Aku Menyayangimu Kak (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Kak Nico mendengus kesal ketika mendengar perkataan mama yang mengatakan bahwa dirinya kini harus berangkat sekolah bersamaku. Mama tidak bisa lagi mengantarku ke sekolah karena harus menemani ayah yang pekerjaannya dipindahkan ke luar kota. Dari awal aku melihat dan menginjakan kaki di rumahnya setahun lalu Kak Nico sudah memperlihatkan ketidaksukaannya padaku. Tak ada tegur sapa untukku, matanya selalu menatapku dengan penuh kebencian, dan bibirnya pun enggan untuk tersenyum denganku.

Aku tahu, tidak mudah memang menerima orang baru di dalam kehidupan dan keluarga kita, begitu juga dengan Kak Nico. Aku juga tahu, semenjak aku dan ayah datang dalam kehidupannya ia pasti cemburu dan geram melihat ibunya kini lebih perhatian dan sayang kepadaku yang biasanya dulu kepadanya. Aku bisa menerima sikapnya yang seperti itu padaku, tapi aku tidak bisa menerima jika ia masih belum mengakuiku sebagai adiknya, meski adik tiri.

“Jangan pergi, Mah. Nanti aku sama siapa kalau mamah pergi?” Kak Nico berkata sambil beranjak dari kursi yang sedang ia duduki di meja makan ketika melihat mama sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa untuk ke luar kota menemani ayah bertugas di sana.
“Kamu, kan, ada Bia. Bia yang akan menemani kamu.” Mama menjawab masih dengan sibuknya membereskan barang-barang.
“Aku gak mau sama dia, aku maunya sama mamah.”
“Nico, mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini dengan Bia, dia itu adik kamu?”
“Dia bukan adikku, dan sampai kapanpun aku akan bersikap seperti ini dengannya sampai dia gak ada lagi di rumah ini.” Untuk kesekian kalinya kata-kata itu terucap dari mulutnya yang kembali membuat sakit hatiku. Setelah mendengar itu aku menghentikan langkah kakiku yang hendak menuju meja makan untuk sarapan.

Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit, pagi ini, ayah dan mama berangkat ke luar kota meninggalkanku dan Kak Nico hanya berdua di rumah. Mama berpesan kepada Kak Nico untuk selalu menjagaku dan berangkat sekolah bersama, sementara ayah berpesan padaku untuk selalu patuh terhadap Kak Nico. Mereka juga akan selalu mengabari dan mengirimkan uang untuk keperluan kami berdua di setiap bulannya.

“Kakak berangkat duluan aja. Aku bisa berangkat sendiri, kok.” Aku berkata ketika melihat Kak Nico sedang duduk di ruang tengah dalam keadaan yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Tanpa menjawab ucapanku ia langsung bangkit dari duduknya ke luar rumah, kemudian menaiki dan menghidupkan, lalu mengarahkan motornya menuju sekolah. Motor itulah yang sudah setia menemaninya, mengantarkannya ke manapun yang ia mau.

Aku dan Kak Nico bersekolah di sekolah yang sama, di sana ia kelas dua belas sementara aku baru kelas sepuluh. Mama menyuruhku untuk satu sekolah dengan Kak Nico agar bisa berangkat dan pulang sekolah bersama juga bila ada sesuatu hal di antara kami akan lebih mudah mengatasinya. Tapi mama salah jika memutuskan dan berpikir demikian karena sampai sekarang aku dan Kak Nico masih berangkat dan pulang sekolah sendiri-sendiri.

Di sekolah pun kami bagaikan orang asing yang tidak saling kenal, sama seperti halnya dengan di rumah. Jarang sekali kami berbicara, bahkan kami pernah sehari penuh tidak mengeluarkan satu patah katapun. Aku ingin menyapanya jika ia tidak lebih dulu menyapaku, tapi melihatnya yang menatapku seperti itu aku jadi takut untuk melakukannya, takut ia akan semakin membenciku.

Ketika Kak Nico menjadi petugas pengibar bendera di upacara setiap hari Senin aku selalu baris paling depan agar bisa melihatnya tampil bertugas dengan jelas. Saat itu aku ingin katakan kepada semua bahwa ia adalah kakakku, kakak yang sangat kusayangi. Tapi aku tidak mungkin melakukan itu, ia akan marah jika yang lain tahu akan hubungan persaudaraan ini, meski hanya saudara tiri. Sehingga yang lain tidak pernah tahu bahwa kami bersaudara, kakak beradik.

“Bi, ke kantin bareng, yuk!” Ajak salah satu teman perempuanku dari beberapa yang mau ke sana membeli jajanan untuk mengisi perut mereka.
“Iya, duluan aja, nanti aku nyusul.” Aku menjawab yang secara tidak langsung menolak ajakan mereka.

Aku jarang sekali ke kantin walau hanya sekedar membeli makanan ringan atau minuman, aku lebih memilih melihat Kak Nico yang bermain basket bersama teman-temannya dari depan kelasku yang berada di lantai dua gedung sekolah. Dengan cara seperti itu aku bisa melihatnya lebih lama, melihat wajahnya yang tampan, senyumnya yang manis, dan mendengar suaranya ketika ia tertawa meski secara diam-diam tanpa diketahui olehnya. Pernah sekali aku ketahuan sedang memperhatikan dirinya, ia langsung menatapku dengan tajam dan ke luar lapangan yang membuat teman-temannya bingung karena secara tiba-tiba ia menghentikan permainannya itu.

“Hei, lagi lihat siapa, sih, serius banget kayanya?” Dhea, temanku yang mengajak ke kantin tadi mengejutkanku dari belakang ketika sudah kembali dari sana.
“Kamu ini, bikin kaget orang aja. Gak lihat siapa-siapa, kok.” Aku menjawab bohong, padahal aku sedang melihat Kak Nico sedari tadi.
“Hehehe, maaf. Ya udah, masuk ke kelas, yuk. Sudah mau masuk, nih!” Ajaknya.

Kali ini aku tidak bisa menolak ajakannya, ia bisa curiga jika aku tidak mau menerima ajakannya itu hanya karena masih ingin melihat Kak Nico. Sebenarnya di rumah masih bisa melihatnya selain di sekolah, tapi, ia tidak memberikan kesempatan padaku untuk bisa melihat dirinya karena ia selalu ingin berjauhan dariku.

Di kelas terkadang aku suka membayangkan saat-saat indah bersama Kak Nico yang membuat belajarku tidak konsentrasi. Saat matanya menatapku dengan penuh kasih sayang, saat bibirnya mengukir senyum untukku, dan saat mendengar suaranya memanggil namaku. Tapi sayang, semua itu hanya khayalanku saja yang tidak akan pernah terjadi. Aku selalu bertanya dalam hati, kapan ia menyayangi dan mengakuiku sebagai adiknya? Dan pertanyaan itulah yang selalu juga aku tunggu jawabannya.

“Lihat, deh, kakak itu kasihan banget harus membersihkan toilet dari bel masuk sehabis istirahat tadi sampai sekarang!” Tukas Dhea ketika kami berjalan mengeluari toilet perempuan yang bersebelahan dengan toilet laki-laki dan melihat seorang lelaki yang merupakan kakak kelas kami di sana sedang mengepel bagian luar toilet tersebut.
“Salah sendiri, sih, kenapa harus bolos jam pelajaran?” Tambah Dhea. Aku terus memperhatikan kakak kelasku itu yang ternyata adalah Kak Nico. Aku membelalakan mata. Ia bolos jam pelajaran? Kenapa?
“Kamu pulang duluan aja, ya. Aku baru ingat kalau buku bahasa Indonesiaku tertinggal di kelas.” Aku kembali berkata bohong, padahal aku ingin membantu Kak Nico membersihkan toiletnya.
“Ya udah, aku duluan, ya.” Kata Dhea.
“Iya, hati-hati, ya.” Jawabku yang kemudian menghampiri Kak Nico.

Keadaan sekolah sudah sepi, hanya ada aku dan dirinya. Aku langsung mengambil alat pel dari tangannya yang ia gunakan untuk membersihkan lantai itu sambil berkata, “biar aku bantu selesaikan, ya. Kakak pulang aja!”
Kak Nico sedikit terkejut akan kedatanganku dan secara tiba-tiba mengambil alat pel yang ia gunakan. Ia hanya menatapku dengan tatapan seperti biasa ketika menatapku, lalu mengambil tasnya dan berjalan meninggalkanku tanpa menjawab ucapanku.

Seperti halnya saat ini, aku selalu mencoba menolong dan membantu Kak Nico ketika dalam kesulitan. Saat ia tidak memakai dasi dan topi yang merupakan atribut wajib yang dipakai aku memberikan dasi dan topi milikku padanya agar ia tidak dihukum. Aku tidak ingin melihatnya hormat pada bendera dengan menghadap teriknya panas matahari karena itulah hukumannya. Aku rela menggantikan posisinya asalkan jangan dia yang dihukum, aku juga mau membantunya apa saja, melakukan apa yang ia perintahkan, dan apapun itu asalkan ia mau menyayangi dan mengakuiku sebagai adiknya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Aku Menyayangimu Kak (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Spirit For Life

Oleh:
Di sebuah kota Malang, Jawa Timur hiduplah seorang anak kembar. Mereka bernama Rachel dan Brenden. Rachel adalah kakak dan Brenden adalah adik Rachel. Mereka baru menginjak usia 13 tahun.

Jilbab Ummi

Oleh:
“An, sudah sampai.” Kata kakakku membangunkanku. “Oh, udah sampai rumah?” Tanyaku kebingungan. “Iya adikku.” Jawabnya. Ku turun dari mobil berwarna merah milik kakaku itu. Terlihat di depanku istana penuh

Tekun Awal Yang Sukses

Oleh:
Burung berkicauan, di antara hempasan gelombang yang tinggi menerpa pantai. Nama ku fachri aku hanyalah anak seorang nelayan, penghasilan ayahku tidak terlalu tinggi, tapi kedua orangtua ku tetap berusaha

Ku Donorkan Mataku

Oleh:
Terbangun dari tempat tidurku, ku hirup udara nan segar, aku merasakan kehangatan sinar matahari yang menembus kulitku, ku berlari secepat mungkin dan membuka pintu rumahku. Sekejap aku berhenti dan

Kebebasan

Oleh:
Otakku masih bekerja dengan normal, Tapi aku berfikiran bahwa aku sudah gila. Penglihatan dan pendengaranku masih berfungsi dengan baik, Hanya saja, aku beranggapan bahwa aku telah lama menjadi seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *