Aku Bukan Anak Haram


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Namaku Khanza Ainia Az-zahra, teman-temanku biasa memanggilku Nia, sekarang aku menempati bangku kuliah di sebuah Universitas ternama di Malang. Aku di lahirkan di Jakarta tepat pada saat hari Kartini yaitu 21 April 1993. Aku lahir tanpa adanya seorang ayah, terkadang aku bingung ke mana ayahku? Setiap aku menanyakan hal itu kepada Ibuku, dia selalu mengalihkan pembicaraan, entah mengapa hingga saat ini aku tidak pernah bertemu ayahku. Setiap aku melihat teman-temanku, jujur saja aku merasa iri karena mereka mempunyai ayah, sedangkan aku tidak tahu di mana ayahku bahkan wajahnya pun aku tidak mengetahuinya.

Untuk kesekian kalinya aku mencoba bertanya kepada ibuku “Ibu, Nia tau ibu selalu menghindar ketika Nia menanyakan hal ini tapi Nia mohon bu, Nia perlu tau di mana ayah, setidaknya Nia tau bagaimana wajah ayah.” Tanyaku kepada ibu, namun seperti biasa ibu selalu mengalihkan pembicaraan “Oh ya Nia, gimana tadi di sekolah?” “Di sekolah aku di ejek dan di hina, katanya aku ini anak haram yang tidak punya seorang ayah. Apa ibu tega kalau Nia di ejek terus-terusan sama mereka? Apa ibu tidak kasihan sama Nia setiap hari harus dengar perkataan itu? Apa ibu tahu gimana perasaan Nia saat mereka bilang jika Nia adalah anak haram yang lahir tanpa adanya seorang ayah? Nia sedih bu, Nia sakit hati.” Ujarku panjang lebar dan tak terasa air mata ini mengalir begitu derasnya

Melihat aku menangis Ibu mencoba menenangkan aku. Namun aku langsung lari meninggalkan Ibuku dan Ibu mencoba mengejarku ke kamar. “Nia, kamu bener-bener ingin tahu di mana ayah kamu?” Tanya ibu
“Nia ingin bu bertemu dengan ayah, Nia ingin merasakan kasih sayang ayah” jawabku.
“Sayang, ibu akan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dulu ibu bertemu dengan ayahmu saat ibu masih berumur 17 tahun. setelah itu ayahmu mempunyai niat untuk menikahi ibu saat ibu berumur 18 tahun. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa ibu menikah di usia sangat muda, jujur nak dulu ibu melakukan hal yang sungguh tidak terpuji, ibu melakukan hubungan suami istri sebelum ibu dan ayahmu menikah dan ibu hamil, lalu kami menikah. Saat ibu melahirkanmu, ayahmu mengalami kecelakaan saat akan menuju Rumah sakit untuk melihat kamu lahir ke dunia ini, kecelakaan itu membuat ayahmu meninggalkan kita untuk selamanya. Maafkan ibu nak, ibu baru berani untuk berkata ini padamu, karena ibu takut kamu akan sedih mendengarkan cerita ini, sekarang kamu mengerti kan kenapa kamu tidak pernah bertemu dengan ayahmu?” ucap ibu panjang lebar di iringi aliran air mata yang deras.
“Maaf ibu, Nia tidak tahu kalau selama ini ibu menyimpan rahasia ini demi Nia agar Nia tidak bersedih, tapi bu Nia ingin sekali melihat wajah ayah, apa ibu menyimpan foto ayah?” Tanyaku ingin tahu
Ibupun menjawab “Ada nak, kamu tahu orang yang bersama ibu di foto besar ruang tamu yang ibu bilang itu Cuma teman ibu? Itu ayahmu nak, mirip sekali denganmu”. Aku hanya terdiam dan langsung menuju ruang tamu untuk melihat foto alm. Ayahku. Di sana aku menangis tersedu-sedu, ibupun memelukku dengan erat.

Di kampus…
Seperti biasanya, teman-teman di kampusku membicarakanku, namun kali ini aku tak menghiraukan ocehan mereka aku hanya tersenyum melihat mereka yang membicarakanku. “Nina” sapaku pada Nina sahabatku yang selalu menemaniku. “Eh Nia, oh ya Nia, kok tumben kamu nggak marah kalau mereka tuh gosipin kamu?” Tanya Nina namun aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Nina dan langsung menarik tangannya menuju ruang kelas. “Nia, kenapa sih kamu girang bener hari ini, hayoo jangan-jangan kamu abis dapet sesuatu dari Ilham ya?” Tanya Nina penasaran.
“yee, enggak kok. Semalam ibu menceritakan kenapa selama ini aku tidak di pertemukan dengan ayahku, ternyata ayahku meninggal dunia saat menuju rumah sakit.”
“Lho, ayahmu meninggal Nia? Innalillahiwainalliahiroji’un, terus kenapa kamu girang banget?”
“Aku lega Nin, ternyata aku bukan anak haram seperti yang dibicarakan anak-anak. Yah mungkin mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi”
“Iya Nia, aku turut lega dan aku akan bilang ke mereka kalau kamu bukan anak haram melainkan ayahmu telah meninggal 20 tahun silam.”
“Nggak usah Nin, biar aja mereka mau bilang apa, oh ya kamu tau orang yang bersama ibuku di foto yang ada di ruang tamu gak? Itu ayahku loh. Rasanya senang aku Nin bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi”
“Oh ya Nia? Wah aku ikut senang deh kalau sahabatku ini senang, semoga ayahmu tenang ya di alam sana”
“Aminnn”. Di sela-sela aku bercanda dengan Nina, aku melihat sosok ayah tersenyum kepadaku, aku merasa hari itu ayah melihatku bisa tersenyum bahagia. Ayah semoga engkau tenang di alam sana. Hingga saatnya tiba aku akan menyusulmu.

Cerpen Karangan: Echa Aprillia
Facebook: Echa Aprillia
Sekolah di SMKN 12 Malang dan kini duduk di kelas XI…
Suka Banget sama yang namanya nulis cerpen, naskah dan sekarang mimpi jadi penulis Novel, hehehehe ketinggian yaaah
Kalau mau tau profil lengkapku lihat aja di facebookku nih namanya Echa Aprillia ( April X Angel )
Terimakasih telah membaca ^_^

Maaf jika ada kesamaan tokoh, ini hanya sekedar cerpen

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply