AL

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 12 July 2018

KRIIIING KRIIIIIING KRIIINGGGG
Suara jam weker berbunyi dengan nyaring sangat mengganggu tidur pemuda manis bernama Alvin Putra Diangga. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi dengan malas, lalu turun untuk sarapan bersama dengan kedua adiknya yaitu Aldi Febrizio Diangga dan Nabila Putri Diangga. Sampainya di bawah Aldi memberikan nasi goreng yang super pedas untuk Alvin. Alvin mau tidak mau harus memakannya hingga habis. “Abisin. Gue capek bikinnya” suara berat Aldi membuat Alvin mendesah. “Iyaa” jawabnya pasrah. Aldi tersenyum dalam hati. Setelah habis, Alvin berangkat dengan perut yang tidak nyaman.

Saat upacara berlangsung, alvin teru saja memegangi perutnya yang semakin sakit. Hingga ia berjongkok kesakitan. Beni, yang berada di sampingnya terkejut “Astaga.. Vin, lo kenapa?” ucapnya membantu Alvin berdiri. “perut gue sakit banget ben” lapornya menaahn sakit. Beni segera membawa Alvin ke uks. Disana Alvin ditangani oleh Natasya. “Lo kenapa Vin?” “perut gue sakit banget Ca..” lirihnya bergetar. Natasya memberikan beberapa obat untuk meredakan sakitnya. Tentu saja ia diberi tahu terlebih dulu penyebabnya oleh Alvin. Ia setia menunggu Alvin yang sedang sakit. Natasya terlihat sangat khawatir melihat wajah pucat Alvin yang sesekali mengeluh sakit pada perutnya.

Dari balik pintu terlihat sepasang mata yang memandang mereka tidak suka. Selalu lo yang jadi prioritas. Batin seseorang tersebut.

Sore harinya
“ALDIII ALVIIN AYO TURUN SAYAAANG” teriak bunda dari bawah. Aldi yang sudah lebih dulu sampai meja makan langsung ambil posisi di samping nabila lalu mengacak rambutnya gemas. “Kakak kamu mana di?” tanya ayah dari kursinya. Aldi mengangkat bahu. Bunda hendak naik ke atas menjemput Alvin tapi belum juga bunda berdiri Alvin sudah menuruni tangga. Ia ambil posisi di samping bunda kali ini. “Kak alvin kok lemes?” tanya nabila polos. Alvin menggeleng dan tersenyum. “Alvin ke toilet dulu” pamitnya berdiri dari kursinya. Perutnya sangat mual hingga ia memuntahkan cairan dari lambungnya. Bunda mengikutinya ke toilet setelah merasa ada yang janggal. Benar saja di sana bunda mendapati alvin yang tengah membungkuk sambil memegang perut dan memuntahkan isi lambungnya. Bunda mengurut pungggung putranya sampai leher. Setelah berhenti bunda menuntun putranya kembali ke meja makan. “kamu kenapa vin?” tanya ayah sedikit kawatir melihat wajah lemas alvin. “gak tau yah, perut aku sakit banget dari tadi” ucapnya tanpa membuka mata maaf yah.. Alvin bohong batinnya. “Aldi, kamu bisa antar kakak kamu ke dokter?”. “gak ah yah, Aku ada janji sama temen temen mau belajar kelompok” alibinya ia memandang aneh ke arah alvin. Nabila berjalan mendekati Alvin yang sesekali mengaduh. “aku gak papa kok yah gak usah ke dokter, mungkin cuma maagku kambuh” satu tangannya mengelus rambut Nabila yang memandangnya kawatir. “ya sudah ayo ayah bantu ke kamar” beliau memapah tubuh Alvin yang tidak bisa berdiri tegak dengan sabar. Diikuti nabila di belakangnya. “dasar manja” cibir Aldi dari kursi meja makan. “ALDI!” suara tegas ayah menggema di sana. “Udah yah.. perut Alvin sakit” adunya. Ayah melanjutkan kegiatan memapah alvin sampai kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur king size miliknya. “makasi yah..” ucapnya pelan. Ayah mengangguk lalu duduk di sisi ranjang Alvin dengan nabila di pangkuannya. “kak Alvin cepet sembuh” pinta nabila tulus. Alvin mengangguk pasti.

Aarggh kenapa selalu dia! Gue benci sama lo kak! Sumpah gue benci. Kenapa semua orang liatnya Alvin bukan Aldi!
Aldi menggumam sebal dalam kamarnya. Ia tidak pernah bisa menerima keadaan. Ia merasa hidupnya tidak sebanding dengan Alvin kakaknya. Ia iri dengan kakaknya yang bernama Alvin Putra Diangga itu.

3 hari kemudian Alvin kembali bersekolah seperti biasa. “Kamu udah sehat vin? Udah gak lemes lagi?” tanya bunda kawatir. “alvin gak papa kok bun.. Lagian gak enak kalo izin terus” sergahnya. “aku berangkat” Aldi langsung beranjak dari kursi makannya. Alvin menghela nafas lelah. Ia juga langsung mengejar Aldi setelah sebelumnya berpamitan dengan orang tuanya. Bunda mengehela nafas pasrah melihat dua putranya yang tak kunjung berdamai itu.

“ALDI..” panggil Alvin dengan terengah karena selain tenaganya belum pulih 100% ia juga belum sarapan. Aldi tidak menghiraukannya ia terus mempercepat jalan kesekolah. Hingga
BRUKKKK kejadian itu begitu cepat. Satu pemuda tercengang dan satu lagi tergeletak.

“hiks… bangun sayaaang bunda mohon bangun..” pintanya disela isakannya. Ayah mengusap punggung bunda menenangkannya. Nabila menangis di sudut ruangan ditemani Oma. Melihat remaja lelaki yang tengah terbaring tidak berdaya ini membuat siapa saja yang memasuki ruangan ini meneteskan air mata. Lelaki yang terlihat sangat lelah dengan keadaan yang sama sekali tidak ia mengerti. Lelaki yang berusaha terlihat bahagia bagaimanapun caranya ia menutupi kesedihan ataupun kerapuhan yang tengah ia alami. Lelaki ceria yang tegar dibalik kesedihannya. Ya dia Alvin Putra Diangga yang sangat menyayangi keluarganya. Bahkan ia rela mengorbankan nyawa ketika sebuah mobil yang melaju kencang mengarah ke adiknya. Beruntung ia sempat mendorong tubuh Aldi ke tepi jalan, tapi tidak dengannya yang tertabrak lebih dulu sebelum ia sempat menepi.

Aldi berdiam di taman rumah sakit sambil menangis mendengar penuturan dari Natasya teman dekatnya. “oiya dia nitip ini buat kamu sebagai hadiah ulang tahun kamu katanya” ujarnya. Lelaki tadi membuka kotak itu dan terkekeh pelan melihat isinya. Ia membuka surat yang ada di dalamnya.

Aldi Febrizio Diangga
Happy birtday yang ke 16 adek sayaaang. Gue harap setelah ini lo bisa maafin gue. Yaa meskipun gue gatau alasan lo benci sama gue. Gue tau salah satu dari alasan itu lo iri sama gue. Gue bilangin ya gak ada yang perlu lo iriin dari gue. Lo itu hebat bahkan lebih dari gue. Lo tampan, lo baik sebenernya. Yaaa intinya gue minta maaf.

Alvin putra diangga

Aldi semakin terisak. Ia berlari masuk ke dalam setelah membaca surat dari Alvin yang dititipkan kepada Natasya beberapa hari lalu. Natasya mengikuti langkah cepat Aldi dari belakang. Di sana terlihat bunda, ayah dan nabila menangis histeris didepan pintu. “bundaaa.. kenapa nangis?” tanya Aldi penasaran. Ayah lantas memeluk Aldi. “Maaf tapi itu kenyataannya. Kakakmu sudah…” ayah mengeratkan pelukannya.

“DOKTEEER..!” teriak suster dari dalam. Dokter lantas memeriksa kembali Alvin. Dokter keluar dan tersenyum lega. “ini suatu mukjizat buk, pak… Alvin kembali, detak jantungnya sudah stabil” jelas dokter tadi dengan wajah senang. Bunda berhambur ke pelukan ayah. Dan Nabila memeluk Natasya.

“boleh kami masuk?” tanya Aldi yang dijawab anggukan oleh dokter. Belum hilang suasana hati yang senang itu, “A..ayah..” suara lirih yang terdengar lemah. Semua menatap Alvin dengan senyum mengembang. Dalam satu gerakan semua mendekat. Aldi menggenggam tangan lemas Alvin seraya meminta maaf atas kesalahannya selama ini. “kaak maafin gue.. maafin gue.. gue udah jahat sama lo kak.. maafin gue” suara pilu diiringi isakan dari Aldi menyayat hati semua yang ada disana. “Dek.. udah.. gue udah maafin kok” satu tangannya menggenggam balik tangan Aldi dan mengahapus air mata adik tersayangnya itu. “Bundaa, ayah jangan sedih dong.. alvin udah gak papa ini” hiburnya. Ayah dan bunda mendekat dan memeluknya erat.

Satu bulan berlalu membuka lembar baru dalam kehidupan mereka. Keluarga yang dulu sempat renggang kini merapat serapat rapatnya. “Alviin mau kemana sayang?” tanya bunda yang sedang menemani Nabila belajar. Alvin mengedipkan sebelah matanya genit. Aldi yang menangkap kode itu menjelaskan pada bunda setelah Alvin pergi.

Tawa riang kedua remaja ini menggema di pinggir danau. “aku seneng semuanya kembali seperti dulu lagi” monolog Alvin. Natasya mengangguk setuju. Obrolan mereka berlanjut hingga kearah serius. “Alvin.. would you be my boyfriend?” Natasya merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan. Ia panik sendiri, bagaimana kalau Alvin bakalan benci sama gue? Gimana kalau.. Alvin membulatkan matanya sempurna ketika mendengar pernyataan itu, beberapa saat ia diam lalu mengangguk mantap. Mereka menghabiskan sore itu dengan melihat sunset dengan suasana baru yang bahagia.

Cerpen Karangan: Rasya Pradana

Cerpen AL merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Emak

Oleh:
Perempuan tua itu termenung seorang diri. Bukan hanya sekali, bahkan hampir setiap hari. Tak akan ada suara yang ke luar dari mulutnya jika tak disapa. Usianya hampir tujuh puluh

Surat Buat Mantan Pacar

Oleh:
Dear Bams, Aku begitu ingin menulis surat ini, dengan harapan kamu bisa mengerti isi hatiku dan perasaanku. Walau sekarang sepertinya sudah terlambat. Tapi aku yakin, kamu pasti akan membacanya

Satirung Peseg

Oleh:
“emakkk… huhuhu”, irung yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu berlari menghampiri emak di dapur. Ia memeluk emak yang sedang mengulek bumbu. “ada apa toh nduk. Kok kamu nangis lagi”,

Ibuku Cintaku

Oleh:
Pagi hari itu burung burung berkicau dengan suara indah, ayam berkokok, ibukku membangunkanku dari mimpiku, bintang yang masih TK ini mulet mulet seperti masih ingin tidur. Saat persiapan sekolah

Satu Keputusan Untuk Selamanya

Oleh:
Arlojiku menunjukkan waktu sudah jam 5:30 pagi, dimana anak-anak remaja seumuran denganku masih terlelap dalam tidurnya dan masih bersenang-senang di alam mimpi. Sedangkan aku sudah harus bangun untuk bersiap-siap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *