Aku Rindu Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 25 September 2015

Matahari mulai terbit, di pagi hari yang cerah ini, aku sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Oh ya! Namaku Rika Oktaviani, tapi aku sering dipanggil Rika oleh teman-temanku. Pagi ini, aku sudah memulai hariku untuk pergi ke sekolah. Aku sangat suka sekali, karena di sekolah aku mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekali untukku, dan di sana juga aku mendapatkan teman. Setelah pulang sekolah, aku menonton TV dan bermain bersama teman-temanku.

Aku menjalani kehidupanku dengan penuh gembira, senang, dan ceria. Tapi di balik itu semua, ada yang kurang yaitu menjalani hidup tanpa Ayah. Aku sedih sekali. Aku jarang sekali bertemu Ayah. Sedangkan aku hanya bisa mendengar suaranya saja dari telepon. Aku bepikir, apakah Ayah sudah tidak sayang aku lagi? Lalu, aku bertanya kepada Ibu.

“Bu! Kenapa Ayah nggak pernah pulang? Apa Ayah sudah nggak sayang kita lagi?” tanyaku pada Ibu.
“Nggak Rika, Ayah masih sayang kita kok” jawab Ibu.
“Tapi, kenapa Ayah nggak pulang-pulang?” tanyaku lagi.
“Ayah nggak pulang karena ia sibuk mencari uang untuk menafkahi kita. Supaya, kehidupan kita terpenuhi”
“Oh! Begitu ya Bu. Tapi kan nggak seharusnya Ayah jarang pulang” ucapku berkali-kali menanyakan hal itu.
“Sudah-sudah, tidur saja kamu” suruh Ibu.
“Tapi Bu!”
“Cepat tidur!”
“I, i-iya Bu” ucapku.

Lalu aku tidur sambil memikirkan, apa kata Ibu tadi benar ya? Tapi kan Ayah juga bisa pulang pada waktu Idul Fitri atau Tahun Baru, sementara sebentar lagi tahun baru. Kira-kira Ayah pulang apa tidak ya? Dan keesokan harinya, aku pergi ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, aku mendengar berita bahwa besok sudah mulai libur sekolah karena sebentar lagi tahun baru. Tak lama kemudian, bel petanda pelajaran akan segera dimulai sudah berbunyi. Bu Guru pun datang dan ternyata berita tadi benar. Lalu, Bu Guru menyampaikannya.

“Assalamualaikum Wr. Wb”
“Waalaikumsalam Wr. Wb”
“Anak-anak, Ibu ingin menyampaikan satu pengunguman bahwa mulai besok, kalian sudah mulai libur selama dua minggu” itulah isi pengunguman dari Bu Guru.
“Horeee!!!” kami sekelas berteriak kegirangan, karena libur adalah hal yang paling kami sukai.
“Tapi kalian di rumah harus belajar ya!” pesan Bu Guru.
“Iya bu”

Kemudian, teman-temanku semua berbicara tentang rencana mereka yang akan liburan tahun baru bersama keluarga mereka termasuk Ayah dan Ibu mereka.
“Oh iya, kamu liburan ke mana?” tanya Rina.
“Kalau aku mau liburan ke Candi Borobudur sama Ayah dan Ibuku. Kalau kamu?” jawab Lia lalu bertanya kembali.
“Kalau aku diajak Ayahku ke Malang sama Ibu dan Adikku. Kalau kamu Rika, liburan ke mana?” tanya Rina kepadaku. Namun aku hanya melamun dan membayangkan sesuatu hal.
“Rik! Rika! Rikaaa!” Seru Lia.
“He, a-a apa?” tanyaku kepada mereka.
“Kamu mau liburan ke mana? Kalau aku liburan ke Candi Borobudur sama Ayah dan Ibuku, kalau Rina diajak Ayahnya ke Malang sama Ibu dan Adiknya” jawab Lia.
“Entah, aku mau liburan ke mana. Mungkin aku di rumah saja” jawabku.
“Oh, kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa, aku males pergi kemana-mana”
“Oh iya, Ayah kamu pulang nggak sih Ka? Apa mungkin kamu yang pergi ke sana?” Salah satu dari mereka bertanya kepadaku.
“Entah, aku juga nggak tahu” jawabku.

Tak lama kemudian, bel panjang pun berbunyi tandanya pelajaran pada hari ini sudah berakhir. Aku pun pulang. Setelah sampai rumah, aku bertanya kepada Ibuku.
“Ibu, Ibu, aku besok sudah mulai libur. Kira-kira tahun baru ini, Ayah pulang nggak Bu?” tanyaku.
“Ibu, aku coba telpon Ayah ya Bu?” lanjutku.

Lalu, aku menelpon Ayah. Tak lama kemudian, Ayah mengangkat panggilan dariku dan aku pun sudah tersambung dengan Ayah.
“Hallo Ayah”
“Hallo! Ada apa” tanya Ayah.
“Ayah pulang kapan?” tanyaku.
“Emm, kira-kira satu minggu lagi” jawab Ayah.
“Oh, tapi Ayah janji kan kalau liburan tahun ini Ayah akan pulang”
“Iya! Ayah janji”
“Horeee, soalnya aku sudah kanget banget sama Ayah” ucapku kegirangan.
“Iya, Ayah juga kangen sama Rika”
“Udah dulu ya yah. Aku sayang Ayah” ucapku mengakhiri panggilan ini.
“Iya, Ayah juga sayang Rika”

Satu minggu sudah berlalu, tetapi Ayah belum datang juga. Aku pun menelpon Ayah lagi.
“Hallo Ayah?”
“Hallo, O iya Rika. Maaf ya Ka, Ayah nggak bisa pulang. Soalnya Ayah masih sibuk” itulah alasan dari Ayahku.
“Ya udah, nggak apa-apa yah”
“Tapi, maafin Ayah ya. Kamu nggak apa-apa kan tahun baru sama Ibu?” tanya Ayah.
“Iya yah!” jawabku.
“Semangat!!! Anak Ayah nggak boleh seperti itu, anak Ayah harus semangat terus” ucap Ayah dengan penuh semangat.
“Iya Ayah” jawabku juga dengan penuh semangat.
“Nah! Seperti itu dong anak Ayah. Ya udah, udah dulu ya. Daaa, Ayah sayang Rika” pamit Ayah.
“Rika juga sayang Ayah”

Setelah aku menelpon Ayah, aku menemui Ibuku dan bertanya lagi.
“Ibu, kenapa Ayah nggak jadi pulang?” tanyaku.
“Ayah itu sebenarnya sangat sayang sekali sama kita. Dan dia bekerja keras demi menafkahi kita. Dan dia juga berkorban, sampai-sampai dia rela nggak pernah pulang” jawab Ibu.
“Iya Bu”
“Coba deh kamu lihat film yang ada di TV itu. Film itu bercerita tentang bagaimana seorang Ayah bekerja keras demi keluarganya. Dan dia juga berkorban meskipun cuaca sangat panas, tetapi tidak dia hiraukan agar kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi” ucap Ibu.

Setelah aku dinasihati oleh Ibu. Aku baru sadar kalau Ayah itu bekerja demi memenuhi kebutuhanku. Selama ini, aku berpendapat salah tentang Ayah. Ternyata Ayah tidak pulang karena Ayah bekerja demi aku.
“Ayah! Aku kangen sama Ayah. Semoga ada waktu untuk Ayah agar Ayah bisa pulang ke rumah. Meskipun Ayah jauh di sana, tetapi Ayah akan selalu ada di hatiku. I Love You Ayah. Aku sayang Ayah”

Tamat

Cerpen Karangan: Rika Aryani
Facebook: Ryn
Nama: Rika Aryani
Umur: 13 Tahun
Semoga cerpenku bermanfaat ya! 🙂

Cerpen Aku Rindu Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Pada Kakekku

Oleh:
Sayup-sayup azan subuh mulai terdengar. Jalanan mulai dipenuhi kendaran. Aku pun bangun untuk salat dan bekerja. Ambil air wudu, salat subuh, mandi, sarapan, itulah rutinitasku setiap hari senin sampai

Kicauan Burung Beo

Oleh:
“Ma kelihatannya hari ini Eliz tidak bisa masuk sekolah” kata Eliz “Lho kenapa?” tanya Mrs. Nisha, ibu Eliz “Tubuh Eliz susah untuk digerakan dan kepala Eliz pusing” Jelas Eliz

Sahabatku Saudaraku

Oleh:
Hari ini hari yang sangat sedih bagi sahabatku, Misya. dia sangat sedih karena ayahnya sudah meninggalkannya. dan sekarang dia tinggal dengan ibunya, dia menangis di dekatku sambil menutup wajahnya.

Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *