sekarang. Kau mau kemana pun akan kuantar. Tolong,” pintanya.
“Baiklah. Kita ke warung itu saja, membeli minum atau apalah itu,” jawabku segera.
“Baiklah,” jawabnya senang.
Kita mulai berjalan menuju warung, membeli 2 gelas coffe goodday hangat. Lalu membawanya kembali ke tempat semula. Dan kembali berbincang ‘ngalor-ngidul’ (kemana-mana). Dia juga menanyakan apa alasanku pergi ke alun-alun sepagi itu.

“Aku ingin kabur. Aku tidak tahan di rumah. Aku selalu salah,” ceritaku padanya.
“Haha. Lia, kau tahu? Aku bahkan sangat ingin orangtuaku memarahiku. Karena bagiku, marah itu perhatian. Mereka marah karena kita melakukan kesalahan, dan mereka ingin kita melakukan yang benar agar menjadi lebih baik. Bahkan jika dipukul sekali pun, aku tetap tersenyum. Itu perhatian yang sangat besat dari orangtua. Kau tak pernah tahu bukan? Tak pernah berpikir bukan? Mungkin saja mereka menangis, menyesal setelah memukulmu. Itu sangat bisa terjadi,” jelasnya panjang lebar sekaligus menasihatiku. Hal yang sama sekali tak pernah terpikir olehku selama ini. Aku hanya terdiam. Menerawang jauh. Aku mulai berpikir jernih. Aku mencerna nasihat Jimmy dengan baik. Aku terdiam. Aku menyesal.

“Pulanglah. Orangtuamu pasti mencarimu,” tawarnya. Tetap dengan senyuman manis.
“Ya. Aku harus pulang. Aku akan minta maaf kepada mereka. Tapi bagaimana denganmu?” tanyaku khawatir.
“Aku? Ini hidupku. Aku sudah menjalaninya beberapa tahun. Aku sudah terbiasa. Aku yakin orangtuaku akan sadar suatu saat nanti. Kau yang harus pulang, Adik kecil,” terangnya sembari mengacak-acak rambutku.
“Kau ini, rambutku kan jadi rusak,” jawabku sebal.
“Nanti ku bawa kau ke salon. Haha,” tawanya renyah.

6.50 am
“Ehm, kalau begitu aku akan pulang. Terima kasih Kakak. Hehe,” pamitku.
“Eh, hutangmu masih 10 menit denganku. Enak saja kau pergi,” cegahnya.
“10 menit? 10 tahun akan ku temani harimu Kakak. Aku berhutang padamu,” jawabku tulus.
“Terima kasih Adik kecil”.
“Iya Kakak. Aku pulang dulu,” pamitku, lagi.
“Ayo ku antar. Kau sekarang Adikku. Kau harus ku jaga,” terangnya.
“Baiklah Kakak,” jawabku.

Aku pun pulang. Diantar dengan motornya. Setelah sampai, dia memberikan kartu namanya yang tertulis nomor handphonenya di kertas itu.
“Kau nanti malam harus mengirimiku pesan. Dan harus setiap hari seperti itu. Agar kau tak kepikiran untuk pergi dari rumah lagi,” nasihatnya. Masih saja dengan mengacak rambutku.
“Iya Kakak. Sampai jumpa besok pagi. Di bangku yang sama. Di jam yang sama. Tapi tujuanku berbeda. Hehe,” janjiku padanya.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Kau harus meminta maaf pada orangtuamu. Harus setelah ini. Bukan nanti,” Nasihatnya lagi.
“Siap Kakak,” jawabku.
“Byee”
“Byee kak,” sahutku sembari melambaikan tanganku.

Aku pun masuk ke rumahku dan segera meminta maaf atas segala kesalahanku pada orangtuaku. Orangtuaku pun sadar terlalu keras padaku selama ini. Air mata kebahagiaan tak tertolong untuk mengalir di pipi. Setelah saat-saat sakral itu, aku pun masuk kamar. Duduk di jendela. Tetap mendengarkan lagu. Tetap Linkin Park. Tapi kali ini berbeda. Lagu The Messenger yang terdengar di telinga. Ya, ini tentang bangkit menjadi lebih baik. Dan menjadikan kasih sayang orang di sekitar sebagai semangat. Aku pun tertarik untuk menulisnya di buku diaryku. Buku bersampul dominan warna putih hitam itu ku buka. Mulai ku tulis pada baris pertama.

“Ya Allah, inikah hikmah yang Kau berikan pada hamba? Pertemuan dengan hambaMu yang lain pagi tadi menjadikan hamba sadar bahwa semua yang hamba lakukan sangat salah. Hamba merasa malu. Hamba kurang bersyukur padaMu ya Allah. Padahal Engkau memberikanku keluarga utuh, yang sangat sayang pada hamba. Jika dibanding dengannya, hamba merasa sangat beruntung kini. Ya Allah, maafkan hamba. Dan terima kasih Engkau mempertemukan hamba dengannya yang telah menyadarkan hamba dari kesalahan hamba.”

Lalu ku buka lembaran selanjutnya. Dan ku tulis pada baris pertama.
“Ya Allah, hamba hanya berharap. Dia, yang telah Engkau pertemukan dengan hamba, yang telah menyadarkan hamba, dapat selalu mengingatkan hamba kedepannya nanti. Di kehidupan hamba beberapa tahun lagi. Hamba hanya bisa memohon kepadaMu ya Allah. Entah bagaimana nantinya, hamba hanya bisa pasrah pada takdir. Aamiin ya Allah.”

Ku tutup diaryku, ku dekap, ku alihkan pandanganku pada langit cerah pagi ini. Secerah kalbuku. Namun ada satu hal yang kuamati sangat teliti, merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Lengkap 7. Ya, pelangi. Warnanya yang bermacam menyejukkan setiap mata yang memandang. Terlebih jika mengamatinya. Subhanallah. Lima menit kupandangi, entah mengapa tiba-tiba ku teringat dia. Kakakku tadi pagi. Ku kirim pesan di nomor yang ada di kartu namanya.

“Rainbow arrived after rain. See to the sky.”
Lia.

Tak lama kemudian balasan smsnya masuk.
Jimmy:
“I saw the rainbow. So beautiful. Like you, my little angel. Thanks for the 60 minutes. I hope you’re my future life. Aamiin.”
Aku tersenyum. Dan tetes air mata membasahi layar handphoneku tepat di nama kontaknya.
Dalam hatiku mengucap. “Aamiin, ya Allah.”

The End

Cerpen Karangan: Chaliafi Aini Robby

Cerpen 60 Minutes merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Anak Borneo

Oleh:
Ruangan itu sudah dipenuhi banyak orang. Dadaku berdegup kencang. Perasaanku bercampur antara cemas dan bahagia. Aku yang mengenakan pakaian terusan bewarna merah dengan corak batik Kalimantan yang indah, berjalan

Ban Sepedaku Keringat Ibuku

Oleh:
WAJAH ITU IBU, ya ibu. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran aku melihatnya, berada di sampingku menggoyang–goyangkan badanku dan memanggil namaku. Kulihat sekilas wajahnya tampak pucat, suaranya lirih seperti menahan

Adik

Oleh:
“kenapa? apakah mama tidak lagi menyayangi Lina? tidak membutuhkan Lina?” isak gadis itu di balik rerumputan. Lina adalah anak tunggal, umurnya 9 tahun. Ya dia anak tunggal hingga hari

Aku Bukan Dia

Oleh:
Mentari bersinar cukup terik siang ini. Seperti biasanya, mereka pulang sekolah dengan berjalan kaki. Iya, mereka, 3 sahabat yang dari lahir selalu bersama, hanya terpisah ketika memasuki SD. Mereka

Dia Adalah Mutiaraku

Oleh:
Langit berselimut awan hitam, tak lama kemudian turunlah hujan dengan derasnya. Vira yang berada di jendela pun mengamati tiap tetes air hujan tak terasa air matanya pun menetes mensyukuri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “60 Minutes”

  1. juni says:

    ceritanya bagus ditambah happy ending
    jadi klop

  2. yonanda says:

    Latar belakang tempatnya menarik, pengambaran suasananya simple. Dua jempol Cerpen lo. Asah lg karya lo Chaliafi Aini Robby

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *