Aku Menginginkan Duniamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 30 December 2017

Hai, namaku Adam. Aku sama seperti kalian yang bersekolah untuk menuntut ilmu. Aku tidak pernah mengetahui sisa umurku di dunia yang didiagnosis oleh dokter. Karena ibu melarangku untuk mengetahui hal itu. Ibu juga pernah mengajariku “Untuk menerima semuanya dengan ikhlas.” kata ibu.

Apa yang aku miliki sungguh jauh berbeda dari apa yang kalian punya selama ini. Kalau kalian melihatku secara langsung mungkin kalian akan terkejut bahkan tidak mau melihatku lagi untuk yang kedua kalinya. Tapi tidak apa, setidaknya kalian mau melihatku walau disengaja. Bagi sebagian orang, aku dianggap seram seperti monster berkepala besar. Maka dari itu, kebanyakan orang yang tidak mau bertemu bahkan tidak mau berteman denganku. Karena mereka takut tertular oleh penyakit yang aku alami, dan mereka juga tidak menganganggap aku sebagai manusia biasa pada umumnya.
Melihat reaksi mereka, aku hanya tersenyum dan mengucap rasa syukur. Rasa syukur kepada Tuhan karena aku masih diberi kesempatan untuk hidup dan dapat melihat indahnya dunia.

Kadang, ada masa dimana aku merasa iri kepada mereka yang kondisinya lebih baik daripada yang kuhadapi. Mereka yang mempunyai banyak teman, dan mereka yang tidak kesepian selama di sekolah. “Gak sudi ya, berteman sama orang yang penyakitan.” kata salah satu temanku. Tapi aku harus kuat karena aku masih menyayangi ayah dan ibuku. Aku tidak ingin menangis di depan orang yang aku sayangi. Karena aku tidak ingin menambah beban di pundak mereka.

Aku juga mempunyai nenek dan paman. Mereka yang selalu menemani dan yang selalu membantuku disaat kesulitan. Salah satunya disaat aku kesulitan berjalan. Kesulitan buang air kecil dan besar atau saat aku berada di sekolah. Tapi semua itu dapat dibantu dengan kursi roda. Ya, walaupun kursi roda yang kumiliki tidak sebagus dengan kursi roda baru yang ada di toko.

Setiap hari ayah dan paman bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami. Ayah bekerja sebagai sopir taksi dan paman hanya seorang buruh serabutan. Dengan penghasilan yang tidak menentu setiap harinya. Sedangkan ibu hanya menjaga rumah dan merawat nenek serta merawatku. Nenek seringkali mengalami stroke ringan. Jadi perlu biaya tambahan untuk membeli obat. Kadang diantara aku dan nenek ada yang mengalah, untuk tidak meminum obat secara bersamaan. Karena kehidupan keluarga kami yang sangat kurang berkecukupan.

Kami tinggal di sebuah rumah petak dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang tamu. Itu semua sangat sederhana, dan jauh dari pusat keramaian. Letaknya paling belakang di antara rumah-rumah lainnya. Serta harus melewati jalan setapak karena jarak antara rumah dengan jalan tidak terlalu jauh. Ditambah lagi dengan adanya selokan di depan rumah. Rumah itu hanya sekedar kontrakan kecil yang kami tempati. Walaupun begitu, aku harus membuat rasa nyaman di dalam rumah.

Di hari biasa saat masuk sekolah, aku begitu bersemangat untuk datang ke sekolah. Biasanya aku diantar ayah atau paman sebelum mereka pergi bekerja. Dan tidak lupa dengan ibu yang selalu menemaniku. Sebelum berangkat sekolah, ibu selalu memakaikan topi kupluk warna merah di kepalaku. Dan tidak lupa memakaikan jaket. Kursi roda ditinggal begitu saja di rumah.

Saat turun dari motor aku digendong ayah menuju kelas. Karena berangkat terlalu pagi, dan akhirnya aku yang datang pertama di kelas. Masih sepi, teman-temanku belum datang. Padahal hari ini ujian semesteran tetapi mereka belum juga datang. Aku berinisiatif untuk membuka buku dan belajar.

Tidak terasa hari semakin siang bel pulang sekolah berbunyi. Menandakan ujian sudah selesai. Teman-temanku langsung membubarkan diri untuk pulang ke rumah. Aku masih diam di kelas menunggu ibu datang. Tidak lama kemudian ibu datang bersama ayah, lalu ayah menggendongku menuju motor untuk pulang ke rumah.

Ujian sudah seminggu dilaksanakan dan tinggal menunggu hasilnya. Menurutku ini adalah hal yang paling menakutkan. Ibu dan ayah pergi ke sekolah untuk mengambil rapor. Aku tidak ikut bersama mereka. Aku lebih memilih menunggu di rumah dan menemani nenek.

Rasa penasaranku semakin memuncak ketika menunggu hasil rapor. Aku berharap ayah dan ibu pulang membawa kabar baik. Nenek berusaha menggodaku dengan bertanya kejujuran saat mengerjakan ulangan. Di antara kami sempat ada lelucon sampai membuat kami tertawa kecil.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Akhirnya ayah dan ibu pulang. “Ibu, bagaimana dengan nilai raporku?” aku berteriak dari dalam rumah. “Alhamdullilah hasilnya memuaskan nak sesuai dengan kerja keras kamu.” kata ibu. Mereka yang ada di dalam rumah sontak mengucap “Alhamdulillah” mengucap rasa syukur dan memberi selamat.

Keesokan harinya kami dalam keadaan baik-baik saja. Kami dapat berkumpul bersama di ruang tamu yang kecil. Biar pun kecil tetapi penuh kehangatan dan kebahagian. Di antara kami ada beberapa obrolan yang kadang membuat tertawa atau kadang ada membuat bingung.

Saat yang lain sedang asyik dalam obrolan aku memikirkan sesuatu. Yaitu saat dimana aku tidak pernah dimintai pertolongan oleh siapa pun. Karena untuk bergerak dengan kemauanku saja tidak bisa, bagaimana untuk orang lain. Dokter pernah mendiagnosis, bahwa aku mengalami hidrosefalus dan cacat permanen pada kaki. Anggota badanku yang dapat bergerak hanya jari tangan dan leher. Itu pun bergeraknya tidak sebebas yang aku inginkan.

Tiba-tiba terlontar pertanyaan “Bu, kenapa aku dilahirkan seperti ini?”. Ibu hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Nenek berusaha menjawab “Nak, Tuhan menciptakan makhluknya dengan cara yang sama dan tidak dibeda-bedakan. Mungkin kita sering merasa tidak adil, dengan apa yang kita miliki dan dengan apa yang dimiliki orang lain itu tidak sama. Karena semua sudah pada porsinya masing-masing. Semua sudah punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang lebih baik belum tentu yang terbaik dan yang kurang baik belum tentu yang terburuk.” kata nenek sambil terbatuk-batuk.

Mendengar nasihat nenek aku mulai mengerti apa yang dimaksud dengan arti kehidupan. Ibu menangis sambil mendekati tubuhku untuk berada di pelukannya. Bajuku dibasahi oleh air matanya. “Ibu yang lalai nak. Ibu yang tidak bisa menjagamu dengan baik, dan tidak sepantasanya saya menjadi seorang ibu.” kata ibu yang seolah-olah menyalahkan dirinya sendiri.

Aku yang mendengar kalimat itu tidak dapat berkata banyak. Aku juga merasakan hal yang sama dengan hal yang dirasakan oleh ibu. “Ibu menjadi seorang ibu karena aku. Aku yang ibu kandung dan aku yang dilahirkan oleh ibu. Tanpa ibu aku tidak bisa seperti sekarang. Dan tidak ada kesalahan dari ibu. Ini sudah menjadi jalan hidupku yang diberikan Tuhan. Tuhan memberikan ini sebagai kelebihanku bu, jadi ibu tidak perlu bersedih lagi!” ucapku berusaha menguatkan ibu. Ibu menghapus air matanya. Sedangkan ayah dan paman spontan tersenyum haru.

Keluarga kecil kami yang berada dalam satu ruangan itu berusaha untuk menguatkan satu sama lain. Memberi semangat dan dukungan. Dengan itu kebahagian seolah muncul di antara kami. Keluarga kecil kami selalu bahagia di dalam kebersamaan. Kami tidak membutuhkan tempat hiburan untuk bahagia. Karena bersama dengan keluarga saja sudah menjadi kebahagian terbesar kami.

Cerpen Karangan: Bella Mulyani
Facebook: @clarabella
Nama saya Bella Mulyani pelajar dari Depok. Saya salah satu siwi dari SMPN 1 Depok. Bertempat tinggal di Depok. Jangan kira saya lahir di Depok juga, atau lebih tepatnya saya di lahirkan di Jayapura 29 Mei 2003. Untuk kalian salam kenal ya!.

Cerpen Aku Menginginkan Duniamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisahku di Bulan Juni

Oleh:
Namaku Lilyana Putri. Aku biasa di sapa dengan sebutan nama Riri. Aku anak keempat dari empat bersaudara. Aku baru saja LULUS dari bangku Sekolah Dasar dan sebentar lagi aku

Slime Berubah Wujud

Oleh:
Suatu hari seorang anak bernama syikha sedang browsingan, ia iseng-iseng mencari cara membuat slime, ia tertuju pada situs yang berjudul tanpa lem, deterjen dan boraks, bahannya pun cuma dua

Petaka Tahun Baru

Oleh:
Malam pergantian tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Sorak sorak kemenangan melampaui batas akhir hidup seorang penjual kerupuk di desa Jingga. Tak jauh dari kisahku, Maharani. Aku seorang

Semoga Ibu Memaafkanku

Oleh:
Saat malam benar-benar dingin karena tertiupnya angin malam yang mengenai pepohonan dan rumah-rumah semuanya bergerak senada dengan angin yang berhembus itu, orang-orang berlindung di balik selimut mereka yang hangat,

Ibu Terhebat

Oleh:
Aku seorang pelajar SMP. Namaku adya azahra yang biasa dipanggil dya. Aku anak tunggal yang hidup bersama ayah dan ibu, mereka sangat menyayangiku. Setiap hari kami selalu meluangkan waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *