Adik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 19 October 2016

Kenalkan, namaku Naura Citralia Azzahra. Aku biasa dipanggil Azzahra. Aku mempunyai adik tiri yang usianya jauh lebih muda dariku dan aku sangat membencinya. Namanya Lidya Fitriani. Aku biasa memanggilnya Fitri. Aku tak pernah menganggapnya sebagai adik. Hari itu, Fitri merengek meminta dibelikan boneka. Padahal, uang sakuku tinggal 50.000. Aku semakin kesal dengan rengekannya.

“Beli saja sendiri! Bukannya kamu punya uang yang baru saja diberi sama kakek?!” Bentakku keras. Orang disekitar mulai memperhatikanku. tapi, aku mengacuhkannya sambil meninggalkan Fitri yang masih saja merengek.
“Tapi, kak, aku pengin boneka itu.” Paksa Fitri.
“Huh! Mengemis sana!” Bentakku lagi.
“Tolong beliin dong, kak.” Rengek Fitri lagi. Tanganku mulai terangkat. PLAK! Sebuah tamparan mendarat telak di pipi adikku. Fitri terkejut bukan main. Ibuku saja tidak pernah menamparnya.
“Sana! Mengadu sama ibu! Dasar anak cengeng! Bisanya cuma minta ini itu!” Aku mendorongnya hingga jatuh ke belakang. Orang orang di sekitar mulai iba. Mereka lantas membantu Fitri berdiri.

“Kamu ini gimana sih? Masa anak nggak salah apa apa disiksa begini?” Tanya seorang ibu yang dari tadi memperhatikanku.
“Loh, suka suka aku lah!” Bentakku kembali sambil menarik keras tangan Fitri. Fitri hanya bisa diam, ia sedikit terisak karena perilaku kasarku padanya tadi.
“Udah! Jangan nangis! Kamu ini udah cengeng! Masih aja minta boneka itu!” Bentakku pada Fitri. Namun, aku tak sadar jika Fitri itu sayang padaku.

“Kakak! Awas!” Teriak Fitri. Aku mengacuhkan teriakannya, berharap adikku itu segera pergi.
Bruk! Kepalaku terbentur terotoar jalan. Ya, lumayan sakit juga.
Orang orang berkerumun disana. Aku penasaran juga ikut kesana.
“FITRI! KAMU KENAPA?! FITRI! BANGUN!” Aku mengguncang guncangkan badan Fitri. Tak terasa, air mataku mulai mengalir. Seorang ibu mencoba memegang denyut nadi Fitri. Namun, Fitri sudah tewas. Tewas dalam kejahatanku padanya. Aku sungguh menyesal.
“Fitri, maafin aku. Maafin kakak, Fitri. Kakak nyesel udah bentak bentak kamu kayak tadi,” isakku. Mata Fitri tetap terpejam. Aku berharap, agar Fitri kembali lagi kepadaku.

Aku berlari ke luar, lergi ketoko boneka. Aku melihat boneka itu masih tergantung disana. Kurelakan uang sakuku habis untuk boneka itu.
“Terima kasih!” Ujarku sambil membawa boneka itu pulang ke rumah. kutaruh boneka imut itu ke samping jasad Fitri yang sudah terbungkus kain kafan.
“Aku tahu kalo aku ini jahat, Fitri. Maklum jika kamu tak mau memaafkanku. Sudah dari awal, aku membencimu. Tapi, sebagai permintaan maafku, tolong terima boneka yang kamu inginkan tadi.” Ujarku. Air mataku kembali menetes.

Aku bersimpuh di sebuah gundukan tanah. Dengan ukiran batu nisan, LIDYA FITRIANI BINTI SASONO MULYADI. Kutaburkan bunga bunga sambil memanjatkan doa.
“Tunggu aku disana ya, dik. Aku sayang sama kamu, adikku.” ujarku sambil beranjak dari sana. Aku tak pernah tahu jika fitri sangat sayang sekali padaku. Pernah sekali, aku minta dibelikan buku menggambar. Dan, fitri lah yang membelikannya untukku. Tapi, aku justru merobek buku itu, lalu membakarnya hingga hangus. Melihat hal itu, Fitri marah. Tapi, dia masih tetap sayang padaku.

Pengorbananmu sungguh besar, Fit. Kamu korbankan nyawamu demi menyelamatkanku dari tabrakan bus itu. Terima kasih, Fitri. Aku akan ingat kamu selamanya.

END

Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Facebook: Lila Azzahra
Namaku qoylila azzahra fitri. Aku biasa disapa lila. Usia ku akan menginjak 14 tahun. Aku ini hobi banget menulis, membaca, sama menggambar. Terutama, membaca cerpen dan novel. Oh ya, dukung aku ya! Supaya novel pertamaku bisa diterbitkan. Kalian mau kan berkenalan denganku? facebook ku Lila Azzahra.

Cerpen Adik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salju Merah

Oleh:
Aku mengintip mereka dari balik jendela tua kamarku. Di bawah hujan salju mereka berbincang. Tampak raut ketegangan di wajah keriput mereka. Pak Ward tampak bersikeras dengan pendapatnya dan Papa

Surat Terakhir Kakak

Oleh:
Malam yang sungguh indah. Banyak bintang bertaburan di langit, angin yang segar, langit yang indah sungguh melengkapi malam ini. Tapi ada yang terasa hilang, sungguh sangat terasa. Yaitu kedua

Penyesalan

Oleh:
Malam itu ketika aku hendak memjamkan mata, terlintas di pikiranku sosok seorang Ayah. Saat itu Ayahku tak lagi seperti dulu yang mampu bekerja untuk membiayai keluarganya. Dia sudah sangat

Mimpi Perpisahan

Oleh:
Suara pintu diketuk membuyarkan lamunanku. “Masuk,” ucapku dari dalam. “Non, di bawah ada orang yang ingin bertemu dengan non,” ucap Bi Minah. Aku mengernyitkan dahiku berpikir siapa yang datang.

Ayah, Maafkanlah Aku

Oleh:
Hari itu merupakan hari yang sangat penting bagiku, sekian tahun lamanya jerih payahku akan terbayar. Bersama teman-teman seangkatanku, itu adalah hari yang paling kami nantikan. Kami akan segera menyandang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *