Abah (Ngeles Versi Abah)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Abah adalah seorang pria yang masih berumur 30 tahun. Tubuhnya semakin lama semakin kurus dan mengecil setiap tahunnya bersamaan dengan bertambahnya usia. Kini ia terlihat seperti berumur 40 tahunan bahkan pipinya semakin tirus. Istrinya tak menyangka suaminya akan mengalami pertambahan usia secepat itu. Bahkan di usia suaminya sekarang, abah tak lagi bisa mengurus sesuatu yang berat-berat. Kegiatan sehari-harinya adalah berdagang bakso keliling dan mengurus peternakan ayam miliknya. Hari ini abah berniat untuk pergi ke dokter melakukan pemeriksaan akan penyakitnya. Ia berniat pergi diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya. Namun mata tetaplah dua. Istrinya tidak terlalu bodoh untuk tahu tindakan suaminya yang sudah berpakaian rapi itu.

“Rapi amat abah, mau ke sana?” tanya istrinya.

Abah terdiam sebentar. Berpikir. Jika istrinya tahu jika ia pergi ke rumah sakit maka akan pecah hari yang indah ini. Bisa-bisa mereka berdebat hebat. Maklum.. Yang membuat masalah adalah tingkat ekonomi yang semakin rendah sedangkan ke dokter kan butuh biaya mahal. “Mau ke salon. Potong rambut,” sahutnya kemudian setelah mendapat alasan yang menurutnya tepat. Ambu menatapnya dengan tatapan heran. Sedangkan abah senang karena merasa berhasil menipunya.

“Mau dipotong apanya? Abah kan botak,” ungkap ambu yang langsung membuat abah spontan mengelus kepalanya. Pada kenyataannya, ucapan istrinya itu ada benarnya juga. Niatnya alasan malah mengungkap kebodohan.
“E- maksud abah itu mau lihat orang potong rambut di salon,” abah meralat ucapannya sendiri. Istrinya hanya mengangguk meski masih menatapnya dengan tatapan heran.
“Tapi abah… Ayam kan belum dikasih makan? Ngapain udah mau jalan-jalan segala?” istrinya mengingatkan.
“Abah sih bukan niat jalan-jalan tapi mau ke pasar beli sayur buat ayam,” ucapnya beralasan lagi.

Alasan yang semakin berbeda-beda dan tampak mengada-ada. Mungkin pengaruh penyakitnya yang membuatnya begitu, sehingga fungsi otaknya semakin menurun dan membuatnya kesulitan berpikir. Ambu menatap abah sambil meringis. “Sejak kapan ayam dikasih makan sayur? Abah makin aneh. Ada apa sih abah?” tanya istrinya curiga. Abah berpikir lagi. Ambu sudah hilang kesabaran. “Ya udah terserah abah, tapi jangan lama-lama ya. Jangan ngumbar bau mulut ke mana-mana?” yah, mungkin belum tepat bagi ambu untuk ikut campur masalah suaminya hingga ia memilih bungkam.

Abah mengeluarkan napas dari mulutnya lalu menciumnya dengan penciuman hidungnya yang masih berfungsi dengan baik. “Abah nggak bau mulut kok,” ralatnya.
Ambu tersenyum simpul. “Maksud ambu itu jangan banyak ngobrolnya,” jelas ambu. Abah langsung mengangguk mengerti. Abah membalikkan punggung lalu pergi menjauh. Syukurlah istrinya itu tak curiga lagi. Batinnya. Abah langsung melesat ke rumah sakit sebelum istrinya itu berubah pikiran.

Cerpen Karangan: Sri Ayuni
Facebook: Yuni Kunetiera

Cerpen Abah (Ngeles Versi Abah) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Terbaik

Oleh:
Kedatangan Mbak Rina adalah warna dalam hidupku. Dia adalah kakak perempuanku. Tiada hari kami isi dengan kisah, ceria dan bahagia. Seperti menghiasi anak kucing dan sebagainya adalah hiburan yang

Notes Hitam

Oleh:
‘Orangtua bagiku hanya peduli dengan kesuksesanku, tapi tidak sedikit pun dengan kebahagiaanku. Mereka bersungguh-sungguh menjaga nama baikku, tapi sebenarnya tidak!! Mereka hanya menjaga nama mereka sendiri agar tampak baik

Air Mata Malaikatku

Oleh:
Gemerlap lampu jalan tak membantu langkahnya, terhuyung kesana kemari terbawa angin yang berjaya. Firdaus. Nama seorang mahasiswa fakultas Psikologi di salah satu Universitas Negeri kota Surabaya. Dia bisa menjadi

Maafkan Aku Ayah

Oleh:
Kenyataan itu memang pahit, butuh kesabaran yang besar untuk menghadapinya. Apalagi jika kenyataan itu menyangkut dalam hubungan keluarga, sangat butuh kebesaran hati yang kuat. Selama 17 tahun aku hidup

Rumah Buku Assyahla

Oleh:
Aku diam, duduk di kursi teras belakang. Hmm… Ademnya udara pagi ini. Sayangnya sih, Hari ini Abi nggak libur. Cuma Ummi libur praktek. Namaku Shafa Shabila Maulida Assyarah, panggil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *