Aku Ingin Ke Korea

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 October 2015

Amuk gadis bernama Risma itu. Semua orang yang ada di meja makan melongo seketika. Memerlihatkan mulut mereka yang berisi penuh makanan. Bahkan sampai ada yang menggigit sendok. Suasana menjadi hening. Bingung melihat Risma yang kini melipat tangan di dada. Berlagak kesal.

“pokoknya, aku pengen ke korea!!!” tambahnya lagi. Yang semakin membuat orang-orang yang ada di sana tambah melongo gak jelas. Bahkan salah satu dari mereka berani-beraninya menimpuk Risma dengan biji salak.
“Addaaww..” ringis gadis itu sambil memegangi kepalanya yang menjadi korban timpukan biji salak oleh Adik laki-lakinya.
“makanya kalau mau tidur itu baca doa dulu. Jadi nggak ngelindur kayak gini deh…” celetuk Adik laki-lakinya, yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Risma. Seketika wajah Adiknya langsung menciut.

Mengerti telah terjadi ketegangan antara mereka, Ayah mereka melerai.
“sudah.. Sudah.. Pagi-pagi kok ribut” ucap Ayah pada keduanya. “Risma, sebaiknya kamu mandi dulu, terus siap-siap berangkat sekolah” tambah Ayah mencoba untuk selembut mungkin. Risma yang awalnya masih kesal. Menjadi luluh karena ucapan Ayahnya. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi.
Di sisi lain.
“yah.. Pagi-pagi kok Kak Risma kayak gitu. Bikin ribut aja deh. Teriak-teriak segala lagi” celetuk bocah bernama Vino itu.
“udah.. Udah.. Cepat makan..” potong sang Ibu melerai.

Suara dentingan garpu dan sendok mengiringi sarapan mereka. Keluarga yang terdiri dari 4 orang itu, terdiam dalam pikiran masing-masing.
“aku udah selesai, aku mau berangkat sekolah dulu.” Ucap Risma datar. Masih terlihat kekesalan di wajahnya.

Orangtuanya hanya menghela napas pasrah. Sudah berkali-kali mereka dihadapkan dengan suasana seperti ini. Risma sering sekali merajuk meminta hal yang tidak pernah mungkin bisa dilakukan. Yaitu pergi ke korea. Bahkan orangtuanya sudah paham akan kelakuan Risma yang kesal setelah orangtuanya menasihatinya pagi-pagi. Apalagi, kalau bukan tentang keinginan Risma pergi ke Korea. Orangtuanya bahkan tahu Risma suka sekali dengan k-pop, yang menurut mereka itu hanya sifat ingin tahu seorang Remaja saja. Tapi jadinya lain, mereka tak tahu akan seperti ini.

Di sekolah.

“sebel nih.. pagi-pagi udah disemprot. Mana ditimpuk biji salak lagi” celetuk Risma dengan raut muka kesal.
“hemm.. Korea lagi ya?” jawab Mariska sambil baca buku karena ia hanya mengangggap ucapan Risma hanya angin lalu.
“iya, padahal kan aku cuma pengen ke korea. Gitu aja kok.. Gak ada yang lain.” ucap Risma memasang muka kesal.
“kamunya aja yang berlebihan. Kasihan kan orangtua kamu. Tiap hari harus denger rengekan kamu yang minta pengen ke korea. Mending-mending ke ancol, dufan atau ragunan, mungkin orangtua kamu masih sanggup. Tapi untuk ke korea kan butuh uang yang banyak… Bla… Bla…” ceramah Mariska panjang lebar. Yang membuat Risma harus menutup telinga rapat-rapat.
“Percuma aja curhat ke Mariska. Pasti ujung-ujungnya diceramahin,” batin Risma.

Ia membiarkan Mariska dengan bla..blanya. Ia menghela napas kasar. Kemudian duduk di bangkunya sambil memikirkan keinginannya pergi ke korea. “Haruskah aku berjuang sendiri?” Batin Risma. Ia mencoba memotivasi diri sendiri. Mungkin ada jalan keluar. Ya, kalau orang lain tidak mau membantu, tentunya harus berusaha sendiri. Risma kemudian tersenyum sumringah. Bel masuk berbunyi. Pelajaran berjalan seperti biasanya.

Di rumah, setelah pulang sekolah.
“vin, Ayah Ibu belum pulang? Ini kan udah jam 5 sore.” tanya Risma kepada Adiknya yang terlihat bermain dengan PSPnya.
“katanya mereka lembur, jadi Kakak yang masak buat malam nanti” jawab Vino masih menatap layar PSPnya.
Mendengar itu, Risma menjadi kesal. Selain harus memasak untuk makan malam, ia juga harus membersihkan rumah sendiri. Mana mau Vino membantunya. Untuk sekedar menaruh piring di rak pun Vino malasnya minta ampun. Apalagi mengurus rumah. Jangan dipikirkan lagi.

Risma menghela napas panjang. Biasanya Ibunya kalau lembur, baru akan pulang jam 9 malam. Tapi Ayahnya akan pulang sangat larut. Bahkan sampai pukul 1 pagi. Pekerjaan mereka sungguh menyita waktu. Untuk sekedar berkumpul dengan keluarga pun harus minta cuti mati-matian kepada bos mereka. Malam itu Risma dan Vino mengerjakan tugasnya. Setelah selesai, bukannya menunggu orangtuanya pulang, mereka malah tidur sejak tadi.

Terdengar langkah kaki memasuki kamar Risma. Ia melihat sebuah buku berwarna biru. kemudian membuka dan membacanya. Orang itu nampak terkejut.
“ternyata dia sangat serius ingin pergi ke korea. fiiuuhhh..” ucapnya memelankan suara.

Kukuruyukk!!!

Terdengar suara ayam jago. Risma dan Adiknya sudah bersiap berangkat sekolah.
“Ayah Ibu mana?” tanya Risma pada Adiknya.
“Ayah Ibu udah berangkat kerja dari tadi. Kakak bangunnya kesiangan sih..” celoteh Vino sembari melahap nasi gorengnya.
Risma tak menanggapi ejekan Adiknya. Ia lebih memikirkan orangtuanya. Tidak biasanya mereka seperti ini. Kalaupun sangat sibuk mana mungkin tidak sempat pamit. Risma hanya menghela napas. Kemudian melahap sarapannya.

Sudah 2 minggu Risma melakukan pekerjaan rumah sendiri. Orangtuanya semakin hari semakin sibuk bekerja. Kalau mereka pulang cepat pun, di rumah tetap saja bekerja. Kalau hanya 1 atau 2 hari, Risma masih memaklumi orangtuanya seperti itu. Tapi ini berbeda, ini sudah 2 minggu lamanya. Sampai-sampai Risma sudah melupakan keinginannya pergi ke KOREA. Ia lebih memikirkan bagaimana caranya agar membuat orangtuanya tidak lembur terus-terusan. Risma menghawatirkan kesehatan orangtuanya. Apalagi Ibunya yang setiap pulang kerja wajahnya selalu pucat.

Pagi ini Risma akan mengatakan semuanya. Bahwa ia tidak mau orangtuanya terus-terusan gila kerja sampai-sampai tidak mengurus anaknya sendiri.
“Ibu, Ayah, Risma pengen ngomong sebentar.” ucap Risma di tengah-tengah kegiatan sarapan mereka.
“memangnya ada apa Ris? Uang jajanmu kurang lagi? Nanti Ayah tambah la…”
“bukan itu yah.. Risma cuma pengen Ayah sama Ibu gak lembur terus-terusan.” ucap Risma berhasil membuat orangtuanya memandang ke arahnya.

Ibu Risma menghela napas. Kemudian meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
“Risma, kami bekerja juga untuk masa depan kamu. Untuk keluarga kita.” ucap Ibu Risma disertai anggukan Ayahnya.
“tapi kan ini udah 2 minggu. Masa lembur terus sih. Bahkan hari libur pun gak ada waktu.” pungkas Risma. Wajahnya terlihat kesal. “Ayah Ibu jadi nggak bisa mengurus kita kan. Gila kerjaa terus.” tambahnya sembari beranjak akan pergi sekolah.
“tapi ris…” ucap sang Ayah sebelum tiba-tiba dipotong oleh Risma.
“udahlah… terserah kalian.” ucapnya ketus, kemudian beranjak pergi.
“gimana ini yah.. Apa rencana kita dibatalkan aja. Lagi pula sepertinya Risma sudah tidak memikirkan keinginannya lagi” ucap sang Ibu.
“hmm… lihat dulu saja. Terserah Risma maunya bagaimana.” jawab sang Ayah. Kemudian keduannya terdiam.

Risma melempar tasnya kasar. Ia terlalu cape walau hanya untuk memunguti alat tulis yang sudah berserakan di lantai. Dihempasnya tubuh itu ke kasur. Kemudian sedikit melirik buku biru di meja nakas. Lalu mengambilnya. Membuka, membacanya dan.. Risma terlonjak kaget. Betapa ia terkejut, setelah membuka buku diarynya itu. Ada kartu ATM, paspor, dan surat-surat lainnya yang tidak ia mengerti. Dan yang lebih mengejutkan adalah. Paspor itu tertuju pada negara KOREA SELATAN. Risma tak mengerti semua ini. Ia terlalu terkejut. Akan hadiah yang didapatkannya. Ia membolak balik buku itu. Dan menemukan sebuah tulisan. Ia membacanya.

“Ini dari Ayah dan Ibu, semoga kamu suka ya, maaf Ayah dan Ibu sering mengecewakanmu. Beruntung di kantor Ayah ada rekomendasi jabatan kepada Ayah. Karena telah bekerja keras dan lembur setiap hari. Tapi Ayah tolak dan sebagai gantinya, Ayah meminta ke bos Ayah untuk memberangkatkan anak Ayah ke korea selatan. hanya ini yang bisa Ayah Ibu berikan. Annyeong haseyo Risma.
Hehe.. Ayah juga bisa bahasa korea juga loh.. ”

Sejenak Risma Terdiam. Ia mencoba memikirkan maksud dari tulisan itu. Setelah beberapa menit kemudian, bukannya tertawa atau melompat-lompat di kasur sangkin senangnya. Risma hanya terdiam. Mulai meneteskan air mata. Ia menyadari kalau orangtua mereka telah bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginannya pergi ke korea. Ia tak mengetahui bahwa dirinyalah yang egois. Hanya memikirkan dirinya sendiri. Risma mulai terisak. Ia menangis dalam diam. ia merasa bersalah kepada orangtuanya. mungkin mereka terlalu terkekang dengan permintaan Risma yang berlebihan. Risma semakin menangis kencang setelah melihat kedua orangtuanya tengah tersenyum di ambang pintu. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan mereka. Menangis sekencang-kencangnya.

“sudah.. jangan nangis lagi.” ucap sang Ibu menenangkan.
“te.. Hiks.. Te-terima.. Hiks.. Kasih Ayah.. Ibu” ucap Risma dalam isakannya.

Beberapa menit kemudian. Risma sudah mulai berpikir tenang. Ia sedang tidur di pangkuan Ibunya sekarang. Risma melihat kembali paspor yang sedari tadi dipegangnya.
“ooh iya.. Risma ke korea cuma sendirian bu?” tanya Risma sembari terus melihat paspor.
Ibunya tersenyum “iya nggak, kamu akan ditemani sekretaris bos Ayah”
“he-eh? Jadi kita gak ke sana sekeluarga?” tanya Risma.
“Tidak.” Ibunya tersenyum. Lagi.

Risma sedikit kecewa dengan jawaban Ibunya. Entah kenapa obsesinya yang ingin ke korea, kini sedikit demi sedikit mulai hilang. Ia hanya ingin bersama keluarganya sekarang. Tiba-tiba ide cemerlang melintas di kepalanya.
“aku gak mau ke korea bu.” kata Risma berhasil membuat Ibunya mendelik bingung. “gimana kalau kita piknik ke tempat Nenek aja sekeluarga, di sana kan pemandangannya indah, gak ada polusi lagi.” kata Risma kali ini semakin membuat Ibunya terkejut.
“he-eh? Kenapa jadi berubah? ini kan impian kamu.”
“sekarang impian aku berubah bu..” kata Risma tersenyum tulus. “impianku sekarang hanya ingin terus bersama dengan keluarga. Piknik bareng. Berlibur bareng. Pokoknya semua bareng deh. Masalah yang ke koreanya Ibu bisa batalin kan..”

Ibunya tersenyum tulus melihat tingkah gadis kecilnya itu, kemudian memeluknya hangat.
“terserah kamu” ucapnya lembut.
Dan itu membuat hati Risma sadar, bahwa keegoisan itu tidak baik, serta kasih sayang keluarga itu sangat tulus hingga membuatnya merasakan surga bersama mereka.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indach Ade Widyaismatriayuningsih

Cerpen Aku Ingin Ke Korea merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Do?

Oleh:
Sinar matahari membuatku terbangun dari tidurku, rupanya seseorang telah membuka jendela dan membiarkan matahari dan udara pagi masuk ke kamarku. Aku pun bergegas pergi ke meja makan, seperti dugaanku

Air Mata Hasna (Part 2)

Oleh:
Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan

Pesan Tak Berjudul

Oleh:
Malam ini bintang terlihat indah, mereka begitu berkilauan. Rasanya sayang untuk dilewatkan ditambah ayah sedang di rumah malam ini. “Anak ayah ini, kenapa seneng banget sama bintang sih?” Tanya

Usap Rambut Ku, Ma

Oleh:
Belaian tangan Ibu sangat dirindukan gadis kecil itu. Ia kesepian, tak hadir sayang yang dia harapkan. Ayahnya sudah wafat lebih dulu dua tahun silam. Hanya Babysitter yang setia menemaninya

Detak Jantung Aisha

Oleh:
“Aisha, kamu yang kuat yaa,” kata ibu mengkhawatirkanku. Aku tak mampu bercakap apa-apa untuk membalas ucapannya. Jantung ini terasa sangat berdebar-debar seperti ingin keluar dari tempatnya. Aku tak tahu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *