Akulah Pendekar Hidupmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

“hendi… Bangun udah adzan subuh cepat ke mushola…”, hal yang hampir tiap hari terdengar oleh telingaku… Mungkin sudah menjadi alarm bergerak bagiku… Tiada lain itulah ibuku, yang selalu lagi lagi mengganggu mimpi indahku di pagi hari.. Kuhela nafas dan segera bergegas untuk pergi ke tempat wudhu dan segera ke mushola… Itulah cara ampuh agar alarm bergerakku berhenti.. Ah sudahlah itu sudah menjadi kebiasaan dalam hidupku.

Kulangkahkan kaki dan menikmati dinginnya angin pagi… Untuk menuju ke mushola. Selesai ku melaksanakan sholat subuh… Mataku tak kuat untuk menahan rasa ngantuk yang kuderita… Dengan rasa malasnya ku melanjutkan mimpiku yang terpotong… Dan pada hitungan ke tiga… Jreng… “hendi jangan tidur lagi cepat mandi dan segera sarapan..” hal yang paling mengerikan bagiku dan kualami setiap pagi… Walaupun berapa kali ibuku memanggil kadang kututup telingaku untuk melanjutkan tidur.. Itulah rutinitasku setiap pagi.

Kulirikkan mataku melihat jam yang ada di atasku yang tertempel di dinding dan sudah pukul 6 pagi… Ku segera terburu buru untuk mandi… Dengan kecepatan super… Mandi ku tak lebih dari 5 menit… Itu kebiasaanku kalau kesiangan.. Hidupku penuh dengan kebiasaan malas itulah yang aku alami.. Walaupun sudah dinasehati oleh ibuku dengan berabagai ribu cara agar aku tidak malas tapi hanya berpengaruh 3 hari saja untuk itu dan selebihnya sama dengan hari hari biasa yang aku lakukan.

Kusiapkan hariku untuk sekolah… Menjalani dengan rasa gembira walaupun masih sedikit mengganjal gara gara kejadian tadi pagi, tapi kucoba untuk menghilang rasa jenuhku ketika di rumah.. Dengan senyum untuk menyambut di sekolah… Tapi keadaan pun berubah aku kesiangan gerbang pun sudah ditutup… Dan tandanya aku kan berhadapan dengan guru piket… Ah sial banget hari ini… Udah mah belum makan lagi.. Hari yang menyebalkan..

Ku masuk kelas dengan wajah yang tidak biasanya… Tapi senyumku kembali bertambah karena hasil ulangan fisikaku mendapat nilai tertinggi di kelas… Dan tentunya baru kali ini aku mendapatkan nilai yang sebagus itu… Tapi kebahagian itu tidak begitu lama.. Ketika istirahat tiba… Aku dipanggil oleh guru piket karena ada telepon dari ayahku.. Ketika aku menerima telepon kudengar sebuah isak tangis dari suara telepon itu.. Dan ternyata ibuku kecelakaan ketika hendak pergi ke pasar untuk membeli sayuran… Ketika mengetahui itu aku segera pergi untuk menemui ibuku di rumah sakit… Aku sangangat sedih mendengar berita itu… Beribu ribu nasihat ibu kupandang sebelah mata… Belum pernah aku membuat dia senyum… Hanya tetesan air mata yang aku persembahkan untuknya bukan air mata gembira tapi air mata kecewa… Maaf kan aku ibu…

Lamunanku terhenti ketika sudah sampai di rumah sakit segera ku berlari utuk menemui ayahku di ruang tunggu rumah sakit dan menanyakan keadaan ibu… Ternyata ibu sedang kritis dan masih belum sadar.. Aku menangis mengingat kesalahanku kepada ibu.. Dengan lemah lembut dia mendidikku.. Menasehatiku dan selalu memberikan kasih sayangnya untukku walau kadang aku tak pernah mendengarkan ucapannya.. Aku selalu menentang perintahnya dan tidak pernah melakukan apa yang ibuku mau… Maafkanlah aku ibu aku akan berjanji untuk berubah dan menjadi anak yang rajin serta ibu akulah pendekar hidupmu.. Aku akan menjagamu entah itu di dunia ataupun di akhirat kelak ibu.

Cerpen Karangan: Fadhliatul Akbar
Facebook: Fadhliatul Akbar

Cerpen Akulah Pendekar Hidupmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu

Oleh:
Lagu “Afika – you’re my everything” mengalun mesra, Senja kembali hadirkan suasana hening, cahayanya menembus jendela kaca menerpa mataku. Aku terbangun dengan cepat ketika guyuran air comberan menggigilkan tubuh

Kado Terakhir Untuk Bunda

Oleh:
Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun seperti biasa aku terbangun untuk salat tahajud. Aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil air wudu. Seusai salat aku

Aku Ibu dan Piano

Oleh:
Januari 1996 Alunan suara piano menyejukkan hati pendengarnya. Para juri menutup kedua matanya. Senyuman tersungging di bibir mereka. Gerakan jemari sang pianis bergerak dengan serasi dan lembut. Chopin –

Petaka Tahun Baru

Oleh:
Malam pergantian tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Sorak sorak kemenangan melampaui batas akhir hidup seorang penjual kerupuk di desa Jingga. Tak jauh dari kisahku, Maharani. Aku seorang

Aku Tidak Buta

Oleh:
Mereka kembali bertengkar. Dua orang dewasa tak tahu arti damai. Sedangkan aku hanya duduk di sini, tak mampu lakukan apa pun. Aku masih terlalu kecil. Tak daya bertindak. Ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *