Aku Mau Menjadi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Di sudut sebuah ruangan tampak sesosok pria tua renta sedang duduk bersila menikmati makan siangnya, dengan perlahan ia memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya. Ia terlihat begitu kesulitan dengan aktivitasnya tersebut. Maklumlah semenjak ia kena stroke ringan, tangannya jadi suka gemetaran sehingga ia membutuhkan upaya ekstra untuk melakukan setiap aktivitasnya.

“Kakek!! Aku sudah pulang!”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan terlihat sosok gadis kecil dengan senyum riang melangkah memasuki kamar tersebut serta merta menyapa Kakeknya. Ya, seperti biasanya setiap pulang sekolah Citra si gadis kecil yang periang menemui Kakeknya, memeluk, dan menciumi wajah keriput itu, ia sangat sayang kepada Kakeknya. Namun hari itu ia melihat ada sesuatu yang berbeda, dan hal itu membuatnya bersedih.

“Kek, kenapa Kakek makan dan minum pakai tempurung kelapa? Apakah di rumah ini sudah tidak ada piring dan gelas?” Tanyanya dengan perasaan heran bercampur sedih.
“Oh cucu Kakek yang manis, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Lihatlah wajahmu jadi mirip kura-kura hahaha…”
“Kek, sudahlah jangan coba alihkan pembicaraan, kenapa Kakek harus makan dan minum dari tempurung kelapa itu?” Kembali ia memburu Kakeknya dengan pertanyaan yang sama.
“Oh ini ya.. Ya Kakek.., Kakek suka aja makan pakai ini, lebih alami dan awet kan?” Jawab sang Kakek sambil tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya.

“Oh ya, ya Citra mengerti sekarang, Ayah dan Ibu kan yang memberikan ini kepada Kakek, supaya tidak ada lagi piring dan gelas yang pecah jika tangan Kakek mulai gemetaran saat makan?! Sungguh keterlaluan mereka!”
“Sudahlah cu, Kakek malah lebih senang seperti ini, lagi pula sudah banyak sekali piring dan gelas kalian yang Kakek pecahkan. Sudahlah bergegaslah untuk mengganti pakaianmu, Ayah dan Ibumu pasti sudah menunggu di meja makan.” Dengan wajah kesal dan sedih akhirnya Citra meninggalkan ruangan itu, sang Kakek hanya menghela napas melihat kepergiannya.

Di ruang makan Citra tampak murung dan tidak selera menikmati hidangannya di atas meja. Kedua orangtuanya merasa heran, tidak seperti biasanya mereka melihat Citra seperti itu.
“Citra, kamu sakit ya nak?” tegur Ibunya. Lalu terlihat anak itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Mungkin kamu ada masalah di sekolah?” Ayahnya menimpali. Kembali Citra hanya menggelengkan kepalanya.
“Lalu masalahnya apa sayang? Kok kamu tampak begitu murung dan bersedih?”
“Kakek bu, kenapa Ayah dan Ibu tega memberikan tempurung kelapa pada Kakek sebagai tempat makan dan minum?”

“Citra, Kakek kan sudah tua. Lagi pula sudah terlalu banyak piring dan gelas yang dipecahkan oleh Kakekmu, kami kan cape dan repot harus mengurusi hal itu terus. Jadi untuk sementara biarlah Kakek makan pakai tempurung kelapa sampai ia sembuh.” Sahut Ibunya.
Pedih hati Citra mendengar perkataan orangtuanya, berbulan-bulan ia harus menyaksikan Kakek tersayang makan dan minum menggunakan tempurung kelapa. Suatu hari penyakit si Kakek semakin parah sehingga pada akhirnya ia harus kehilangan Kakeknya untuk selamanya. Ia sangat terpukul dan sedih dengan kepergian sang Kakek tercinta, dua tempurung kelapa milik si Kakek disimpannya baik-baik di meja kamarnya.

Pada suatu hari dalam suasana makan malam, ada sesuatu yang mengejutkan terjadi.
“Sudahlah Citra, kamu jangan terus bersedih, Kakekmu sudah beristirahat dengan tenang.” Hibur sang Ibu padanya.
“Oh ya sayang minggu depan Ayah akan mengajak kalian untuk berlibur ke Bali, sangat menyenangkan bukan?” Sang Ayah pun tak mau kalah.
“Iya Ayah, iya Ibu,” jawab Citra singkat.
“Nah begitu dong, itu baru anak Ayah dan Ibu.” Puji sang Ayah,
“Oh ya Citra, Ayah mau tanya, kelak cita-cita kamu apa sayang?”

Dengan mantap anak itu menjawab, “aku ingin jadi seperti Ayah dan Ibu.”
Lalu kedua orangtuanya saling pandang. “Loh kamu harus punya cita-cita yang lebih tinggi dari kami nak, kamu harus bisa jadi lebih hebat.”
“Tidak Ayah, aku cukup jadi seperti Ayah dan Ibu saja kelak, agar Ayah dan Ibu tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti Kakek.” Jawabnya dengan datar sambil menunjukkan dua buah tempurung kelapa di tangannya.

Wajah kedua orangtuanya langsung memerah, wajah mereka seperti tertampar ribuan telapak tangan, terlihat mata sang Ibu mulai berkaca-kaca dan Ayahnya pun hanya mampu menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan. Mereka telah membuat dua kesalahan besar. Pertama mereka mengabaikan orangtua yang telah banyak berkorban untuk mereka, menafkahi dan membesarkan mereka. Kedua mereka telah salah memberikan teladan kepada sang anak tercinta.

Cerpen Karangan: Boma Damar
Blog: bomadamar.blogdetik.com
Sahabat yang budiman, semoga cerita di atas dapat memberikan pelajaran bagi kita dalam menentukan sikap yang pengasih dan perduli kepada orang lain, terlebih lagi kepada mereka yang sangat menyayangi dan kita sayangi. Berikan yang terbaik buat mereka yang telah memberikan yang terbaik bagi kita, berikan yang terbaik untuk semua agar setiap kebaikan menjadi terang di dalam setiap jiwa yang menerimanya. Sebab apapun yang kamu inginkan agar orang lain perbuat terhadapmu, perbuatlah hal itu lebih dulu kepada mereka.

Cerpen Aku Mau Menjadi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boneka Dari Kakek

Oleh:
Linda adalah anak yatim piatu. Kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan mobil 3 tahun lalu. Linda dirawat oleh kakeknya. Neneknya sudah meninggal karena terkena penyakit jantung. “Kek, ini makan

Kenangan Bersama Bapak

Oleh:
Entah mengapa langit hari ini terasa lebih tinggi bagi Dani. Dani membuka jendela, angin terasa berhembus dengan sangat kencang, sehingga menjatuhkan beberapa daun kering dari rantingnya. Srkkk.. srrk, dari

Kerinduanku

Oleh:
Dear, aku masih ingat saat awal kita bertemu. Saat itu adalah ujian pertama di sekolah dan aku melihatmu sepintas lalu, tak ada yang aneh ketika aku melihatmu, semua mengalir

Ini Sudah Terjadi

Oleh:
Apakah ia tidak berpikir bahwa sebenarnya itu salah? Mungkin begitu. Tetapi mungkin juga tidak. Tidak setiap saat, kecuali jika suasana sedang mendukung. Memang itu sangat berguna untuk kebaikkanku maupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *