Aku Tak Lagi Berdua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 21 November 2017

Kusisipkan kedua tanganku ke dalam jari-jarinya. Kuelus lembut kepalanya sampai mereka pun tak terasa. Kukecup lembut keningnya agar mereka merasakan kehangatan dari kasih sayangku. Teringat perkataan papanya bahwa kita akan bahagia di dunia dan menjemput surga-Nya bersama-sama. Namun itu hanya akan menjadi nasehat terbaiknya kepadaku untuk menitih masa depan cerahku bersama buah hati kita. Bukan karena aku tak mampu kehilangannya, namun ini hanya masalah waktu untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

Diriku hanyalah seorang ibu yang masih berusia 24 tahun. Namun, takdir tuhan mengatakan lain. Belum genap 8 tahun usia pernikahanku, Suami tercintaku meninggalkanku untuk menjemput surga-Nya terlebih dahulu. Sekilas bayangan di waktu silam hadir kembali sebagai cerita hidup, mengenang masa-masa sulit yang harus aku hadapi di waktu itu.

Mulutku terdiam kaku, ragaku tak mampu menguatkan tulang-tulangku. Memandangi seisi ruangan berbau obat itu dengan mata yang tak lagi jelas. Telinga tak mampu lagi mendengar apa yang dikatakan orang orang di sekitarku. Fikiranku jauh melayang menerobos akan keberadaan separuh jiwaku. Namun beberapa jam berlalu, diamku berhenti. Mataku terbelalak memandang kesana-kemari. Serta telingaku kubuka lebar-lebar agar aku mampu mencari kekasih hati. Dengan gagap aku beranikan bertanya pada ibuku,

“Bu, Di mana suamiku? Bukankah ini rumah sakit bu? Ada apa denganku?” tanyaku dengan suara lirih.
Ibu menatap tajam mataku, seakan memperjelas perkataannya padaku, “Tidak apa-apa cantikku, suamimu berbeda ruangan dengamu. Karena suamimu tidak terlalu parah dibandingkan dirimu, ibu hanya minta kamu beristirahatlah” jawab ibuku.
Nafasku lega, mataku pun mulai cerah berbinar-binar. Keinginanku untuk pulang ke rumah bersama suami pun melayang-layang d ibenakku. Aku sudah berfikir untuk memasak makanan kesukaanya, dan aku berjanji untuk menyuapinnya dikala ragaku sudah mampu berdiri tegak, serta jemariku mampu digerakkan serentak.

Bergegas aku meminta bantuan ibu untuk membantuku berdiri dan menuntunku ke arah dimana aku harus mengambil air suci itu. Kubasahi kesepuluh jemari dan telapak tanganku, kubasuh seluruh wajahku agar tampak segar kembali. Kugosokkan air ke seluruh tanganku sampai siku. Kubersihakan ujung rambut dan telingaku. Terakhir kuelus lembut kakiku dengan basahan air dari mata kaki sampai telapak kaki. Kemudian sembari kuucap doa atas rasa terimakasihku kepada yang Maha Kuasa masih diberi umur panjang.

Bahu ibu menopangku kembali ke tempat pembaringanku, kulihat ayah sedang mengeluarkan uang berwarna biru dan merah dari dalam dompetnya untuk diserahkan ke petugas rumah sakit itu. melihatnya begitu lelah aku mencoba menahan tangisku, kulangkahkan kakiku agar air mata ini tak tumpah di depan ibuku. Dengan mata sendu, ibu memakaikan sehelai penutup kepala untukku dan menarik selimutku agar kakiku tak mampu dilihat oleh siapapun. Kugerakkan kedua tanganku pelan-pelan sambil kuucapkan kalimat takbir dengan pelan. Sampai rakaat terakhir ibu masih setia menunggu di sampingku sambil mengelus-elus kepalaku sehabis shalat. Kucium punggung tangannya dan kusandarkan kepalaku di bahunya.
Sambil berbicara lembut kukatakan, “Bu, maafkan fira sampai membuat ibu dan ayah harus bermalam di sini?. Siapa yang akan menjaga anak-anakku bu?”.
Disandarkannya bahuku ke bantal tempat berbaringku di rumah sakit, dengan nada pelan ibu menjawab, “Ada adik-adikmu dan bibimu yang akan menjaga anak-anakmu nak, tenanglah yang terpenting kamu bisa pulih terlebih dahulu”.
“Iya bu, terima kasih sudah menjagaku dan anak-anak dengan baik, tapi bisakah ibu mengantarkanku menemui suamiku?”, tak terasa air mata ini menetes ke tangan ibu. Tak mampu membendungnya lagi, kupanjatkan kedua tanganku dan meminta pada sang Khalik untuk terus menjaga kedua orangtuaku.
Aku dan ibu pun larut dalam kesunyian. Rasa lelah ini menghantarkan kita ke dalam alam mimpi. Aku berpesan kepada ibu agar segera memanggil ayah untuk bersedia menjaga suamiku.

Seminggu berlalu, ada yang menjanggal dihatiku. Kenapa sampai 7 hari lamanya aku tak dipertemukan dengan suamiku. Aku bertanya-bertanya dalam hatiku sepertinya rasa takut kehilangan itu hinggap di jantung dan dadaku. Sampai sejuknya pagi mencoba meneduhkan jiwaku, tiba-tiba ibu mengajakku jalan-jalan di taman rumah sakit dengan alasan menjernihkan fikiran kita berdua. Sambil berjalan menuju taman. Tiba-tiba ayah ada di belakangku ikut mendorong kursi rodaku.

“Ayah pasti habis merawat menantu ayah yah,” kataku sambil melihatkan lesung pipi dan ratanya gigiku.
Tapi ayah diam, menatap sekeliling taman dan memandangi ibu. Seakan ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku mengerutkan keningku sambil menatap mereka.
“Ayah, ibu, sebenarnya apa yang kalian sembunyikan padaku? Bukankah kalian ingin melihat aku sembuh dan lekas pulang? Ada apa dengan suamiku?” dadaku seketika kaku dan terasa dinjak-injak oleh jutaan manusia. Seakan gejolak ini menjadi-jadi, dimana perasaan ingin tahu tentang keberadaan suamiku.
“Nak, ayah dan ibu akan selalu merawat dan menjagamu serta anak-anakmu. Percayalah suamimu sekarang sudah tersenyum lebar di surga-Nya. Kamu sudah ikut mengantarnya ke surga nak. Tugasmu sekarang menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anakmu.” Jawab ayah dengan air mata berlinang, dan ibu memelukku dengan erat.

Hanya mampu terdiam, mataku tak berkedip sedikitpun. Kulepas aliran infuse di jariku, dan badanku mengoyakkan pelukan erat ibu. Kakiku ingin beranjak pergi dan mencari suamiku. Seakan mimpi bagiku untuk menerima kenyataan ini, seminggu yang lalu dia masih mengantarku untuk belanja kebutuhan anak-anak. Aku masih bersikeras untuk pergi dan mencari suamiku di seluruh ruangan rumah sakit.
“Aku yakin suamiku masih hidup, ayah, ibu”. Sambil merangkak dan isak tangisku aku mencari suamiku di ruangan satu-persatu.
Ibu menahan tubuhku, dan ayah membacakan istighfar di telingaku. Tapi tak satupun ruangan kudapati suamiku berbaring, isak tangisku semakin kencang sampai membubarkan keheningan rumah sakit. Semua pasien dan pegawai rumah sakit menatapku. Sambil berlari-larian, kutatapi seluruh mata yang tertuju pada sosok diriku.

“Suamiku, suamiku…” suara lantangku semakin membuat gaduh di rumah sakit yang terkenal dengan kemewahnnya itu.
Berlarian pun membuat ragaku tak mampu lagi bergerak cepat, menyandarkan diri pada tembok putih tepat di sampingku. Mencoba mengikis rasa kehilanganku dengan mengingat janji orang tercintaku. Mengingat semua kejadian yang membuatku diri ini berada dalam bangunan penuh obat ini. Dengan mengusap tetesan air mata di pipiku, kucoba terus menggali rasa ikhlas di hati. Namun tak dapat kutemukan saat itu.

Sambil memandangi rumput hijau di taman, teringat ketiga anakku. Dengan kegelisahan yang mengumpul di hati dan fikiran, kulangkahkan kaki menuju kedua orangtuaku yang menjauh dari kemarahanku. Memeluk mereka dengan erat, seakan diri ini tak mau merasakan kehilangan orang-orang terhebatku untuk kedua kali. Dengan raga yang semakin rapuh, ibu membawaku kembali ke tempat seharusnya aku menenangkan fikiran.
“Berbaringlah nak!. Ikhlaskan apa yang sudah terjadi dalam hidup ini, semuanya sudah takdir yang Maha kuasa nak, andai ada orang yang sama persis seperti suamimu, pasti akan ibu dan ayah cari ke seluruh penjuru dunia ini demi dirimu”, sambil ibu mencium tanganku.

Demi menenangkan raga dan jiwa, seorang perawat rela memberikan suntikan bius dalam tubuhku. Dalam hitungan menit, diriku menjadi manusia tak bernyawa. Melayang-layang dan menerobos ke alam mimpi berharap bertemu dengan orang yang kucinta di dunia nyata. Menyimpan sejuta cinta ini sendiri, membuat hati ini seketika mati. Mencoba menyadarkan diri agar menerima takdir Sang illahi. Ternyata aku terlelap sampai pada malam yang sunyi. Menyiksa diri dengan menerima kenyataan pahit yang kualami. Hingga sampailah pada pagi yang sepi, membuka mata dengan kesejukan serta berusaha kutata rapi hati ini. Mencoba mensyukuri atas hidup yang kedua kali, hidup yang harus kumulai dengan tutur kata ikhlas yang menyimpan di hati dan fikiran ini. Memulai hari tanpa suami di sisi, suami yang rela mengorbankan raga jiwanya demi menyelamatkan hidupku. Hanya untaian do’a yang mampu kupanjatkan untuk dirinya, walau kita di alam yang berbeda. Keyakinan bahwa dirinya jauh lebih bahagia dalam surga-Nya mampu menumbuhkan semangat dalam jiwa.

Sesaat mataku tak berkedip melihat wanita paruh baya masuk ke dalam ruanganku, memakai baju rapi dengan membawa rangkaian bunga di tangannya. Dia tampak ramah mencoba menyapaku,
“Pagi, Bu Fira cantik. Bolehkah saya duduk di dekat ibu?”, mata birunya menyegarkan pandanganku.
“Silahkan, tapi bolehkah aku bertanya. Siapa namamu dan apa kepentinganmu ke sini? Aku benar-benar tidak mengenalmu. Kataku sambil mencoba menghitung jumlah temanku dan mengingat semua namanya. Namun, tak kutemukan wajahnya dalam ingatanku.
“Saya adalah teman sementara anda. Saya akan mencoba membantu anda keluar dari masa terpuruk untuk bangkit meraih masa depan anda bu Fira. Bukankah anda tau bunga mawar yang di tangan saya ini sangat indah, dia mampu mekar mewangi ketika tercium hidung kita?”. Tangannya mengulurkan bunga itu agar wanginya dapat kuhirup.
“Iya, aku tahu. Bunga mawar itu indah nan cantik, wangi pula”, jawabku ringan.
“Bukankah kita juga harus bisa seperti bunga mawar? Yang menebar aroma wewangian bagi yang memetiknya. Sama halnya manusia yang harus menebarkan semangat dan senyuman yang indah untuk orang sekitarnya. Dan maukah anda menjadi manusia itu, yang mampu tersenyum kembali minimal untuk kedua orangtua dan anak-anak anda?”, bisiknya lembut di telingaku.

Aku tertegun mendengar kata perkata yang ia haturkan untuk menyemangatiku, dia adalah seorang ibu paruh baya yang pernah menempuh pendidikan dalam dunia kejiwaan, memahami perang batin yang aku alami sekarang. Dia mempunyai niat dan usaha besar untuk memulihkan kesembuhan jiwaku, mengangkat kesedihan dan kepedihan sepeninggal suamiku.

Setiap hari dia datang ke ruanganku hanya untuk menanyakan bagaimana perasaanku, apa yang diinginkan dalam hidupku di masa mendatang. Dia menuntunku untuk menuliskan kembali mimpi-mimpiku di atas kertas putih yang dia bawakan untukku. Dia sadar bahwa di usiaku yang terbilang muda, masih banyak impian yang harus aku wujudkan untuk membahagiakan ketiga putra-putriku.

Sambil tersadar bahwa aku benar-benar mengingat kejadian pahit dalam hidupku beberapa tahun silam. Sekarang aku hanya mampu menjadikan kenyataan pahit itu sebagai pembelajaran hidup yang bermakna. Masih dengan keadaan yang sama, tapi saat ini aku harus mampu melewati masa sulit dengan buah hatiku. Buah hati dari hasil mekarnya cinta dan sayangku bersama suami, yang harus kujaga sampai akhir hayatku nanti. Menjalani hari-hari kembali sebagai ibu sekaligus wanita karir, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk kebutuhan pendidikan serta kebutuhan sehari-hari dalam hidup kita berempat.

Aku sadar diri ini tak bisa dikatakan muda lagi, dengan beban yang sangat berat kupikul seorang diri. Bekerja keras mencukupi mereka adalah hal penting yang harus kucatat setiap hari. Semangat yang harusnya dipupuk oleh kekasih hati, kini harus kupupuk dan kusiram sendiri agar tak layu dimakan waktu. Ketiga buah hatiku adalah alasan penting aku masih bisa bertahan hidup saat ini. Senyum mereka menjadi sinyal kebahagiaan bagiku.

Cerpen Karangan: Nina Mahsuna
Facebook: Niena Mahsuna
Nama: Nina Mahsuna, S.Pd.
TTL: Gresik, 10 Maret 1996
Domisil : Perumahan Kepuh Permai Waru Sidoarjo
Profesi: Admin di PT. Kamilaprinting
Hobi: Menulis, menyanyi
Pengalaman bekerja: pernah menjadi seorang guru TK selama 3 tahun
Pengalaman organisasi: Sekretaris bidang organisasi Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sidoarjo

Cerpen Aku Tak Lagi Berdua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Don’t Leave Me Mom

Oleh:
“Cheryl, buka pintunya!” Terdengar suara Mama mengetuk pintuku. “Buka saja Ma, tidak dikunci kok.” Sahutku “Ada apa Ma, malam-malam begini?” “Ini handphonemu ketinggalan di meja belajar, barusan ada panggilan

Surat Kristal

Oleh:
Ini adalah ceritaku, Bintang, yang pada akhirnya harus meninggalkan sebuah surat untuk seseorang yang tak pernah menyadari bahwa cinta itu selalu sangat dekat, walaupun terkadang jalannya adalah jalan yang

Satu Februari

Oleh:
Gue adalah mahasiswi semester 3 jurusan pendidikan matematika di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Dara, itulah nama gue. Gue biasa di sapa dengan sebutan ara. Gue punya

Derita Andi Si Pengamen Cilik

Oleh:
“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan

Kejutan Terkhir Mama

Oleh:
Setetes air hujan jatuh ke wajahku, ku lihat jam menunjukkan pukul 00.05. Saat itu aku merasa lapar dan mencari makanan di kulkas, karena tidak ada makanan yang ku inginkan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *