Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 March 2018

Hujan kembali datang, membawa angin dan petir. dan aku masih di sini, duduk di sebuah kursi kayu dibalik jendela yang kacanya mulai terlihat mengembun. aku mulai mencoba menikmati udara yang semakin dingin. Hingga tak terasa mataku mulai terpejam dengan sendirinya.

Aku tidak tahu pukul berapa sekarang, tetapi dilihat dari matahari yang bersinar terang di atas kepala aku rasa ini sudah siang. Aku mulai melangkahkan kaki menuju sebuah pohon yang daunnya rimbun. Aku istirahatkan tubuhku di sana. Aku mencoba memejamkan mata menikmati angin yang tidak terlalu kencang, sampai sebuah suara mengagetkanku

“Apa yang sedang kakak lakukan di sini?” kubuka perlahan kedua mataku dan dapat aku lihat seorang anak parempuan dengan wajah yang imut berdiri menghadapku.
“Aku hanya ingin mencari udara segar.” Aku hanya menjawab seadanya dan dapat kulihat pancaran kekhawatiran dari sorot matanya yang berwarna kecoklatan itu.
“Udara segar?, kakak mencari udara segar di siang hari dengan cuaca yang sangat panas ini, kakak jangan bercanda.”
Aku hanya tersenyum menangapi omelannya.

“Kakak membuatku cemas. Kenapa kakak tidak memberi tahu kalau kakak keluar?. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kakak? Bagaimana jika kakak terluka? Bagaimana jika..”
“Baiklah-baiklah, aku minta maaf karena sudah membuat adikku yang manis ini menjadi cemas. Sekarang sebagai gantinya duduklah di sini. Aku akan ceritakan sebuah kisah untukmu.” Segera aku potong perkataannya dan meminta maaf kepadanya dan tak lupa pula kuajak dia untuk ikut duduk di sampingku. tetapi kulihat dia menggelengkan kepalanya dengan pelan
“Tidak, kakak kira aku anak kecil yang senang mendengar kisah-kisah pahlawan yang sering kakak ceritakan itu. Lagi pula kita harus pulang.”
“Maafkan aku. Aku terkadang lupa bahwa kau bukan adik kecilku lagi.” Ucapku lirih

“Kakak kita harus pulang.” Ucapnya memohon
“Baiklah, ayo kita pulang.” Balasku akhirnya
Aku mulai mencoba untuk berdiri. Hingga secara tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Aku mencoba mengabaikan rasa sakit itu karena aku tidak ingin membuat adikku yang sudah berjalan di depan sana merasa khawatir. Aku mencoba menarik napas sebanyak yang aku bisa. Hingga kurasakan pusing itu sedikit menghilang, Kulangkahkan kakiku mengikuti adikku.

Tak ada percakapan apapun yang terjadi selama perjalanan pulang. Hanya sinar matahari siang yang mencoba masuk menembus sela-sela ranting pohon yang mengiringi langkah kami. Aku juga merasa tidak nyaman dengan suasana ini. Tetapi aku binggung harus memulai pembicaraan seperti apa karena aku dapat kulihat wajah adikku yang sedang cemberut kesal. Mungkin dia kesal karena aku pergi tidak memberi tahunya terlebih dahulu. Hingga kami sampai di daerah pertokoan dekat dengan rumah kami.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling dan aku dapat melihat banyak sekali toko yang berjajar di sepanjang jalan mulai dari toko yang menjual baju hingga alat-alat rumah tangga yang terlihat dari barang-barang yang terpajang di etalase toko. Tak lupa pula banyak warung-warung kecil yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. hingga pandanganku jatuh tertuju ke sebuah toko kecil yang menjual berbagai aksesoris lucu.
Segera tanpa pikir panjang kutarik tangan adikku untuk pergi ke sana. Kuhiraukan semua gerutuan yang keluar dari mulutnya.

Sesampainya kami di depan toko tersebut, kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam. Dapatku lihat banyak sekali aksesoris-aksesoris yang ada di sini. Mulai dari gelang, kalung, cincin, dan masih banyak lagi. Aku mulai membawa kakiku berkeliling untuk melihat-lihat. Hingga pandanganku jatuh tertuju ke sepasang kalung yang cantik. Dapat kulihat kalung itu memiliki bandul berbentuk sepasang merpati di sana.

“Kalung yang indah bukan?”
Aku terlonjak kaget mendengar sebuah suara yang tiba-tiba dari arah sampingku. Kutolehkan segera pandanganku menuju suara itu berasal. Dan dapat kulihat seorang pemuda yang kurasa lebih tua sedikit dariku berdiri tersenyum ke arahku.
“Oh.. maaf apa aku mengagetkanmu? Aku adalah pemilik toko ini”
“Ah… Tidak, aku yang terlalu fokus dengan kalung ini.”

“Apa kau menyukainya?” tanyanya kepadaku dan aku hanya menanggapinya dengan anggukan
“Merpati merupakan simbol kesetiaan. Biasanya merpati hanya akan memilih satu pasangan selama hidupnya.” Jelasnya padaku, Kupandangi sejenak kalung tersebut.

“Kakak kau sudah selesai?” Suara adikku terdengar memanggil
“boleh aku membeli kalung ini?” pintaku pada adikku karena sebenarnya aku tidak membawa uang
“baiklah jika kakak menyukai kalung itu kakak bisa membelinya. Kalau begitu aku akan membayarnya. Kakak tunggulah di sini sebentar.” Aku hanya mengangguk sementara adikku dan pemilik toko menuju tempat kasir

Hingga aku merasa bahwa pusing yang aku rasakan tadi kembali dengan lebih terasa sakit. Aku juga merasa Sesuatu keluar dari hidungku. Kucoba menyentuh hidungku dan dapat kulihat darah membasahi jari-jariku yang tadi menyentuhnya.
Segera kuhapus dengan cepat darah yang masih berada di sekitar hidungku ketika adikku sudah selesai membayar kalung itu. Ketika dia sudah ada di hadapanku, kami memutuskan untuk pulang.

Kami sampai di rumah ketika hari mulai beranjak sore. Sebelum adikku masuk ke rumahku tahan salah satu tangannya. Dan aku berikan salah satu dari pasangan kalung yang tadi kami beli.
“Untukmu agar kau selalu ingat tentangku.” Dapat kulihat wajahnya menunjukkan kebingungan yang sangat jelas tapi sebelum dia membuka mulutnya untuk bertanya aku segera masuk ke dalam rumah.

Petir menyambar dengan suara yang keras. Sebuah pintu dibuka dengan perlahan dari arah luar dan dapat terlihat serang anak perempuan masuk menuju sebuah ruangan. Kakinya dilangkahkan pelan menuju ke sebuah kursi yang sedang diduduki oleh seseorang.

“Kakak jangan duduk di dekat jendela nanti kakak kedinginan masuklah ke dalam dan duduklah di kursi itu. Aku ingin mendengar cerita dari kakak.” Ungkapnya untuk meminta sosok yang ternyata kakak dari gadis tersebut untuk masuk ke dalam.
Tapi tak ada balasan yang diterima gadis tersebut. Bahkan kakaknya pun tidak bergerak dari tempat duduknya. Gadis itu memutuskan untuk melihat kakaknya lebih dekat lagi. Hingga dia menyadari bahwa kakaknya yang selama ini sangat disayanginya sudah tidak ada.

“Kakak… kakak.. kakak bangun.. kak..ayo bangun kakak… kakak.”
Dia mulai menangis dengan kencang sambil memanggil kakaknya dengan diiringi hujan deras dan petir yang menyambar di luar sana.

Cerpen Karangan: Nur Azizah
Facebook: Azizah

Cerpen Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Oleh:
Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin

Perjuangan Ibu Untuk Anaknya

Oleh:
Embun pagi menyelimut kota seribu menara itu, pada saat pagi hari ada seorang ibu menggunakan sepeda sedang mengantar anaknya ke TK yang mungkin sekitar 3 km dari rumahnya sang

Bintang Kecil (Part 1)

Oleh:
Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada. “suara gue bagus kan Rey?” tanya Tirsya dengan

Inikah Arti Semuanya?

Oleh:
Aku kembali melihat album foto berdebu yang di sana terdapat foto kami. Andai semua tak terjadi begitu cepat. Pasti sekarang kita masih berkumpul bersama. Andai kau masih ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *