Air Mata Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Di tengah malam yang kelam dan hening itu, entah kenapa mataku terjaga dengan sendirinya, pandangan mataku tertuju ke arah langit-langit atap kamarku, keheningan di malam itu mengingatkan aku kepada sang pencipta. Tiba-tiba terdengar di telingaku suara yang begitu aneh, seperti suara seseorang yang sedang menangis tapi aku tidak terlalu mementingkannya, tetap kunikmati keheningan di malam itu, terasa tetesan air yang keluar dari sudut mataku disaat aku teringat akan dosa-dosaku.

Suara yang begitu aneh makin terdengar jelas di telingaku membuat hati bertanya-tanya “Siapakah yang menangis di tengah malam begini?”
Karena rasa penasaran terus menyelimuti hatiku akhirnya aku memutuskan untuk mencari sumber suara itu, ketika kaki melangkah ke luar dari kamar terlihat di mataku seorang wanita yang sedang berdoa demi kebaikan untuk anaknya, deraian air yang terus keluar dari matanya berharap agar permohonannya dapat dikabulkan, saat aku mendengar untaian-untaian doa yang dipanjatkan olehnya dengan sendirinya air mata ini terjatuh, rasanya ingin aku berlari dan memeluknya, dia adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya di setiap salatnya tak lupa doa yang selalu dia panjatkan untuk anaknya, perasaan haru, senang menyelimuti hatiku, disaat aku menyadari ada seseorang di dunia iniyang sangat menyayangi aku dan selalu mendoakan kebaikan untukku.

Seminggu belakangan ini aku selalu bangun di sepertiga malam untuk mendengarkan doa-doa yang selalu dipanjatkan ibu untuk putrinya atau untukku, hingga pada suatu malam ibu mengetahui bahwa aku selalu mengintip di setiap salat tahajudnya, dengan segera dia mmemanggilku dan bertanya “Apa kakak sayang sama ibu” saat aku melihat wajah layaknya bidadari surga yang ada di hadapanku itu cucuran air keluar dari mataku “Kenapa kakak menangis” tanya ibu kembali, aku memeluk wanita yang ada di hadapanku itu dengan rasa bangga kukatakan “Kakak sayang ibu” “Iya ibu juga sayang kakak” “Maafkan jika kakak pernah berbuat salah pada ibu, dengan senyum yang begitu manis ibuku menganggukkan kepalanya “Iya sayang” ucapnya, terasa nyaman saat di pelukannya, kelembutan yang terasa saat dia membelai rambutku, benar-benar menyejukkan hati, tak ingin rasanya melepaskan pelukan tulus itu tapi malam yang kelam kini semakin kelam dan ibu menyuruhku untuk segera tidur, tak ingin aku membantah sedikitpun perkataannya aku segera masuk ke dalam kamarku, ibu juga ikut mengantarku ke kamar dia membelai rambutku dengan sangat lembut “Semoga mimpi indah sayang” ucapnya dan mengecup keningku, aku memberikan senyum yang begitu indah untuknya.

Pagi itu langit terlihat sangat cerah, sama halnya dengan hatiku yang sangat senang dan juga cerah, aku melihat ibu yang sudah berpakaian rapi masuk ke dalam kamarku dan menyapa pagiku dengan senyum yang begitu indah, aku menyambut senyum itu dengan perasaan yang gembira, ibu mengajakku untuk pergi ke pasar karena tidak ingin menyakiti perasaan ibu dengan segera aku menerima tawaran itu. Setelah bersiap-siap aku dan ibu segera pergi ke pasar, di perjalanan tak henti-hentinya ibu memandangiku, benar-benar aneh, terlihat pancaran sinar dari matanya yang mencerminkan ketulusan dari hatinya, hingga akhirnya kami tiba di pasar, kebahagiaan itu benar-benar menyelimuti hati saat aku dan ibu bersama-sama membeli sayur, ikan dan lainnya.

Setelah selesai dengan bergandengan tangan yang sangat erat kami menyebrang jalan, tapi ada sesuatu yang terlupa dibeli oleh ibu sehingga ibu harus menyeberang kembali “Kakak ibu lupa membeli tomat kakak tunggu di sini ya” ucap ibu dengan lembut “Iya kakak tunggu di sini ya bu” jawabku dan tersenyum pada ibu, ibu pun segera pergi meninggalkanku.

Setalah lamanya aku menunggu ibu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat di mataku lambaian tangan dari ibu disertai dengan senyum yang tipis, saat ibu menyeberang untuk menghampiriku, tiba-tiba sebuah mobil truk dengan lajunya melintas di pasar itu, jantungku berdegup begitu kencang kakiku menjadi lemas tak berdaya, semua belanjaan yang ada di tanganku terjatuh ke tanah. Seketika bayangan ibu hilang dari pandangang mataku, suara jeritan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu membuat jantungku berdegup semakin kencang rasa takut kehilangan dan rasa tak percaya bercampur menjadi satu dalam batinku, dari kejauhan aku melihat tubuh ibu terbaring lemas di tengah pasar itu, orang-orang yang berada di pasar itu berlarian mendekati ibuku bibirku terasa begitu bergetar saat mengucapkan kata I-b-u, tetesan air mata yang kini terasa sangat deras mambasahi pipiku aku mencoba menghilangkan rasa fobiaku terhadap darah.

Aku berlari dengan langkah kesedihan berusaha untuk menyelinap masuk di tengah keramaian orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, saat mata melihat cucuran-cucuran darah yang masih segar mengalir dari hidung ibu, jilbab yang semulanya berwarna putih kini telah berubah menjadi merah karena banyaknya darah yang keluar dari kepala ibu, benar-benar menyakitkan hati, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya bisa menutup mulut karena rasa ngeri, benar-benar tidak punya hati, karena rasa tak kuatku terhadap darah dan rasa tak percaya kejadian itu menimpa ibuku tubuhku terasa begitu sangat lemas dan tak berdaya jantungku rasanya berhenti berdegup, tiba-tiba aku terjatuh pingsan di kerumunan orang-orang itu selanjutnya aku tak tau entah apa yang terjadi pada ibuku.

Saat aku tersadar dengan samar-samar aku melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan ibuku, tapi hati ini mengatakan dengan sangat yakin bahwa dia bukanlah ibuku, tiba-tiba wanita itu menangis sesenggukan, ya aku mengenalnya, dia adalah tante yola adik ibuku, spontan aku bangkit dari tidurku jantung ini lemas saat melihat tante yola menangis “Ibuku di mana tan” tanyaku bergetar tante yola tidak menjawab pertanyaanku dan tetap menangis, aku benar-benar bingung dengan sikap tante yola.

Aku berlari ke luar dari kamar, saat mata ini melihat sekujur tubuh yang sudah tidak bernyawa terbaring di tengah-tengah keramaiian orang di rumah itu, sepertii sebuah benda yang sangat tajam mengiris hati ini sehingga menimbulkan luka yang begitu dalam, batin ini menjerit dalam ketidakrelaan, rasanya nafas ini ingin berhenti seketika, rasanya kaki ini tak dapat berdiri lagi tapi aku memaksakan untuk mengampiri jasat ibu, dengan sendirinya air mata ini terjatuh sangat deras dengan tangan yang gemetar aku membuka kain yang menutupi jasad ibuku, wajah nya yang terlihat tampak sangat pucat, matanya selama ini memancarkan sinar disaat memandangiku dan selalu mengeluarkan air mata di saat memohon kebaikan untukku kini telah tertutup untuk selamya-lamanya dan tak akan pernah dapat terbuka lagi, bibir yang selalu tersenyum tulus untukku dan selalu mengecup dengan lembut keningku kini telah terkatup dan tak akan pernah dapat terbuka lagi, dan tangan yang selalu mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang kini tidak akan pernah dapat bergerak lagi. Seperti sebuah mimpi buruk dalam tidurku dan aku berusaha untuk keluar darinya, tapi tidak bisa kejadian itu benar-benar nyata orang yang selama ini menyayangiku dengan tulus yang selalu bangun di tengan malam, hanya untuk mendoakan kebaikan untukku, kini telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Dalam setiap hariku hanya bisa menangis dalam kerinduan, dalam kesendirian, dalam kesepian, rumah yang selama ini seperti surga bagiku tapi kini telah menjadi neraka bagiku, bahkan aku pernah merasakan stres karena kepergiannya. Tapi seiring berjalannya waktu aku menuyadari bahwa kematian adalah sebuah takdir yang tidak dapat diubah dan harus siap untuk menghadapinya, hingga akhirnya diri ini dapat merelakan kepergiannya dan selalu mendoakan kebaikan untuknya.

Cerpen Karangan: Khoirul Liza
Facebook: Khairul Liza
penulis adalah seorang pelajar kelas dua SMA, bertempat tinggal di dusun satu AIR JOMAN, anak ke dua dari lima bersaudara

Cerpen Air Mata Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpiku Sukses

Oleh:
Senja di pulau maduraku mengantarkanku menuju desa kecil yang bernama bakburu bersama ayah dan ibu serata adik perempuanku yang tidak jauh sama umurnya denganku kami kembar bersaudara meski bukan

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada tanggal, 5 Mei 2012. Aku dan seluruh teman sekelas ku yakni kelas 6, kami sangat gembira sekaligus kami gugup, karena 2 hari lagi akan diadakan UJIAN NASiONAL. Guru–guru

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada malam itu Novi bertengkar hebat dengan ibunya.karna sangkin marahnya mereka ibunya mengusir Novi.Dan ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun.. Setelah lama berjalan,Novi melewati sebuah kedai mie.Ia lapar

Antara Duka dan Takdir

Oleh:
Pagi pun tiba, burung berdecit ramai menghiasi istana langit. Embun masih menempel di dedaunan yang amat segar. Jendela di kamarku berjerit seakan membangunkanku. Orang-orang mulai berlalu lalang. Ramainya suasana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *