Aku Menyayangimu Kak (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 September 2017

Kak Nico basah kuyup pulang sekolah hari ini karena kehujanan. Andai ia tidak bermain lebih dulu bersama teman-temannya pasti ia bisa pulang tanpa kehujanan. Ia melepar dengan asal sepatu dan tasnya yang basah itu ke lantai. Melihat begitu, aku langsung menyuruhnya mandi.
“Mandi, Kak, biar aku yang bereskan tas dan sepatunya!”
Ia mendengarkan ucapanku. Ia langsung mengambil handuk, kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terkena air hujan agar tidak sakit, sementara aku merapikan sepatu dan tasnya yang basah itu.

Selagi menunggu Kak Nico yang mandinya cukup lama aku membuatkannya teh manis hangat agar tubuhnya yang dingin itu bisa hangat setelah meminumnya juga menyiapkannya makanan yang sudah kubeli di warung makan yang tempatnya tidak jauh dari rumah kami.
Andai ia mau memakan makanan yang kumasak, aku tidak harus bolak-balik ke sana hanya untuk membeli makan. Tapi sayang, ia tak mau memakan masakanku. Entah karena kurang enak atau apa aku tidak tahu, yang jelas aku sudah memasak dengan benar seperti yang diajarkan oleh mama.

Ketika makanan dan teh manis hangat sudah siap disajikan Kak Nico selesai dari mandinya. Ia terlihat kedinginan. Bibirnya bergetar, kedua tangannya terus ia gesek-gesekan agar menghasilkan sedikit kehangatan. Aku langsung menyuruhnya untuk makan.
“Makan, Kak. Itu bukan aku, kok, yang masak, tadi aku beli di warung makan yang di dekat rumah kita.”
“Jangan lupa diminum teh hangatnya, biar badan kakak sedikit hangat.” Kataku kemudian.
Ia kembali mendengarkan ucapanku. Sebelum ia makan, ia meminum lebih dulu teh hangatnya, kemudian ia makan dengan lahap makanan yang tersedia di atas meja yang ada di depannya.

Baru beberapa sendok nasi yang masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia merasakan mual. Sesekali tangannya menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan kembali makanan yang baru saja ia makan yang masuk ke dalam perutnya.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa mual yang sedang dirasakan, Kak Nico pun berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang ada di dalam perutnya yang sedari tadi ia coba tahan. Aku yang khawatir juga ikut berlari menuju kamar mandi untuk melihat keadaannya.

“Uweeek, uweeek!” Terdengar jelas suara itu dari tempat kuberdiri di sini.
“Kakak kenapa?” Aku bertanya ketika ia sudah ke luar dari kamar mandi. Seperti biasa, ia hanya diam, tidak mengindahkanku yang bertanya karena khawatir akan keadaannya.
Kemudian, ia berjalan perlahan menuju kamarnya sambil terus memegangi perutnya tanpa melanjutkan makannya yang baru beberapa sendok saja. Aku membuntutinya dari belakang. Tubuhnya yang lemah membuatnya hampir saja terjatuh karena tidak bisa menyeimbangi dirinya berjalan. Tapi, aku siap siaga untuk membantunya.

“Jangan sok baik denganku!” Ia menghempaskan tanganku yang mencoba untuk membantunya. Aku hanya diam karena sudah paham bagaimana dirinya.
Ia kembali meneruskan jalan menuju kamarnya, sementara aku merapikan dan membawa piring yang masih lumayan banyak isinya ke dapur. Kemudian, aku juga ke kamar menyiapkan buku-buku untuk sekolah besok tanpa lupa aku sedikit membaca-baca buku itu hingga tak sadar aku sampai tertidur.

Aku terbangun dari tidur ketika mendengar suara Kak Nico yang kembali mengeluarkan isi perutnya di tengah malam. Berat sekali ku membangunkan tubuh ini, tapi aku harus membantunya. Bagaimanapun sikapnya kepadaku dia tetap kakakku, aku sudah berjanji pada ayah untuk patuh dan selalu membantunya.

Perlahan-lahan ku menuruni kasur dan berjalan menuju kamar Kak Nico. Mataku yang tadinya ingin terus terpejam langsung terbelalak setelah tiba di kamarnya dan melihat dirinya sedang menggigil sambil meremas selimut yang menyelimuti tubuhnya.
“Ya ampun, badan kakak panas banget!” aku memegang keningnya dan merasakan panasnya.
“Kakak sabar, ya. Besok kita ke dokter!” kataku kemudian.
“Aku gak mau ke dokter kalau gak sama mamah!” untuk yang pertama kalinya ia menjawab ucapanku setelah sebelum-sebelumnya tak pernah mengindahkanku.
“Kalau kakak gak ke dokter, sakit kakak semakin parah nantinya.”
“Aku gak peduli! Pokoknya aku tetap gak mau ke dokter kalau gak sama mamah!”
Kak Nico terus bersikeras seperti itu yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku pun memutuskan untuk memberinya obat penurun panas yang ada di kotak P3K yang tersimpan di laci dapur. Namun sayang, obat yang dibutuhkan itu tidak ada di sana. Aku panik. Kak Nico akan semakin parah keadaannya jika tidak diberi obat. Aku tidak mungkin ke warung untuk membelinya di tengah malam seperti ini.
Lagipula di jam segini warung-warung sudah tutup, walau ada satu yang buka, belum tentu obat itu ada di sana. Aku terus berpikir dan berpikir sampai akhirnya aku mendapatkan ide. Kenapa tidak dikompres saja? Siapa tahu panas tubuhnya menurun walau hanya sedikit?! Ya.. Setidaknya menurun! Aku langsung mengambil sapu tanganku sebagai alat kompresnya dan mangkuk sebagai wadah untuk airnya.

Ketika aku mengompresnya, Kak Nico sudah kembali memejamkan matanya tanpa menggigil lagi meski panas tubuhnya masih terasa. Aku tak lupa memberi tahu kabar ini ke mama dan ayah, mereka harus tahu bahwa Kak Nico sedang sakit dan membutuhkan mereka. Tapi sayang, ponsel mereka berdua tidak aktif dan sudah sebulan ini mereka tidak memberi kabar dan uang bulanan untuk keperluanku dan Kak Nico.
“Mah, Yah, kalian ke mana, kakak sedang sakit?” aku berkata dalam hati sambil melihat Kak Nico yang tidur dengan damai.

Karena mereka tidak bisa dihubungi melalui panggilan telepon, aku kembali menghubunginya melalui pesan singkat. Mereka pasti akan tahu kabar yang kuberikan setelah ponsel mereka aktif nantinya. Kemudian, aku meneruskan tidurku di kamar Kak Nico agar ketika hal ini terjadi lagi atau ia membutuhkan sesuatu aku bisa cepat membantunya.

Drrrttt.. Drrrttt.. Drrrttt..
Suara getaran ponselku membuatku terbangun dari tidur. Aku langsung mengambilnya untuk melihatnya. Ternyata itu alarm yang selalu berbunyi di jam lima pagi seperti ini, bukan balasan dari mamah dan ayah yang sedang kutunggu-tunggu.
“Sebenarnya kalian ke mana, Mah, Yah?” Aku berkata dalam hati seraya melihat Kak Nico yang masih terlelap dalam tidurnya dengan kompres di keningnya. Aku mengambil kompresannya itu dan memegang keningnya. Alhamdulillah, sedikit menurun panasnya, tidak seperti semalam yang panas sekali.

Aku ke luar kamar Kak Nico tanpa membangunkan dirinya untuk mandi dan merapikan rumah sebentar, habis itu ke apotek membeli obat untuknya. Kak Nico akhirnya sembuh dari sakitnya setelah mengonsumsi obat selama tiga hari. Kami pun dapat kembali beraktivitas sekolah lagi.
Namun, sampai saat ini mama dan ayah belum juga mengabari atau membalas pesanku meski aku dan Kak Nico sudah terus mencoba menghubungi mereka. Akibatnya kami menjadi telantar karena tidak ada orangtua di samping kami.

Semakin hari uang bulanan yang biasa dikirim oleh mamah dan ayah semakin berkurang sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan kami karena terus digunakan. Kak Nico memutuskan menggadaikan rumah untuk kembali dibelikan rumah yang lebih kecil juga untuk memenuhi kebutuhan kami.
Tapi sayang, uang dari hasil penggadaian rumah tersebut tidak mencukupi kebutuhan kami, dan salah satunya masalah pendidikan kami. Uang yang kami punya saat ini hanya cukup memenuhi satu orang saja, sementara kami, berdua. Aku pun memutuskan untuk membiarkan Kak Nico tetap melanjutkan sekolahnya karena ia sudah kelas dua belas yang sebentar lagi akan lulus. Sedangkan aku baru kelas sepuluh yang perjalanannya masih panjang, bisa kapan saja untuk melanjutkannya.
Aku berjanji pada Kak Nico akan membantunya dalam memenuhi kebutuhannya di sekolah yang kini ia memilih untuk tinggal di asrama sekolah agar tidak membuang-buang biaya karena harus bolak-balik dari rumah ke sekolah yang jaraknya cukup jauh dan memakan biaya cukup besar.

Demi memenuhi janjiku pada Kak Nico aku bekerja apa saja agar bisa membantunya termasuk menjadi buruh cuci pakaian di rumah tetanggaku yang kehidupan ekonominya terbilang cukup, juga menjadi buruh cuci piring di warung makan yang tempatnya tidak jauh dari rumah baru kami ini.
Setiap pagi aku mengambil pakaian kotor dari rumah tetangga kami itu lalu mencucinya. Ketika siang hari aku pergi ke warung makan untuk mencuci piring-piring kotornya. Kemudian, pada malam hari aku meneriska baju yang sudah kering itu.
Upah dari hasil pekerjaanku pun kuberikan pada Kak Nico ketika malam hari pada awal bulan melalui penjaga sekolah tanpa menyuruhnya untuk memberitahu bahwa akulah yang memberikan untuknya.
Semua pekerjaan itu kulakukan selama enam bulan tanpa pernah lelah untuk membantu Kak Nico sampai akhirnya kini hari kelulusan ia tiba. Aku sudah tak sabar menunggu kepulangannya dari belajarnya di sekolah kembali ke rumah.

Aku terus melihat jam yang menempel di dinding, berharap Kak Nico cepat datang karena aku sudah sangat merindukan dirinya. Tapi, sampai hari berganti malam ia belum pulang juga. Hatiku tak tenang, khawatir akan terjadi hal buruk yang menimpa dirinya.
Aku pun menuju ke sekolah untuk melihat dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja seperti yang biasa kulakukan ketika merindukan dirinya aku selalu ke sekolah memperhatikan dirinya yang sedang bersama teman-temannya dari jauh. Dan ternyata benar, hal buruk menimpa dirinya. Penjaga sekolah berkata bahwa ia mengalami kecelakaan ketika hendak pulang ke rumah.
Hatiku hancur mengetahui akan hal itu, orang yang sedang kutunggu kehadiran ternyata sedang terluka di sana.

Aku langsung pergi ke rumah sakit di mana Kak Nico ditangani dengan berjalan kaki seorang diri menyusuri jalan sambil terus berusaha menahan air mata yang sedang menggenang di mataku agar tidak keluar.
Namun, air mataku keluar begitu deras karena sudah tidak bisa menahan sakit di dalam hati yang sedang kurasakan tanpa mempedulikan orang lain yang melihatku. Di pikiranku hanya ada Kak Nico. Berharap ia akan baik-baik saja setelah apa yang sudah menimpanya.

Ketika sampai di rumah sakit aku langsung menanyakan di mana ruangan Kak Nico pada perawat-perawat yang sedang berlalu. Mereka pasti tahu di mana ruangan Kak Nico karena merekalah yang merawatnya. Setelah mengetahui di mana ruangan Kak Nico, aku langsung berlari menuju sana dengan hati yang masih tidak tenang.
Langkahku terhenti ketika mengetahui terdapat teman-teman Kak Nico yang selalu bermain basket bersamanya ada di ruangannya karena takut mereka akan bertanya-tanya siapa aku dan tahu bahwa aku merupakan adiknya yang sama sekali Kak Nico tidak inginkan hal itu terjadi.
Aku pun menghentikan langkahku menuju ruangannya karena menunggu mereka pergi dari sana.

Tak perlu menunggu lama akhirnya mereka pergi dan aku bisa melihat keadaan Kak Nico. Sakit hatiku, air mata kembali deras ke luar setelah melihat dirinya terbaring lemah dengan terluka.
“Kakak!” Aku memeluk tubuhnya yang tak bergerak itu sambil terus menumpahkan air mata di dadanya.
Aku menghentikan tangis juga melepaskan pelukanku dari tubuhnya setelah merasakan tangan seseorang menyentuh bahuku. Aku melihatnya. Ternyata itu adalah seorang dokter yang menanganinya.
“Dokter, bagaimana keadaan Kak Nico? Ia baik-baik aja, kan? Gak ada sesuatu hal buruk yang terjadi dengannya, kan?” Aku langsung membodongnya pertanyaan-pertanyaan.
“Kamu tenang dulu! Kamu ini siapanya pasien?” Tanya sang dokter.
“Aku…” aku tidak mungkin mengatakan padanya bahwa aku adalah adik Kak Nico. Ia bisa marah jika ada orang lain yang tahu tentang masalah ini.
“Gak penting siapa aku, yang penting sekarang adalah Kak Nico. Ia gak apa-apa, kan, Dok?” Aku melanjutkan ucapanku yang menjawab pertanyaannya.
“Keadaan pasien cukup gawat. Salah satu ginjalnya rusak dan ia pun masih membutuhkan donor darah secepatnya agar selamat karena ia kehabisan darah akibat kecelakaan itu.” Sang dokter menjelaskan bagaimana keadaan Kak Nico yang membuat tangisku semakin menjadi-jadi.
“Ambil darah dan ginjalku juga semua yang ia butuhkan dariku. Aku sayang dia, aku gak mau hal buruk terjadi padanya.”
“Tapi itu bisa membahayakan diri kamu jika melakukan semua itu.”
“Aku gak peduli akan hal itu. Aku sayang dia, aku gak mau kehilangannya. Hanya dia yang aku punya sekarang. Lakukan yang terbaik untuknya.” Aku terus memohon pada sang dokter untuk mengambil apa yang Kak Nico butuhkan dari diriku sampai akhirnya ia luluh dan mau melaksanakan apa yang kumau.

Sebelum mengambil darah dan ginjal yang ada pada diriku, dokter memeriksaku terlebih dahulu. Setelah diperiksa akhirnya aku bisa memberikan semua itu untuk Kak Nico.

Aku terus melihat Kak Nico yang sedang berbaring sambil tetap menutup matanya di sampingku kini sebelum melakukan transfusi darah dan pencangkokan ginjal hingga gorden yang memisahkan jarak kami tertutup yang menandakan proses tersebut dimulai. Semuanya gelap, aku tidak bisa melihat Kak Nico lagi. Tak ada rasa takut ketika menjalaninya yang memakan waktu cukup lama. Yang aku takutkan adalah Kak Nico tidak bisa membuka matanya kembali meski sudah mendapat darah dan ginjal yang membuatnya terselamatkan.

Kegelapan itu perlahan-lahan terang ketika ku membuka mata dan sudah berada di suatu ruangan tanpa adanya Kak Nico. Aku merasakan sakit di bagian perutku yang sebelah kanan yang sudah tidak terdapat ginjalnya, tidak lebih sakit daripada saat Kak Nico tak pernah mengakuiku sebagai adiknya hingga sekarang dan juga merasakan lemah yang membuatku tidak bisa membangunkan tubuhku untuk melihat dirinya. Tapi, aku terus berusaha menguatkan diri agar bisa berjalan menuju ruangan Kak Nico hingga akhirnya aku bisa sampai di sana meski dengan tertatih sambil berpegangan dinding rumah sakit.

Seulas senyum terukir di wajahku ketika aku bisa melihat Kak Nico kembali walau ia masih memejamkan matanya tanpa pernah tahu akan keberadaanku di sampingnya. Aku harap ia tak akan pernah tahu akan keberadaanku di sampingnya karena itu membuatnya semakin tidak menyukaiku.

Satu, dua, tiga hari kemudian Kak Nico masih tetap tidak juga membuka matanya untuk melihat indahnya dunia ini. Aku takut ia tidak bisa membuka matanya lagi, aku juga takut tidak bisa melihat dirinya lagi. Melihat wajahnya yang tampan, senyumnya yang manis, dan mendengar suaranya yang membuatku semakin hari semakin menyayanginya walau dengan cara yang sembunyi-sembunyi. Dan selama itu pun sakit yang kurasakan semakin hari semakin bertambah hingga membuatku tak sadarkan diri karena tak kuat menahannya.

Aku kembali berada di suatu ruangan tanpa adanya Kak Nico. Kali ini aku tidak bisa memahan rasa sakit itu dan juga tidak bisa menggerakan tubuhku. Perawat yang datang untuk mengecek keadaanku panik melihatku seperti itu. Ia berkata padaku untuk sabar dan akan memanggilkan dokter untuk menolongku. Tapi, aku mencegah langkahnya dengan memegang tangannya agar tidak pergi dariku.
“Suster, katakan pada Kak Nico bahwa aku menyayanginya.” dengan sekuat tenaga aku berkata padanya sebelum mata ini tertutup.

Aku bahagia bisa melihat Kak Nico tetap bersekolah.
Aku bahagia membantunya dalam suka maupun duka.
Aku bahagia bersaudarakan dia.
Dia akan selalu ada di setiap hembusan nafasku ini karena dia adalah darahku, juga nadiku.
Dia adalah nafasku, juga jantungku.
Dia adalah hatiku, juga jiwaku.
Dia adalah senyumku, juga tawaku.
Dia adalah damaiku, juga bahagiaku.
Dia adalah teduhku, tempatku bernaung.
Dan aku menyayanginya.

Selesai

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Aku Menyayangimu Kak (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bidadari Surga

Oleh:
Saat itu aku merasa semua akan baik-baik saja, aku akan tumbuh besar dan bisa menggapai cita-citaku, aku pikir kata kasih sayang hanya sebuah kata hiasan seperti seseorang yang bertindak

Suara

Oleh:
Cristabel terbangun dari tidurnya. Jam dinding warna pink menunjukkan pukul 1 dini hari. Ah, dasar… desah Cristabel. Lagi-lagi ia mendengar suara itu, untuk yang ke sekian kalinya. “Cristabel… Cristabel…”

Midnight Clown (Part 2)

Oleh:
Mengapa aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depanku sendiri, lantas buat apa Tuhan memberikanku suatu kelebihan, jika aku tidak bisa menolong diriku sendiri, pikiranku pun masih terbang

Sandiwara Agustus

Oleh:
Pada sore hari terdengar langkah kaki yang menuju ke kamarku, pelan-pelan langkah kaki itu semakin dekat. Saat aku membuka mata, Ibu sudah ada di depan mataku. Aku menatap Ibu

Maaf Mama

Oleh:
“Kalau pulang sekarang pasti gak ada lagi angkot, tapi kalau gak pulang mama pasti marah. Tapi mau naik apa, aduh…” langkah Dita tergangu karena lubang besar di jalannya. Karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *