Aku Dia Tak Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 June 2013

Dentingan piano lagu Für Elise karangan Ludwig van Beethoven selalu ku dengar setiap ku memasuki rumah sepulang sekolah. Ya gadis anggun yang tengah melentikkan jarinya ke material putih hitam itu adekku namanya Mona, dia seumuranku namun beda 5 menit setelah ku lahir di dunia.
“Lisa” teriak mama
Tanpa meghiraukan suara itu, aku langsung masuk rumah dan hampir menaiki tangga.
“Lisa” teriakkan mama untuk kedua kalinya. Akupun berhenti sejenak dari langkah kaki yang telah menginjak tangga pertama.
“Tidak sopan! Masuk ke dalam rumah tanpa permisi, lihat baju kamu berantakan sekali, pulang jam segini dari mana saja kamu?” bentak mama cukup keras.
Tanpa berpaling badan aku menjawab “Bukan urusan mama”.
“Kamu ini maunya apa sih, selama ini mama cukup sabar menghadapi kamu. Tapi lama-kelamaan kamu semakin kurang ajar terhadap mama. Lihat itu Mona walaupun dia tak seberuntung kamu, dia bisa membuat mama bangga terhadapnya. Sedangkan kamu, Apa.. apa yang bisa mama banggakan!” hujat mama.
Itu.. itu.. dan itu.. yang setiap hari dan selalu kudengar dari perkataan mama, sungguh sakit mendengarnya. Aku selalu diam tanpa menanggapi ucapan itu. Namun kali ini aku sungguh meradang, direndahkan seperti itu. “Ma… bukanya mama setiap hari yang selalu diperhatikan itu hanya Mona, Mona, dan Mona.. Lisa seperti ini juga karena mama. Sejak ayah meninggal 5 tahun yang lalu, mama tak sedikitpun memberi perhatian ke Lisa layaknya perhatian yang mama berikan kepada Mona, Kenapa ma… Kenapa?” sahutku berpaling badan dan mendekati mama. “Apa karena Mona jago bermain piano seperti harapan mama, atau… atau karena Mona itu cacat!” tambahku.
Seketika tangan mama hampir mendarat di pipiku, “Ma… cukup ma cukup” teriak Mona. Akupun lari ke kamarku, menguncinya, lalu berbaring di tempat tidurku. Kutuangkan semua kekacauan hari ini dalam buku gambarku.

Kring….kring…kring…
Alarm telah berbunyi menandakan bahwa hari ini tepat pukul 6 pagi. Rasanya capek sekali, sehingga alarm yang berbunyi itu tak kuhiraukan.
Tok… tok… tok…
Suara pintu yang menyebalkan itu lagi. “Non bangun non” teriak bi Sumi.
“huuuftt iya bi, nanti saja masih ngantuk nih” teriakku dalam kamar.
“Non bangun, sudah jam setengah tujuh nanti non bisa terlambat sekolah” sahut Bi Sumi. “Buset jam setengah tujuh, huuuft…” teriakku. Akupun segera menuju kamar mandi, tanpa sarapan pagi seperti biasa aku langsung tancap gas menuju sekolah.

Lari sekencang-kencangnya memasuki gerbang sekolah yang hampir 45 derajat mau di tutup. Seperti biasa kucoba merayu Pak Satpam sekolah untuk diperbolehkan masuk.
“Haduh si Liboy lagi si Liboy lagi, sampai saya bosan melihat kamu merayu saya” gumam Pak Sidik.
“Plisss pak.. pliss pak kali ini saja. Suer ini yang terakhir deh, bapak kan ganteng masak tidak mau buka gerbang sih pak” pintaku.
“haduh.. ya sudah ini kali terakhir ya, awas kalau si Liboy telat lagi, apapun rayuanmu tidak saya hiraukan, mengerti!” jawab Pak Sidik.

Si Liboy si Lisa Tomboy, hahahhaha.. ya itu nama akrabku di sekolah. Teman-teman, Pak Satpam, sampai pak Ridwan guru Seni rupaku memanggilku dengan sebutan itu. Tak heran mereka sampai memanggilku Liboy, tidak seperti cewek pada umunnya yang takut hitam karena kepanasan, takut bau karena keringatan, aku biasa saja jika mentari terik menyengat kulitku jikalau aku sedang bermain basket di tengah lapangan.

Basket adalah kegemaranku namun bukan hobiku, aku suka bermain basket karena almarhum ayahku dulu pernah mengajariku basket setiap minggu di depan rumah.

“Lisa” suara Bu Mery membelakangiku.
Haduh gimana ini kalau bu Mery tahu aku terlambat lagi, gumamku dalam hati. Aku berhenti dan tetap dalam posisiku. Terdengar langkah highheels mendekatiku, lalu seseorang menepuk bahuku.
“Lisa bisa kamu ikut ibu ke ruang BP sekarang?” pinta bu Mery.
“i… i.. iya bu bisa” jawabku gelisah.

“Lisa kamu yakin sudah menyerahkan surat panggilan kepada ibumu” tanya bu Mery. “Sudah kok bu” jawabku.
“Tapi sudah seminggu setelah ibu kasih surat itu, kenapa sampai sekarang ibumu tidak kunjung datang?” tanya Bu Mery dengan wajah curiga.
“Bu, walaupun ibu membuat surat beribu-ribu kali kepada ibu saya, itu semua percuma bu. Mungkin bagi ibu saya itu semua hanyalah sampah” sahutku “Bu maaf saya izin untuk kembali ke kelas karena ini sudah permulaan jam pertama, permisi bu” tambahku seraya meninggalkan ruang BP.

Kupandangi Pak Ridwan yang tengah bediri di depan kelas, menerangkan pola-pola artistik sebuah lukisan. Beliau seperti almarhum ayahku, sabar dan kompeten. Ia juga menjadikanku anak emas di kelas, mungkin karena gambaranku selalu mendapat nilai A dari beliau.

Sama seperti almarhum ayahku dulu, selalu memberi nilai gambaranku A walaupun hanya ku gambar coretan tak berbentuk. Aku selalu sedih mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, tragis memang. Sampai merenggut nyawa orang yang aku sayang. Di tengah semuanya berbahagia dalam lembar liburan sekolah, aku meratapi kesedihanku di tinggal seorang ayah. Kecelakaan beruntun yang menewaskan sepuluh orang termasuk ayahku menjadi lembaran usang yang susah kulupakan. Waktu itu kunikmati liburan dengan keluarga harmonis di puncak, lalu kami bernyanyi bersama-sama… brakkkkk… sebuah kecelakaan tak dapat dihindarkan, truk yang berada di seberang jalan menabrak bus yang ada di depan kami, cuaca tak mendukung kabut tebal menemani kami waktu itu. Akupun masih beruntung walau sempat mengalami koma selama 3 hari, Mona yang duduk di sebelahku ketika di mobil harus merelakan kaki kananya untuk diamputasi, namun ayah…
“Lisa.. lisa…” suara Pak Ridwan membangunkanku dalam lamunan kelam. “Kamu baik-baik saja kan, jangan melamun saja nak.” Tambah pak Ridwan sambil memegang bahu kananku.

“huuufff lelah sekali hari ini” gumamku sambil memasuki rumah lalu melepaskan tas dan sepatu.
“Haduuh, non ini kebiasaan deh, setiap pulang sekolah selalu melepaskan sepatu, kaos kaki, dan tas sembarangan” sahut bi Sumi.
“iya deh maaf bi, maaf ya. Iya sekarang Lisa biasain deh gak naruh sepatu sama tas sembarang tempat. Hehehehe..”
“ya gitu dong non, bibi kan juga senang kalo non Lisa bisa berubah yang lebih baik.”
“Bi, ngomong-ngomong mama sama Mona kemana kok sepi rumah?”
“O.. nyonya lagi menemani si Mona pentas non..”
“O…”
“Kok cuman O doang non, kok gak tanya gitu, di mana, bagaimana?”
“Buat apa bi, nanya kayak begitu, orang yang ditanyain aja tidak pernah nanyain aku, ahhh sudahlah bi… Lisa mau ke kamar dulu mau rebahan habisnya capek sih… huuuft”

Ku minum segelas jus Jambu merah yang ada di kulkas lalu menuju kamarku yang ada di lantai 2. Berjalan menaiki tangga, menelusuri lorong lalu sampailah di depan kamarku. Berhenti sejenak, aku mengingat sesuatu. Ruangan yang ada di sebelah kamar Mona yang ada di depan kamarku. Berbalik arah dan ku pegang gagang pintunya… greekkk… Tumben sekali ruangan ini tak dikunci, padahal selama ini kucoba untuk membukanya namun tak bisa. Kubuka lebar pintu itu, gelap yang ku lihat dan pastinya berdebu karena aku sampai batuk, maklum aku dari kecil alergi dengan debu.

Kunyalakan lampu, kulihat lukisan-lukisan indah terpampang dan tersusun rapi di sebuah ruangan itu yang kini telah usang dan sebagian ditutupi debu. Kucoba mengingat ruangan ini, kuberjalan dan berjalan lalu kutemui lukisan dengan gambar seorang ayah dan ibu yang menggendong kedua anak kembarnya, mereka tersenyum kepadaku. Mereka harmonis dan sungguh bahagia dalam lukisan itu, namun semua itu hanya lukisan. Tetesan air mata membasahi pipiku seketika aku melihat gambaran penari bali yang ada di pojok, nilai A untuk lukisan itu. Itu lukisanku… ya itu lukisanku ketika aku masih belajar melukis kepada ayah. “Ayah…”

Kupandangi kuas hadiah pemberian ayah, kusimpan rapi beserta surat terakhir yang di tulis ayah sebelum beliau meninggal. Kuas itu dihadiahkan padaku karena aku berhasil mendapat juara satu lomba melukis anak setingkat SD seJABOTABEK. Aku masih ingat waktu itu betapa ayah bangga terhadapku, ia menggendongku tinggi sekali di pundaknya. Ayahku dulu seorang pelukis berbakat, lukisanya sampai diminati di luar negeri. Dulu sering sekali ayah mengadakan pameran lukisan, dan banyak turis asing yang mengagumi lukisan ayah. Ayahku sangat kagum dengan lukisan Leonardo Da Vinci yang lukisanya diberi nama Mona Lisa. Sampai-sampai anak kembarnya juga diberi nama Mona dan Lisa.

Aku jadi teringat pada pesan ayah di surat, bahwa aku harus bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan padaku dan jadilah dirimu sendiri. Kata-kata itu membuatku bangkit, mulai saat itu aku berusaha meneruskan cita-cita ayah. Aku membersihkan ruang kerja ayah yang lebih tepat disebut gudang. Dengan bantuan Bi Sumi kerjaan yang beratpun menjadi ringan. Huuft.. akhirnya selesai juga.

Kuturuni tangga putar rumahku menuju ruang makan yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Ku ambil nasi dan ayam goreng yang ada di meja makan, karena malas untuk naik tangga lagi, aku makan di dapur saja. Dari kejauhan aku mendengar lengkingan tawa dari ruang depan. Aku penasaran dan aku mencoba untuk melihatnya ke depan.
Ku intip dari bilik tembok ruang keluarga, ku lihat ada beberapa teman arisan mama. Di sebelah mama ada Mona dengan kursi rodanya, mereka saling bercanda dan tertawa. Mama selalu membanggakan Mona di depan teman-temanya, mamapun menyuruhku agar tak boleh ke depan ataupun keluar jika teman arisan mama datang.
“Mona anak saya baru saja loh bu juara I lomba cipta karya klasik” kata mama dengan nada bangga.
“Selamat ya bu, anak anda memang sangat berbakat. Lalu anak anda yang satu lagi itu bagaimana bu juga membanggakan kan?” seru salah teman arisan mama.
“Haduh si Lisa itu tidak seperti Mona, dia itu anaknya membangkang beda dengan adiknya. Sampai saya itu tidak tahu harus bagaimana saya bersikap kepadanya.” Sahut mama.
Sakit rasanya mendengar perkataan itu, memang aku tak seperti yang mama harapkan menjadi seorang pianis seperti Mona. Maklum, mama dulu seorang pianis dan ingin menjadikan putri-putrinya seperti dia. Sekarang mama menjadi guru privat piano yang mempunyai banyak sekali murid salah satunya si Mona.

Kulihat jam tanganku berkali-kali, sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Namun mama sampai saat ini belum tampak batang hidungnya. Jam sepuluh berlalu, dan jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas. Aku gelisah apa mama menyangka surat yang kuberi itu merupakan surat panggilan sekolah sehingga ia langsung membuangnya ataukah mama memang belum membaca suratnya yang telah kuletakkan semalam di bawah bantal mama. Tak berpikir panjang akupun segera membuka acara, mungkin ini adalah cita-cita ayah sebelum dia meninggal. Aku telah berusaha keras untuk mewujudkan hari ini dari pundi-pundi tabunganku dan donatur yang sedia membantuku. Hari yang selalu kutunggu-tunggu dan kini hampir terwujud tinggal selangkah lagi. Berkat usahaku dan usaha teman-temanku yang ikhlas membantuku menyebarkan undangan online untuk menghadiri Pameran Lukisan ini.

Kupajang lukisan-lukisan ayah yang belum sempat dia pamerkan. Akupun tidak menyangka, acara ini begitu ramai sekali. Hingga pada acara inti, yaitu pelelangan sebuah karya lukisan. Namun hingga pada pertengahan acara aku sempat kecewa kepada mama, mengapa ia tak hadir dalam acara yang ingin aku persembahkan buat mama. Hari ini bertepatan dengan ulang tahun mama yang ke-45.

“Bagaiman kalau 50 juta?” teriak salah satu pelelang lukisan
“Kalau 75 juta?” teriak yang lain
Aku sangat tak menyangka pelelang sampai berani menawarkan harga selangit itu demi mendapatkan sebuah lukisan dengan gambar wajah perempuan paruh baya yang tersenyum lembut lengkap dengan topi merah eleganya.
“Bagaimana kalau seratus juta nak?” teriak pelelang dari kejauhan
Wow… harga yang sangat fantastis bagiku, akupun segera menyanggupinya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
“Tapi ada satu syarat nak, jelaskan kepada kami makna dari lukisanmu itu? “pinta pelelang
“Baik pak, sebenarnya lukisan ini adalah lukisan gambar wajah mama saya ketika masih muda. Khusus saya buat demi beliau. Beliau sangat senang sekali dengan topi merah yang dia pakai, selalu dibawanya kemana-mana beliau pergi. Senyumnya pun manis sekali, tiada wanita yang dapat mengalahkan keanggunanya. Namun, hari ini beliau tak dapat hadir di sini mendampingi saya. Mungkin beliau sibuk dengan pekerjaanya sebagai guru privat piano, ataukah mungkin acara ini memang tak penting baginya. Seandainya mama ada di sini ingin sekali saya mempersembahkan lukisan ini kepadanya untuk hadiah ulang tahunya.” Kenapa pada keadaan seperti ini air mata tak bisa dibendung, akupun meneteskan air mata di depan acara.

Dari kejauhan terdengar tepuk tangan keras lalu ia berteriak “mama sayang kamu Lisa”. Aku seperti mengenali suara itu, ya… itu suara mama. Mama berlari menuju arahku lalu memelukku. Ya Tuhan sekian lama aku tak di peluk mama, apakah ini rasanya dekapan lembut kasih sayang seorang ibu, tenang dan nyaman sekali.
“Maafkan mama Lisa, selama ini mama belum bisa menjadi orang tua yang adil bagi kamu, mama hanya bisa memaksakan kehendak mama saja. Maafkan mama nak. Mama sangat bangga sekali kepada kamu nak, maafkan mama sayang.” Permintaan maaf mama, aku tahu mama menangis hingga bagian atas rambutku basah.
“Lisa juga minta maaf ma, selama ini Lisa juga tidak menghargai mama, sudah kurang ajar terhadap mama.”
“Mama sayang sama Lisa.” Deru mama sambil tak berhentinya tangisan harunya
“Lisa juga sayang mama.”

Canda tawa mulai hidup kembali dalam keluarga kecil harmonis ini, kini tepat 5 tahun kepergian ayah. Mama, Mona, dan aku bersiap-siap menuju makam ayah. Dari sini aku dapat menuai pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku, setiap orang diciptakan untuk tidak saling menyamai. Di dalam diri seseorang terdapat kelebihan atau kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain, jadi tetaplah bersyukur atas apa yang Tuhan anugerahkan kepadamu. Jalan yang telah digariskan Tuhan adalah jalan yang terbaik dalam hidupmu!?

Cerpen Karangan: Rully Prameisti Audhina
Facebook: Rully Prameisti Audhina
Sekolah: SMA NEGERI 2 SURABAYA/ X-5

Cerpen Aku Dia Tak Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah, Ini Persembahan Terakhirku

Oleh:
Ayah, mengapa engkau seperti ingin aku pergi? Mengapa engkau menganggapku sebagai Pembantu? Bahkan babu yang tidak berakal. Aku, William. William yang pengecut, Penakut, Ceroboh, bahan pembullyan bahkan pelabrakkan. Walaupun

Air Mata Hasna (Part 1)

Oleh:
Hening yang bening. Hasna menghela napas dalam. Ditutupnya alquaran setelah sholat tahajut. Sebelum menyimpan di rak buku paling atas, hasna mencium alquran terlebih dahulu. Di luar hujan reda. Sepertiga

Ikhlas

Oleh:
Aku terdiam menikmati heningnya malam, sembari duduk di tepi bangku panjang, tempatku biasa menunggu angkot menuju rumah. Beginilah kehidupan, ternyata hidup memang menyakitkan dengan segala cobaan dari Tuhan untuk

Jalan Pulang

Oleh:
Samar-samar kudengar dehasan nafas Ayahku. Kami sedang mendaki sebuah gunung menuju rumah tempat kami bercerita, tempat kami melepas piluh, tempat kami tertawa. “Ayah, biarkan Aku Jalan sendiri Yah.” mintaku

Happy Mothers Day

Oleh:
Namaku Thalita Amara Permatasari. Kalian bisa memanggilku Amara. Aku duduk di kelas lima SD. Aku mempunyai seorang kakak perempuan bernama Nayla Amira Permatasari. Kak Nayla akrabnya. Kak Nayla duduk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *