Air Mata Hasna (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 August 2016

Hening yang bening. Hasna menghela napas dalam. Ditutupnya alquaran setelah sholat tahajut. Sebelum menyimpan di rak buku paling atas, hasna mencium alquran terlebih dahulu. Di luar hujan reda. Sepertiga malam yang indah. Purnama penuh menjelang subuh. Hasna bangkit, lalu melangkah ke arah jendela kamar dan membukanya. Ditatapnya bulan yang indah di atas sana, seraya ia berkata dalam hati “Tuhan, bila engkau memberi satu kesempatan untukku, maka izinkan aku untuk membahagiakan keluargaku, terutama ibuku yang sedang sakit”.
Kemudian, angin sepertiga malam menyapu wajahnya. Menghembus kerudung putihnya, lalu sejenak dipejamnya mata. Mencoba meresapi getaran sepertiga malam yang begitu mendamaikan. Namun kedamaian pecah ketika dari kamar sebelah terdengar suara batuk-batuk. Hasna menahan napas sejenak. Kemudian menghembuskan pelan. Melangkah menuju pintu dan lansung keluar menuju kamar sang ibu. Dilihatnya sang ibu yang sedang batuk darah, membuat hasna shock dan langsung mengambilkan air putih, lalu memberikan ibunya minum dan juga membersihkan lamuan darah yang berserak di lantai.

“Ibu” panggil lembut Hasna.
“Iya hasna, kenapa kamu belum tidur malam-malam gini?”. Sahut ibu.
“Bagaimana hasna bisa tidur bu, ibu sedang sakit dan susah tidur” ucap hasna.
“Tidak hasna, jangan khawatirkan ibu, ibu baik-baik saja”
“Bagaimana tidak khawatir bu, ibu sakit parah. Hasna juga tidak bisa bawa ibu berobat. Hasna janji, bagaimanapun caranya hasna akan bawa ibu berobat” ucap hasna dengan wajah yang sedih.

Tidak lama kemudian, ibunya pun tertidur lagi dengan napas yang sedikit kuat, dan hasna mencium kening ibunya, kemudian ia pergi meninggalkan kamar.

Menjelang subuh hasna membangunkan adiknya nabila dan zidan. Setelah itu mereka melakukan sholat berjemaah. Dengan kedamaian cuaca pagi sekali membuat mereka sangat khusuk melakukan sholat. Spontan angin pagi menyapa mereka dalam kediaman. Hanya terdengar suara ayam jago yang asik berkokok. 10 menit kemudian hasna dan adik-adiknya usai melakukan sholat subuh. Masing-masing mereka juga memulai kegiatan rumah sebelum berangkat ke sekolah nanti. Hasna juga mengerjakan pekerjaan yang mungkin agak berat dilakukan kedua adiknya, seperti memasak dan mencuci pakaian. Sedangkan adiknya hanya menyapu rumah dan mencuci piring. Selang beberapa menit setelah itu, hasna menyiapkan sarapan pagi untuk adik-adiknya dan juga tidak lupa memberi ibunya sarapan.

Pukul 07.00 wib. Hasna pun mulai berangkat ke sekolah bersama kedua adiknya. Mereka berjalan kaki. Walaupun demekian mereka tidak patah semangat untuk pergi ke sekolah, tidak ada keluh kesah yang keluar dari mulut kedua adiknya hasna. Bahkan di sepanjang perjalanan mereka hanya bercerita humor yang membuat mereka tertawa bahak, sampai-sampai mereka pun tidak terasa capek saat berjalan kaki. Di tengah perjalan barulah mereka berpisah. Karena sekolah hasna lebih jauh dari pada adiknya. Tidak begitu jauh sih hanya saja jarak 1 kilo lagi dari sekolah adiknya. Dan ketika di perjalanan ada seorang yang menumpangkan hasna untuk menuju ke sekolahnya, kebetulan saja satu jalur.
“Ayo naik” sahut pak taslim.
“Eehh pak taslim, emang bapak mau kemana?” tanya Hasna.
“Sudah jangan banyak tanya, entar kamu telat atuh neng. Bapak mau ke desa sebrang bayar tagihan sewa rumah”.
“Ohhh begitu yah” ucap hasna dengan suara polosnya.

Di sepanjang perjalanan pak taslim asik bercerita dengan hasna. Bahkan mereka kelihatan akrab. Walaupun sebenarnya tidak begitu akrab. Pak taslim ini adalah orang yang dikenal dengan julukan sunda tok tok. Karena dengan cara bicaranya jelas sekali bahasa sundanya. Padahal pak taslim sudah lama sekali meninggalkan kampung sundanya itu, bahkan sudah mempunya 2 cucu, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki yang baik. Pak taslim juga orang yang disegani warga desa, sebab banyak sekali warga desa yang sudah ditolongnya, dan selain itu pak taslim juga baik, ramah dan suka bercanda saat sudah diajak ngobrol. Itulah karakter pak taslim si sunda tok-tok.

15 menit kemudian…
“Udah sampai atuh neng”. Ucap pak taslim.
“Heheh iya, matur suwon atuh bah”. Balas hasna.
“Wah.. Wah.. Kamu bisa bahasa sunda juga atuh, kalau begitu panggil abah ajah, biar enak kedengarannya. Ya sudah abah mah pergi dulu atuh neng. Assalamualaikum”. Ucap pak taslim tersenyum.
“Iya bah. Waalaikumussalam”. Balas hasna juga.

Setelah sampai di sekolah hasna pun masuk ke dalam kelas, kemudian mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Suasana kelas begitu ribut. Penuh canda dan juga ocehan murid lainya yang membincangkan persoalan tas baru. Saat suasana itu tadi ramai dengan ocehan-ocehan, akan tetapi sekarang suasana kelas pagi hari itu menjadi sangat gaduh. Entah apa sebabnya. Tiba-tiba kegaduhan itu berubah menjadi diam ketika datang seorang guru. Guru itu kebetulan wali kelas. Namanya adalah tati kusuma.
“Selamat pagi anak-anak!”. Sapa guru itu.
“Selamat pagi bu!”.
Setelah diabsen, guru yang disebut bu tati itu bertanya pada murid-muridnya.
“Sebelum saya masuk, ada keributan saya dengar. Apakah ada masalah?”. Tanya ibu guru.
“Tidak buukkk…”. Sahut murid.
“Baiklah…!! Nah ada siapa saja di antara kalian yang belum bayar uang spp. Coba tunjuk tangan”. Perintah bu guru.
“Saya bu”. Sahut hasna pelan.
“Hasna…? Kenapa belum bayar nak?”. Tanya guru.
“Belum ada biaya bu, tapi saya juga akan segera melunasi kok bu. Dari bulan maret sampai juni”. Jawab hasna.
“Ya sudah tidak apa-apa. Ibu kasih kesempatan 2 minggu”.

Tidak lama setelah itu, barulah mereka belajar seperti biasanya. Dan memperhatikan guru yang sedang menerangkan di papan tulis. Yaa ada sih sebagian murid juga tidak memperhatikan. Walaupun begitu, lebih banyaknya murid yang memperhatikan ke depan. Di dalam kelas hasna sangat aktif bertanya dan menjawab. Itu sudah khas dia ketika belajar. Sudah pandai dan tidak pula menyombongkan dirinya. Semua guru yang masuk ke dalam kelasnya juga sudah mengetahui kepandaiannya. Hasna adalah murid terpandai kedua di dalam kelasnya, sedangkan ahmad murid terpandai pertama. Dia adalah seorang anak kepala sekolah. Sudah pandai juga menjadi idola para wanita di sekolah. Sebaliknya juga sama dengan hasna. Mereka berdua saling berlomba-lomba dalam mencapai peringkat satu di kelas. Kadang-kadang hasna yang mendapat peringkat teratas, kadang juga ahmad. Akan tetapi lebih seringnya adalah ahmad yang memegang nilai terbaik satu. Mereka juga termaksud anak yang terkenal berprestasi di sekolah.

Waktu belajar sudah lama. Menujukan pukul 10.15 wib. Kebetulan saja hari jumat. Belajarnya hanya sebentar. Karena bagi laki-laki juga harus bersiap-siap untuk sholat jumat nanti. Pagi itu sungguh panas. Langit begitu cerah dan matahari pun bersinar sangat terik, dedaunan pun ada beberapa bergerak lembut bahkan sampai ada yang berguguran dari dahan, menandakan angin baru saja menghembusnya untuk memberikan teduhan bagi murid sma 2 pinggir. Dan sekarang waktunya murid-murid berpulangan. Kriiinnnggg…

“Hasna tunggu!”. Panggil putri dari belakang.
“Iya put ada apa?”. Jawab hasna menoleh.
“Pulang bareng yuk?”. Ajak putri menggandeng tangan hasna.
“Maaf put, aku harus jualan koran dulu”.
“Hemm emangnya harus sekarang ya?”.
“Iya put, maaf ya. Ibu aku juga sedang sakit. Harus cari biaya berobat”. Jawab hasna dengan raut sedih.
“Aku ikut terharu dengan pengorbanan kamu na. Ya sudah aku duluan ya”.

Hasna hanya bisa membantu ibunya bekerja. Apalagi sekarang keadaan ibu hasna kurang membaik. Semenjak ayahnya meninggal hasna yang menggantikan tulang punggung keluarganya. Karena setelah ayahnya tiada ekonomi keluarganya kurang stabil. Sehingga membuat hasna harus berusaha keras mengumpulkan uang buat biaya makan dan uang sekolah adik-adiknya. Dan berharap mendapatkan rezeki yang lebih, agar hasna bisa bayar uang sekolah yang nunggak, apalagi dengan biaya berobat ibunya. Hal ini yang membuatnya tertekan batin. Entah sama siapa lagi dia harus mengadu dan meminta bantuan. Hari-harinya selalu bekerja tanpa henti. Membanting tulang demi keluarga tercintanya.

Sudah 10 tahun hasna membanting tulang. Dan dia tetap percaya pada tuhan, bahwa ada waktu yang lebih indah dari pada ini. Sepanjang perjalanan hasna hanya meratapi nasibnya yang buruk ini. Dilihatnya dari kejauhan seorang anak laki-laki yang sedang mengamen di lampu merah. Seraya dalam hati berkata. “Tuhan ternyata dia lebih buruk dari pada aku, aku masih bisa sekolah dan memberi keluargaku makanan dengan kenyang. Walaupun hanya nasi dan tempe goreng saja”. Hasna menghapus air mata. Pada saat lampu merah, hasna mulai mengeluarkan koran yang sudah ia persiapkan di dalam tasnya ketika pergi sekolah tadi. Ia mengeluarkan 5 lembar koran yang berisi tentang politik dan berita-berita masa kini. Koran itu berupa riau pos.

“Koran… Koran…”. Teriaknya saat menjualkan koran.
“Koran!”. Panggil salah satu seorang yang di dalam mobil mewah.
“Iya pak.. Beli koran”.
“Iya, berapa satu?”. Tanya seorang itu.
“Rp.3000 saja pak”.
“Ini, makasih nak”. Memberikan uang.

Terik matahari saat itu mulai membakar dunia. Perlahan keringat hasna becucuran dari setiap porinya. Asap dan abu di jalan adalah musuh terbesar dia yang harus dihadapinya. Pada saat itu dilihatnya ada seorang anak yang sedang berlari kencang di jalanan. Hingga tidak sengaja menabrak hasna. Spontan hasna kaget dan koran yang ia pegang pun berserakan. Ada juga yang terbang ke arah jalan lintas. Namun anak yang menabrak hasna tadi dengan ketakutan ia malah lari tanpa meminta maaf. Walaupun demikian hasna tetap sabar, dan ia pun mengutip koran yang berterbangan ke arah jalan tadi. Saat ia sedang mengambil koran di jalanan. Ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Hampir saja menabrak hasna yang lagi di tengah jalan. Karena hasna merasa ketakutan. Ia hanya bisa berteriak kencang dan melepaskan koran yang baru saja ia ambil tadi.
“Aaaaaaaaa…”. Teriak hasna sambil menutup matanya.
Tanpa disadari mobil tersebut pun berhenti pas di hadapannya.
“Hei..!!! Kalu mau bunuh diri jangan di tengah jalan dong”. Ucap seorang gadis pemilik mobil tersebut sambil turun dari mobil.
“Maaf… Tadi saya hanya mengambil koran yang terbang di jalan”. Balas hasna.
“Minggir lo, gua mau lewat… Ya ampun hari gini masih ada juga anak jalanan keliaran. Capek deh”. Ucapnya sombong sambil mendorong hasna hingga terjatuh.
“Aaww.. Maaf.. Maaf.. Maaf. Sekali lagi saya minta maaf”. Ucap hasna sambil menundukan kepalanya tiga kali.
“Sakiit ya, hahaha. Ya sudahlah gak penting banget tau”. Ucapnya sambil meninggalkan hasna seorang diri.

Pada saat itu hasna hanya memandang mobil tadi dari kejauhan. Disitu ia mengeluarkan air matanya sambil berjalan pelan. Ia beranggapan bahwa setiap orang kaya ditakdirkan untuk tidak menghargai orang yang di bawahnya. Dan ia berharap, suatu saat ketika ia sukses nanti, ia akan menunjukan siapa diri dia yang sebenarnya. Dan ia juga bukan seperti orang-orang kaya yang suka menyombongkan dirinya. Bahkan ia akan selalu tetap bersyukur pada ilahi.

“Ibu maafkan hasna, hari ini hanya bisa dapatkan rp. 3000 saja”. Ucap hasna sambil menatap uang sejumlah 3 lembar ribuan.

Hasna berjalan terus. Sampai ia di sekolahan adiknya. Ketika ia sampai, kedua adiknya sudah lama menunggu sang kakak di depan gerbang. Dengan kasih sayang kedua adiknya, hasna disambut dengan pelukan hangat adik-adiknya. Sambil tersenyu manis hasna juga membalas pelukan kedua adiknya tadi.
“Kakak lama banget sih, kami uda nunggu lama loh”. Ucap adiknya nabila dengan polos sambil berjalan pelan
“Hehehe, maaf nabilaku sayang, kakak tadi lagi ada urusan sebentar, ehhh gak taunya adik-adik kakak sudah nunggu lama”. Jawab hasna sambil mencubit lembut hidung adiknya nabila.
“Kaakk…?”. Panggil zidan pelan.
“Apa sayang kakak”. Balas hasna.
“Tangan kakak kok ada darahnya, kakak sakit kayak ibu juga ya?”. Tanya zidan polos.
Hasna terdiam sejenak. Tidak satu kata pun yang ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan adik bungsunya itu. Hasna yang tadinya ceria, kini wajahnya mulai sedih. Tidak sanggup rasanya untuk menjawab pertanyaan adik bungsuhnya yang belum begitu tau apa-apa tentang kehidupan ini. Perlahan hasna menatap kedua adiknya yang ia pegang kiri kanan. Selang dua menit, barulah ia menjawab pertanyaan adik bungsunya tadi.
“Tidak apa-apa kok zidan, cuma luka ringan aja. Satu hari juga uda sembuh kok”. Jawab hasna, mengelus lembut kepala adiknya.

Tidak lama kemudian, akhirnya sampailah mereka di rumah. Dengan lelahnya berjalan, zidan langsung membuka sepatu dan tasnya lalu menaruhnya ke tempat rak khusus. Zidan dan nabila langsung menemui ibunya di kamar. Sedangkan hasna langsung membuatkan teh hangat dan makan siang untuk ibu, dan adik-adiknya. Tanpa istirahat sama sekali.
“Assalamualaikum”. Sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumussalam”. Ucap serentak ibu dan adiknya.
“Bu.. Mari kita makan dulu, pasti ibu juga sudah lelah kan nunggu kami pulang”.
“Tidak usah na, ibu sudah makan tadi, alhamdulillah dengan izin allah ibu sudah agak baikan sedikit. Ibu juga sudah bisa jalan pelan-pelan ke dapur”.
“Alhamdulillah buk”. Ucap hasna, peluk erat ibunya dengan bahagia.
“Sekarang giliran kalian saja yang makan, lihat tuh adik kamu sudah kelaparan”. Ucap ibu tersenyum bahagia.
“Hahahah…?”. Tawa hasna bahagia.

Ini adalah momen yang tidak akan terlupakan bagi hasna, begitu tadi ia dikasih cobaan saat pulang sekolah, namun dibalik semua cobaan ada kebahagian yang benar-benar membuatnya bahagia. Ia sangat berterimakasih banyak kepada ilahi, atasnyalah ibunya sudah tidak tampak sakit lagi, dan hasna pun akan mulai berfokus lagi ke jenjang pendidikannya di sekolah.

Setelah mereka usai makan, sejenak hasna duduk di kamar ibunya. Berbagai cerita humor yang ia berikan kepada ibu dan adik-adiknya. Mereka semua tertawa mendengar cerita hasna. Begitu juga dengan hasna yang tertawa bahagia dengan sejuta kebahagian yang ia rasakan. Sampai-sampai hasna tidak bisa menahan rasa geli yang ia dengarkan dari bibir mungil adiknya. Dan setelah itu, kemudian hasna langsung membereskan piring-piring kotor ke dapur. Dan ia juga langsung bersiap-siap untuk menjual koran lagi.
“Bu, hasna pamit ya,”. Izin hasna.
“Hati-hati anakku”. Jawab ibu sambil batuk-batuk.
“Kakak, zidan juga ikut. Mau bantu kakak jualan koran. Boleh ya kak ya, boleh”. Ucap zidan sambil menarik-narik baju hasna.
“Hemm, boleh gak ya, zidan kan masih sd. Jadi gak boleh ikut ya adik kakak”. Balas hasna.
“Pokonya zidan mau ikut!!!”. Balas zidan lagi sambil membuang muka.
“Hahahha… Iya iya deh zidan boleh ikut, tapi ingat ya jangan bandel kalau dibilangain. Ya sudah hasna pergi ya bu. Daaaa ibu”.

Hasna pun pergi meninggalkan rumahnya untuk berjualan koran kembali. Siang itu suasananya sangatlah panas. Yang mana panas dan gersang sudah merupakan cuaca yang akrab ditemui di desa ini, banyak dedebuan yang bertebaran karena hembusan angin yang menyapanya. Dan juga angin-angin sepoy juga ikut melengkapinya. Dan saat tiba di jalan tol, hasna mulai menawarkan koran di setiap mobil mewah yang berhenti. Kadang-kadang banyak yang membeli, kadang juga sedikit sekali yang membelinya. Ada juga beberapa pengendara motor yang membelinya saat ditawarkan koran. Pada saat itu adik bungsuhnya zidan merasakan haus, dia meminta hasna untuk membeli minuman yang segar. Hasna juga menuruti permintaan sih adik bungsunya itu. Dan pada saat itu hasna meminta agar adiknya zidan untuk tidak meninggalkan tempat, dan selalu menunggunya di tempat tersebut. Dan hasna akan pergi membeli minuman di warung yang lumayan dekat dari posisi mereka sekarang. Seketika itu tampak pucat di wajah adiknya, mungkin karena terlalu panas dan juga merasakan haus berat yang mendalam. Disitu zidan melihat sebuah uang terletak di pinggir jalan, dengan senangnya ia juga buru-buru mengambil uang itu. Ketika zidan ingin mengambil ternyata uangnya terbang ke tengah jalan, sebab terbawa harus angin mobil yang berlewatan.
Wajah zidan tampak bingung. Sepertinya ia agak kesulitan untuk mengambil uang tersebut. Karena polosnya tadi, zidan langsung saja menerobos jalan yang banyak mobil lewat. Koran yang ia pegang tadi ditinggalkannya di tempat pertama kali ia menunggu kakaknya. Kebetulan hasna usai membeli minuman segar buat adiknya. Ia mencari-cari kemana adiknya. Saat dicarinya, hasna melihat adiknya di tengah jalan, dan dari kejauhan dilihatnya sebuah mobil yang laju
Ke arah adiknya, hasna juga buru-buru lari dan menjatuhkan minuman yang ia belikan tadi. Hasna pun berteriak memanggil nama adiknya zidan.
“Zidaaannn!! Awaaasss!!”. Panggil hasna keras.
Dalam keadaan tegang seperti itu, zidan asik menatapi uang tadi. Ia tidak mendengarkan panggilan keras kakaknya. Saat sampai di pinggir jalan hasna telat menggambil adiknya. Kemudian mobil tadi sudah menyenggol adiknya yang tengah berjalan menuju hasna. Brakkkkk. Zidan pun terjatuh dan dilumurin darah di sekitar kepalanya. Hasna shock. Dan mengambil adiknya yang tidak menyadarkan diri lagi.
“Zidaaannn… Bangun zidan bangun”. Tangis hasna meratapi adiknya yang tidak sadarkan diri lagi..
Mobil yang menabrak adiknya juga berhenti, seseorang pria besar ke luar dari dalam mobil. Pria itu sangat rapi dan memakai jas berwarna hitam. Pria itu juga langsung membawa korban ke rumah sakit terdekat. Begitu juga hasna ikut masuk ke dalam mobil.

“Semua ini gara-gara kamu, apa tidak lihat ada anak kecil melintas di tengah jalan”. Ujar hasna menangis dan penuh amarah.
“Maaf nak, om benar-benar tidak tahu tadi. Sekarang kamu tenangkan diri kamu dan semoga adik kamu dalam keadaan sehat”. Jawab pria berjas tadi.
Hasna tidak menjawab ungkapan pria itu, hasna hanya menangis di sepanjang jalan. Ia bingung harus mengatakan apa kepada ibunya nanti. Sementara ibunya juga masih dalam keadaan sakit. Walaupun tadinya sudah sedikit membaik. Saat ini ia hanya menyalahkan dirinya berapa kali. Ia sebagai kakak tidak bisa menjaga satu adik bungsuhnya.
“Mengapa aku tadi meninggalkanmu sendiri adik, ini salahku…”. Ucap hasna mengeluh dan melihati adiknya itu.

Cerpen Karangan: Nursyafia
Facebook: Ana Muslimah Muslimah
Nama adalah Nursyafia
kuliah di Universitas islam riau

Cerpen Air Mata Hasna (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adakah Bahagia Untukku? (Part 3)

Oleh:
“Apa pedulimu pada nyawaku? Aku nggak berhutang apapun padamu,” katanya, seolah meremehkan cewek yang ada di depannya. “Dicka!” Ada sekelumit rasa jengkel di hati Ann, “tunggu dulu!” Dia pun

Liburan di Yogyakarta

Oleh:
Sinar mentari telah cukup tinggi untuk dapat mengintip menembus jendela kamar Senna. Ia terbangun dari tidur dan bergegas bangkit dari ranjang. Raut muka bahagia terpancar menyapa liburan kali ini.

My Ending

Oleh:
Braak! Aku membanting pintu kamarku Tanpa menghiraukan teriakan mamaku. Aku sangat kesal karena pacarku yang bernama Angel itu selingkuh sama sahabatku sendiri, Storm. Yah gimana lagi Masa sih aku

Rainy (Part 1)

Oleh:
Namaku Rainy. Dalam bahasa Indonesia artinya berhujan. Ibuku bercerita bahwa ketika aku dan adik kembarku akan lahir, hari sedang sangat panas terik dan ia sangat ingin hujan datang. Karena

60 Minutes

Oleh:
“Lia, bangun! Jam berapa ini? Kau ini loh anak perempuan. Jam segini belum bangun juga. Bangun!” omelan Ibuku selalu menjadi sarapan setiap hari. Bahkan aku hafal kalimat apa saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *