Aku Tidak Buta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

Mereka kembali bertengkar. Dua orang dewasa tak tahu arti damai. Sedangkan aku hanya duduk di sini, tak mampu lakukan apa pun.

Aku masih terlalu kecil. Tak daya bertindak. Ingin bicara, tetapi hanya bisa senyap tanpa suara. Aku terlalu takut pada mereka. Pada kedua ibu bapak yang lebih besar dariku itu. Mereka yang kusayang. Mereka yang kubangga-banggakan. Dan mereka yang selalu tampak menakutkan.

Ibu selalu pulang malam. Ayah tak pernah di rumah. Mereka sibuk dengan dunianya. Mereka mengetepikan segalanya, hanya ambil alih pada urusan masing-masing. Lalu, ketika tiba di sini, mereka akan saling memarahi, bak singa yang bertemu lawannya —murka.

Jika saja aku bisa berjalan dan mendekat, lalu menenagkan keduanya, mungkin mereka tak akan begitu. Sayang, kenyataannya, aku hanyalah seorang anak kecil yang bahkan tak mampu berjalan lancar, sebab usiaku belum tiba di fase itu.

“Harusnya kamu yang urus dia, kamu kan ibunya!”
“Kamu juga harus paham, aku juga punya pekerjaanku! Jangan meletakkan beban padaku semua!”

Keduanya terus berargumen. Terus melemparkan amarah masing-masing. Tak peduli akan diriku yang termangu menonton pertunjukan menyedihkan ini.

Jika saja mereka berfikir, mereka mestinya paham bagaimana harus bertindak.
Ibu sebagai ibu. Ayah sebagai ayah. Dan aku —anak— sebagai anak.
Kebahagiaan dalam keluarga itu apa?
Rumah besar ini?
Ibu dan ayah yang punya pekerjaan menakjubkan itu?
Uang dan harta benda?
Makanan, mobil mewah, asuransi, perbekalan untuk sepuluh tahun ke depan, atau dunia yang tak pernah gelap—
Tidak.
Tidak semua itu.
Aku tak menginginkannya.
Aku tidak buta.
Aku punya mata. Baik mata fisik dan mata hatiku. Aku melihatnya. Aku melihat dunia yang kuinginkan—
Keluarga… Dunia dengan kebahagiaan dalam keluarga.
Dunia di mana aku bisa bersama Ibu dan Ayah, selalu bisa tersenyum bersama, menikmati waktu kami tanpa adanya celah besar ini.
Celah yang disebut dengan kesibukan.
Celah yang terpanggil pengabaian.
Celah bernama keegoisan.
Celah pemakan keinginan.
Celah pembunuh harapan.
Celah yang telah meretakkan.
Meretakkan rumah tangga yang dulu dibangun oleh janji ini.

Dulunya mereka bilang mereka ingin kebahagiaan bersama. Tetapi, setelah mereka melihat dunia itu, mereka mulai berpaling, saling memunggungi satu sama lain, mulai melupakanku. Aku tak lagi mendapatkan kasih sayang itu. Cinta dari makhluk bernama orangtua.

Apa salahku?
Kenapa aku harus dijatuhkan dalam kondisi ini?
Padahal aku hanya anak yang tak berdosa. Kenapa kehidupanku harus sudah seberat ini.
Dunia yang kejam. Manusia yang kejam. Orangtua yang kejam.
Tidak bisakah kalian melihatku?
Tak bisakah kalian melihat bahwa aku menangis?
Untuk apa kalian lahirkan aku— Hanya untuk jadi penonton pertikaian ini? Hanya untuk jadi saksi di depan hari akhir nanti, menyatakan pada Tuhan bahwa orangtuaku tak pernah menjalankan tugas mereka?
Aku tak ingin memberi kesaksian semacam itu. Aku tak ingin malu di hadapan Tuhan.
Karena itu, bukalah mata kalian, Ibu, Ayah.
Aku di sini. Aku melihat semuanya. Dan aku menyedihkan semua itu. Semua pertengkaran kalian.
Aku tak ingin kalian seperti ini.
Kumohon, bukalah mata kalian.
Karena aku tidak buta…

Cerpen Karangan: Faz Bar
Seorang penggemar animaga dan dunia RTS game (Real Time Strategy). Sangat terobsesi untuk menulis light novel dan memiliki mimpi bahwa LN tersebut di adaptasi menjadi anime. Mimpi terbesar dalam dunia sastra ialah untuk menjadi seorang seniman prosa yang berkebolehan tinggi dan dikenal luas. Hobi menulis dan membaca. Hal yang tidak disuka ialah anak alay. Sekarang tengah belajar di Universitas Putera Batam jurusan Sastra Inggris di semester 7.

Cerpen Aku Tidak Buta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketikan Hidup Langit

Oleh:
Kembali menekan tuts keybord. Hari sudah larut malam. Tapi hati masih saja memikirkan keadaan di rumah. Entah Puri atau Dio. Bagimana keadaan mereka sekarang mebuat nya gusar hingga waktu

Ini Untukmu, Sahabat

Oleh:
Ku lihat gundukan tanah itu sekali lagi. Gundukan tanah yang berbeda dengan yang lainnya. Gundukan tanah yang membuatku tegar dan semangat menjalani hidup. Gundukan tanah yang membuatku berbeda dari

Elang Kebencian

Oleh:
“Ini bukan salahku Ta, maafin aku. Ini semua salah Farhan! Pliss ta!” Perempuan yang di hadapannya langsung membuang muka “Jangan nuduh Sahabatku kayak begitu ya, Diq!” Laki-laki tersebut langsung

Bidadari Surga

Oleh:
Saat itu aku merasa semua akan baik-baik saja, aku akan tumbuh besar dan bisa menggapai cita-citaku, aku pikir kata kasih sayang hanya sebuah kata hiasan seperti seseorang yang bertindak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *