Aku Dan Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 February 2016

Langkah kakinya yang berirama dengan sepatu andalannya, menaiki anak tangga menuju lantai 2. Gaya khasnya yang cuek dengan jaket hitam, celana jeans, tas kecil, gelang hitam di tangan kanannya dan berkupluk. Memasuki ruang kelas dengan santai walau ia tahu ia sudah terlambat, itulah Tedy si sulung dari 3 bersaudara. Mahasiswa ilmu kedokteran ini merasa terperangkap dalam jurusan tersebut. Kalau saja bukan karena keinginan ayahnya yang ingin melihat anaknya menjadi seorang dokter, mungkin Tedy sudah memilih kuliah di jurusan Broadcasting. Pria kurus berkulit sawo matang ini lebih menyukai dunia fotografi dan film daripada menjadi dokter demi menyelamatkan orang lain. Setiap mata kuliah yang dia hadiri tak pernah diperhatikan secara sungguh-sungguh.

“Jiwa gue bukan sebagai dokter tapi seorang broadcaster handal.” Kalimat tersebut yang selalu ada di pikiran Tedy.

Berbagai cara ia lakukan untuk bisa pindah jurusan bahkan sampai memohon izin berulang kali kepada ayahnya namun tetap saja tidak diberikan. Hobinya dalam dunia foto yang sering mengabadikan berbagai momen dan objek yang ia temui membuatnya tertarik untuk mengikuti sebuah kompetisi fotografi yang diikuti mahasiswa dari berbagai Universitas. Keikutsertaannya tersebut tentu tanpa sepengetahuan ayahnya. Keasyikkan Tedy dalam dunia fotografinya ini membuat nilainya di berbagai mata kuliah menjadi sangat mengecewakan dan menimbulkan kecurigaan di pikiran ayahnya.

Saat pengumuman pemenang kompetisi fotografi diumumkan di website resmi penyelenggara, nama Tedy berada dalam 5 besar kontestan yang akan diadu kembali dengan mahasiswa dari Universitas lain di Singapore. Betapa bahagianya Tedy melihat pengumuman tersebut namun seketika ia bingung bagaimana caranya meminta izin ayahnya untuk bisa pergi ke Singapore. Tiga hari sudah Tedy memikirkan masalah ini tapi masih saja belum ada solusinya. Pukul 23.30 Tedy pulang dari acara nongkrong bareng teman-teman kampusnya. Tampak tubuh tegap berkulit putih, berkacamata, berkumis tipis mengenakan kaos oblong dan sarung tengah berada di ruang tamu menanti Tedy.

“Dari mana kamu?” tanya ayah.
“Abis maen Yah.”
“Bukan habis foto-foto?” tanya ayah lagi dengan nada ketus.
“Engga kok Yah, udah ah aku cape mau tidur.”
“Gimana rasanya menang? Kapan berangkatnya?” ayah mulai kesal.
“Menang apaan sih Yah, udah ah.” Tedy meninggalkan ayah yang masih duduk di sofa.

“Jawab dulu pertanyaan Ayah!” menarik tangan Tedy.
“Apaan sih Yah, gak jelas banget.” Jawabnya santai.
“Terus gimana praktek kamu minggu depan, udah dapet lokasinya? Di mana? Perlu bantuan Ayah gak?”
“Aku gak butuh apa-apa, lagian juga aku gak tahu mau praktek di mana.”
“Gimana kalau di Singapore aja sekalian kamu hadiri kompetisi gak penting itu.” Sindir Ayah.
“Kenapa sih Ayah gak pernah mau dengerin keinginan aku, Ayah gak pernah mau tahu tentang aku.” Tedy gerah dengan sikapnya Ayahnya itu. “Ayah udah turutin semua kemauan kamu, fasilitas yang Ayah kasih gak pernah kurang kan? Ayah selalu ngertiin kamu.”

“Ngertiin apa sih Yah, kalau semua yang aku lakuin saat ini adalah keinginan Ayah semata. Aku gak pernah mau jadi dokter dan aku gak ada sedikit pun niat jadi dokter. Jiwa aku di fotografi. Yah, itu duniaku tapi Ayah merampasnya dan memaksaku untuk jadi orang lain, aku bagai raga tanpa nyawa. Coba aja Ayah sedikit dengerin keinginan aku, sadari bakat yang aku miliki Yah. Aku cuma butuh izin dan support dari Ayah untuk bakatku ini, aku yakin aku bisa bikin Ayah bangga. Aku mohon Yah.” Ungkap Tedy. Seketika ayahnya terdiam dan meninggalkan Tedy sendirian. Tedy kesal, bingung juga sedih.

Keesokkan harinya Tedy pun menceritakan kejadian malam itu kepada ibunya. Ia ingin mendapat izin dan dukungan dari orang terdekatnya untuk bisa melanjutkan kompetisi fotografi tersebut. Sang Ibu dengan senyum simpulnya memeluk Tedy sambil berkata. “Aku meridhoimu Nak, pergilah kejar impianmu. Biar Ayahmu Ibu yang urus di sini.”

Berbekal restu dari sang Ibu, Tedy akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Singapore. Namun saat sudah berada di bandara, Tedy mendapati telepon dari adiknya bahwa ayah mereka masuk ke rumah sakit. Tedy pun bingung harus bagaimana, 20 menit lagi pesawatnya take-off sedangkan ayahnya tengah dilarikan ke rumah sakit. Pilihan yang berat untuk memilih impiannya atau orang yang sudah menghalangi mimpinya.

Lima menit sebelum take-off Tedy berlari meninggalkan pesawat dan menuju rumah sakit. Sesampainya di sana dokter mengatakan kanker yang diderita ayahnya telah memasuki stadium akhir dan kondisinya sangat mengkhawatirkan. Di sanalah Tedy tersadar mengapa ayahnya sangat menginginkan dirinya menjadi seorang dokter karena berbagai dokter spesialis kanker yang sudah memeriksanya tak menemukan harapan atas kesembuhannya.

Tedy kesal dan marah kenapa selama ini dia berprasangka buruk kepada ayahnya yang tak pernah mengizinkannya menikmati kesukaannya. Dia juga sedih kenapa ayahnya tak pernah menceritakan perihal penyakit yang dideritanya hingga separah ini. Ibunya pun menghampiri dan bercerita. “Jangan salahkan Ayahmu yang tak pernah mengizinkanmu pindah jurusan Nak, Ayah selalu yakin dan berkata kepada dokter yang mengurusnya, ‘kelak yang akan menyelamatkanku dari penyakit ini adalah anak kebanggaanku, pahlawan kecilku.’ Dan dia memilihmu sebagai pahlawan kecilnya.” cerita ibu.

“Tahu tidak, saat ia tahu kau menang kompetisi itu, dia gembira sekali sampai lompat-lompat segala, dia tahu kalau kau mampu mewujudkan mimpimu Nak, tapi dia tak akan mampu melihatmu sukses jika ia tak sembuh. Dan itu alasan kenapa Ayahmu ingin kau jadi dokter agar kelak yang menyelamatkannya adalah anak kebanggaannya sendiri, yaitu kamu.” lanjutnya. Dalam benak Tedy saat ini adalah menjadi seorang dokter hebat demi menyelamatkan ayahnya. “Maafkan aku Ayah, aku janji aku akan sembuhkan Ayah bagaimanapun caranya. Masalah kompetisi itu aku bisa ikut lagi lain waktu.” Sambil memeluk ayahnya yang terbaring lemah.

Note: Orangtua selalu tahu yang terbaik untuk anaknya, selalu ada alasan yang baik di balik sikap keras orangtua.

Cerpen Karangan: Siti Nurhasanah
Blog: earthough.tumblr.com

Cerpen Aku Dan Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awan Kelabu di Langit Itu

Oleh:
Saat mentari mulai menampakkan dirinya pada dunia, para ayam pun mulai memperdengarkan suara indahnya, saking indahnya aku malas bangun dari mimpi-mimpi indahku. Ya, hanya dalam mimpi aku bisa melihat

Karunia Tuhan

Oleh:
Seorang wanita yang tinggal berdua dengan ibunya. Ia bernama mirna dan ibunya bernama minah, ibu minah adalah seorang ibu yang penyabar dan penyayaang, tetapi anaknya si mirna sangat bertolak

Maaf Sahabat

Oleh:
Aku, Eva, Devi, Mia dan Sifa adalah sahabat karib. Kami bersahabat sejak kelas 2 SMA hingga sekarang kami duduk di bangku kuliah semester 2. Kami selalu berbagi cerita bersama-sama

Maafkan Kami Nisa

Oleh:
Danissa Nur Azizah, ya gadis berjilbab yang baru berusia 13 tahun itu kini sedang menjajakan gorengan buatan ibunya. Tak kenal letih, teriknya panas matahari atau ejekan teman-temannya. Nisa, itulah

Touch The Sky

Oleh:
Kalau bukan tekad yang kuat, apalagi yang bisa mendorong kita untuk bangkit setelah jatuh? Kawan, itu adalah motto hidupku. Jika aku tidak memiliki sesuatu yang disebut tekad, aku tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *