Air Mata Hasna (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 August 2016

Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan nyawanya. Sedangkan sang ibu menyusul untuk pergi ke rumah sakit. Ibunya sudah dikabari oleh pihak rumah sakit. Sedangkan pria tadi sudah melunasi biaya rumah sakit korban. Pria itu langsung pamit pulang, ia juga harus buru-buru. Karena istrinya juga sedang menjalankan proses oprasi yang terkena penyakit kanker ginjal. Tidak berapa lama kemudian, ibunya hasna dan adiknya sampai di ruang tunggu ugd.

“Hasna… Kenapa bisa terjadi”. Tanya ibunya
“Ibu… Maafkan aku bu. Ini semua kesalahan besar ku ibu”. Ucap hasna terduduk dibawah kaki ibunya.
“Apa yang kamu lakukan hasna!!!, apa yang kamu lakukan dengan anak bungsuhku”. Tanya ibunya menangis.
“Tidakk bu tidakkk”.
“Dasar anak jalan, pergi kamu!!!”. Perintah ibunya marah.
“Aku anak ibu, bukan anak jalanan ibu. Apa maksudnya ibu”.
“Ya… Kamu memang anak jalanan. Kamu bukan anakku, pergi kamu dari sini!!”.
“Tidakk, bu tidak… Katakan bu, aku ini anak ibu, bukan anak orang lain. Ibuuuu… Maafkan aku bu”. Ucap hasna menangis tersedu sambil memohon.

Karena ibunya memaksa hasna untuk pergi, maka hasna pun terpaksa pergi meninggalkan ruangan itu. Di sepanjang jalan hasna hanya bisa menangisi perbuatannya kepada adiknya. Hasna sangat merasa bersalah besar ke pada adiknya. Dan terlintas di benaknya soal ucapan ibunya tadi. Ia tambah menangis tersedu-sedu. Ucapan ibunya selalu terbayang di ingatanya. Sambil ia sekali-kali menjambak kuat rambutnya. Bahkan setiap ingat perkataan itu, ia juga berteriak dengan ucapan kata “Tidaakkk”.
“Lalu aku anak siapa, kalau bukan anakmu bu…? Katakan bu, hasna ini adalah anak kandungmu”. Beberapa kali ia mengatakan itu di sepanjang jalan.
“Hahahah, aku seorang pembunuh adiknya sendiri. Dan aku juga bukan anak kandungnya. Hahah..”. Ucap hasna sambil tertawa-tawa sendiri.
Sepertinya kejiwaan hasna mulai terganggu dengan kejadian yang baru saja ia alami. Semangkin ia ingat semangkin ia menangis dan tertawa sendiri di jalan. Sekali kali ia juga menendang kaleng minuman dengan keras. Ia bingung harus pergi kemana lagi. Sementara ia sudah tidak diterima oleh ibunya lagi. Ibunya marah besar, ibunya tidak lagi menganggap hasna anak kandungnya. Hanya itu yang ada dalam benak hasna. Kemudian hasna pun pingsan di jalanan. Untungnya saja ada sepasang suami istri lewat, kemudian hasna diangkatnya dan dimasuki ke dalam mobil. Disitu hasna kelihatan pucat. Dan pakaian yang sedikit bercucuran darah adiknya yang sudah mongering di bajunya. Hasna dibawa pulang ke rumah oleh kedua sepasang suami istri tadi. Dan diletakannya di atas tempat tidur yang bagus dan kasur yang empuk.
Sepasang suami istri itu adalah seorang produser. Sedangkan istrinya seorang pencetak dan menerbitkan karya-karya cerpen maupun novel. Mereka adalah orang-orang kaya sukses dalam urusan berkarier.

2 jam kemudian, barulah hasna menyadarkan dirinya. Ia melihat sekelilingnya penuh dengan kemewahan. Dan ia juga melihat di sampingnya penuh dengan macam boneka-boneka cantik dan indah. Mukanya kelihatan bingung dan heran.
“Aku ada dimana?”. Tanya hasna dalam hati.
Dan kemudian masuklah sepasang suami istri tadi. Dengan membawakan makanan untuknya.
“Kamu sudah sdar nak…?”. Tanyak lembut wanita cantik itu.
“Hemm. Aku ada dimana?”. Tanya hasna.
“Kamu ada di rumah saya, saya nemui kamu tergeletak di pinggir jalan”.
“Iya nak kami nemui kamu pingsan di jalan, kamu punya masalah, ceritakan saja dengan kami”. Ucap suami wanita itu.
Tanpa segan, hasna menceritakan semua yang ia alami. Saat itu ia mulai menangis lagi. Sebentar-bentar ia menangis. Air mata yang keluar dari mata tidak bisa ia hentikan. Terus saja mengalir. Kemudian, sepasang suami istri itu juga ikut terharu dengan pengalaman hidupnya. Dan wanita itu menyuruh hasna makan terlebih dahulu. Dan setelah itu barulah ia diantarkan pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan hasna hanya merenungi nasibnya di pinggiran kaca mobil. Dilihatnya langit biru yang mulai mendung. Dan awan-awan putih itu berubah menjadi hitam. Sedikit demi sedikit turunlah air hujan dari awan hitam itu. Langit biru itu juga menyaksikan kepedihan yang hasna alami. Hingga terharu, dan mengeluarkan setetes air hujan mengenai kaca jendela mobil itu. Menit berganti menit, jam berganti jam. Akhirnya sampailah hasna di rumahnya. Dan hasna pun turun dari mobil mewah itu. Dan ia pamitan kepada sepasang suami istri itu.
“Terimakasih pak, buk.”. Ucap hasna pelan.
“Iya nak sama-sama. Entar kalau ada masalah jangan segan untuk menceritakannya. Kami siap membantu kamu. Ya sudah ibu pamitan ya. Assalamualaikum”.

Saat tiba di depan rumah, dilihatnya banyak orang yang berada di rumahnya. Anehnya banyak bapak-bapak yang mengenaikan pakaian warna putih dan peci, dan juga dilihatnya ibu-ibu memakai jilbab. Hasna berpikir, apa yang terjadi dengan adiknya. Perlahan hasna masuk ke dalam rumah, sebelumnya ia melihat bendera berwarna putih. Dan spontan hasna langsung lari, dan berteriak memanggil nama zidan dengan keras.
“Zidaaannn…!!!!”.
Saat berada di jalan, dilihat adik bungsuhnya sudah tidak bernyawa lagi, disitu hasna benar-benar seperti seorang pembunuh. Ia menangis tersedu-sedu. Dan berkali-kali menciumi adik kecilnya itu. Sedangkan ibunya terlihat merenungi kepergian anaknya itu. Mungkin saja ibunya sudah lelah menangis, makanya tidak kelihatan setetes air matanya yang terjatuh. Hanya berdiam diri seperti orang bodoh. Dan adik sulungnya nabila juga bermuka sedih, ia hanya menggandeng tangan ibunya. Tidak lama yasinan. Barulah adiknya langsung dimakamkan. Sepanjang perjalanan hasna masih saja menangis. Sementara pembawa keranda zenajah mereka mungucapkan “Laaillahaillallah”. Selang berapa menit, barulah adiknya dimakamkan, lalu membacakan doa keselamatan untuk adiknya. Menjelang 10 menit, sepilah kuburan itu. Hanya tersisa ibu, hasna dan adik sulungnya itu. Hasna selalu mengelus-elus nisan kuburan adiknya. Dan kemudian mereka juga pulang dan meninggalkan makam tersebut. Kedaan itu benar-benar dingin. Tidak sedikit pembicaraan antara hasna dan ibunya. Begitu pula dengan adiknya.

Sampai di rumah ibunya hasna langsung membereskan pakaian hasna. Dan melemparkan pakaiannya ke luar rumah. Hasna kaget, dan ia langsung menarik kaki ibunya seraya sambil memohon maaf atas kesalahannya terhadap adiknya zidan.
“Ibuu, maafkan aku bu..? Tolong ibu, maafkaann”. Ucap hasna menangis.
Ibunya tidak menjawab ucapan hasna, melainkan ibunya berusaha menyeret hasna keluar dari rumah. Kaki ibunya masih saja dipegangin oleh hasna dengan erat, dan ibunya tetap berusaha menyeret hasna ke luar dengan paksa. Dan sekali ibunya mendorong bahu hasna dari hadapanya. Sedangkan adiknya nabila melihat kesaksian kakaknya yang malang itu, ingin membantu tapi apa daya seorang anak kecil seperti dia itu.
“Ibu tolong buuu.. Jangan paksa aku meninggalkan rumah ini. Aku harus tinggal dimana buu.. Tolong ibuu..”. Ucapnya sekali lagi dengan menangis.
“Jangan panggil aku dengan sebutan ibu, karena itu tidak pantas bagi seorang pembunuh!!!”. Ucap ibunya tegas.
“Tidaaak buu.. Aku bukan pembunuh. Katakan buu.. Aku anak kandung ibu kan, dan ibu juga sayang dengan aku kan?”. Jawab hasna tersedu.
“Jangan sekali-kali kamu ucapkan kata ibu di hadapanku. Kau bukanlah anak sungguhanku. Kau adalah anak jalanan yang dikutip oleh almarhum suamiku!! Kau dengarkah itu!! Bukan anak sungguhanku!!”. Tegas ibunya emosi.
Hasna pun langsung terdiam, dan melepaskan genggamannya di kaki ibunya. Dia langsung lemas saat mendengar semua perkataan ibunya itu. Dan barulah ia terdiam tanpa satu kata yang terucap dari mulutnya. Hasna langsung membawa barang-baranya pergi. Dan ia lihat adiknya, kemudian ia mencium adiknya penuh kasih sayang. Hingga menetes air matanya.
“Jangan pergi kak”. Ucap adiknya menarik baju hasna.
“Tidaak, nabila sayang, kakak pergi sebentar kok, nabila jaga ibu baik-baik ya. Karena nabila adalah anak satu-satunya ibu sekarang”. Jawab Hasna tersenyum.
“Lalu kakak bagaimana?, kakak juga anak ibu kan”. Jawab nabila.
Hasna hanya tersenyum manis kepada adiknya. Kemudian ia meninggalkan rumah itu. Selama bertahun-tahun ia menghabiskan waktu bersama keluarga tersayangnya. Kini sekarang keluarga itu hanya menjadi masa lalu yang pahit.

Banyak sekali perubahan di rumah itu. Tinggallah dua orang dalam rumah itu. Dan dua laginya sudah pergi meninggalkan rumah keluarga tersebut. Selama hasna pergi, ibunya selalu mengalami sakit-sakitan. Suka batuk darah dan kadang suka tidak bisa jalan. Nabila kecil itu sekarang menjadi tulang punggung keluarga di rumahnya. Dia merawat ibunya penuh kesabaran. Dan bahkan ia merawatnya penuh dengan kasih sayang. Dia selalu mencontohkan kakaknya hasna yang selalu merawat ibunya dengan baik. Terkadang nabila kecil itu teringat sewaktu makan bersama keluarganya, kakaknya yang menyiapkan sarapan siang mereka. Namun, sekarang hanyalah kenangan manis yang tersimpan di kamar kecil ini. Dan berlalu-lalu nabila kecil merawat ibunya. Hingga nabila pun berhenti sekolah karena uang spp kemarin juga belum terbayarkan.

Kadang nabila sedih melihat teman-temanya setiap pagi pergi sekolah diantar ibu atau kakanya. Dia hanya bisa memandanginya dari jendela kecil kamar ibunya. Semenjak kepergian adiknya zidan, ibunya jarang sekali makan pagi dan malam. Ia hanya makan siang saja. Terkadang tengah malam ibunya memandangi foto zidan dengan raut wajahnya yang sedih. Dan juga mengeluarkan air matanya. Perbuatan ibunya membuat nabila susah untuk memahami keinginan ibunya. Terkadang apa yang ia lakukan serba salah di hadapan nabila. Dia yang belum tau apa-apa hanya bisa mengikuti perintah ibunya saja.

1 bulan lamanya, ibu nabila masuk rumah sakit. Ia dirawat disebabkan terserang penyakit jantung. Nabila kecil itu pun dengan sabar menjaga ibunya 24 jam. Tanpa tidur kadang juga jarang makan. Hal ini membuatnya semakin kurus. Pada saat itu ibunya sadar dari komanya. Dia terus-terus memanggil nama hasna. Sedangkan nabila dengan cepat memanggil dokter.
“Dokter!!”. Panggil nabila 3 kali.
Dokter pun datang memasuki ruangan tersebut.
“Dokter, ibuku sudah sadar. Lalu ia menyebut sebuah nama”.
“Siapa nama itu”. Tanya dokter.
“Hasna, ya hasna. Ia adalah kakakku. 1 bulan lalu ia di usir dari rumah oleh ibuku”. Jawab nabila jelas.
“Baiklah, dokter periksa dulu ibunya”. Jawab dokter.

Satu bulan lamanya tragedi rumah itu tertimpah musibah. Musibah yang nyaris terharukan. Satu bulan juga lamanya hasna menjadi seorang pembantu rumah tangga di sebuah perumahan villa besar. Disana adalah tempat tinggal orang-orang yang bekerja di perusahaan. Disana biaya sekolah Hasna di tanggung oleh majikannya. Dengan alasannya hasna adalah anak yang baik suka menolong orang. Dan ia pun juga menjadi murid yang berprestasi. Kali ini ia adalah murid terbaik satu di sekolahannya. Ia mampu menandingin ahmad yang biasanya menjadi idola para wanita dan guru di sekolah, namun posisi itu direbut oleh hasna. Pada saat hasna ingin membeli bubur ayam untuk majikannya. Hasna berjumpa oleh seorang bapak tengah baya. Dilihatnya baik-baik dari kejauhan, dan dipandanginya dengan teliti. Ohh.. Ternyata si bapak tersebut adalah pak taslim, bapak yang pernah mengantarkannya ke sekolah. Disapa oleh hasna langsung.
“Assalamualaikum”. Salam hasna.
“Ehhh, siapa atuh.. Ohhh iya iya.. Neng hasna ya. Aduuhh kemana aja atuh neng selama ini?”. Tanya pak taslim.
“Sekarang hasna sudah tidak tinggal di rumah lagi bah, Hasna tinggal di perumahan villa besar itu.” tunjuk hasna.
“Kumaha atuh neng?” tanyanya lagi.
“Gak ada kok bah”. Ucap hasna pelan.
“Ohh iya, atuh ibu kamu neng, sekarang dirawat di rumah sakit, dia baru siuman dari komanya, abah sarankan, si eneng jenguk tuh ibunya, kasian nabilanya sendirian”.
“Apa!!!!.. Ibu di rumah sakit?”. Jawabnya lemas.
“Iya neng, ayo abah antarin. Kebetulan abah juga mau jenguk”.
Hasna dan pak taslim pun pergi ke rumah sakit.

Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Dilihatnya nabila adiknya terdiam menatapi ibunya. Lalu hasna memanggil adiknya dengan sebutan nabila sayang. Adiknya kaget. Langsung ia berlari memeluk erat kakaknya. Betapa rindunya ia dengan kakaknya. Kakak yang sudah dianggap seperti ibu kedua baginya. Nabila kecil itu menangis. Seakan ada beban yang ia ingin ceritakan oleh kakaknya hasna. Hasna memahami apa yang dirasakan oleh adiknya itu nabila. Hasna juga menyuruhnya makan. Dengan bubur ayam yang ia belikan untuk majikannya tadi. Setelah itu ia akan mmembelikannya lagi untuk majikanmya. Dengan lahap nabila memakan bubur ayam itu, dipandangnya hasna lalu ia tersenyum. Dan hasna pun membalas senyuman adiknya itu. Hasna mendekati ibunya sambil meneteskan air matanya yang mengenai pipi indahnya itu.

“Ibu, ada apa dengan hidupmu bu.. Ada apa semuanya ini. Apakah engkau masih memikirkan kepergian adik zidan? Ataukah engkau masih memikirkanku sebagai seorang pembunuh”. Ucap hasna sambil memegang kedua tangan ibunya.
Hasna masih dalam posisi menangis. Dilihat ibunya mengeluarkan air mata. Lalu hasna mengusap air mata ibunya. Dan mencium lembut kening ibunya itu. Dan kemudian ibunya terbangun. Perlahan membuka matanya. Dilihatnya hasna dengan kabur. Lalu hasna menyapa ibunya. Ibunya juga memegang erat kedua tangan hasna. Ibunya seperti ingin berbicara, mulutnya hanya bisa terangak kecil.
“Ibuku sayang, apa yang mau engkau bicarakan.. Katakan ibu..”. Tanya hasna sedih.
“Ha…Hasna. Anakku.. Iii..Ibu minta maaf atas apa yang ibu lakukan kepadamu nak”. Jawab ibunya.

Ibu hasna menceritakan semua tentang masa lalunya dulu. Suatu saat ketika ibunya berusia 30 tahun, ibunya belum dikarunia seorang anak. Sepanjang waktu ibunya berdoa pada ilahi, bahwasanya ia ingin mempunyai anak. Dan setelah itu, ketika ayahnya pergi untuk membayar uang sewa rumah. Ayahnya menemui seorang bayi cantik dan mungil. Dengan senang hati ayahnya membawa hasna pulang ke rumah. Sewaktu hasna kecil, ia diurus penuh kasih sayang. Setiap yang ia inginkan selalu dikabulkan kedua orangtuanya. Setelah hasna berumur 5 tahun. Barulah ibunya dikaruniai seorang anak perempuan cantik, lalu anak itu diberi nama nabila arum. Dan kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama ahmad zainul. Lali-laki yang tampan sekarang sudah tiada lagi. Tinggalah nabila kecil dan hasna. Setelah mendengar semua dari mulut ibunya, hasna juga tidak menyangka. Bahwa ia benar-benar bukan anak kandungnya. Walaupun begitu, hasna tidak patah semangat, karena dialah yang membesarkanya dengan penuh kasih sayang hingga ia dewasa. Dan sekali lagi ibunya hasna meminta maaf kepada hasna. Ia mengatakan bahwa ia sayang dengan Hasna. Dan ibunya meminta agar hasna merawat dan menjaga nabila dengan baik. Hasna pun juga ia berjanji atas pesan-pesan ibunya. Setelah usai bicara barulah ibunya menutup mata untuk selama-lamanya.
“Ibuu,”. Tangis hasna kuat.
“Kakak…?”. Panggil adiknya nabila.
“Ibuu, apapun yang terjadi, aku berjanji akan menjaga nabila kita sampai ia dewasa. Dan menjadi anak yang berguna semasa hidupnya”. Ucap hasna menangis.

Semenjak kepekergian ibunya, hasna tinggal bersama majikannya. Di tempat ia mengadu semua tentang ibunya. Hari-hari hasna membuat sebuah cerita yang berkisahkan tentang kehidupannya. Dan kemudian karyanya diterbitkan oleh majikannya. Dan ia juga menjadi sukses karena karyanya yang menghasilkan 2m dari perusahaan. Dan disitulah hasna dipandang menjadi seorang anak yang berbakat. Dan adiknya pun sekarang melanjutkan sekolahnya dengan baik. Kedua kakak adik itu hidup dengan kenyamanan. Semua masa lalu sudah mereka buang. Hanya ada beberapa kalimat yang masih tersimpan di dalam sebuah buku kecil. Buku yang berisikan tentang kerinduan ibunya dan adiknya zidan. Pada saat itu hasna juga memutuskan untuk pindah ke suatu tempat. Yang mana tidak akan ada lagi bayang-bayangan masa lalu yang tersimpan di benaknya. Mereka akan memutuskan untuk pindah jauh dari halaman kampung. Halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Namun kini tidak lagi. Hasna mengajak adiknya untuk hijrah ke sebuah desa terpencil. Desa yang jauh dari keramaian. Pada saat itu adiknya nabila menolak ajakan kakaknya. Akan tetapi saat dibujuk-bujuk lagi oleh Hasna akhirnya adiknya nabila memutuskan untuk ikut berhijrah.

Cerpen Karangan: Nursyafia
Facebook: Ana Muslimah Muslimah
Nama adalah Nursyafia
kuliah di Universitas islam riau

Cerpen Air Mata Hasna (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Son Is My Brother

Oleh:
Masa liburan belum tiba tapi karena aku akan lulus tahun ini jadi aku dan teman-temanku bisa berlibur lebih cepat untuk menghilangkan penat setelah ujian selesai. Hari ini kami putuskan

Naura

Oleh:
Hujan kembali mengguyur malam ini, saat kutiba dirumah, hujan mulai mereda, kuucapkan salam terdengar jawaban lirih, kulirik jam yang tergantung di dinding, jarum menunjuk angka 22.20. Suamiku masih terjaga,

Saranghae Appa (Part 2)

Oleh:
“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan

Rindu Dibalik SMS

Oleh:
Sejak aku masuk SMA, aku meninggalkan ayah dan ibuku. Aku biasanya pulang sekitar sekali dalam satu bulan. Biasanya kami bertukar kabar melalui SMS, kami tidak punya waktu yang cocok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *