Air Mata Malaikatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 January 2017

Gemerlap lampu jalan tak membantu langkahnya, terhuyung kesana kemari terbawa angin yang berjaya. Firdaus. Nama seorang mahasiswa fakultas Psikologi di salah satu Universitas Negeri kota Surabaya. Dia bisa menjadi kebanggaan keluarga karena prestasinya, tapi dia bisa membuat malu keluarga dengan kelakuannya. “Hhhuueeekkk…” muntahan itu keluar tepat di halaman rumahnya, “Hhuuueeekkk…” lagi dan lagi suaranya membuat seisi rumah resah. “Apa lagi yang kamu lakukan hah” hardik sang ayah yang langsung mendorong tubuhnya, “Sudah yah, biar ibu yang bawa dia masuk” malaikat berhati emas itu memapahnya masuk, ia tidak ingin tetangga bangun karena teriakan suaminya.

“Oalah anakku, sampai kapan kamu akan seperti ini” sang ibu menyelimuti tubuh putranya dengan halus, setiap hari ia selalu membelai putra kesayangannya dengan selaan do’a agar calon penyelamat hidupnya dapat kembali seperti saat dimana ia menimangnya dulu. Firdaus yang sering disapa Daus itu tak pernah tahu apa yang sering ibunya selipkan dalam do’a, ia hanya remaja yang ingin menghabiskan waktu dengan foya-foya dan senang-senang dengan teman terbaiknya.

“Semalam kamu mabuk dimana?” Daus hanya menatap ayahnya dengan kening berkerut, “Apa peduli ayah”, “Kamu ditanya baik-baik tidak pernah mau jawab baik”, “Aku berangkat dulu, Bu”, “Iya hati-hati” entah apa yang ada dalam fikiran sang ayah, Daus hanya mau memperhatikan ibunya karena selama ini ayahnya hanya mencaci dan mencemooh sikapnya sedang malaikat berhati emas itulah yang selalu menopang keluh kesahnya.

Hari ini Daus berhasil mengajak teman-temannya memborong barang baru yang ia selundupkan lewat kenalannya, “Percaya bos ini barang mantap” bujuknya, “Ah tapi kalau cuma sedikit yang merasakan nggak siip bro” balas Andri, “Gini deh, nanti sepulang mata kuliah yang terakhir kita ketemu di belakang gudang, kita pesta bos” beberapa teman yang ada di tempat itu menyetujui usul Daus. Jadilah mereka berenam saling menunggu di belakang gudang lama yang sejatinya adalah pabrik tutup, “Gimana bos?”, “Huuhh mantapp” pesta nark*tika terjadi di tempat itu, Daus sudah lama mengincar tempat itu karena selain sepi ternyata jarang juga ada orang yang mau melintas di tempat itu karena keadaan yang kumuh dan penuh dengan barang-barang berserakan. Pesta itu mereka lewati hingga malam menjelang, “Heh, bos aku duluan ya”, “Mau kemana?”, “Pulang, takut komandan nanti bawa anak buah”, “Hah kebiasaan buruk, hati-hati ee”, “Yo” Daus beranjak lebih dulu, ia merasa badannya lebih remuk dari biasanya. Hingga sampai di depan rumah, ia tak mengerti mengapa sendi kakinya seolah tak mampu bertahan lagi.

Alunan ayat suci terdengar begitu menyiksa, Daus bersusah payah mengangkat tubuhnya namun tak pernah berhasil. “Bu… Ibu…” teriaknya dalam serak mengeluh, “Ibu…” orang yang dipanggil tergopoh-gopoh menuju tempat tidurnya. “Apa yang terjadi anakku?” sang ibu membantunya duduk karena Daus seakan tak mampu berdiri, “Aku juga tidak tahu, kenapa badanku tak bisa digerakkan” sang ayah menatap dalam pandangan iba, namun sempat terlihat juga tatapan sinis pada putra satu-satunya.

Semenjak hari itu, Daus selalu membutuhkan bantuan orang lain karena ia tidak bisa bergerak sendiri kemana pun ia ingin pergi seperti dulu. “Apa sekarang yang kamu banggakan?” ayahnya datang dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk, “Kebebasan? Atau hura-hura yang tidak karuan itu?” Daus membuang muka ketika ayahnya hendak menyuapkan makanan ke mulutnya, “Kalau kamu tidak mau makan, apa yang akan terjadi dengan badanmu yang rusak ini”, “Aku bisa makan sendiri”, “Bagaimana caramu makan, bergerak saja kamu susah” sang ayah tetap mencoba menyuapkan makanan ke mulut putranya, tapi tanpa diduga Daus menolak tangan itu hingga sendok yang dipegangnya terlempar jauh. Mungkin emosi dalam dirinya telah meraja, ia bahkan tak sedikitpun melirik ke arah mata ayahnya yang jika diteliti terdapat beberapa embun yang hampir menetes. Karena merasa putus asa, sang ayah meninggalkan piring itu di meja dan beranjak pergi mengais nafkah di luar sebagai seorang pedagang asongan.

Dalam perjalanan sang ayah yang berhati baik itu tidak berhenti memikirkan keadaan putranya, “Apa yang harus ayah lakukan untuk membuatmu tak membenciku?” tanpa dia sadari truk pengangkut kardus bekas melintas, seketika tubuhnya terpelanting jauh tanpa arah yang jelas. Gelas ibu terjatuh, “Astaghfirullah…” begitu sesak dada sempit itu menerima semua kenyataan yang ada, beberapa minggu lalu putra yang selalu dibanggakannya baru saja cacat dan hari ini tulang punggung keluarganya harus juga direnggut. Isak tangis di rumah Daus begitu pilu, “Bu, apa yang terjadi?” ia berusaha mengeluarkan kata-kata dengan susah, “Ayahmu nak” bagai tersambar petir perasaan Daus ketika melihat air mata dan isak pilu sang ibu, “Ada apa dengan ayah, Bu?”, “Ayahmu… meninggal” kini bukan hanya badannya yang mengejang, tapi hati dan perasaannya pun turut bimbang mendengar itu. Ia kembali teringat bagaimana respon buruknya pada sang ayah pagi tadi, betapa pejuang tulang punggung itu telah berusaha menjadi yang terbaik untukku tetapi ia malah menjadi anak yang tidak bisa diandalkan. “Ayah…” kata itu yang keluar dari bibirnya, ia tak pernah tahu bahwa orang yang paling ia remehkan ternyata begitu membekas di hatinya.

Satu tahun terlewati, Daus hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa ada yang ia perbuat dan hal itu membuatnya sadar bahwa apa yang selama ini ia anggap sebagai kebebasan adalah jurang neraka yang teramat sempit. “Ibu… Bu” panggilnya dengan lemah, “Bu…” tetapi ibu yang setiap hari selalu sigap berada di sampingnya tak muncul, “Kemana ibu ini”, ia berusaha merangkak ketika kakinya tak mampu ia ajak berjalan, “Ibu” tubuh itu roboh, ketika ia melihat sang ibu tergolek lemas di atas tempat tidurnya. “Ibu…” entah teriakan itu terdengar sampai mana, yang jelas beberapa menit setelah Daus berteriak tetangga berbondong-bondong masuk ke rumahnya.

Krakk. Firdaus tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, tetapi perlahan ia membuka mata dan melihat ayah yang selama ini selalu diacuhkannya. “Aku telah berjuang, apa yang harus aku lakukan jika akhirnya dia tidak berubah juga” suara ayahnya begitu pilu, “Aku menyayanginya sama sepertimu, walau aku tak pernah memeluknya tapi hatiku sangat mengharapkannya menjadi kebanggaan kita” entah dengan siapa ayahnya berbicara, sosok di samping tak menampakkan wajahnya. “Tapi kamu terlalu keras, kamu tidak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara apa yang dia rasa”. Deg. Itu suara ibu, ibu yang selama ini selalu membelanya, ibu yang selama ini selalu membenarkannya dalam segala hal. Apa yang terjadi di antara mereka?

Pagi yang teramat buta, Daus sadar dari tempatnya melangkan ingatan betapa hidupnya selama ini selalu menyusahkan. “Dimana aku?” belum sempat ia beranjak, seorang dokter datang dengan peralatan lengkapnya, “Selamat pagi, bagaimana perasaannmu hari ini?” Daus mengangguk, entah paham atau tidak dengan pertanyaan orang yang ada di depannya.

ADVERTISEMENT

Waktu bergulir tak terasa, Daus berada di pantai rehabilitasi untuk menghilangkan semua noda yang pernah ia perbuat dulu. Ia sadar hidupnya selalu menyusahkan, kedua orangtuanya telah pergi lebih dulu bahkan sebelum sempat ia membuat mereka bahagia. “Ayah, Ibu. Ini Firdaus yang baru, ini anakmu yang sudah sembuh dari segala siksa neraka dunia, hari ini anakmu akan membuatmu bangga” detik itu Firdaus memutuskan untuk masuk ke ABRI, dengan badan yang kuat dan kecakapannya melakukan segala hal ia yakin dapat menjadi kebanggaan. Bukan hanya kebanggaan kedua orangtuanya, tetapi kebanggaan Indonesia.

Senyummu adalah surga bagi diriku, karena setiap lengkungnya adalah jalan air kebebasan yang tak pernah mengekangku. Nafasmu adalah helaan do’aku, dimana kau tak pernah mengucap kata buruk untukku. Namun tangismu adalah cambuk dalam diriku, yang membuatku luka dan tersayat-sayat karenanya. Maka itu aku tak akan bisa membuatmu menangis, detik ini aku akan selalu membuatmu menggambar garis lengkung di bibirmu. Firdaus tidak lagi mau mengenal kata Nark*tika, ia malah memilih menjadi duta anti Nark*tika yang selalu memberantas kekejaman barang jahat itu.

Hari ini 17 Agustus 2016, Firdaus berdiri bersama dengan beberapa teman-temannya memberi hormat pada sang saka Merah Putih. “Ayah, Ibu. Aku akan selalu menjunjung tinggi disiplin dan peraturanmu!”.

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari
Facebook: Ikke N Vita Sari

Cerpen Air Mata Malaikatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Daisy Putih (Part 2)

Oleh:
Sudah seminggu lamanya semenjak hari pertama kedatangan Daisy ke rumah ini. Tapi kedua orangtuanya yang katanya akan menyusul tak kunjung tiba juga. Memang, waktu itu Daisy telah menjelaskan alasan

My Destiny (Part 2)

Oleh:
“Kamu hebat, Otoha! Selamat, ya…,” kata Im’m ramah. “Selamat, ya…kamu bisa memenangkan lomba cerdas cermat, dan menjadi wakil dari kelas kita…,” puji Melan. “Terima kasih… Um… Apa kalian tidak

Di Balik Ketegaran

Oleh:
Cahaya fajar di langit sebelah timur menandakan bahwa matahari akan menampakkan sinarnya. Semilir angin berhembus menghasilkan gemerisik suara dedaunan. Suara ayam berkokok membangunkan orang-orang dari tidurnya. Salah satunya yaitu

Semua Ini Terjadi Secara Tiba Tiba

Oleh:
UASBN hampir tiba. Aku belajar dengan bersungguh-sungguh. Aku ingin menunaikan harapan ayah terhadapku, menjadi orang yang berjaya dalam hidup. Bagiku, UASBN adalah langkah pertama untuk mencapai kejayaan. Aku hanya

Maafkan Kakak Bu

Oleh:
Terlihat 2 orang adik kakak yang sedang bercanda di kamarnya yang serba ungu itu. Dia bernama Alisha Nadia Desire (Adik Ashilla) yang masih berumur 15 tahun dan Ashilla Veronica

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *